Love Of A Nurse

Love Of A Nurse
Bab 154


__ADS_3

Semua mata tertuju pada Tanisa dan Dimas. "Si Dimas kesurupan?" tanya Tiara.


"Hahahaha bukan, keren kan dia." Sahut Aldo dengan gelak tawanya.


Di atas pelaminan masih terjadi senam jantung. Nyonya Rona masih memegang jantungnya. Begitupun dengan Tanisa yang malu dengan tingkah Dimas.


"Sepertinya kamu butuh waktu untuk berpikir. Baiklah aku akan memberikan waktu untuk kamu." Ujar Dimas dan segera turun dari panggung.


Dimas langsung menghampiri Aldo bukan menghampiri Tanisa. "Bagaimana aksiku." Bisik Dimas.


"Keren." Aldo mengacungkan jempolnya ke arah Dimas.


Tiara dan Tami menatap tajam ke arah Dimas. "Apa benar kamu mencintai Tanisa?" tanya Tami.


"Menurut kalian?" tanya Dimas balik dengan tersenyum menyeringai.


Kedua teman sejawatnya mengedikkan bahu. Mereka tidak bisa menebak apa saja yang ada di dalam pikiran pria.


"Mana?" Dimas mengulurkan tangan ke arah Aldo.


"Iya-iya." Aldo mengeluarkan dompetnya dari balik kain jarik yang dikenakannya. Dia menyerahkan uang sebesar lima ratus ribu ke Dimas.


"Aldo Dimas!" seru Tiara dan Tami langsung melotot.


"Iya, kami memang sedang taruhan. Jika Dimas berani mengungkapkan isi hatinya aku akan memberikan uang sebesar lima ratus ribu." Jelas Aldo.


Keduanya wanita itu langsung menggelengkan kepalanya. "Kalian tau perbuatan kalian sungguh keterlaluan, jangan jadikan candaan!" seru Tami.


Dan dari jauh melangkah seorang wanita dengan body seperti gitar listrik yang siap menyetrum dengan tatapan dan sikapnya.


"Kapok kalian, dia datang ke sini." Bisik Tiara.


"Do, aku harus bagaimana?" tanya Dimas yang nyalinya mulai ciut.


"Ya udah lanjutkan ke tuan kadi." Sahut Aldo.


"Tuan kadi gundulmu, mana cukup gajiku memenuhi semua kebutuhannya." Dimas mulai bingung dan semakin ketakutan ketika melihat ada sosok yang turun dari pelaminan.


"Mati kamu Di, lihat algojonya juga datang ke sini." Ujar Tiara. Tiara dan Tami merasa akan terjadi sesuatu untuk kedua temannya terutama Dimas.


"Aku kabur aja." Ujar Dimas dan ingin lari.


"Kamu harus bertanggung jawab dengan semua ucapan kamu." Ujar Tami menasehati Dimas.


Tanisa telah berdiri di depan semua perawat. "Apa maksud ucapan kamu!" Tanisa berbicara dengan menekan intonasinya.


"Yang mana?" Dimas berlagak oon.


Tanisa mulai jengah dengan pria di depannya. Jika tidak ada orang pasti dia akan menampar pria itu. Tidak berapa lama nyonya Rona ikut berdiri di depan semuanya.


"Kamu mau mempermalukan kami!" seru nyonya Rona dengan menuding Dimas.

__ADS_1


Pria itu menggelengkan kepalanya.


"Lalu apa maksud ucapan kamu yang tadi?" tanya Tanisa dengan ketus.


"Oh itu." Dimas menyenggol bahu Aldo.


"Hei kami sedang bertanya ke kamu!" seru nyonya Rona.


"Maaf tante tadi.." Aldo belum selesai bicara karena nyonya Rona sudah menyela ucapannya.


"Sejak kapan saya menikah dengan om kamu, dan saya juga tidak sudi punya keponakan seperti kamu." Cetus nyonya Rona dengan memperhatikan Aldo dari atas sampai bawah.


"Sama tante, saya juga enggak mau punya tante seperti anda." Sahut Aldo.


"Kamu!" nyonya Rona menuding Aldo dengan telunjuknya.


"Maafkan teman kami nyonya, mereka tadi sedang bertaruh." Tami membela kedua temannya.


"Apa bertaruh? jadi kamu melakukan itu untuk memenangkan taruhan?" tanya Tanisa marah.


"Iya, kan lumayan lima ratus ribu. Maaf ya." Dimas mengatupkan kedua tangannya.


"Kamu pikir segampang itu!" seru Tanisa marah.


"Lalu saya harus apa? apa kamu mau kita bagi dua uang itu." Dimas mengeluarkan uang taruhan itu.


"Kurang ajar, kamu pikir aku tidak ada duit. Kamu tau harga sepatuku lebih mahal dari gaji kalian!" seru Tanisa lagi.


"Apa!" nyonya Rona ingin memukul Dimas dengan tangannya tapi Zidan dan Arif telah buru-buru menghampiri semuanya.


"Tante jangan." Dokter Arif menghalangi dengan memegang tangan wanita paruh baya itu.


"Jelaskan apa yang terjadi?" tanya dokter Arif. Dimas dan Aldo menceritakan kejadian sebenarnya yang tentu saja membuat dokter Arif dan Zidan menggelengkan kepalanya.


"Tante maafkan kelakuan perawat saya." Ujar dokter Arif memohon.


"Tidak bisa seperti itu." Nyonya Rona kembali menatap tajam ke arah dua pria itu.


"Apa kalian tau, kalau anak saya akan menikah dengan dokter Arif." Nyonya Rona memanfaatkan kesempatan.


"Apa!" semua langsung menoleh ke arah dokter Arif dan Tanisa.


"Maaf dok, kami tidak tau jika wanita ini calon anda." Aldo dan Dimas menyalami dokter Arif.


"Apa-apaan ini. Bukan seperti ini ceritanya." Dokter Arif tambah bingung karena sekarang dia yang kena imbasnya.


"Ayolah Arif, apa kamu malu?" tanya nyonya Rona dengan senyum yang di paksakan.


Zidan ikut menoleh ke arah dokter Arif. Dia menaikan alisnya memikirkan sesuatu.


Di atas pelaminan

__ADS_1


Aneska dan Abian mulai membicarakan semuanya. "Apa mereka sedang berdiskusi tentang lamaran yang baru saja di ucapkan Dimas?" tanya Aneska.


"Sepertinya tidak, mami tidak akan sudi jika Tanisa menikah dengan pria biasa." Sahut Abian.


"Lalu apa?" tanya Aneska penasaran.


"Entahlah sepertinya masalah itu cukup serius, aku harus turun tangan." Abian ingin turun dari pelaminan tapi di larang Aneska.


"Jangan turun, jangan alihkan perhatian tamu ke arah mereka. Biarkan perhatian tamu ke arah kita. Di sana ada Zidan dan dokter Arif. Pasti mereka bisa menyelesaikan masalah itu." Ujar Aneska.


"Selamat dokter." Tami dan Tiara ikut menyalami dokter Arif.


"Salah, semua ini salah." Ujar dokter Arif.


"Maksud kamu apa?" tanya nyonya Rona.


Dokter Arif bingung dan mulai memikirkan sesuatu. Dia tidak ingin terjebak dengan rencana nyonya Rona.


"Saya sudah punya kekasih." Ujar dokter Arif pelan.


Ucapan dokter Arif seperti tamparan buat Tanisa. Dimana harga dirinya di jatuhkan oleh dokter Arif dan semua karena ulah maminya.


"Hahaha, kamu hanya bercanda. Tante tau itu, kamu sengaja mengatakan ini agar kami mempercayai kamu, iya kan?" nyonya Rona tertawa dengan tawa yang di paksakan.


"Serius tante, saya mempunyai kekasih." Ujar dokter Arif lagi.


Zidan langsung berbisik. "Sejak kapan anda melangkah lebih jauh dari saya." Bisik Zidan.


"Ah diamlah." Dokter Arif mendorong Zidan dengan tangannya. Dia khawatir Zidan akan menggagalkan rencananya.


Nyonya Rona menatap tajam ke arah dokter itu. "Jangan membohongi saya, dan jangan membantah semua keputusan saya. Kamu akan segera menikah dengan Tanisa." Berujar dengan memaksa.


Kok ada manusia seperti ini, semua harus mengikuti kemauannya.


Tiara bergumam dalam hatinya.


"Maaf tante, saya hanya menganggap Tanisa seperti keluarga tidak lebih." Jelas dokter Arif.


Tanisa tambah malu, wajahnya seperti baru terkena kotoran.


"Arif jika kamu berbohong saya tidak akan tinggal diam." Ancam nyonya Rona.


Dokter Arif diam, tatapan wanita paruh baya itu sangat mengintimidasinya.


"Saya tidak berbohong tante, dia kekasih saya." Dokter Arif menarik tangan Tami karena posisi tidak bersiap Tami jatuh ke dalam pelukan dokter Arif.


Semua yang ada di situ kembali melotot dan menganga. Begitupun Tami juga bingung karena dia jadi terlibat dalam cerita semuanya.


Bersambung...


🌹🌹🌹

__ADS_1


Plagiarisme melanggar Undang-undang Hak Cipta Nomor 28 Tahun 2014


__ADS_2