
Zidan mengalihkan pembicaraan dengan memutar arah mobilnya ke pom bensin.
"Mumpung ada pom bensin kamu bisa ke toilet sementara aku isi bensin." Ujar Zidan mengalihkan pembicaraan.
Tiara nurut, dia memang ingin buang air kecil. Padahal itu cara Zidan agar Tiara tidak menanyakan perasaannya.
Kepala Tami masih bersandar di bahu dokter Arif. Karena jalanan jelek dan dia tidak memakai sabuk pengaman kepalanya berpindah ke lengan dokter Arif.
Tami tersadar dan dia kaget ketika kepalanya ada di lengan dokter Arif. "Maaf dok." Ujar Tami dan langsung menggeser posisi duduknya ke dekat pintu. "Kenapa aku tidak sadar, duh buat malu saja." Gumam Tami dan langsung melihat kebelakang. Temannya sudah terlelap dan tidur dengan dengkuran yang terdengar seperti pluit.
"Apa masih lama?" tanya Tami seraya menguap masih mengantuk.
"Dua jam lagi kita sampai." Sahut dokter Arif.
"Duh dua jam masih lama, aku harus ngapain selama dua jam." Gumam Tami.
Dokter Arif melirik sekilas karena malam yang sepi dia bisa mendengar gumaman perawatnya.
"Apa kamu tidak ingin mengajak saya ngobrol?" tanya dokter Arif.
"Ngobrol? pasti obrolan kita seputar rumah sakit." Sahut Tami yang bosan jika selalu rumah sakit yang di bahas mereka.
"Ya tidak tentu, kalau kamu mau, saya bisa menceritakan tentang diri saya." Ujar dokter Arif. Tentu Tami semangat jika dokter itu menceritakan tentang jati dirinya. Karena tidak pernah ada yang tau asal usul pria itu.
Dengan semangat Tami langsung menoleh ke arah dokter Arif. "Saya dulu anak jalanan bisa di bilang mencari makan dari hasil ngemis. Orang tua tidak tau ada di mana." Ucapan dokter Arif membuat Tami iba sekaligus tidak bisa membayangkan masa kecil dokter Arif.
"Sampai tuan Bassam membawa saya ke istananya."
"Tuan Bassam maksudnya papinya tuan Abian?" tanya Tami.
"Iya almarhum tuan Bassam yang membawa saya ke istana. Di sana saya di ajarkan menulis membaca dan yang lainnya. Dan di sana juga saya menjadi dekat dengan Abian. Tapi kehadiran saya tidak membuat bahagia pemilik istana salah satunya nyonya Rona. Kehadiran saya selalu membuat pertengkaran pemilik istana. Sampai saya beranjak dewasa, tuan Bassam mengirimkan saya untuk menimba ilmu di negeri lain. Jika ingat jasa beliau mungkin saya tidak bisa seperti ini." Jelas dokter Arif.
"Ternyata dokter mengalami masa kecil yang suram." Sahut Tami sedih.
"Nyonya Rona selalu menolak kehadiran saya dan sekarang entah kenapa dia tiba-tiba menjodohkan saya dengan anaknya."
"Maaf dok, saya sempat berpikir jelek tentang anda." Ujar Tami lagi.
"Tidak apa-apa. Saya tidak suka dengan perjodohan dan saya akan menikah dengan wanita pilihan saya." Jelas dokter Arif.
"Iya saya tau, dokter sangat mencintai Aneska." Sahut Tami.
"Iya tapi dulu sebelum Abian memilikinya. Dan sekarang tidak ada harapan untuk memiliki Aneska. Kalau kamu kenapa belum menikah?" pertanyaan dokter Arif membuat Tami manyun. Pria itu langsung menoleh ke arah perawatnya.
__ADS_1
"Maaf Tami, saya tidak bermaksud mengejek." Jelas dokter Arif yang tidak enak jika menyinggung tentang pernikahan, karena dia tau jika Tami lebih tua usianya di bandingkan yang lainnya.
"Iya saya tau, usia saya sudah dua puluh sembilan tahun, usia yang tua di antara Tiara dan Aneska. Pasti saya menginginkan sebuah pernikahan, tapi jodoh ada di tangan Sang Pencipta. Kadang kalau pulang kampung saya selalu di tanya kapan nikah? nyesek kalau di tanya seperti itu. Tapi jodoh setiap orang berbeda-beda. Mungkin tahun depan saya mendapatkan jodoh atau besok." Ujar Tami.
"Kamu benar jodoh ada di tangan Sang Kuasa, tapi kamu harus membuka diri." Ujar dokter Arif.
"Caranya?" tanya Tami.
"Kamu cari di biro jodoh." Mendengar ucapan dokter Arif langsung membuat Tami manyun.
"Maaf Tami, saya tidak bermaksud meremehkan tapi dengan biro jodoh kamu bisa mengenal pria lain. Dan kamu bisa menolak jika cowok yang kamu temui tidak sesuai harapan."
"Maksudnya?" tanya Tami.
"Maksud saya mana tau pria itu bergigi tonggos kamu bisa langsung kabur atau membatalkan." Jelas dokter Arif dengan gelak tawanya. Tami tersenyum dan menurutnya dia harus mencoba.
Benar apa yang di katakan Aneska tidak mungkin aku di langkahi Tiara juga.
"Dokter tidak ingin mencari jodoh di biro jodoh?" tanya Tami.
"Pengen juga tapi belum sempat aja." Ujar dokter Arif.
***
"Nanti ya, aku akan menanyakan ke dokter dulu. Kamu enggak sabaran banget sih." Gerutu Aneska.
"Jelas aku enggak sabar, biasanya kita melakukannya tiap malam. Tapi sudah beberapa malam aku puasa." Gerutu Abian.
"Dasar napsu besar." Aneska menarik hidung suaminya.
"Napsu besar untuk istri sendiri enggak apa-apa." Sahut Abian.
Aneska teringat tentang kedua temannya. "Sayang, jodohkan dokter Arif sama mbak Tami."
"Kan sudah, sekarang mereka masih berdua di dalam mobil pasti akan ada benih ketertarikan di antara keduanya." Ujar Abian seraya mengelus rambut istrinya.
"Kalau ada ketertarikan, kalau enggak ada bagaimana?" tanya Aneska yang sudah ngebet Tami segera menikah.
"Sayang lebih baik kamu mengurusi bibirku ini, sudah lama kamu cuekin." Abian memonyongkan bibirnya di hadapan istrinya. Dia ingin istrinya ******* bibirnya.
"Tapi kalau tongkat kasti kamu berdiri bagaimana?" tanya Aneska.
"Kocok arisan." Bisik Abian dan menggigit telinga istrinya.
__ADS_1
Aneska mencium bibir suaminya dan di sambut dengan ganas oleh Abian.
"Aneska." Teriak ibunya.
"Apa kita lagi mimpi?" tanya Abian di sela aktivitasnya.
"Itu ibu." Aneska menghentikan ciumannya dan segera turun dari tempat tidur. Di depan pintu ada ibunya yang sedang berdiri di depan kamarnya.
"Ada apa bu?" tanya Aneska bingung.
"Ibu, bapak dan Cyra besok ikut ke istana." Sahut ibunya.
"Iya bu, besok kan bisa ngomongnya." Ujar Aneska. Menurutnya ibu Desi selalu mengganggunya ketika berduan dengan Abian.
"Iya ibu takut lupa."
"Ya udah kalau gitu." Aneska menutup pintu kamar dan naik ke atas tempat tidur. Abian masih menunggunya. Dan ketika ingin berciuman kembali pintu kamarnya di ketuk.
"Pasti ibu lagi." Gerutu Aneska.
Aneska menghela napasnya dugaannya benar. "Apa lagi sih bu?" tanya Aneska.
"Kamu tau, kenapa ibu ingin menghadiri pesta ulang tahun Abian?" tanya ibunya.
"Mana Anes tau."
"Dasar anak, berpikir dong." Bu Desi menoyor kepala anaknya.
"Idih ibu." Aneska mengelus kepalanya.
"Karena besok adalah pesta yang paling mewah yang ibu hadiri. Ibu mau pamer sama ibu-ibu sini." Jelas ibunya.
"Duh ibu, ngapain juga harus pamer, bilang aja kalau ibu mau memakai gaun pemberian Abian, iya kan." Tebak Aneska.
"Itu juga." Bu Desi tersenyum.
Aneska mau menutup pintu kamarnya. "Nes, kalau gaun cocoknya pakai sendal apa sepatu?" tanya ibunya.
"Pakai egrang bu lebih cocok." Sahut Aneska spontan. Dan ibu Desi langsung memberikan serangan mendadak dengan menoyor kepala anaknya sebanyak dua kali.
Bersambung...
🌹🌹🌹
__ADS_1
Plagiarisme melanggar Undang-undang Hak Cipta Nomor 28 Tahun 2014