
Abian dan Aneska baru saja melakukan tugas dan kewajibannya di kamar yang ada di ruang kerja Abian.
Zidan masih menunggu Abian di depan meja kerja Tya. "Tuan Abian masih lama?" tanya Zidan.
"Enggak tau pak, saya sudah menghubungi beliau tapi tidak di angkat. Kalau untuk masuk ke dalam..." Tya mengedikkan bahunya.
"Biasanya kamu di izinkan masuk ke dalam ruangan beliau tapi kenapa sekarang tidak?" tanya Zidan bingung.
"Karena ada istrinya di dalam." Sahut Tya. Zidan langsung manggut mengerti.
"Saya akan kembali lagi nanti." Ujar Zidan kembali ke departemennya. Menuju ruangannya tentunya melewati meja kerja Vania.
"Zidan, apa Abian ada di dalam ruangannya?" tanya Vania. Zidan berhenti dan menatap gadis yang berdiri berhadapan dengannya.
"Kamu sekertaris ku dan untuk apa kamu menemui tuan Abian?" tanya Zidan. Vania diam dan langsung duduk.
Karena tidak ada jawaban Zidan masuk ke dalam ruangannya.
Di ruangan CEO
Aneska tetap merengek minta di berikan satu ruangan, dan Abian hanya menanggapi istrinya dengan santai.
"Sayang ruangan kamu di belakang. Tidak ada ruangan lain yang pantas untuk kamu selain di kamar bersamaku." Ujar Abian genit.
"Ah sayang, aku bosan di istana terus. Biasanya aku di sibukkan dengan kegiatan di rumah sakit. Setidaknya berikan kesibukan untukku di sini." Ujar Aneska memohon.
Abian mendekati istrinya yang duduk di sofa. "Kamu seorang perawat dan keahlian kamu di situ. Kalau kerja di kantoran pasti akan sulit untuk kamu." Jelas Abian.
"Tapi aku tidak oon sayang, dengan cepat pasti aku bisa belajar, boleh ya." Aneska merayu dan membulatkan bola matanya.
Abian mengerutkan dahinya seraya berpikir. "Kalau tidak ada ruangan tidak apa. Aku bisa berbagi meja dengan Tya." Ujar Aneska.
"Tidak boleh, kamu istri dari pemilik perusahan ini. Kamu orang nomor dua di sini. Tidak mungkin aku menempatkan kamu di luar bersama Tya." Sahut Abian.
"Enggak apa-apa sayang. Aku masih harus banyak belajar. Sepertinya Tya orangnya baik. Jadi aku bisa belajar dengannya." Ujar Aneska lagi.
Abian tidak menginginkan istrinya terlalu sibuk. Tapi dia tidak kuasa menolak. "Baiklah kalau begitu." Abian mendekati meja kerjanya dan menghubungi sekertarisnya.
Tidak berapa lama Tya masuk ke dalam ruangan itu. "Ada yang bisa di bantu pak?" tanyanya.
"Siapkan satu meja berserta kursi komputer dan lainnya." Titah Abian.
"Baik pak. Nanti mau di letakkan di mana pak?" tanya Tya lagi.
"Letakkan di depan berseberangan meja kamu." Sahut Abian.
Apa Vania akan di pindahkan ke sini.
Tya bergumam dalam hatinya. "Ada lagi pak?" tanyanya.
"Mulai besok kamu akan mengajarkan istri saya mengenai tugas seorang sekertaris." Titah Abian.
Tya menoleh ke arah Aneska.
"Apa saya nanti akan di pindahkan dari sini?" tanya Tya yang khawatir dengan posisinya akan di geser Aneska.
__ADS_1
Aneska menghampiri Tya. "Enggak Tya, kamu tetap menjadi sekertaris suamiku dan aku akan membantu tugas kamu." Jelas Aneska.
Tya tersenyum, awalnya dia cemas tapi istri pemilik perusahaan memberikan jawaban yang membuatnya senang.
"Dengan senang hati saya akan membantu nona." Sahut Tya senang.
"Panggil aku Aneska." Tya menoleh ke arah Abian.
"Tidak! panggil nona atau ibu. Tidak ada yang boleh menyebut nama istriku." Titah Abian tegas.
"Baik pak." Tya segera keluar dari ruangan bosnya.
***
Di dalam kamarnya Tiara terus memikirkan pesan yang di kirim Aneska kepadanya. "Sebenarnya aku ini kenapa sih." Gerutunya seraya memandang langit-langit kamar.
Pesan masuk dan itu dari Zidan.
Pulang kerja aku mampir ke mes. Kita makan malam di luar.
Melihat pesan dari Zidan bukan membuat Tiara senang tapi malah ngedumel. "Di pikirnya aku wanita apaan." Gerutu Tiara dan membalas pesan Zidan.
Maaf sekali saya sedang puasa.
Zidan membaca pesan itu dan mengerutkan dahinya. Dan dia menghubungi Tiara.
"Ya halo." Sahut Tiara jutek.
"Kalau gitu saya jemput sebelum buka puasa, kamu bisa buka puasa di luar bersama saya." Sahut Zidan dari ujung ponselnya.
"Maksudnya?" Zidan bingung.
"Saya enggak mau ketemu sama bapak lagi." Tiara menutup panggilan secara sepihak.
Zidan menatap ponselnya. "Apa salah dan dosaku. Calon istri marah tanpa sebab." Gumam Zidan seraya berpikir.
"Kalau aku hubungi lagi pasti dia enggak akan mau menjawab panggilanku. Sebaiknya aku hubungi Tami, mungkin dia tau." Gumam Zidan.
***
Tami dan dokter Arif masih menonton film. Ketika ada adegan berhubungan badan Tami langsung menutup wajahnya dengan telapak tangannya sedangkan dokter Arif meliriknya. Ponselnya Tami berdering tapi suara dari layar bioskop mengalahkan dering ponselnya.
"Dok sepertinya saya salah milih film." Ujar Tami malu.
"Kenapa salah?" tanya dokter Arif bingung.
"Ini film untuk suami istri sedangkan saya belum menikah." Sahut Tami yang menatap adegan dewasa dengan tatapan geli.
"Tapi kamu sudah dewasa jadi tidak salah belajar." Jelas dokter Arif.
"Saya keluar ya dok." Ujar Tami malu karena dia menonton dengan lawan jenis beda halnya jika dia menonton dengan teman-temannya.
"Masih kurang satu jam. Tunggu sebentar lagi." Titah dokter Arif.
Tami menganggukkan kepalanya dengan mencari kesibukan dengan ponselnya. Di layar ponselnya ada panggilan tak terjawab.
__ADS_1
"Pak Zidan." Gumam Tami dan menghubungi kembali nomor Zidan.
"Ya pak, maaf saya sedang di luar jadi tidak kedengaran tadi." Sahut Tami yang menutupi mulutnya ketika berbicara.
"Kamu dimana? kenapa sepertinya berisik?" tanya Zidan.
"Saya di bioskop." Sahut Tami.
"Oh begitu, berikan ponsel kamu sama Tiara." Titah Zidan yang berpikiran kalau Tami menonton dengan Tiara.
"Tiara di mes pak, saya nonton... " Tami melirik ke dokter Arif.
"Sama siapa?" tanya Zidan lagi.
"Sendiri." Sahut Tami dan membuat dokter Arif menoleh ke arahnya.
"Siapa yang menghubungi kamu?" tanya dokter Arif.
Tami menjawab dengan meletakkan jari telunjuknya.
"Tapi apa kamu tau, kenapa Tiara bersikap aneh hari ini. Saya ingin mengajaknya makan malam tapi dia bilang tidak mau melihat wajah saya. Apa yang menyebabkan dia bersikap seperti itu?" tanya Zidan.
"Oh itu, sebenarnya Tiara cemburu sama Vania. Karena Vania jadi sekertaris bapak bukan sekertaris tuan Abian." Sahut Tami dan dokter Arif mencoba mendengarkan percakapan itu dengan meletakkan telinganya di dekat ponsel Tami.
"Cemburu? serius Tami?" tanya Zidan kurang yakin.
"Iya, tapi Tiara tidak mau mengakui kalau cemburu." Jelas Tami.
"Terima kasih Tami, penjelasan kamu membuat saya senang." Ujar Zidan dan menutup panggilan itu.
Di kantornya Zidan kegirangan rasa penasarannya telah terjawab sudah.
"Tapi apa aku harus membuktikan omongan Tami. Hemmm." Zidan memikirkan cara untuk membuktikan perasaan Tiara.
"Baiklah sepertinya aku harus memanfaatkan Vania. Semoga aku tidak berdosa." Gumam Zidan dan mengirim pesan ke Tami tentang rencananya. Dengan cepat Tami setuju dengan idenya.
Zidan menghubungi Vania. Tidak berapa lama gadis itu masuk ke dalam ruangan.
"Iya Zidan." Berdiri di depan meja kerja Zidan.
"Malam ini temani aku makan malam." Ujar Zidan. Vania tidak menjawab.
"Jangan berpikiran aneh-aneh. Aku mengajak kamu makan malam hanya sebagai perayaan kalau kamu telah kembali lagi ke sini." Jelas Zidan.
"Oh ok kalau begitu." Vania keluar dari ruangan Zidan.
Di dalam hati kecilnya dia berharap bisa akrab dengan Abian seperti dulu tapi kenyataannya tidak. Dia harus menjaga jarak untuk Abian.
Bersambung...
Yang belum follow ig author bisa follow ya anita_rachman83. Semua tentang novel ada di Ig ya.
🌹🌹🌹
Plagiarisme melanggar Undang-undang Hak Cipta Nomor 28 Tahun 2014
__ADS_1