Love Of A Nurse

Love Of A Nurse
Bab 137


__ADS_3

Abian bertepuk tangan, dia salut dengan karangan mertuanya.


"Abian yang di katakan ibu benar, aku sengaja merahasiakan kehamilanku, menurutku akan jadi kado yang paling spesial buat kamu. Tapi dokter berkata kandunganku tidak sempurna. Dan jika di teruskan akan mengakibatkan kecacatan." Aneska menjelaskan dengan derai air mata.


"Bohong! kamu sengaja menggugurkannya, iya kan!" bentak Abian.


Aneska menggelengkan kepalanya. Dia tidak bisa menjelaskan apapun ke suaminya. Bagaimana pun semua telah terjadi. Dan penyesalan datangnya terlambat. Seandainya dia mengikuti nasihat ibunya mungkin kejadian ini tidak akan terjadi.


"Aneska, tidak ada gunanya kamu menjelaskan kepada pria ini." Ibu Desi berujar dengan menatap menantunya dengan sinis.


"Kita pulang sekarang." Ujar ibu Desi tegas.


"Pulang?" Aneska bingung.


"Iya pulang, pulang ke rumah kamu yang kecil dan kumuh. Bukan ke istananya." Ibu Desi memandang Abian dengan tatapan tidak suka.


"Tapi bu?" Aneska bingung.


"Tidak ada kata tapi, ibu tidak sanggup melihat kamu di bentak dan di marahi pria ini. Kita sudah menjelaskan tapi pria ini tetap menganggap kita salah. Sudah cukup penghinaan yang diberikannya." Ucap ibu Desi tegas.


Ibu Desi keluar dari ruangan itu menuju ruang perawat, dia mengatakan niatnya untuk membawa anaknya pulang.


Di dalam ruang perawatan itu Abian masih belum bisa menerima penjelasan dari istrinya. Aneska hanya bisa menangis seraya memandang suaminya.


"Apa kamu tidak mencintaiku?" tanya Aneska pelan.


Aneska berharap suaminya masih mengatakan kata cinta untuknya agar ada alasan untuknya berada di samping suaminya.


Abian tidak menjawab, dia kecewa dengan sikap istrinya. Rasa amarah yang ada di dalam dirinya membuatnya menjadi sosok Abian yang lain.


Aneska sadar jika perbuatannya tidak bisa di maafkan suaminya. Dan dia tidak bisa berharap lebih dari cinta Abian.


Ibu Desi kembali ke ruangan anaknya.


"Ibu sudah bilang ke perawat dan perawat sudah menyampaikan ke dokter. Setelah infus ini di lepaskan kita pulang ke kampung."


Abian mendengarkan semua ucapan mertuanya tapi rasa kecewa membuatnya berat untuk menahan istrinya.


Ibu Desi mengajarkan anaknya untuk duduk.


"Sakit bu." Ucap Aneska merasakan nyeri di bagian daerah sensitifnya.

__ADS_1


"Iya nak, nanti minum obat. Dokter akan memberikan resep untuk kamu. Nanti di rumah ibu bantu dengan ramuan." Dengan telaten ibu Desi mengajarkan anaknya untuknya berjalan. Walaupun sakit tapi Aneska tetap berusaha untuk bisa berjalan.


Tidak berapa lama perawat datang dan membuka infus yang ada di pergelangan tangan Aneska.


"Ibu ini resep obatnya." Ucap perawat menyerahkan kertas kecil ke wanita paruh baya itu.


"Resepnya ibu tebus nanti. sekalian sama Aneska." Jelas ibu Desi.


Perawat menganggukkan kepalanya dan membantu Aneska untuk duduk di kursi roda.


Mereka keluar dari ruangan itu menuju loby.


Abian masih berada di dalam ruang perawatan itu. Dia tidak mencegah istrinya pulang.


Setelah mendapatkan obat ibu dan anak itu naik ke taksi. Di dalam taksi ibu Desi menghubungi anak bungsunya untuk segera keluar dari istana dan bertemu di halte.


Tidak ada pertanyaan dari gadis belia itu, dia hanya mengikuti semua perintah ibunya.


Abian masih melamun di dalam ruang perawatan itu. Perawat lain datang ke dalam ruangan itu. Untuk mengganti sprei dan membersihkan lainnya.


"Pak ruangan ini mau di bersihkan." Ucapan perawat itu membuyarkan lamunannya. Abian beranjak dari tempat duduknya. Dia memandang tempat tidur yang di tempati istrinya selama di rawat.


"Suster." Ucap Abian pelan.


"Iya." Sahut perawat itu.


"Hemmm sebenarnya kenapa istri saya menggugurkan kandungannya?"


Perawat yang ada di ruangan itu menatap heran. Karena pria yang mengaku sebagai suami tidak tau penyebab janin di dalam istrinya di angkat.


Melihat reaksi perawat yang diam dan mengerutkan dahinya, Abian tau jika perawat itu memikirkan hal lain.


"Istri saya tidak mau mengatakan ke saya, dia tidak ingin saya bersedih." Jelas Abian bohong.


"Oh begitu, menurut status pasien yang saya baca, istri bapak mengandung dan usia kandungannya satu bulan, tapi dokter harus mengangkat janin itu karena perkembangannya tidak sempurna." Penjelasan perawat itu membuat Abian syok.


Abian langsung berlari keluar berharap masih ada sosok istrinya di loby. Tapi sia-sia sosok istrinya tidak ada di situ.


Dokter Arif yang ketika itu sedang menuju loby langsung berjalan ke arah lain. Dia tidak mau di jadikan bahan amukan Abian.


Tapi Abian melihat dokter itu. Dengan langkah cepat dia mengikuti dokter Arif dan memegang bahu pria itu.

__ADS_1


"Eh Abian." Ujar dokter Arif gugup dan berhenti seketika karena bahunya di tahan seseorang dan bukan lain yaitu Abian.


"Kenapa kamu tidak bilang ke aku, kalau kandungan istriku bermasalah?" tanya Abian.


"Kamu saja tidak memberikanku kesempatan bicara, malah kamu mau memukulku." Sindir dokter Arif.


Abian mulai mengacak-acak rambutnya. Dia menyesal dengan perbuatannya.


"Aneska melakukan ini terpaksa, sebenarnya dia ingin memberi kejutan untuk kamu. Dia ingin menjadikan itu kado spesial untuk kamu. Tapi kecelakaan itu membuat janinnya bertumbuh tidak sempurna. Dengan rasa sedih dia harus mengambil keputusan itu." Jelas dokter Arif.


"Tapi kenapa? seharusnya dia mengatakan ke aku." Sesal Abian.


"Seharusnya iya, tapi dia tidak ingin kamu bersedih karena sebentar lagi ultah kamu jadi dia tidak ingin memberikan kado kesedihan untuk kamu." Cerita dokter Arif membuat Abian menyesal, dia selalu berpikir pendek ketika sedang emosi.


Abian langsung berlari keluar dari rumah sakit. Di dalam mobil, dia menghubungi istrinya.


Aneska dan ibunya masih berada di dalam taksi untuk menjemput Cyra. Ponsel Aneska berdering, ibu Desi melihat nama Abian di layar ponsel anaknya. Wanita paruh baya itu langsung menolak panggilan itu.


Aneska langsung menoleh.


"Jangan bilang dia menyesal dan ingin menjemput kamu!" ibu Desi berujar dengan penuh kebencian.


"Kenapa bu? mungkin Abian sudah menyesali perbuatannya."


"Tidak segampang itu memaafkannya. Penghinaan yang dilakukannya sudah mendarah daging di sini." Ibu Desi berujar seraya menunjuk jantungnya.


Aneska mengenal ibunya, jika sakit hati sudah dirasakannya akan sulit untuk di maafkan. Aneska hanya bisa menangis dan menatap ke arah luar. Pernikahannya sekarang sedang di uji, bukan hanya mertuanya yang menentang hubungan mereka tapi sekarang ibunya menjadi orang yang paling depan menantang hubungan anaknya.


Abian terus menghubungi Aneska dan selalu di tolak. Dan sekarang panggilan itu tidak berdering karena ibu Desi sudah menonaktifkan ponsel anaknya.


"Maafkan aku sayang." Gerutu Abian seraya menyetir mobilnya. Dia tidak tau dimana harus menemukan istrinya.


Taksi sudah tiba di halte ada Cyra dan Ila di halte itu. Ila melihat ada Aneska di dalam taksi.


"Cyra masuk!" teriak ibunya dari dalam mobil.


Cyra masuk dan sebelumnya menyalami Ila.


Gadis belia itu bingung, karena kakak iparnya pulang bersama keluarganya.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2