
"Kenapa bisa flu." Abian memeluk istrinya sampai ke mobil.
"Mungkin karena kebanyakan makan es krim, hacimm." Jawab Aneska sambil berhenti.
"Masuk cepat kita harus ke dokter." Ucap Abian khawatir sambil membukakan pintu mobil untuk istrinya.
"Enggak usah ke dokter, nanti juga sembuh." Ucap Aneska dengan suara bindeng.
"Harus ke dokter, melihat kamu seperti ini aku ikut tersiksa." Ucap Abian sambil melajukan mobilnya.
Mendengar ucapan suaminya, Aneska merasa terharu belum ada orang yang sangat khawatir tentang kesehatannya kecuali keluarganya.
"Abian kita pulang aja yuk, aku hanya butuh istirahat." Ucap Aneska.
"Iya kita pulang tapi setelah berobat ke dokter." Ucap Abian tegas.
"Abian, aku seorang perawat untuk penyakit seperti ini hanya butuh istirahat." Ucap Aneska.
"Pokoknya kita berobat." Ucap Abian lagi.
"Abian!" Aneska berteriak.
"Kamu kenapa berteriak." Abian bingung.
"Please jangan berobat, aku enggak suka minum obat." Rengek Aneska dengan suara bindeng.
"Kamu seorang perawat tapi tidak suka minum obat." Ucap Abian bingung.
"Mana ada orang yang suka minum obat, kecuali obatnya rasa ayam goreng pasti semua pada suka, hacccimm." Aneska kembali bersin.
"Ya sudah kita balik, tapi sampai istana kamu harus istirahat dan tidak boleh minum es krim lagi."
"Ho oh." Kepala Aneska juga pusing, tapi dia tidak mau mengatakan ke Abian.
Abian melirik istrinya yang sedang berusaha untuk bisa memejamkan matanya.
"Kamu tadi kemana?"
"Kemana apa maksud kamu." Tanya Aneska balik.
"Tadi di mall."
"Oh aku kebelet pipis, aku tidur dulu ya." Aneska mencoba memejamkan matanya.
"Tidurlah." Ucap Abian sambil mengelus rambut istrinya.
Setelah melewati jalan yang panjang akhirnya mereka sampai di istana. Karena istrinya masih tertidur maka Abian membopong tubuh Aneska dan membawa masuk ke dalam istana. Aneska dapat merasakan kalau tubuhnya seperti melayang tapi matanya terasa berat untuk di buka.
"Aneska kenapa tuan." Tanya Tami.
__ADS_1
"Nona Aneska." Abian menekan bicaranya.
"Maaf, nona Aneska kenapa?" ucap Tami.
"Badannya panas dan hidungnya meler." Ucap Abian.
"Beri pakaian yang longgar, dan kompres dahinya dengan air hangat." Jelas Tami.
Abian mendengarkan penjelasan Tami sambil terus membawa istrinya menuju lantai lima.
"Kalau tuan tidak bisa, saya bisa mengompres dan mengganti pakaiannya." Ucap Tami pelan.
"Ambilkan alat untuk mengompresnya." Ucap Abian.
"Baik tuan." Tami berlari menuju dapur dia bingung dengan yang di maksud Abian alat.
"Mungkin maksudnya perlengkapan untuk mengompres." Gumam Tami. Sambil menunggu Tami datang, Abian meletakkan tubuh istrinya di atas kasur. Dia meletakkan tangannya di dahi Aneska.
"Panas." Ucap Abian sambil melihat istrinya yang tidur melungker. Pintu kamar di ketuk, Abian buru-buru membuka pintu kamarnya.
"Tuan ini perlengkapannya." Tami menunjukkan baskom kecil dan handuk kecil.
"Untuk apa rantang ini." Tanya Abian.
"Rantang?" Tami menggaruk kepalanya bingung.
"Bukan ini namanya baskom. Tuan bisa memberi air hangat di dalamnya." Jelas Tami.
"Coba kamu praktekkan." Ucap Abian.
"Baik tuan, permisi." Tami masuk ke kamar Abian dan mengambil air panas di kamar mandi. Dia mempraktekan cara mengompres dahi Aneska.
"Kenapa hanya dahi yang di kompres." Tanya Abian.
"Kompres bisa di dahi, lipatan ketiak dan dada. Terserah tuan mau di kompres bagian mana. Tapi pastikan Aneska pakai pakaian yang longgar." Jelas Tami.
"Ya sudah tinggalkan kami." Ucap Abian.
"Permisi tuan." Ucap Tami sambil keluar dari kamar majikannya.
Abian mencari pakaian yang bisa di gunakan Aneska. Dia mengacak lemari istrinya.
"Kenapa pakaian wanita selalu ngepas di badan." Gerutu Abian.
Abian mengingat pesan Tami untuk memberikan pakaian yang longgar. Jadi Abian mengambil kaos oblongnya, karena hanya itu yang menurutnya cocok untuk Aneska.
Abian bingung cara menggantikan pakaian istrinya.
"Kancing kamu di mana." Abian mencari di depan dada istrinya tapi tidak ada. Dia menemukan di punggung badan Aneska. Ketika menurunkan resleting pakaian istrinya. Dia menelan salivanya dengan kasar, dia memandangi punggung istrinya yang putih bersih.
__ADS_1
"Sabar keris, istriku masih sakit. Jangan berdiri dulu." Gumam Abian. Abian berhasil melepas pakaian istrinya. Aneska melihat bayang suaminya yang ada di depannya tapi karena kepalanya yang terasa berat dia tidak memperdulikan lagi.
Aneska hanya memakai bra dan celana dalam. Membuat Abian tambah panik dan bingung. Melihat tubuh istrinya yang molek dia sudah sangat bergairah.
"Aduh, kalau enggak sakit pasti aku sudah minta hakku. Tapi kalau cium bolehlah." Gumam Abian sambil mencium dada istrinya. Kemudian dia melihat kembali.
"Kurang jelas." Gumam Abian sambil membuat tato kepemilikan di sana.
"Nah ini baru bagus." Abian segera memakaikan pakaian untuk Aneska setelah itu dia menutupi tubuh istrinya dengan selimut.
Abian buru-buru ke kamar mandi. Keris saktinya tidak mau tidur jadi mau tidak mau dia harus memberikan obat tidur di kamar mandi. Setelah selesai dengan kegiatannya di kamar mandi, dia melihat Aneska berusaha untuk bangun dari tempat tidur.
"Sayang kamu mau ke mana?" ucap Abian sambil menghampiri istrinya ke tempat tidur.
"Aku haus mau minum." Jawab Aneska dengan mata yang sedikit tertutup.
"Tunggu di situ, aku akan mengambilkan untukmu." Abian mengambil air minum untuk istrinya.
Aneska menghabiskan minumannya. Dan kembali tidur. Abian mengompres dahi istrinya secara berulang dan menawarkan makanan untuk istrinya. Tapi Aneska menolak.
"Kalau kamu tidak mau makan, kita ke rumah sakit, biar dokter memberikan obat pahit untuk kamu." Ancam Abian.
"Iya-iya." Jawab Aneska cepat dia takut kalau harus minum obat. Abian menghubungi koki dan memerintahkan para koki untuk membuatkan bubur jagung untuk istrinya.
Hanya dalam dua puluh menit bubur sudah siap dan di bawa ke kamar Abian.
"Makanlah." Abian menyuapi istrinya dengan penuh ketelatenan. Perhatian suaminya sungguh membuatnya terharu. Aneska mengelus jenggot tipis milik suaminya.
"Apa kamu suka dengan jenglotku." Goda Abian.
"Hahaha." Aneska tertawa kecil sambil tetap menelan makanan yang disuapkan Abian.
"Udah, aku takut muntah." Ucap Aneska manja.
"Ya sudah tidur lagi." Ucap Abian sambil menghabiskan bubur jagung bekas istrinya. Aneska terlihat menggigil, Abian buru-buru menghabiskan makanannya. Dia tau harus berbuat apa.
Abian naik ke atas tempat tidur dan membuka bajunya sambil memeluk tubuh istrinya. Tidak ada perlawanan atau penolakan dari Aneska.
Aneska merasa hangat, badan kekar suaminya bisa menghangatkan tubuhnya.
Dalam beberapa jam, suhu tubuh Aneska sudah mulai menurun tapi Abian tetap memeluk istrinya sampai pagi. Dia khawatir istrinya kembali demam tinggi.
Pagi harinya Aneska membuka matanya dan pertama yang di lihatnya badan kekar suaminya.
"Ya ampun dia baik banget." Gumam Aneska sambil mengelus jenggot suaminya. Abian bergerak dan melonggarkan pelukannya. Dia mencoba bangun dari tubuh suaminya secara perlahan. Ketika sudah dalam keadaan duduk, dia melihat pakaian asing yang ada di tubuhnya.
"Tidaaaakkkk." Aneska teriak.
Bersambung.
__ADS_1