Love Of A Nurse

Love Of A Nurse
Bab 83


__ADS_3

"Suami? kalian bercanda ya?" ucap Dimas.


"Ngapain lagi bercanda, Aneska itu sudah menikah cincin yang ada di jari manisnya itu buktinya." Jelas Tiara.


"Hancur sudah harapanku." Ucap Dimas lemas.


"Makanya jadi pria getol, biar dapat kekasih." Ucap Tiara lagi.


"Heleh yang bilang aja masih jomblo." Sindir Dimas.


Tiara langsung manyun, sedangkan teman-temannya yang lain menertawainya.


Sebelum pulang Aneska menemui ibu Susan. Dia mendatangi wanita paruh baya itu. Ibu Susan terlihat baru selesai makan, di ujung bibirnya ada tusuk gigi.


"Ibu saya mau pamit." Ucap Aneska pelan.


"Jangan bilang kalau kamu mau izin pulang dengan alasan orang tua sakit." Ucap ibu Susan marah.


"Bukan bu, saya izin keluar kerja." Ucap Aneska.


"Apa!" Ibu Susan kaget tusuk giginya langsung jatuh ke lantai.


"Aduh jatuh, mana tinggal satu lagi. Nih pakai nyelip segala." Gumam ibu Susan pelan.


"Ibu dengar saya tidak." Tanya Aneska lagi.


Wanita paruh baya itu langsung menatap sinis ke arah Aneska. Dia berdiri sambil memutari perawatnya.


"Apa kamu yakin dengan keputusanmu? cari kerja sekarang susah, saya tidak bisa terima kamu lagi kalau seandainya kamu minta balik ke sini lagi." Ucap ibu Susan tegas.


"Yakin bu." Ucap Aneska.


"Beri alasan kepada saya kenapa kamu mau keluar?" ucap Ibu Susan.


"Hemm, suami saya melarang saya untuk bekerja." Ucap Aneska pelan.


"Suami! jadi yang di bilang dokter Arif itu benar?" ucap ibu Susan.


"Iya bu." Jawab Aneska.


"Boleh saya keluar sekarang? suami saya sedang menunggui." Ucap Aneska.


"Pergilah." Ucap ibu Susan sambil menggerakkan tangannya.


Aneska menaiki taksi yang kebetulan berhenti di depan loby rumah sakit. Dia menyebutkan alamat tujuannya kepada sang supir.


Jam istirahat telah selesai, perawat kembali ke bagiannya masing-masing.


"Tiara Tami." Ucap ibu Susan memanggil keduanya.


"Mau ngapain dia?" bisik Tiara.


"Sstt diam nanti kedengaran." Bisik Tami.


Mereka menemui wanita paruh baya itu.


"Iya bu ada apa." Tanya Tami.


"Hemmm, apa kalian tau kalau Aneska sudah berhenti bekerja." Ucap ibu Susan dengan tatapan tajam.

__ADS_1


"Sudah bu, tadi Aneska mentraktir kami." Ucap Tiara.


"Oh iya, beruntung sekali kalian." Ucap ibu Susan.


Tiara dan Tami saling senggol, mereka bingung dengan sikap ibu senior yang tiba-tiba ingin tau tentang kehidupan Aneska.


"Apa kalian tau, kalau Aneska sudah menikah." Ucap ibu Susan.


"Sudah." Ucap keduanya kompak.


"Kalian tau siapa suaminya." Tanya ibu Susan lagi.


"Ibu kenapa tiba-tiba mengurusi urusan perawat ibu!" ucap Tiara ketus.


"Diam kamu! saya curiga jangan-jangan Aneska hamil di luar nikah." Ucap ibu Susan ketus.


"Astagafirullah bu nyebut. Aneska itu sudah menikah resmi dan dia tidak hamil di luar nikah." Ucap Tami marah.


"Asal ibu tau, suami dia orang kaya raya, dia sekarang tinggal di istana, minggu depan kami di undang ke istana suaminya." Tiara sengaja membuat wanita paruh baya itu iri.


"Kalau mau dongeng jangan sama saya, tidak ada namanya istana di sini! ada istana tapi istana negara!" ucap ibu Susan ketus.


"Terserah kalau ibu tidak percaya, minggu depan kalau kami sudah sampai istana Bassam, akan kami kirimi bukti untuk ibu, kalau kami tidak sedang berbual." Ucap Tiara ketus.


"Maaf bu, kami harus mengontrol pasien." Ucap Tami sambil menarik Tiara.


Mereka kembali bergabung dengan teman-temannya.


"Jangan di ladeni orang tua itu, dia tidak akan pernah percaya sama kita." Bisik Tami.


"Iya mbak, kamu benar. Aku akan buktikan kalau ucapan kita bukan dongeng belaka, biar nyahok dia." Bisik Tiara geram.


***


Oma Zulfa dan Anggela sedang membongkar semua bunga yang ada di taman bunga.


"Oma, aku jijik." Ucap Anggela.


"Oma kasih tau sama kamu ya! pria itu bukan hanya suka dengan wanita yang cantik tapi suka dengan wanita yang pintar masak dan pekerja keras, seperti Aneska. Abian menyukainya selain cantik dia punya keahlian sebagai perawat, dia pintar masak dan pekerja keras. Walaupun suaminya sudah kaya tapi dia tetap mau bekerja nah seperti itu yang Abian suka." Ucap oma.


"Jadi aku harus bagaimana oma." Tanya Anggela.


Oma melihat telapak tangan Anggela yang mulus dan lembut.


"Eheheh." Oma menggelengkan kepalanya.


"Kenapa oma? apa yang salah dengan telapak tanganku." Tanya Anggela bingung.


"Ini tangan wanita malas tidak pernah kerja, benarkan?" ucap oma.


Anggela menganggukkan kepalanya.


"Mulai sekarang tunjukkan kalau kamu itu wanita pekerja keras. Ini lagi kuku panjangnya bukan main, kamu keturunan kuntilanak? kuntilanak wajar kukunya panjang karena di sana enggak ada manicure dan pedicure." Gerutu oma sambil menunjuk jari jemari Anggela.


"Oma kuku panjang itu keren dan indah." Jelas Anggela.


"Iya tapi jorok." Ucap oma ketus.


"Kok jorok oma?" tanya Anggela bingung.

__ADS_1


"Kalau cebok kotorannya nempel di kuku, apa enggak jorok namanya." Ucap oma ketus.


"Ih jijik." Ucap Anggela sambil menggoyangkan tubuhnya.


"Ayo angkat pot bunga itu." Oma Zulfa menunjuk salah satu pot bunga yang berukuran besar.


"Oma itu besar, bagaimana cara mengangkatnya." Rengek Anggela.


"Pakai kaki, pakai tanganlah gitu aja enggak tau, ayo angkat tunjukkan sama Abian kalau kamu wanita pekerja keras." Ucap oma menyemangati.


"Iya oma." Dengan penuh perjuangan Anggela mengangkat satu pot bunga. Oma tersenyum senang.


"Mau aja di kerjain." Gumam oma sambil menahan tawanya.


Aneska baru tiba di kediaman keluarga Bassam. Dia menyerahkan beberapa lembar uang ke supir taksi.


Abian sedang berada di beranda kamarnya. Dia melihat taksi yang berhenti di depan rumahnya. Dia kaget karena istrinya turun dari taksi itu.


"Aneska." Gumam Abian sambil berlari keluar kamarnya. Dia menyusul istrinya yang baru masuk ke istana Bassam.


"Sayang kamu kenapa sudah pulang? apa kamu sakit?" Abian mengajukan beberapa pertanyaan ke istrinya sambil meletakkan tangannya di dahi Aneska.


"Kamu kenapa sih?" gerutu Aneska sambil menepis tangan suaminya.


Aneska terus berjalan menuju kamarnya. Abian mengikuti istrinya.


"Sayang jawab aku kenapa kamu pulang? bukannya kamu bilang pulang jam enam." Ucap Abian.


"Kenapa? takut ketahuan sama aku! kalau kamu baru berduaan sama wanita jadi-jadian itu." Ucap Aneska ketus sambil masuk ke dalam kamarnya.


"Wanita jadi-jadian? kamu ngomong apa? aku enggak ngerti." Ucap Abian sambil memegang kedua bahu istrinya. Aneska langsung menepis tangan suaminya.


"Bagaimana rasanya minum jus buatan wanita jadi-jadian itu." Ucap Aneska ketus sambil menjauh dari suaminya.


Abian mencoba mencerna ucapan istrinya tentang wanita jadi-jadian dan jus.


"Hahaha, kamu cemburu ya." Goda Abian sambil memeluk istrinya dari belakang.


"Siapa yang cemburu aku itu cuma mau mengingatkan saja kalau kamu itu punya istri jadi jangan genit." Ucap Aneska tidak mengakui kalau sebenarnya dia merasa cemburu.


"Oh gitu ya, aku tetap ingat kalau aku punya istri cantik seperti kamu." Ucap Abian sambil mencium leher istrinya.


"Tetap ingat tapi kenapa masih berduaan sama wanita itu." Ucap Aneska ketus.


"Siapa yang berduaan." Ucap Abian membela diri.


"Jangan bohong! Aneska melepaskan tangan suaminya dan mengambil ponselnya. Dia menunjukkan foto yang di kirimi oma kepadanya. Abian melihat foto itu.


"Hahaha, aku kasih tau sama kamu ya. Di dalam ruang fitnes ini ada aku oma dan wanita itu." Jelas Abian.


"Namanya bukan wanita itu tapi wanita jadi-jadian." Ucap Aneska ketus.


"Iya ada aku oma dan wanita jadi-jadian itu. Coba kamu lihat kira-kira oma mengambil foto ini sedang berada di dalam ruangan atau tidak." Ucap Abian sambil menunjuk foto yang ada di ponsel istrinya.


"Mana aku tau." Jawab Aneska manja.


"Apa kamu cemburu?" tanya Abian.


"Hahaha, iya." Jawab Aneska langsung menundukkan kepalanya.

__ADS_1


"Terima kasih sayang, aku senang kalau kamu cemburu, cemburu itu tandanya cinta. Aku tidak akan menduakan kamu sayang." Ucap Abian sambil mencium lembut bibir istrinya, Aneska menyambut ciuman suaminya dengan perasaan bahagia, bahagia karena merasa di cintai dan di sayangi.


Bersambung...


__ADS_2