Love Of A Nurse

Love Of A Nurse
Bab 36


__ADS_3

Abian membawa keluarga Aneska menuju meja makan. Keluarganya langsung memandang sinis ke arah keluarga Aneska.


"Ayo kita pergi dari ini, orang susah mau makan." Ejek Tanisa sambil menarik tangan suaminya untuk pergi dari ruang makan.


"Tidak usah di dengarkan, anggap saja angin lalu." Ucap oma sambil mempersilahkan keluarga Aneska untuk duduk di meja makan.


Di meja makan sudah terhidang makanan yang sangat lezat semuanya aneka makanan laut.


Keluarga Aneska mulai menikmati makanannya. Nyonya Rona masuk ke dalam ruang makan, dia langsung marah.


"Apa-apaan ini, kenapa kalian makan di sini! apa kalian pikir ini rumah makan!" Ucap nyonya Rona marah.


"Bu, kami lapar jadi jangan teriak-teriak nanti tenggorokannya sakit." Jawab ibunya Aneska.


"Kamu!" Nyonya Rona marah sambil menuding ke arah ibu Desi.


"Kenapa? apa ibu keberatan kami di sini. Anak ibu saja menerima kami dengan tangan terbuka." Jawab ibu Desi sambil berdiri.


"Ssttt, ibu sudah." Aneska memperingati ibunya untuk berbicara pelan.


"Jangan larang ibu, orang kaya seperti dia harus di lawan, jangan seenaknya saja menghina orang susah seperti kita." Ucap ibu Aneska ketus.


Oma Zulfa dan Ila hanya tersenyum. Mereka suka dengan karakter ibunya Aneska yang berani.


"Bu cukup." Bisik pak Mirza.


"Lihat Abian, keluarga seperti ini yang kamu inginkan? tata krama tidak ada sopan santun pun tidak. Seharusnya mereka tinggal di hutan." Ucap nyonya Rona ketus.


"Jaga mulut ibu." Ibunya Aneska menyiram air ke wajah nyonya Rona.


Nyonya Rona langsung memutari meja dan menjambak rambut ibu Desi. Ibunya Aneska membalas dengan menarik rambut dan menendang nyonya Rona. Keadaan di ruang makan terlihat gaduh. Tanisa dan Farid mendengar ada keributan, mereka yang ada di ruang makan berusaha untuk melerai perkelahian itu. Tapi tidak ada yang bisa. Melihat suasana semakin panas, Abian langsung meletakkan sendoknya, dia menggebrak meja.


"Berhentiiiiii!" Teriak Abian. Suara Abian cukup kencang, membuat nyonya Rona dan ibu Desi langsung menoleh ke arah Abian.


Keduanya langsung menjauh.


"Mami jangan pernah menghina keluarga istriku lagi!" Seru Abian.


"Tapi dia." Nyonya Rona belum selesai dengan kalimatnya.


"Tidak ada kata tapi, kalau mami tidak mau makan di sini silahkan pergi." Usir Abian sambil menunjuk ke arah lain. Nyonya Rona kesal, dia pergi dengan menghentakkan kakinya di ikuti Farid dan Tanisa.


"Kita lanjutkan makan sorenya." Ucap Abian. Ibu Desi dan keluarganya kembali duduk. Sebelum melanjutkan makannya, wanita paruh baya itu memulai percakapan dengan Abian.


"Apa kalian akan tinggal di sini." Tanya ibu Desi.


"Tentu kami akan tinggal di sini." Jawab Abian sambil mengunyah makanannya.


Ibu Desi melihat wajah anak sulungnya. Dia merasa kasihan akan nasib anaknya.


"Ibu rasa kalian tidak bisa tinggal di sini. Pasti ibumu akan menyakiti Aneska." Ucap ibu Desi.

__ADS_1


"Ibu, Aneska istriku tidak ada yang boleh menyentuh atau menyakitinya. Dia menjadi tanggung jawabku." Ucap Abian. Mendengar ucapan Abian, Aneska langsung menoleh, ada rasa senang karena suaminya memperhatikan dan bertanggung jawab akan dirinya.


"Kamu tenang saja, ada oma dan Ila di sini." Timpal oma Zulfa. Ibu Desi tersenyum, dia kembali menikmati makanannya. Setelah makan pelayan menunjukkan kamar untuk keluarga Aneska. Gadis itu langsung mengikuti keluarganya tapi Abian sudah menarik tangannya.


"Kamu mau kemana?"


"Hehehe, aku mau ngobrol sama ibu." Ucap Aneska.


"Besok saja ngobrolnya." Ucap Abian sambil menarik tangan istrinya ke kamar. Sesampai di kamar Aneska menepuk dahinya.


"Aduh aku lupa ambil baju lagi." Gerutu Aneska.


"Kenapa mulutmu komat kamit?" Ucap Abian.


"Aku lupa ambil baju." Jawab Aneska jujur.


"Pakai saja bajuku." Jawab Abian santai sambil membuka bajunya di hadapan Aneska.


"Waduh, bodynya." Gumam Aneska sambil menutup matanya.


"Mana mungkin aku pakai baju pria."


"Terserah." Abian masuk ke kamar mandi. Dia mau mandi.


Langsung muncul ide brilian di benak Aneska.


"Mumpung dia masih mandi, aku manfaatkan waktu untuk mengambil pakaianku." Gumam Aneska sambil memegang handle pintu.


"Jangan coba-coba kabur lagi." Ucap Abian sambil berjalan meninggalkan Aneska yang sedang berada di dekat pintu. Gadis itu hanya melongo, pikirannya telah terbaca Abian.


"Sialan dia tau, aduh aku harus bagaimana, mana mungkin aku tidur pakai kebaya." Gerutu Aneska. Dia mondar mandir di kamar, sampai Abian keluar dari kamar mandi dan telah memakai celana training tanpa memakai atasan.


"Sana mandi." Ucap Abian.


"Aku enggak punya baju, dalaman aja enggak ada." Ucap Aneska jujur.


"Aku sudah bilang pakai pakaianku." Ucap Abian lagi sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk.


"Ogah." Jawab Aneska cepat.


"Ya terserah." Abian berjalan menuju tempat tidur dan langsung berbaring.


"Kalau kamu tidur di sini, aku tidur di mana?" Ucap Aneska.


"Tidur di badanku." Ucap Abian santai sambil meletakkan salah satu tangan di dahinya.


"Enggak mau. Lebih baik aku tidur di sofa." Ucap Aneska cepat.


"Terserah." Ucap Abian sambil menutup matanya. Tidak ada pilihan lain, mau tidak mau Aneska harus mandi dan memakai pakaian suaminya. Dia berjalan menuju ruang pakaian yang langsung tembus ke kamar mandi.


"Baju kaos di mana?" Teriak Aneska.

__ADS_1


"Di atas." Teriak Abian lagi.


Aneska mendongakkan kepalanya ke atas. Dia mencoba naik ke atas dengan berpijak pada pembatas lemari. Ketika dia ingin menggapai pakaian itu. Ada tangan seseorang di bokongnya.


"Hei lepaskan tanganmu dari bokongku." Ucap Aneska ketus.


"Kamu itu tidak tau berterima kasih, kalau tidak aku pegangin kamu bisa jatuh." Jawab Abian santai.


"Iya tapi jangan di remas kali." Gerutu Aneska.


Abian melepaskan tangannya dari bokong Aneska. Karena pegangannya tidak kuat, Aneska jatuh dengan memegang pakaian dan langsung di tangkap Abian.


Pada saat itu mereka saling pandang, mata mereka saling beradu. Tapi Aneska buru-buru mengalihkan.


"Turunkan aku." Ucap Aneska ketus.


Abian langsung menjatuhkan tubuh istrinya ke lantai.


"Aw, kamu kalau mau jatuhkan lihat-lihat dong, pinggangku jadi sakit." Gerutu Aneska sambil meringis kesakitan.


"Oh sory, aku refleks tadi." Abian membantu menggendong Aneska dan membawa ke kamar mandi.


"Sudah keluar, aku bisa sendiri. Jangan masuk, awas!" Ucap Aneska ketus.


Abian keluar dari kamar mandi, Aneska langsung. membersihkan tubuhnya yang lengket. Setelah selesai, dia mengeringkan rambutnya. Dia melihat penampilannya dari dalam cermin. Kaos oblong yang di pakai Aneska hanya menutupi setengah pahanya.


"Aduh, kalau nungging dalamanku kelihatan enggak ya." Gumam Aneska sambil memperagakan menungging.


"Duh kelihatan." Mau tidak mau dia keluar dari kamar mandi, dia berjalan sambil memegang pinggangnya, mengintip keadaan di luar.


"Aman, dia sedang tidur." Gumam Aneska sambil berjalan menuju sofa dan langsung duduk.


"Hitam." Ucap Abian singkat.


"Apa!" Aneska kaget sambil menutup pahanya, tapi pahanya masih tetap terlihat. Dia berjalan menuju kasur dan langsung menarik selimut.


"Hei itu selimutku." Ucap Abian.


"Pelit amat, kamu pakai sprei aja." Ucap Aneska sambil menutupi badannya dengan selimut.


Aneska membaringkan tubuhnya kemudian dia duduk kembali. Dan berjalan lagi ke kamar mandi dan keluar dengan membawa hair dryer.


"Untuk apa hair dryer itu." Ucap Abian bingung.


"Ini senjataku, kalau kamu mendekat akan aku panaskan pakai ini." Jawab Aneska ketus.


"Aw takut." Ejek Abian sambil tertawa.


Aneska membaringkan tubuhnya di sofa, begitupun dengan Abian, dia juga mulai memejamkan matanya.


Bersambung.

__ADS_1


Author akan update lebih 1 episode jika novel ini masuk rangking 10 besar, terima kasih.


__ADS_2