Love Of A Nurse

Love Of A Nurse
Bab 139


__ADS_3

Ibu Desi beserta kedua anaknya sampai di kampung. Mereka sampai pada saat matahari mulai tenggelam.


Pak Mirza yang berada di rumah heran karena ada taksi berhenti di depan rumahnya. Pria paruh baya itu bingung karena istri dan kedua anaknya ikut pulang bersama. Dan yang lebih membuat pak Mirza bingung istrinya tidak mengabari jika mau pulang. Dan wanita paruh baya itu pernah menghubunginya akan kembali setelah selesai ultah Abian.


"Kenapa tidak mengabari bapak?" tanya pria paruh baya itu.


"Pak bantu Aneska, nanti saja tanyanya." Ibu Desi sedang membayar ongkos taksi mereka. Nominalnya lumayan besar karena wanita paruh baya itu menyewa taksi itu dari kota sampai kampungnya.


"Loh Aneska kenapa?" tanya pak Mirza heran karena tangan anaknya ada luka.


"Nanti ceritanya." Ibu Desi dan Cyra membawa tas pakaian mereka dan pak Mirza membantu memapah anaknya untuk masuk ke rumah.


"Kamu kenapa nak?" tanya bapaknya di sela-sela memapah putri sulungnya.


Ketika pria paruh baya itu bertanya mata Aneska langsung berkaca-kaca.


"Loh kok nangis." Ucap bapaknya bingung.


"Bapak sih." Gerutu ibu Desi mengambil alih untuk memapah Aneska ke dalam rumah mereka.


Ibu Desi membawa anaknya untuk berbaring di kamar.


"Pakaian kamu masih ada di sini, ibu masih menyimpannya. Kamu ganti dulu nanti ibu buatkan sup untuk kamu. Istirahat ya." Ibu Desi mengecup dahi anaknya dan keluar kamar.


Pak Mirza mengikuti istrinya begitupun dengan Cyra.


"Apa apa sih pak." Gerutu ibu Desi yang langsung sibuk memasak di dapur.


"Aneska kenapa bu?" tanya pak Mirza.


"Aneska baru mengalami kecelakaan." Sahut istrinya.


"Astagfirullah." Sontak bapaknya kaget.


"Kok bisa bu?" tanya suaminya lagi.


"Mana bapak tau pak, pada saat itu ibu dan Cyra ada di singapura, iya kan Cyra?" tanya ibu Desi ke anak bungsunya.


Anak bungsunya menganggukkan kepalanya.


"Tapi apa Aneska tidak bercerita penyebab kecelakaan itu?" tanya pak Mirza lagi.

__ADS_1


"Katanya itu perbuatan si parit." Sahut istrinya yang tengah sibuk memotong sayuran untuk di masaknya.


"Jadi Aneska masuk parit gitu?" tanya suaminya lagi.


"Bukan parit itu tapi si parit yang bernyawa." Jelas istrinya.


Pak Mirza melihat anak bungsunya membutuhkan penjelasan dari gadis belia itu.


"Itu loh pak, kakak iparnya kak Abian." Jelas anak bungsunya.


"Oh, memangnya apa yang dilakukannya sama Aneska?" tanya pak Mirza.


Cyra menceritakan kejadian pada saat mereka di singapura dan dia dapat cerita itu dari oma Zulfa.


Pak Mirza sontak syok mendengar cerita itu, karena istana itu tidak senyaman dengan bentuk mewahnya.


"Jadi itu sebabnya ibu membawa Aneska?" tanya suaminya lagi.


"Bukan itu, ada masalah lain yang baru saja terjadi." Ujar ibu Desi seraya memasak dan menceritakan kejadian yang di alami anaknya tentang mengandung dan di angkatnya janin yang ada di rahim anak sulungnya.


Wanita paruh baya itu juga menceritakan kemarahan Abian karena menganggap Aneska sengaja melakukan aborsi dan menganggap ibu Desi bersekongkol dalam rencana itu. Dan wanita paruh baya itu juga menceritakan sebutan untuk keduanya yaitu pembunuh.


"Seharusnya Aneska mengatakan itu kepada suaminya." Ujar pak Mirza.


"Seharusnya iya pak, awalnya kehamilan Aneska akan menjadi kado untuk Abian tapi kenyataannya harus di lakukan aborsi. Aneska tidak mau mengatakan ke suaminya karena dia tidak ingin memberikan kado sebuah kesedihan untuk suaminya." Jelas ibu Desi.


"Iya bapak paham, dia sangat mencintai suaminya sampai tidak mau suaminya sedih ataupun terluka. Tapi yang di rahasiakan ini nyawa, jadinya seperti ini. Tapi sudah terjadi mau gimana lagi." Pria paruh baya itu menghela nafasnya secara kasar. Kasihan dengan nasib anaknya.


"Cyra kamu jangan ikut duduk di sini, buatkan susu untuk kakak kamu. Ajak bicara jangan biarkan kakak kamu melamun." Titah ibunya.


"Siap bu." Cyra membuatkan susu coklat untuk kakaknya dan membawanya ke dalam kamar. Di dalam kamar Aneska berbaring. Dia menatap ke langit-langit kamarnya membayangkan kemarahan suaminya.


"Kak, aku bawakan susu coklat kesukaan kakak." Cyra meletakkan di meja di samping tempat tidur.


Melihat ada adiknya Aneska langsung mengusap air matanya yang telah jatuh dari ujung matanya.


"Kakak menangis?" tanya Cyra.


"Hanya itu yang bisa kakak lakukan, walaupun menangis tidak dapat menyelesaikan masalah yang tengah kakak hadapi." Ujar Aneska.


"Minum dulu." Cyra menyerahkan segelas susu coklat ke Aneska.

__ADS_1


"Kamu tau apa yang membuat kakak menangis." Aneska berujar sekaligus mengajukan pertanyaan untuk adiknya.


"Karena kak Abian memarahi kakak." Sahut Cyra.


"Bukan hanya itu, kakak menangis karena rumah tangga kakak tidak mungkin bisa bertahan lama." Ujar Aneska dan kembali menangis.


"Kakak ngomong apa sih, kak Abian itu sangat cinta sama kakak pasti dia tidak akan mau berpisah dengan kakak."


"Bukan Abian tapi ibu. Kamu tau di rumah sakit ibu marah sama Abian, selama ini ibu tidak pernah mau ikut campur dengan rumah tangga kakak tapi tadi ibu menampar Abian."


"Menampar?" Cyra kurang yakin tapi Aneska menganggukkan kepalanya.


"Pasti kak Abian telah membuat ibu sangat marah. Kita tau sikap ibu, beliau tidak akan melakukan hal itu jika tidak sakit hati." Ujar Cyra.


"Kamu benar, Abian menyebut ibu bersekongkol dengan kakak untuk melakukan aborsi dan menyebut kami pembunuh." Jelas Aneska.


"Wah jelas ibu marah." Cyra mulai takut dan khawatir restu ibunya tidak di dapat kakak iparnya.


"Kakak kasihan sama ibu, karena keputusan kakak, ibu jadi di salahkan. Padahal ibu tidak bersalah dalam hal ini." Ujar Aneska dan mulai meminum sedikit demi sedikit susu coklat itu.


Di dapur


"Ibu kenapa membawa Aneska, bagaimanapun dia punya suami." Ujar pak Mirza yang tidak setuju dengan tindakan istrinya.


"Bapak tau, Aneska di bentak-bentak pak, dia anak ibu, ibu meregang nyawa untuk dapat melahirkannya. Mana ada seorang ibu yang sanggup melihat dan mendengar anaknya di bentak dan di marahi." Air mata ibu Desi menetes membayangkan anaknya di bentak-bentak suaminya.


"Iya bapak tau, ikatan seorang ibu dan anak itu kuat. Mungkin Abian sedang emosi." Pak Mirza memeluk istrinya memberikan rasa nyaman untuk wanita paruh baya itu.


"Seharusnya dia tidak mendahulukan emosinya, masih ada ibu saja dia sudah memarahi dan membentak Aneska kalau tidak ada ibu mungkin udah di pukul Aneska."


"Jadi sampai kapan Aneska di sini?" tanya suaminya yang masih memeluk istrinya.


"Selamanya." Sahut istrinya.


"Selamanya? itu sama saja ibu ingin anak kita cerai." Ujar suaminya tidak setuju.


"Lalu ibu harus menyerahkan anak kalian ke pria itu, nanti kalau Aneska melakukan kesalahan di marahi lagi di bentak lagi. Ibu enggak sanggup pak, sakit rasanya dada ibu melihat darah daging kita di perlakukan seperti itu."


Wanita paruh baya itu sangat mengasihi anaknya dan akan selalu siap melindungi anaknya sampai kapanpun.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2