Love Of A Nurse

Love Of A Nurse
Bab 66


__ADS_3

"Ayo oma bantu aku." Abian panik sambil menarik tangan oma Zulfa.


"Apa kamu yakin kalau Aneska pendarahan." Tanya oma.


"Yakinlah, keluarnya darah kalau keluarnya nanah namanya bisul." Ucap Abian.


Oma Zulfa menganggukkan kepalanya percaya.


"Oma cepat." Abian menarik tangan omanya.


"Ssttt." Oma masuk ke kamarnya dan mengambil sesuatu lalu menyerahkan sama cucunya.


"Apa ini?" Abian bingung.


"Itu untuk menampung darahnya." Ucap oma.


"Pakainya gimana." Tanya Abian lagi.


"Pakainya di hidung, jelas-jelas yang keluar daerah bawah pakainya ya di bawah." Ucap oma marah.


"Oma jangan marah nanti keriputnya nambah." Abian mengingatkan omanya tentang maskernya.


"Oh iya, sudah sana." Oma Zulfa mengusir cucunya.


"Oma tidak ikut."


"Nanti oma ke sana. Oma mau bersih-bersih dulu. Jangan lupa hubungi Arif." Ucap oma.


Abian berlari ke kamarnya dan melihat istrinya sudah di ruang ganti sambil mencari pembalut.


"Kamu kenapa tidak menungguku, kata oma pakai ini." Abian menyerahkan diapers untuk orang dewasa.


"Enggak ah. Aku pakai roti kelapaku aja." Ucap Aneska menolak.


"Pakai ini, kalau tidak darahnya bisa jatuh." Ucap Abian lagi.


"Suamiku, aku sudah pakai ini." Aneska menunjuk pembalut yang di bungkus.


"Itu kamu sebut roti kelapa?" Abian bingung.


"Iya bentuknya seperti roti kan." Ucap Aneska lagi.


Abian menggaruk kepalanya bingung dengan istilah istrinya.


"Udah sekarang duduk di sofa." Abian menghubungi dokter Arif.


"Halo Arif." Ucap Abian. Aneska menggerakkan tangannya ke arah suaminya untuk tidak menghubungi dokter Arif.


"Istriku pendarahan." Ucap Abian panik.


"Kamu yakin." Tanya dokter Arif dari ujung sana.


"Ngapain aku bohong cepat datang ke sini sekarang." Perintah Abian lagi.


"Kalau pendarahan langsung saja bawa ke rumah sakit."


"Untuk apa? biar kamu bisa dekat dengan istriku."


"Bukan seperti itu, pendarahan bisa membuat orang koma bahkan meninggal dunia." Jelas Arif.


"Apa separah itu." Tanya Abian panik.


"Iya, coba kamu tanya sama Aneska pendarahannya banyak enggak?"

__ADS_1


"Iya, akan aku tanyakan."


Abian membuat ponselnya dengan mode mute.


"Sayang apa pendarahan kamu banyak." Tanya Abian.


"Enggak, ini bukan pen." Aneska belum selesai dengan ucapannya karena Abian kembali mengaktifkan ponselnya.


"Katanya enggak." Ucap Abian.


"Mungkin itu bukan pendarahan, ngomong-ngomong di mana tempat pendarahannya." Tanya dokter Arif.


"Udah jangan banyak tanya cepat datang ke istana sekarang." Panggilan terputus. Oma Zulfa langsung masuk ke kamar cucunya.


"Aneska kamu tidak apa-apa." Tanya oma Zulfa panik.


"Enggak apa-apa oma." Jawab Aneska.


"Bagaimana enggak apa-apa sudah jelas keluar darah." Abian ngotot dan panik.


"Ini semua karena kamu, udah oma bilang tahan rem. Ini malah nyodok lagi." Oma Zulfa kembali memukul cucunya.


"Oma sudahlah, aku bahkan belum menyodok Aneska." Ucap Abian jujur.


"Bohong."


"Benar oma." Abian mengangkat jarinya membentuk huruf V.


"Abian walaupun punya kamu tumpul tapi Aneska tadi sudah pingsan, pasti ini karena benda tumpul kamu."


Pipi Aneska merona merah, dia bingung dengan Abian yang tidak ada rasa malu sama sekali.


"Terus aku harus bagaimana." Tanya Abian panik.


"Kamu sudah menghubungi Arif." Tanya oma lagi.


"Masih satu jam lagi dia baru datang." Ucap oma Zulfa sambil memindahkan posisi duduknya di bawah kaki Aneska.


"Abian ambil selimut." Perintah oma. Abian mengambil selimut dan memberikan kepada omanya.


Oma Zulfa menyelimuti Aneska.


"Aneska angkat kedua kaki kamu, kemudian tekuk." Aneska mengikuti perintah oma.


"Tarik nafas kemudian hembuskan." Aneska kembali mengikuti perintah oma Zulfa.


"Kalau oma hitung sampai tiga kamu harus mengejan." Ucap oma Zulfa masih tetap di bawah kaki Aneska.


"Oma, aku bukan mau melahirkan." Ucap Aneska.


"Oh iya ya." Oma Zulfa menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Ah oma, aku pikir itu cara menghentikan pendarahan." Ejek Abian.


"Dasar cucu tengil." Oma Zulfa melemparkan bantal sofa ke arah Abian.


Mereka menunggu kehadiran dokter Arif, terlihat sekali kalau Abian dan oma Zulfa cemas, sedangkan Aneska bisa bersikap tenang.


"Abian, oma coba tenang. Aku tidak apa-apa." Ucap Aneska sambil melihat oma Zulfa dan Abian panik dan khawatir.


"Sayang kamu jangan banyak ngomong, nanti darahnya keluar banyak." Ucap Abian melarang istrinya untuk berbicara ataupun bergerak.


Aneska bingung belum pernah sejarahnya selama dia jadi perawat, berbicara dapat mengakibatkan pendarahan banyak.

__ADS_1


"Tapi." Ucap Aneska.


"Ssttt udah kamu diam saja." Ucap Abian sambil mondar-mandir.


Dokter Arif baru tiba di istana. Nyonya Rona juga baru sampai. Wanita paruh baya itu bingung dengan kehadiran Arif di istananya.


"Siapa yang menghubungi kamu." Tanya nyonya Rona.


"Abian nyonya." Jawab Arif.


"Siapa yang sakit." Tanya nyonya Rona lagi.


"Aneska nyonya, permisi." Ucap dokter Arif sambil berlalu meninggalkan wanita paruh baya itu.


"Kemaren dia sakit sekarang sakit, wah gawat." Gumam nyonya Rona sambil mengejar dokter Arif.


"Arif." Teriak nyonya Rona.


Dokter Arif berhenti sambil menoleh ke arah nyonya Rona.


"Aneska sakit apa."


"Abian bilang pendarahan." Jawab dokter Arif.


"Apa!" Rona kaget.


"Permisi, saya mau memeriksa Aneska." Dokter Arif meninggalkan nyonya Rona yang bengong dan kaget.


"Dia tidak boleh mati." Gumam nyonya Rona sambil mengikuti Arif.


Tok tok tok. Abian buru-buru membuka pintu kamarnya. Dia kaget ada maminya di belakang Arif.


"Masuk." Abian memerintahkan temannya untuk masuk tapi ketika ibunya mau masuk, dia langsung menghalangi dengan tangannya.


"Mami mau apa." Tanya Abian ketus.


"Mami dengar perawat itu sakit." Ucap nyonya Rona pelan.


"Perawat! sudah berapa kali aku bilang istriku punya nama, namanya Aneska a n e s k a." Ucap Abian marah sambil mengeja nama istrinya.


Oma Zulfa, dokter Arif dan Aneska mendengar dan melihat kejadian itu.


"Iya Aneska sakit apa." Tanya maminya pelan sambil melihat ke dalam kamar.


"Enggak usah sok perhatian deh. Mami takut kalau terjadi sesuatu dengan Aneska karena harta warisan itu kan!" Ucap Abian marah.


Nyonya Rona diam sambil menundukkan kepalanya, tebakan anaknya benar.


"Bisa panjang nih." Gumam oma sambil beranjak dari sofa dan berjalan ke pintu kamar menghampiri anak dan cucunya.


"Abian urus Aneska." Oma Zulfa menarik tangan cucunya agar menyudahi pertengkaran itu. Abian meninggalkan maminya dan menghampiri istrinya yang terbaring di sofa.


Di depan pintu kamar tinggal ibu dan anak yaitu oma Zulfa dan nyonya Rona.


"Rona sebaiknya kamu pergi. Jangan memperkeruh suasana hati Abian." Oma Zulfa mengingatkan anaknya.


"Tapi aku memang ingin menanyakan keadaan Aneska." Ucap Rona pelan.


"Rona, mami tau mana yang tulus dan tidak. Kamu anak mami jadi mami tau perhatian kamu ini palsu." Ucap oma.


"Mami aku mengatakan yang sebenarnya." Omongan Rona tidak di hiraukan maminya. Oma Zulfa sudah menutup pintu kamar Abian.


Nyonya Rona marah sambil ngedumel. Dia kesal dengan sikap mami dan anaknya.

__ADS_1


"Baiklah mulai sekarang aku harus bersikap baik sama perawat itu. Aku akan bersabar diri bergaul dengan orang miskin itu. Lihat saja, kalau Abian tidak mau melepaskanmu, kamu yang akan meninggalkan Abian." Gumam nyonya Rona sambil tersenyum licik.


Bersambung.


__ADS_2