Love Of A Nurse

Love Of A Nurse
Bab 55


__ADS_3

Keesokan harinya, Aneska selalu bangun lebih awal. Dia menyiapkan segala keperluan untuk suaminya berangkat kerja. Aneska menghampiri suaminya yang tidur di sofa.


"Abian bangun."


Abian tidak mau bangun, dia menutup wajahnya kembali dengan selimut.


"Abian bangun, kamu harus ke kantor. Ayo jangan malas." Ucap Aneska lagi.


"Aku tidak ke kantor lagi." Ucap Abian dengan mata terpejam.


"Kenapa? baru sehari kerja udah malas." Ucap Aneska sambil menggoyang lengan suaminya.


"Kalau aku kerja siapa yang menjagamu di sini." Ucap Abian sambil membuka selimutnya.


"Oh itu masalahnya. Ada Tami di sini juga ada oma." Ucap Aneska.


"Tami kamu bilang? dia tidak bisa menjagamu baru satu hari aku tinggal kerja kamu sudah babak belur." Gerutu Abian.


"Hei jangan salahkan Tami, tapi ini semua salahnya si Farid. Kenapa dia tiba-tiba datang menghajarku." Ucap Aneska.


Abian bangun dari posisi berbaring menjadi duduk. Aneska mencoba mengingat wajah Farid yang babak belur ketika mencekiknya.


"Kenapa wajah Farid babak belur? apa terjadi sesuatu di kantor." Tanya Aneska.


Abian menurunkan kakinya dari sofa, dia mau beranjak dari sofa tapi Aneska menghalanginya.


"Tadi kamu suruh bangun sekarang enggak boleh, kamu mau apa?" ucap Abian.


"Apa kamu bertengkar sama Farid, lalu kalian adu jotos?" Aneska penasaran dan mencoba mencari tau dari wajah suaminya. Abian tidak menjawab, dia berusaha menghindar dan berjalan ke kamar mandi.


"Abian jawab aku? apa kamu memukulnya di kantor?" Aneska teriak.


"Iya, aku memukulnya di kantor, jelas." Ucap Abian lagi sambil berjalan, Aneska menghalangi langkah suaminya dengan berdiri di depannya.


"Kenapa?" Aneska penasaran.


"Kenapa semua wanita selalu mau tau, apa hanya itu kerjaan kalian wanita." Ucap Abian mengeluh.


"Hei, aku wanita. Aku bertanya kepadamu karena aku korban atas perkelahian kamu dengan Farid. Ingat itu!" Aneska menunjuk dada suaminya dengan jari telunjuknya. Abian menghela nafasnya.


"Maaf karena aku, kamu jadi korban. Udah geser." Abian menggeser kepala istrinya.


"Hei, aku bukan mau mendengar permintaan maafmu. Aku mau dengar penjelasan darimu." Teriak Aneska. Aneska berteriak karena suaminya sudah masuk ke kamar mandi.


"Baiklah aku tunggu di sini." Gumam Aneska sambil menyiapkan pakaian kerja suaminya.

__ADS_1


Beberapa menit kemudian Abian keluar dari kamar mandi dan melihat istrinya sedang berkacak pinggang, salah satu tangannya memegang setelan jas.


"Aku tidak berangkat kerja." Jawab Abian.


"Harus berangkat!" seru Aneska.


"Baik aku berangkat tapi dengan satu syarat." Ucap Abian.


"Apa." Tanya Aneska.


"Kamu ikut ke kantorku setiap hari." Ucap Abian.


"Setiap hari?" Aneska langsung melotot.


"Enggak usah pakai melotot segala. Kamu mau enggak? kalau enggak mau ya sudah." Ucap Abian.


"Ok, aku ikut." Ucap Aneska mengambil pakaiannya di dalam lemari.


Aneska mengganti pakaiannya di kamar mandi.


"Aku akan merayu Abian. Semoga dia mengizinkanku kembali bekerja." Gumam Aneska.


Aneska mengenakan dress berwarna marun dengan lengan panjang dan panjang gaun sampai di bawah lutut, untuk rambutnya tidak ada penataan khusus. Rambutnya di biarkan tergerai. Aneska melihat dahinya yang sudah tidak memerah hanya bagian leher dan pipi yang masih berbekas.


"Bagus rancangan Zira boutique." Gumam Aneska sambil melihat penampilannya dari dalam cermin. Diluar Abian sudah mengenakan setelan jas berwarna hitam, pilihan istrinya.


Aneska keluar dari ruang ganti dengan memakai selendang dan menutupi lehernya. Melihat penampilan istrinya, Abian mengerutkan dahinya.


"Kamu mau ke kantor atau mau ke pemakaman." Ucap Abian.


"Ke kantor." Jawab Aneska singkat.


"Tapi kenapa pakai kain." Ucap Abian sambil melepaskan kain yang melingkar di leher istrinya. Dia baru sadar ketika bekas tangan Farid masih berbekas di leher istrinya.


"Hem, pakai lagi." Ucap Abian menyerahkan kembali selendang itu kepada Aneska.


"Taukan kenapa aku pakai selendang." Gerutu Aneska.


"Hemm, ayo kita sarapan." Abian menggandeng tangan istrinya menuju ruang makan. Di ruang makan sudah ada oma, Ila dan nyonya Rona. Oma Zulfa dan Ila tersenyum menyambut pasangan itu, tapi tidak dengan nyonya Rona, dia tidak mau melihat kemesraan anaknya.


"Pagi Bian, pagi Aneska." Ucap oma.


"Pagi oma, pagi Ila." Jawab Aneska. Abian hanya menjawab dengan anggukan kepalanya.


"Anes kamu sudah rapi, mau pergi kemana?" ucap Oma Zulfa.

__ADS_1


"Aneska akan ikut bersamaku ke kantor." Jawab Abian.


"Apa!" nyonya Rona marah. Dia langsung berpikiran jelek. Kalau Aneska merayu Abian untuk ikut ke kantor dan belajar segalanya di sana agar bisa mengambil harta keluarganya, itu pikirnya.


"Abian, ngapain kamu bawa dia ke kantor." Ucap nyonya Rona marah.


"Bukan urusan mami." Jawab Abian ketus.


"Urusan perusahaan Bassam juga termasuk urusan mami. Mami tidak setuju kalau dia ikut membantu kamu di sana." Ucap nyonya Rona marah.


"Kenapa? apa mami takut kalau semua hartaku jatuh ke tangan istriku, tapi tenang saja aku akan segera melakukannya." Ucap Abian ketus.


Setiap makan dengan keluarga Bassam selalu terjadi pertengkaran di meja makan. Itu yang membuat Aneska kurang nyaman. Dia merasa seperti pengganggu dalam keluarga itu.


"Abian, mami tidak akan setuju kalau harta keluarga kita kamu serahkan sama dia." Ucap nyonya Rona sambil menunjuk ke arah Aneska.


"Dia dia! istriku punya nama. Jadi hargai dia di sini." Bentak Abian sambil menggebrak meja.


Nyonya Rona langsung diam. Aneska menggenggam tangan suaminya. Dia tidak mau emosi suaminya kembali terpancing.


"Sebentar lagi kami akan punya anak. Jadi persiapkan diri mami untuk menyambut kehadiran anak kami." Ucap Abian.


Mendengar tentang hamil Aneska langsung menoleh ke arah suaminya.


"Ayo kita berangkat." Abian mengajak istrinya.


"Tapi kita belum makan." Ucap Aneska.


"Kita makan di luar saja. Selera makanku langsung hilang di sini." Ucap Abian.


Abian dan Aneska pamit kepada oma dan Ila. Mereka langsung menuju mobil sport milik Abian. Melihat kedatangan Aneska dan Abian, Tami yang ada di pintu depan langsung berdiri. Dia bingung karena Abian membawa Aneska langsung ke mobil.


"Aku ikut ke kantor." Teriak Aneska kepada Tami yang bengong. Abian membukakan pintu untuk istrinya. Mobil langsung melaju meninggalkan istana Bassam.


"Abian boleh aku tanya." Ucap Aneska pelan.


"Iya, apa?" ucap Abian fokus menyetir.


"Kenapa kamu mengatakan tentang anak, padahal kenyataannya kita tidak melakukannya." Ucap Aneska pelan.


"Baiklah, kalau mau kamu begitu nanti malam kita lakukan hubungan suami istri. Aku meminta hakku dan memberikan naflkah batin untukmu." Ucap Abian.


"Loh bukan itu, aku tidak bermaksud mengatakan hal itu. Aku hanya bingung kenapa kamu mengatakan hal itu sama mami kamu." Aneska panik dan khawatir akan terjadinya malam pertama mereka.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2