
Pagi harinya mentari telah berada di peraduannya menyinari alam semesta. Hari ini hari yang sangat di nantikan para pekerja. Karena malam harinya mereka akan menghadiri atau terlibat dalam acara ulang tahun majikannya.
Untuk hari ini para pelayan yang biasanya selalu berkutat dengan pekerjaan terlihat santai. Halaman istana sedang di dekor oleh jasa interior. Begitupun dengan makanan telah di pesan oleh jasa katering yang terkenal di kota itu.
Nyonya Rona terlihat muram. Dia masih mencemaskan tentang pesta anaknya. Karena belum ada kejelasan tentang hadirnya Abian pada acaranya.
Nyonya Rona mencari maminya. Kebetulan oma sedang berada di pekarangan istana. Wanita tua itu sedang memantau pekerja.
"Mami." Panggil nyonya Rona.
Oma Zulfa menoleh, ibu dan anak itu saling berdiri bersebelahan. "Mami, tolong aku." Nyonya Rona memohon.
"Tolong apa?" tanya oma.
"Abian, mami tau kan kalau ini ultahnya, tidak mungkin dia tidak hadir dalam acaranya sendiri." Berujar dengan perasaan cemas.
"Mami harus ngomong apa?" tanya oma balik.
"Rayu Abian, mami pasti bisa melakukannya." Oma menatap wajah anaknya yang cemas dan panik.
"Baiklah mami hanya menanyakan saja keberadaan Abian, mami tidak akan merayu dia untuk datang ke acara ultahnya. Kamu tau sendiri Abian, dia keras kepala seperti kamu." Ujar oma Zulfa.
Nyonya Rona mengangguk setuju. Dengan seperti itu saja menurutnya maminya sudah membantu.
Oma menghubungi Abian. Panggilan terhubung.
"Ya halo." Sahut Abian dari ujung ponselnya.
"Abian kamu dan Aneska masih di kampung?" tanya oma.
"Iya oma, kenapa? apa mami mulai stres karena aku tidak hadir." Ujar Abian. Oma langsung menoleh ke arah anaknya. Nyonya Rona bisa menebak jika Abian mengatakan sesuatu tentang dirinya.
"Katakan kepada mami, aku dan Aneska akan segera kembali ke istana." Abian menutup panggilan secara sepihak.
"Bagaimana mam?" tanya nyonya Rona ketika melihat maminya menyimpan ponselnya dalam saku.
"Keinginan kamu terwujud Abian dan Aneska akan kembali ke istana." Sahut oma.
"Aaaaa." Nyonya Rona senang. Tapi dia diam kembali dan menatap manik maminya.
"Mami berkata benar kan? mami bukan sedang mengerjaiku kan?" nyonya Rona curiga. Karena dia kenal maminya yang tidak pernah memihaknya dan selalu menentang semua keputusannya.
"Mami mengatakan dengan benar tapi tidak tau dengan Abian. Bisa saja dia mengatakan akan hadir tapi kenyataannya tidak." Ucapan oma Zulfa kembali membuat nyonya Rona di landa kecemasan.
"Aduh gimana nih." Gumam nyonya Rona. Oma meninggalkan anaknya. Wanita tua itu tidak mau memikirkan kegelisahan yang di alami anaknya.
***
Tiara dan Tami masuk kerja di shift pagi. Mereka beruntung dapat shift pagi karena keduanya bisa hadir dalam acara ultah suami Aneska.
Aldo masuk ke dalam ruang perawat. "Do, bagaimana mobil kamu?" tanya Tami.
__ADS_1
"Masih di bengkel mbak, kenapa?" tanya Aldo dan menarik kursi untuk didudukinya.
"Oh masih di bengkel." Sahut Tami pelan.
"Memangnya kenapa?" tanya Aldo dengan menatap kedua temannya.
"Pasti kamu lupa, nanti malam ulang tahun suami Aneska, dan kita di undang." Ujar Tiara mengingatkan.
"Oh iya, aku hampir lupa. Aku akan hubungi pihak bengkel semoga mobilku bisa beres hari ini." Aldo menghubungi bengkel dan pintu ruangan terbuka. Dokter Arif masuk ke dalam ruangan, bu Susan memberikan riwayat pasien yang di tangani dokter Arif.
"Tami Tiara." Ibu Susan menggerakkan kepalanya memberikan perintah untuk menemani dokter Arif visit.
Mereka berjalan di belakang dokter Arif. "Mbak, selama di mobil ngapain aja." Bisik Tiara yang terdengar dokter Arif.
"Maksud kamu apa?" tanya Tami pelan.
"Noh." Tiara menunjuk punggung dokter Arif dengan mulutnya.
"Jangan berpikiran negatif, mbak dan dokter Arif tidak ada hubungan apapun. Dan asal kamu tau di mobil juga ada Dimas dan Aldo. Seharusnya mbak yang tanya, ngapain aja kamu dengan pak Zidan."
"Enggak ada, kami hanya ngobrol." Sahut Tiara.
"Sama dong." Sahut Tami balik. Dan tetap berjalan di belakang dokter Arif menuju kamar pasien.
"Mbak tidak tertarik sama itu." Bisik Tiara lagi seraya menunjuk kembali punggung dokter Arif.
"Enggak, mbak akan menemukan calon suami sendiri." Sahut Tami.
"Serius enggak tertarik?" tanya Tiara kurang yakin. Tiba-tiba dokter Arif berhenti dan melihat dua sosok perawat yang dari tadi membicarakannya.
"Sudah selesai membicarakan saya." Dokter Arif menatap dua perawatnya.
Tami menunjuk Tiara begitupun sebaliknya. "Kalau mau membicarakan seseorang pastikan orangnya tidak dengar." Sindir dokter Arif dan masuk ke dalam ruang perawatan.
***
Abian dan keluarga istrinya sedang bersiap
menuju istana.
Semua telah bersiap hanya ibu Desi yang belum terlihat batang hidungnya.
"Ibu kok lama sih." Gerutu Cyra.
"Iya nih, kok lama pak?" tanya Aneska yang sedang duduk di baris kedua bersama adiknya. Sedangkan Abian dan pak Mirza berada di baris kesatu.
"Bapak susul ibu dulu." Pak Mirza turun dari mobil dan sosok yang di tunggu akhirnya keluar dari rumah.
Semua langsung membelalakkan matanya. Penampilan ibu Desi membuat semuanya tercengang.
"Nes, kenapa dengan bibir ibu kamu?" tanya pak Mirza.
__ADS_1
"Mungkin ibu makan sambel pak." Sahut Aneska yang tetap tidak berkedip.
Ibu Desi memakai gaun pestanya dengan riasan yang menor tentunya. Lipstik merah menyala, bulu mata sepanjang bulu hidung dan riasan lainnya yang membuat semua orang tercengang.
"Bagaimana penampilan ibu." Ibu Desi berlenggak lenggok di depan anak dan menantunya.
"Bapak ngeri lihat wajah ibu." Ujar pak Mirza jujur.
"Kok ngeri sih pak, ibu itu sudah berdandan seperti artis. Lihat bulu mata ini, eye shadow belum lagi lipstiknya." Berujar seraya menunjuk semua riasan yang ada di wajahnya.
"Bu acaranya malam, apa enggak terlalu pagi ibu berhias." Ujar pak Mirza menatap dengan wajah tak ikhlas.
"Pak, segala sesuatu itu harus di persiapkan dan ini persiapan ibu." Berujar bangga.
"Ibu mirip badut." Celetuk Cyra.
"Cyra, mau ibu potong uang jajan kamu!" ancam ibunya. Cyra mengatupkan tangannya dan menutup mulutnya. Dia tidak mau jika uang jajannya di potong karena mengejek ibunya.
Ibu Desi duduk di sebelah Cyra. "Menantu go." Titah ibu Desi.
"Baik bu." Sahut Abian yang terus menyunggingkan senyum di bibirnya. Dia merasa lucu dengan riasan mertuanya.
"Ibu beli alat make up di mana?" tanya Aneska yang terus memperhatikan ibunya.
"Ini semua pinjam, karena dadakan jadi mau enggak mau pinjam sama tetangga." Jelas ibu Desi yang duduk tidak mau menyandarkan badannya.
"Untuk alis pakai apa?" tanya Aneska lagi.
"He he he." Ibu Desi tertawa. "Karena tidak ada pensil alis jadi bu Tarno mengajari ibu dengan memakai kemiri yang di bakar." Jelas ibunya bangga.
Aneska dan Cyra saling melirik dan tertawa. "Bu, di tambah cabe, bawang udah jadi bumbu dapur." Ejek Aneska.
Ibu Desi menoyor kepala anaknya tidak terima jadi bahan ejekan anaknya.
Pak Mirza menoleh ke belakang melihat istrinya. "Kenapa pak, apa ibu tambah cantik?" tanya ibu Desi.
"Apanya yang cantik, ibu mirip donat yang di lipstik." Ejek suaminya.
"Duh bapak ini, ibu melakukan ini agar bapak tambah cinta sama ibu." Jelas istrinya manja.
"Iya tapi bukan tambah cinta, yang ada bapak mau muntah lihat ibu. Bibir merahnya mirip badan lagi kerokan, belum lagi mata udah seperti petinju yang kenak tonjok. Nah satu lagi alis.." Pak Mirza mengejek istrinya dan menggelengkan kepalanya.
"Kenapa dengan alis pak?" tanya Aneska dengan gelak tawanya.
"Alis ibu kamu sudah mirip tikungan tajam. Bapak yakin pembalap akan jatuh kalau melewati tikungan alis ibu kamu." Sindir pak Mirza lagi.
Semuanya tertawa hanya ibu Desi yang manyun. Bentuk alis hasil karya tetangganya memang sangat menanjak tak heran jika suaminya mengatakan alisnya seperti tikungan.
Bersambung...
🌹🌹🌹
__ADS_1
Plagiarisme melanggar Undang-undang Hak Cipta Nomor 28 Tahun 2014