Love Of A Nurse

Love Of A Nurse
Bab 155


__ADS_3

Semua menatap ke arah dokter Arif dan Tami. "Iya kan sayang." Ujar dokter Arif ke Tami. Dan Tami merespon dengan menggelengkan kepalanya.


Sikap Tami membuat dokter Arif bingung.


"Ternyata kamu seperti itu ya, di depan semua orang kamu tidak mengakui hubungan kita." Berujar dengan serius.


"Kita?" Tami menunjuk dirinya dan dokter Arif. Semua teman menatap tajam ke arah Tami sekarang.


"Aku tau, kenapa dokter Arif mengirim kamu kerja di tempat lain karena kamu istimewa, tak kuduga tak kusangka, kalian berdua sangat rapih dalam menyembunyikan hubungan kalian." Ujar Dimas.


"Hah?" Tami tambah bingung. Tanisa langsung berlari ke arah mobil dan nyonya Rona mengikuti anaknya.


"Tanisa tunggu mami." Berujar dengan teriak agar suaranya dapat di dengar anaknya.


"Mau mami apa? puas mami mempermalukan ku!" seru Tanisa marah.


"Mami tidak tau jika kenyataannya seperti ini sayang." Nyonya Rona ingin memeluk anaknya tapi tangannya langsung di tepis Tanisa.


"Mulai sekarang jangan pernah menjodohkan ku dengan pria manapun." Tanisa berteriak memanggil supir. Dia memerintahkan supir untuk segera kembali ke istana.


"Wah ternyata diam-diam dokter dan mbak Tami ada something." Ujar Tiara.


"Enggak ada." Tami langsung menatap tajam ke arah dokter Arif.


"Bisa kita bicara dok." Ujar Tami. Dokter Arif menganggukkan kepalanya.


Keduanya pergi ke tempat yang sepi dari kebisingan. Dan ketika keduanya membalikkan badan terlihat para perawat mengikuti mereka.


"Ngapain kalian?" tanya Tami.


"Hehehe, mau nguping." Sahut Tiara.


"Pergi sana." Tami mengusir semua temannya agar tidak mendengarkan apa yang akan di bicarakannya bersama dokter Arif.


Ketika tidak ada temannya keduanya langsung ngomong serius.


"Apa maksud ucapan dokter?" tanya Tami tegas.


"Maaf Tami, saya melakukannya karena terpaksa." Jelas dokter Arif.


"Dokter apapun rencana dokter saya tidak setuju, jika anda tidak suka dengan Tanisa lebih baik anda langsung mengatakannya, jangan saya yang di libatkan. Memangnya saya wanita apaan." Berujar marah.


"Kamu tidak mengerti nyonya Rona orang yang keras dan selalu memaksa. Dia tidak suka dengan sebuah penolakan. Dan saya tidan mau menikah dengan orang yang tidak saya cintai." Jelas dokter Arif.


"Lalu saya siapa? dokter juga tidak ada perasaan sama saya, jangan membuat kehebohan dengan sandiwara anda. Saya bukan boneka yang bisa anda permainkan." Tami berujar sangat tegas. Dia langsung berlalu meninggalkan dokter Arif dengan wajah jutek.


Ketika bergabung dengan teman sejawatnya. Semuanya langsung menanyakan kejelasan hubungannya dengan dokter Arif.


"Mbak bagaimana?" tanya Tiara.

__ADS_1


"Bagaimana apanya?" sahut Tami jutek.


"Itu loh mbak hubungan kalian berdua." Timpal Aldo dan ketika itu dokter Arif datang dan bergabung bersama semuanya.


"Tanya kan sama orangnya." Sahut Tami jutek. Dia malas dengan sikap dokter Arif yang menurutnya kekanak-kanakan.


"Dok?" tanya semua perawat dan melihat dokter Arif.


"Apa." Sahut dokter Arif pelan dan melirik ke arah Tami.


"Hubungan kalian?" tanya Tiara.


"Sebenarnya kami telah putus lama." Ujar dokter Arif. Ucapan dokter Arif membuat Tami kembali melotot.


"Oh ya, dan sekarang cinta kalian tumbuh kembali gitu?" tanya Aldo penasaran.


"Salah semuanya salah. Kami tidak pernah jadian dan untuk dokter jangan mengarang indah mulai hari ini. Cukup penulis yang berhalusinasi." Berujar ketus.


Dan dari jauh ada sosok yang sangat di kenal Tiara yaitu kedua orang tuanya datang dengan menggunakan mobil pick up.


"Mati aku." Gumam Tiara yang telah melihat kedua orang tuanya. Tatapan Tiara terus di perhatikan Zidan. Dan ketika melihat ada dua orang paruh baya dan seorang anak remaja. Dia yakin jika itu orang tua Tiara.


"Buk e." Seru Tiara menghampiri kedua orang tuanya.


"Sudah berapa malam kamu di sini nduk?" tanya ibunya. Keluarga Tiara orang jawa asli. Bahasanya sangat kental dengan logat jawanya.


Tami dan dokter Arif masih berdebat. Tami meminta penjelasan kembali tentang ucapan dokter Arif.


"Maaf Tami, tidak mungkin saya mengatakan kalau kamu hanya alat untuk memuluskan rencana saya, pasti harga diri kamu jatuh di hadapan semua teman kamu. Jadi dengan terpaksa saya berbohong dengan cerita itu." Jelas dokter Arif.


Ada rasa senang ketika dokter Arif memikirkan tentang harga dirinya tapi rasa sebal telah menyelimuti sikapnya. Dan dia terus saja bersikap jutek ke dokter itu.


Zidan menghampiri keduanya.


"Permisi dokter, jika kalian mau kita bisa nikah bareng." Zidan menyela pembicaraan dua orang itu.


"Bapak!" Tami menuding dengan jari telunjuknya ke arah Zidan.


"Bercanda Tami, saya hanya mau tanya. Apa itu orang tua Tiara?" tanya Zidan dan menunjuk ke arah Tiara dan beberapa orang yang dekat dengannya.


"Oh iya, itu bapak dan ibunya. Keluarganya asli jawa." Jelas Tami.


"Tapi kenapa bapaknya terlihat sangat menakutkan?" tanya Zidan lagi.


"Iya, bapaknya memang seram. Tiara lebih dekat dengan ibunya. Kalau bapak mau menaklukan Tiara taklukan dulu bapaknya." Jelas Tami lagi.


Tiara membawa keluarganya menuju meja prasmanan. Dia terus menemani keluarganya. Setelah selesai menikmati hidangan kedua orang tuanya menyalami pengantin dan keluarga. Ketika bersalaman dengan ibu Desi. Wanita paruh baya itu langsung menahan keluarga Tiara untuk tidak pulang dulu.


"Jeng jangan pulang dulu ya." Ujar ibu Desi.

__ADS_1


"Njeh." Sahut ibu Titik.


Keluarga Tiara masih duduk di kursi tamu. Sesuai permintaan yang punya acara untuk jangan pulang dulu. Dan acara selesai pada sore hari.


Ibu Desi dan suaminya mempersilahkan keluarga Tiara masuk ke dalam rumah.


Semua teman sejawat Tiara ikut berada di ruangan itu termasuk Aneska dan Abian juga duduk di ruangan itu.


"Silahkan di minum." Ujar ibu Desi kepada tamunya. Tiara sudah pucat dia mengkhawatirkan kemarahan orang tuanya.


"Begini jeng, sebenarnya saya tidak enak jika harus membicarakan ini. Tapi..." Ujar bu Desi.


"Tapi opo jeng?" tanya ibu Titik mulai penasaran.


"Sepertinya Tiara harus segera di nikahkan." Ujar pak Mirza ikut buka suara.


"Kenapa toh pak?" tanya pak Minto selaku orang tuanya Tiara.


"Tadi pagi" Ibu Desi menceritakan apa yang di lihat semua orang. Dimana Tiara dan Zidan sedang tidur berpelukan.


"Opo!" pak Minto berdiri dan langsung memegang ujung kumisnya. Pria paruh baya itu mendekati anaknya.


"Jelasna marang bapak apa sejatine (jelaskan pada bapak apa itu benar)?" tanya bapaknya dengan amarah.


Tiara menganggukkan kepalanya pelan.


"Nanging awake dhewe ora nindakake apa-apa (tapi kami enggak melakukan apapun)." Jelas Tiara.


"Ngrangkul ora nindakake apa-apa sing sampeyan ucapake! (Berpelukan tidak melakukan apa-apa kamu bilang)" seru pak Minto marah.


Di tempat yang sama. Semua teman Tiara tidak mengerti apa yang sedang di bicarakan bapak dan anak itu.


"Sepertinya kita butuh kamus." Ujar Aldo.


"Iya benar, aku pun enggak ngerti mana bapaknya mana ibunya." Gurau Dimas. Dan ucapan Dimas membuatnya mendapatkan lirikan dari temannya.


"Enggak lucu!" seru temannya.


"Zidan sepertinya kamu butuh penerjemah jika melamar Tiara." Ujar Abian.


"Bukan penerjemah, dia harus belajar bahasa jawa agar bisa mengerti ekspresi dan arti dari ucapan calon mertuanya.


Zidan menepuk jidatnya. Ternyata tantangannya bukan hanya kumis tebal calon mertuanya tapi harus belajar bahasa jawa. Dan dia tau akan sulit untuk mengucapkannya secara dia kebanyakan makan keju.


Bersambung...


🌹🌹🌹


Plagiarisme melanggar Undang-undang Hak Cipta Nomor 28 Tahun 2014

__ADS_1


__ADS_2