
Aneska dan ibunya membalikkan badannya. Mereka melihat seorang pria muda sedang berjalan menghampirinya.
"Anes siapa pria itu." Bisik ibu Desi.
Aneska mengernyitkan dahinya, dia tidak mengingat sosok pria di depannya.
"Hemm, siapa ya." Ucap Aneska bingung.
"Saya Lucky cucu oma Nely." Lucky mengulurkan tangannya ke hadapan Aneska. Aneska menyalami pria itu.
"Oh iya." Ucap Aneska sambil menarik tangannya kembali. Ibu Desi terus melihat pria yang ada di depan anaknya.
"Hemm, kenalkan ini ibu saya." Ucap Aneska memperkenalkan ibunya ke Lucky.
"Ibu Desi." Ucap wanita paruh baya itu.
"Saya Lucky." Ucap Lucky sambil tersenyum ramah.
"Bagaimana kabar oma?" ucap Aneska.
"Oma sehat, oma selalu menanyakan kamu. Pasti oma senang jika tau kamu bertemu dengan saya di sini, sebentar." Lucky menghubungi omanya dan mengaktifkan panggilan video.
"Oma, coba oma tebak aku sama siapa?" ucap Lucky.
"Yang jelas kamu sedang di mall, kalau sama siapa oma tidak tau, karena kamu tidak pernah membawa seorang gadis ke hadapan oma." Ucap oma Nely.
Lucky menunjukkan Aneska yang berdiri di sampingnya.
"Aneska!" teriak oma Nely dari ponselnya.
"Hai oma." Ucap Aneska sambil melambaikan tangannya.
"Oma senang akhirnya Lucky menemukanmu." Ucap oma.
Ibu Desi langsung menyenggol bahu anaknya.
"Memangnya kamu anak hilang sampai baru di temukan." Bisik ibu Desi.
Aneska tidak menjawab ucapan ibunya, dia hanya tersenyum di hadapan oma Nely.
"Aneska, oma mau ngomong sama Lucky bisa." Ucap oma.
"Baik oma." Aneska menyerahkan kembali ponsel Lucky, tidak sengaja pria itu menyentuh jari jemari Aneska.
"Iya oma, hemm baiklah." Panggilan kemudian terputus.
"Lucky mohon maaf aku buru-buru." Ucap Aneska sambil menarik tangan ibunya.
"Aneska sebentar."
Aneska berhenti dan berjalan mendekati Lucky.
"Ada apa?" ucap Aneska.
"Hemm, apa kamu ada acara malam minggu ini." Ucap Lucky.
__ADS_1
Aneska tersenyum kaku.
"Aaa ada." Ucap Aneska gugup.
"Oh maaf kalau begitu. Sebenarnya aku ingin mengajak kamu pergi ke sebuah pesta. Tapi berhubung kamu ada acara tidak apa-apa. Maaf telah mengganggu waktu kamu." Ucap Lucky.
"Hemm, permisi." Aneska menganggukkan kepalanya sambil meninggalkan Lucky yang masih berdiri menghadapnya.
Aneska kembali menggandeng tangan ibunya.
"Aneska tunggu." Lucky kembali menghampirinya.
"Mau apa lagi sih dia." Bisik ibu Desi.
"Iya ada apa?" ucap Aneska lagi.
"Boleh aku minta nomor ponsel kamu." Tanya Lucky sambil menyodorkan ponselnya ke hadapan Aneska.
Ibu Desi mengambil ponsel Lucky dan mengetik nomor ponsel di situ.
"Itu anak muda, permisi." Ucap ibu Desi sambil menyerahkan kembali ponsel Lucky.
Ibu Desi menarik tangan anaknya dan masuk ke dalam salah satu toko untuk mencari keperluan anaknya dalam menyiapkan kado ultah Abian.
"Ibu, kenapa ibu memberikan nomor ponselku." Gerutu Aneska sambil memilih keperluannya.
"Sok tau kamu, mana mungkin ibu memberikan nomor ponsel kamu sama pria lain, ibu pernah muda Aneska, pria itu mau pedekate sama kamu." Jelas ibu Desi.
"Lalu nomor siapa yang ibu berikan tadi." Tanya Aneska bingung.
"Idih ibu, udah tua sukanya sama berondong." Goda Aneska.
"Anak kurang ajar!" ibu Desi menoyor kepala anaknya.
"Ibu sengaja memberi nomor ibu bukan mau ganjen, walaupun bapak kamu sudah tua tapi ibu cinta, apalagi urusan kasur, uh uh ibu jagonya." Ucap ibu Desi.
"Ih ibu enggak malu." Ejek Aneska lagi.
"Ngapain malu, kamu sudah menikah jadi wajar ibu mengatakan kepada kamu. Dengar ya Nes, jika kita berumah tangga di tahun pertama rumah tangga itu serasa coklat manis dan indah, di tahun kedua mulai ada kerikil-kerikil kecil, tahun ketiga dan keempat rumah tangga seperti bongkahan batu besar." Jelas Aneska.
"Bongkahan?" Aneska bingung.
"Itu istilah Anes, kenapa ibu bilang seperti bongkahan batu besar karena semua tidak ada yang mau mengalah, semuanya jadi kepala batu. Dan di situlah puncak masalah muncul." Ucap ibu Desi.
Aneska mendapatkan keperluannya dan membayar ke kasir. Setelah itu dia membawa ibunya duduk di sebuah kursi untuk meluruskan kaki mereka yang lelah. Aneska masih penasaran dengan ucapan ibunya.
"Apa yang harus Anes lakukan untuk bisa bertahan dengan semua cobaan itu bu." Tanya Aneska.
"Jangan memberikan harapan kepada siapapun, seperti pria tadi contohnya." Jelas ibu Desi.
Aneska menganggukkan kepalanya mengerti.
"Jika ada masalah selesaikan dengan kepala dingin, jangan sama-sama emosi, karena emosi bisa membuat pertengkaran semakin panjang dan emosi bisa memicu perceraian." Ucap ibu Desi menasehati anaknya.
"Intinya, salah satu harus jadi air jangan jadi api dua-duanya." Ucap ibu Desi lagi.
__ADS_1
"Terima kasih bu, telah memberikan nasehat untuk Aneska." Ucap Aneska sambil memeluk ibunya.
"Nes, ibu belum beli kado untuk Abian." Ucap ibu Desi sambil melihat sekeliling mall.
"Ya udah mumpung masih di sini kita cari kado untuk Abian." Aneska mengajak ibunya ke toko yang lain.
Ibu Desi melihat satu baju yang menurutnya bagus tapi ketika melihat harganya, wanita paruh baya itu meletakkan lagi baju itu. Seperti itu terus.
"Bu kenapa?" ucap Aneska sambil memperhatikan wajah ibunya.
"Nes, di sini mahal semua, harganya di atas satu juta. Mana punya ibu uang sebanyak itu." Ucap ibunya bingung mau membelikan kado apa untuk menantunya.
"Ibu, Abian tidak melihat dari harganya Anes yakin itu, asalkan ibu memberikannya dengan hati yang ikhlas pasti dia menerimanya dengan senang hati." Ucap Aneska.
"Oh ya, kalau gitu ibu kasih batu bata aja terus ibu lukis wajah dia di sana." Ucap ibu Desi senang.
"Ih ibu, kenapa harus batu bata kan masih ada yang lain." Ucap Aneska bingung dengan jalan pemikiran ibunya.
"Iya-iya nanti ibu pikirkan, sekarang kita makan dulu ya, ibu lapar."
Aneska dan ibunya mengelilingi mall, tempat segala jenis restoran berada.
"Ibu mau makan apa." Tanya Aneska.
"Makanan yang tidak kebarat-baratan." Ucap ibunya.
"Oh kalau gitu itu aja bu." Aneska membawa ibunya ke restoran yang menyajikan makanan rumahan.
Aneska dan ibunya memesan ikan asin dan cah kangkung. Sambil menunggu makanannya di buat, Aneska melihat ponselnya, dia menunggu suaminya menghubunginya.
Ibu Desi melihat sekeliling mall, dan tiba-tiba langsung membelalakkan matanya.
"Nes, itu kakak ipar kamu." Bisik ibu Desi.
"Mana bu?" Aneska melihat sekelilingnya, dia tidak dapat menemukan kakak iparnya.
"Itu Nes, yang di seberang restoran ini." Ibu Desi menunjuk dengan gerak kepalanya.
Aneska melihat gerak kepala ibunya.
"Iya bu, itu Tanisa. Sama siapa dia." Ucap Aneska sambil mencoba melihat orang yang ada di depan Tanisa.
"Enggak kelihatan Nes, ketutupan pohon bambu itu." Ucap ibu Desi.
"Iya, bu tutupi wajah ibu jangan sampai dia tau kalau kita sedang melihatnya." Ucap Aneska.
"Tutupi pakai apa?" ucap ibunya sambil tetap melihat ke arah Tanisa.
"Bu, pakai tas." Ucap Aneska.
"Oh iya, ceritanya kita jadi mata-mata ya Nes." Ucap ibunya.
"Ho oh." Ucap Aneska singkat sambil menutupi wajahnya dengan rambutnya.
Bersambung...
__ADS_1