
Semua orang langsung menoleh ke arah Tanisa.
"Mengandung?" gumam nyonya Rona. Wanita paruh baya itu beranjak dari tempat duduknya, dia menghampiri Abian yang sedang berdiri dengan raut wajah murka.
"Abian, kakak kamu sedang mengandung, kasihan kalau dia harus keluar dari istana ini. Izinkan dia untuk tetap tinggal di sini." Bujuk nyonya Rona.
"Tidak ada yang bisa merubah keputusanku, aku bilang keluarrrrr!" teriak Abian lagi.
Nyonya Rona tidak berani membujuk anaknya. Oma Zulfa ikut berdiri dan mendekati cucunya.
"Abian cucu oma, menurut oma biarkan mereka tinggal di sini tapi dengan syarat Farid harus menyerahkan perusahaannya kepada kamu." Ucap oma.
"Tidak! aku tidak ingin menyerahkan perusahaanku." Teriak Farid.
"Aku setuju." Ucap Tanisa.
"Sayang, apa yang kamu lakukan, perusahaan itu adalah perusahaan almarhum papaku." Ucap Farid.
"Aku lebih memilih perusahaan kamu di ambil dan di kelola Abian dari pada keluar dari istana ini." Suami istri itu berdebat, mereka bertahan dengan pendapat masing-masing.
"Diammm!" nyonya Rona teriak.
"Farid kamu harus menyerahkan perusahaan kamu sama Abian, itu semua demi anak kalian." Nyonya Rona bertindak tegas pada saat itu. Farid dan Tanisa yang berdebat langsung diam.
"Baik aku setuju, kalian aku izinkan tinggal di sini dengan syarat perusahaan kamu serahkan kepadaku." Abian mengikuti saran omanya.
"Abian, aku membangun kembali perusahaanku dengan penuh perjuangan." Jelas Farid.
"Perjuangan apa? perjuangan mencuri. Terserah dalam satu bulan jika tidak dapat melunasi persiapkan diri kamu di penjara."
"Pelayan bawa keluar mereka." Abian menggerakkan tangannya mengusir Tanisa dan Farid.
"Baik Abian, aku akan menyerahkan semua perusahaanku kepadamu, semoga perusahaanku akan semakin berkembang di tangan kamu." Ucap Farid.
"Bagus." Ucap Abian sambil menganggukkan kepalanya.
"Tapi berikan aku satu posisi di perusahaanku sendiri, agar aku bisa menafkahi calon bayi kami dan kakak kamu." Farid memohon dan penuh harap agar Abian merasa iba dengannya dan bayi yang di kandung Tanisa. Dia berharap jika dia dapat bekerja di perusahaannya, dia bisa mengambil sedikit demi sedikit aset perusahaan yang mana aset itu bisa di jualnya.
Abian menghembuskan nafasnya secara kasar. Raut wajahnya menunjukkan sedang berpikir.
"Baiklah aku berikan posisi penting untuk kamu."
__ADS_1
"Terima kasih Abian. Kira-kira apa posisiku di sana?" Farid melihat kembali wajah adik iparnya.
"Office boy." Ucap Abian.
"Hahaha." Oma Zulfa tertawa. Aneska menahan tawanya. Ibu Desi bingung dengan reaksi oma yang tiba-tiba tertawa.
"Office boy apa oma." Bisik ibu Desi penasaran.
"Tukang bersih-bersih." Jawab oma sambil tersenyum.
"Hahaha, pembantu rupanya." Ibu Desi tertawa kencang membuat Tanisa, Farid dan nyonya Rona kesal. Kesal karena merasa di rendahkan.
"Abian, apa tidak ada posisi yang lain untukku." Rayu Farid.
"Tidak ada, kalau kamu tidak mau silahkan cari kerja di tempat lain." Ucap Abian tegas.
"Zidan siapkan surat-surat perjanjiannya sekarang juga, besok serahkan sama pengacara. Aku ingin perusahaan itu ada di tanganku secepatnya." Abian menggandeng istrinya dan membawanya kembali ke kamarnya.
Zidan ikut meninggalkan ruang makan itu menuju ruang kerja. Mempersiapkan surat perjanjian itu dengan segera.
"Lepaskan!" ucap Tanisa. Dua pelayan melepaskan tangannya dari lengan Tanisa begitupun dengan Farid.
Di ruang makan itu tinggal oma Zulfa, ibu Desi, Ila dan Anggela. Mereka melihat ke arah Anggela.
"Ada apa? Kenapa kalian semua melihatku." Anggela bingung dengan tatapan semua orang.
"Kenapa kamu tidak mengikuti mami?" ucap Ila.
"Ah malas itu bukan urusanku. Lebih baik aku berendam." Anggela beranjak dari kursinya dan berjalan meninggalkan ruang makan itu.
Ibu Desi melihat oma Zulfa, dia seperti membutuhkan penjelasan dari wanita sepuh itu.
"Kalau kamu mau tau tentang keluarga besan kamu, seperti inilah aslinya." Oma berdiri dari sofa di bantu ibu Desi. Wanita paruh baya itu mengikuti langkah oma menuju kamarnya.
Sebelum meninggalkan ruang makan ibu Desi melihat anak bungsunya yang sedang mengobrol dengan Ila.
"Sebaiknya kalian istirahat, persiapkan segala kebutuhan yang akan kalian bawa besok ke singapura." Ucap ibu Desi.
"Baik bu." Cyra dan Ila beranjak dari kursi makan dan kembali ke kamar masing-masing. Ibu Desi masih menuntun oma Zulfa menuju kamarnya.
"Masuklah." Ucap oma. Ibu Desi masuk ke kamar yang cukup besar di bandingkan dengan kamar yang di tempatinya dan Cyra.
__ADS_1
Dia melihat furniture tua di dalam kamar itu, beda dengan ruangan lain, di mana ruang tamu funiturenya lebih terlihat semi modern yang di kombinasi dengan berbagai furniture tua. Tapi di kamar oma Zulfa, dari tempat tidur, kursi, lemari dan meja rias menggunakan furniture yang sangat tua.
"Oma apa furniture ini mengikuti usia pemilik kamarnya." Ucap ibu Desi sambil menyentuh setiap furniture.
"Dasar kamu. Duduk sini." Oma Zulfa melambaikan tangannya agar ibu Desi berhenti mengagumi keindahan kamarnya.
Ibu Desi duduk di pinggir tempat tidur, oma Zulfa menyandarkan badannya di bagian kepala tempat tidur sambil meluruskan kakinya.
"Ceritakan kepadaku oma tentang keluarga ini." Ucap ibu Desi sambil memijat kaki oma.
Oma menghela nafasnya sebelum berbicara.
"Kamu lihat, istana ini jika di lihat dari luar sangatlah indah tapi jika masuk ke dalam istana, istana ini lebih buruk di bandingkan rumah-rumah kumuh."
"Maksud oma apa?" ibu Desi belum mengerti maksud ucapan oma, dia tetap memijat kaki oma Zulfa.
"Buruk karena penghuninya. Setiap hari selalu terjadi pertengkaran, tidak ada yang akur satu sama lain, terutama Rona dan Tanisa selalu saja membuat keributan di istana ini apalagi masuk Farid, istana ini semakin tidak menunjukkan keindahannya." Jelas oma.
"Apa sebenarnya yang membuat mereka selalu berselisih paham." Tanya ibu Desi, setidaknya dia mengetahui penyebab keluarga besannya tidak akur satu sama lain.
"Harta." Jawab oma Zulfa singkat dan padat.
"Oma benar harta membutakan segalanya, untung kami tidak punya harta jadi tidak ada yang perlu di ributkan." Ucap ibu Desi.
"Kamu benar, seandainya Bassam masih hidup pasti perselisihan ini tidak pernah terjadi. Bassam menantuku, kamu meninggalkan mami lebih dulu." Ucap oma Zulfa membayangkan kehadiran menantunya.
"Banyak yang merindukan kehadirannya, kematiannya sangat mendadak dan meninggalkan luka yang dalam untuk keluarga."
"Maaf oma kalau boleh tau, meninggalnya tuan Bassam karena sakit atau ada hal lain." Tanya ibu Desi yang jadi penasaran dengan meninggalnya tuan Bassam.
"Bassam mempunyai asma akut tapi dia meninggal bukan karena sakit asma tapi jantung." Jelas oma lagi.
"Sakit itu sebab oma, mungkin ini sudah suratan Sang Illahi. Kita berdoa semoga keluarga ini kembali rukun seperti dulu lagi. Aamiin." Ucap ibu Desi.
"Aamiin, terima kasih Desi, kamu dan Aneska baik sekali. Oma merasa beruntung Abian menikah dengan Aneska. Kerena Aneska wanita yang baik. Terima kasih karena telah mendidik anak-anak kamu dengan sangat baik." Ucap oma sambil memegang tangan ibu Desi.
Setelah percakapan itu ibu Desi meninggalkan kamar oma, dan kembali ke kamarnya, mempersiapkan segala kebutuhan yang akan di bawanya ke negeri singa itu.
Bersambung...
Author akan update lebih jika rangkingnya masuk 10 besar ya, jangan bilang pelit dan sebagainya ya. Karena dengan vote dari kalian akan menambah semangat untuk author, terima kasih.
__ADS_1