Love Of A Nurse

Love Of A Nurse
Bab 39


__ADS_3

"Pak coba lihat, menantu kita udah seperti koper majalah." Bisik ibu Desi sama suaminya.


"Bukan koper bu, cover majalah." Suaminya memperbaiki kalimat istrinya.


"Ah sama itu, lidah ibu kebanyakan makan terasi enggak bisa ngomong seperti itu." Bisik ibunya lagi.


Aneska duduk di bantu Abian, ibu Desi memperhatikan anaknya yang suka memegang pinggangnya.


"Pak, sepertinya gawang anak kita udah tembus." Bisik bu Desi lagi.


"Gawang?" suaminya bingung.


"Maksud ibu, anak kita sudah melakukan hubungan suami istri." Ucap istrinya.


"Bagus, berarti mereka melakukan yang seharusnya di lakukan pasangan suami istri." Bisik suaminya.


"Tapi kasihan Aneska pinggangnya sampai sakit seperti itu, pakai gaya apa sih mereka." Gerutu ibunya pelan. Keluarga Abian memasuki ruang makan, tiba-tiba nyonya Rona marah kembali.


"Kenapa mereka masih di sini!" seru nyonya Rona marah. Abian tidak menjawab ucapan maminya.


"Mi, kita makan di tempat lain saja, aku enggak mau gabung sama mereka." Ucap Tanisa.


Nyonya Rona, Tanisa dan Farid mau pergi tapi Abian sudah menggebrak meja.


"Duduk! atau keluar selama-lamanya dari istana ini!" Bentak Abian.


Nyonya Rona dengan terpaksa duduk, di ikuti anak sulung dan menantunya. Pelayan mulai meletakan semua makanan ke atas meja. Semuanya mulai menikmati makanannya. Hanya nyonya Rona, Tanisa dan Farid yang tidak bisa menikmati sarapannya. Mereka jijik harus makan bersama keluarga Aneska.


"Aku akan kembali ke kantor." Ucap Abian.


Farid langsung tersedak dan batuk. "Uhuk uhuk." Tanisa memberikan air putih untuk suaminya.


"Apa kamu yakin." Tanya nyonya Rona.


"Tentu aku yakin, selama aku bekerja tidak ada yang boleh menyakiti istriku." Ucap Abian tegas sambil menikmati sarapannya.


"Sebaiknya kamu tidak usah ke kantor nikmati bulan madu kalian." Ucap Farid. Nyonya Rona dan Tanisa langsung melihat ke arah Farid, mereka bingung kenapa Farid bisa berbelok mendukung Abian.


"Kenapa kamu mendukung Abian." Bisik Tanisa.


"Diam, ini rencanaku." Bisik Farid lagi.


"Aku bisa mengurus kantor, kamu nikmati waktumu dengan istrimu." Ucap Farid.


Abian menatap tajam wajah Farid kemudian dia melihat istrinya yang makan sambil menundukkan kepalanya.


"Kami tidak akan keluar negeri, tidak ada bulan madu." Ucap Abian.


"Kenapa? bukannya semua pasangan pengantin baru menginginkan hal itu." Ucap Farid.


"Jelas mereka tidak mau bulan madu, mereka tidak melakukan seperti pasangan suami istri lainnya." Timpal nyonya Rona.

__ADS_1


"Hei jangan salah kamu, apa mata kamu juling! lihat rambut anakku basah dan badannya sakit, mereka sudah melakukannya, benar kan Anes." Ucap ibunya. Pipi Aneska langsung merona merah, masalah hubungan badan antara dia dan suaminya seperti masalah umum yang harus di ketahui pihak keluarga.


"Nah lihat, wajah anakku merona berarti mereka sudah melakukannya." Ucap ibu Desi mempertegas praduga besannya.


"Jangan rusak napsu makanku. Keputusanku sudah bulat, aku akan kembali ke kantor." Ucap Abian tegas. Nyonya Rona tidak mau membantah dia juga menginginkan anaknya kembali mengurus perusahaan suaminya. Karena dia sudah mendengar dari Zidan kalau saham perusahaannya semakin anjlok.


Zidan baru tiba di ruang makan, dia melirik Aneska yang menurutnya semakin cantik apalagi rambutnya basah membuat wanita itu tambah seksi.


"Maaf saya terlambat." Ucap Zidan. Dia mulai menikmati sarapannya.


"Zidan, aku mau kembali ke perusahaan dan kamu akan ikut denganku." Ucap Abian.


"Kenapa Zidan? dia mengurusi segala sesuatu yang ada di sini saja." Ucap nyonya Rona bingung dengan sikap anaknya. Karena setau wanita paruh baya itu, Zidan rival anaknya tapi Abian malah mendekatkan dirinya sama orang kepercayaannya.


Abian tidak menjawab pertanyaan maminya. Dia sengaja membawa Zidan, agar pria itu tidak mendekati istrinya selama dia berada di kantor. Karena sebelumnya dia sudah tau dari Aneska kalau Zidan mencintai istrinya.


Sarapan telah selesai, nyonya Rona, Tanisa dan Farid yang pertama kali beranjak dari ruang makan. Cyra dan Ila terlihat akrab mereka saling mengobrol.


"Bu, bisa pijat istriku." Ucap Abian.


"Bisa, kalian ngapain saja sih sampai badan Aneska sakit semua." Ucap ibu Desi sambil menghampiri anaknya. Zidan hanya melihat itu semua, hatinya merasa terenyuh melihat perhatian yang di berikan Abian kepada Aneska, dia langsung buru-buru pergi dari ruang makan.


Abian membantu Aneska untuk berdiri.


"Bu pijatnya di kamar ibu saja." Ucap Aneska.


"Kamu hanya boleh pijat di kamar kita." Ucap Abian lagi.


Sesampai di kamar Aneska bingung.


"Bu, pijatnya di kamar mandi saja." Ucap Aneska.


"Ngawur kamu, pijat itu di kasur." Ucap ibunya sambil memperhatikan isi kamar Abian.


"Buka baju kamu." Ucap ibunya.


"Malu bu." Aneska menutup badannya dengan kedua tangannya.


"Sama ibu sendiri malu, sama suami kamu enggak malu." Ucap ibunya cepat. Abian tersenyum mendengar percakapan ibu dan anak itu. Dia pura-pura sibuk di meja kerjanya sambil sesekali melirik ke arah istrinya.


"Anes enggak punya sarung bu. Kamu ada sarung tidak." Tanya Aneska kepada Abian.


Abian menggelengkan kepalanya.


"Ayo cepat." Ucap ibunya lagi. Aneska menarik selimut yang ada di kasur, dia membawa selimut warna putih itu menuju kamar mandi. Setelah beberapa menit Aneska keluar dengan meletakkan selimut di badannya seperti memakai basahan, rambutnya di gulung ke atas, sehingga lehernya yang putih bersih terlihat jelas.


Melihat hal itu Abian langsung menelan salivanya secara kasar.


Seksi sekali dia.


Aneska berjalan menuju kasur, sebelum naik ibunya memegang dadanya.

__ADS_1


"Ibu mau ngapain sih." Ucap Aneska bingung.


"Masih sama, apa suaminya tidak menyentuh dada anakku." Gumam ibunya.


"Halo ibu, jangan melamun." Ucap Aneska lagi.


"Naik ke kasur." Ucap ibunya.


Aneska naik ke kasur dan menelungkupkan badannya.


"Menantu, kamu punya minyak tidak." Ucap ibu Desi sambil memijat betis anaknya.


"Minyak apa bu." Tanya Abian.


"Kalau enggak ada minyak rem juga boleh." Ucap ibunya.


"Idih ibu, seram banget pakai minyak rem." Ucap Aneska.


"Habisnya suami kamu terlalu kaya sampai minyak gosok enggak ada." Gerutu ibunya.


"Pakai hand body saja bu." Ucap Aneska lagi.


"Menantu kalau hand body ada." Ucap ibu Desi lagi sambil terus memijat kaki anaknya yang putih.


Abian pergi ke kamar mandi, dan kembali membawa hand body lalu menyerahkan kepada ibu mertuanya sesaat dia melihat punggung istrinya yang putih.


"Kepengen ya?" Ucap ibu Desi kedapatan menantunya mengagumi tubuh anaknya.


"Eh enggak bu." Abian menggaruk kepalanya sambil kembali duduk di kursi kerjanya.


"Ibu itu hand body pria, Anes enggak mau pakai." Ucap Aneska.


"Terus pakai apa?" ucap ibu Desi lagi.


"Punya kamu enggak ada?" tanya ibu Desi.


"Anes enggak bawa bu, semuanya di rumah." Ucap Aneska. Ibu Desi teringat anak gadisnya satu lagi yaitu Cyra. Wanita paruh baya itu keluar kamar menuju kamar anak bungsunya. Sesaat Abian mengambil foto punggung istrinya. Beberapa saat kemudian ibu Desi kembali dengan membawa botol hand body punya anaknya. Wanita paruh baya itu mulai memijat.


"Selimutnya di longgarkan, biar ibu bisa pijat pinggang kamu." Ucap ibunya. Aneska melonggarkan selimut yang melilit tubuhnya, ibunya mulai memijat pinggang anaknya dan punggung anaknya.


Abian tidak kuasa melihat hal itu, dari samping dada istrinya sebagian terlihat. Dia buru-buru ke balkon kamar, dia takut harta pusakanya mencari lubang.


"Aw sakit bu." Aneska meringis.


Prok, ibunya langsung memukul tangan Aneska yang berusaha untuk menghalangi tangannya yang sedang memijat.


"Mau sembuh enggak? ibu heran kalian pakai jurus apa sampai bisa terkilir seperti ini? apa kalian main smack down." Tanya ibu Desi.


Bersambung.


Sesuai janji author jika masuk 10 besar akan update lagi, terima kasih readers.

__ADS_1


__ADS_2