
"Gombal." Ucap Aneska.
"Kalau tidak percaya belahlah dadaku, pasti aku mati." Rayu Abian.
"Sudah cukup, sekarang waktunya mandi." Ucap Aneska berusaha mengangkat tubuhnya dari badan suaminya.
"Kissnya mana." Ucap Abian manja.
Aneska memberikan morning kiss untuk suaminya. Setelah mendapatkan ciuman pagi dari istrinya Abian masuk ke kamar mandi.
Aneska bingung harus melakukan apa, hari kedua bekerja dia sudah tidak masuk. Ponselnya berdering.
"Halo mbak." Ucap Aneska pelan.
"Kamu kenapa enggak masuk." Tanya Tami pelan.
"Aku terlambat bangun mbak."
"Bu Susan marah sama kamu. Katanya kebiasaan kamu kambuh lagi." Ucap Tami.
"Aku mau datang mbak, tapi bagaimana dengan bu Susan." Tanya Aneska.
"Aduh kalau bu Susan orangnya susah, kamu bisa kena damprat habis-habisan nanti."
"Terus sekarang bagaimana." Tanya Aneska bingung.
"Hemm, kamu masuknya besok aja jangan hari ini."
"Kalau besok apa tidak sama dengan hari ini." Tanya Aneska.
"Kalau besok pasti emosi bu Susan agak berkurang. Udah ya, nanti mbak hubungi lagi." Panggilan terputus.
"Kamu menghubungi siapa." Tanya Abian yang baru keluar dari kamar mandi hanya menyisakan handuk di pinggangnya.
"Ya ampun kenapa dia seksi sekali." Gumam Aneska sambil memperhatikan bentuk tubuh suaminya.
"Aduh kenapa aku ngences." Aneska buru-buru membersihkan air liurnya.
"Kamu kenapa?" ucap Abian bingung dengan tingkah istrinya.
"Aku ambilkan pakaian kerja kamu." Ucap Aneska sambil berjalan ke ruang ganti.
"Enggak perlu, hari ini aku tidak berangkat kerja." Ucap Abian sambil menarik tangan istrinya.
"Kenapa?"
"Aku mau bersama kamu satu harian." Ucap Abian sambil mengelus pipi istrinya.
"Hahaha, Abian kamu jangan malas." Aneska menghindari tatapan suaminya.
"Aku memang malas, apalagi ada kamu di dekatku, hawanya selalu mengantuk." Ucap Abian genit sambil memegang dagu istrinya. Aneska melihat ada gelagat suaminya yang akan menciumnya.
"Abian nanti kalau sekertaris kamu menghubungi bagaimana." Tanya Aneska.
"Mau menghubungi pakai apa? ponselku tidak ada di sini." Ucap Abian ingin mencium istrinya.
"Haccim." Aneska pura-pura bersin.
"Kamu sakit lagi?" Abian langsung mengangkat tubuh istrinya.
"Abian turunkan aku tidak sakit." Ucap Aneska bingung dengan tingkah suaminya.
"Aneska, apa selama kamu bekerja kamu minum es." Tanya Abian sambil meletakkan tubuh istrinya di kasur.
"Iya, aku minum es jeruk." Ucap Aneska jujur.
__ADS_1
"Sudah ku duga." Abian menghubungi pelayan untuk membawakan baskom dan handuk kecil ke kamarnya.
"Untuk apa baskom itu." Ucap Aneska bingung.
"Mau mengompres kamu." Jawab Abian sambil berlari kecil ke kamar mandi.
"Anes anes kenapa pakai acara bersin segala." Gerutu Aneska sambil turun dari tempat tidur.
"Kenapa turun? kamu sedang sakit." Ucap Abian sambil membawa baskom.
"Abian aku tidak sakit."
"Sstt diam, sekarang berbaring." Ucap Abian sambil memperhatikan pakaian istrinya. Dia kembali ke ruang ganti dan mengambil pakaiannya.
"Pakai ini." Ucap Abian menyerahkan pakaiannya kepada istrinya.
"Untuk apa." Ucap Aneska bingung.
"Kata Tami, kalau demam harus pakai pakaian yang longgar. Ayo ganti." Ucap Abian.
"Tapi aku enggak demam." Aneska menarik tangan Abian dan meletakkan di dahinya.
"Enggak demam kan." Ucap Aneska.
"Lebih baik mencegah dari pada mengobati, ayo ganti." Ucap Abian lagi.
"Abian aku enggak de."
Abian meletakkan jari telunjuknya di bibir istrinya. " Aku takut kamu sakit seperti kemaren. Jadi ikuti saja apa yang aku perintahkan." Ucap Abian pelan.
Aneska mengambil baju kaos suaminya dan hendak melangkahkan kakinya ke ruang ganti.
"Mau kemana?" tanya Abian.
"Mau ganti baju." Ucap Aneska.
"Apa!" Aneska teriak.
"Sayang kenapa kamu selalu berteriak." Ucap Abian sambil memegang telinganya.
"Suamiku, aku malu." Ucap Aneska pelan.
"Kenapa harus malu, aku sudah melihat semua bentuk tubuhmu. Dan sudah menjejaki semuanya." Ucap Abian.
"Aaaaa." Rengek Aneska sambil memukul lengan suaminya.
Pipinya langsung merona merah.
"Begini saja, aku ada ide. Bagaimana kalau kamu berbaring terus aku yang memakaikan kaos ini." Ucap Abian sambil memegang kaosnya.
"Hah? apa aku enggak salah dengar."
"Ingat waktu kamu demam yang mengganti pakaian kamu siapa? kan aku." Ucap Abian.
"Iya tapi pada saat itu aku enggak sadar."
"Ya sudah kamu pura-pura enggak sadar, biar enggak malu." Ucap Abian genit.
"Suamiku aku enggak sakit, jadi biarkan aku memakai pakaianku sendiri." Ucap Aneska menolak.
"Jangan membantah, tadi aku dengar sendiri kamu bersin. Apa mau aku panggilkan Arif, biar kamu di berikan obat pahit."
"Jangan di panggil. Iya aku ganti tapi kamu enggak boleh lihat." Ucap Aneska.
"Iya-iya." Abian membalikkan badannya. Aneska buru-buru membuka seragam kerjanya. Abian membalikkan badannya lagi ketika istrinya hanya memakai bra dan celana dalam.
__ADS_1
"Istriku apa kamu mau menggodaku." Ucap Abian genit.
Aneska buru-buru memakai kaos suaminya, tapi Abian langsung memegang tangan istrinya.
"Kamu mau apa?" ucap Aneska bingung sambil berusaha menutupi dadanya.
"Ada yang kurang, tapi apa ya." Abian pura-pura sedang berpikir.
"Aha aku ingat, aku harus memberikan tato untuk kamu." Ucap Abian.
"Apa! Abian jangan." Aneska mundur teratur dan terjatuh di atas kasur. Abian menyempatkan untuk menciumi bibir istrinya dan membuat kembali tato kepemilikan di sekujur tubuh istrinya.
Abian hendak membuka celana dalam istrinya.
"Abian jangan! aku lagi mens." Ucap Aneska.
"Apa!" Abian langsung bangun mencak-mencak sambil menuju kamar mandi.
Aneska tertawa lucu melihat suaminya tidak bisa menyalurkan hasratnya.
Abian keluar kamar mandi dengan rambut yang masih basah.
"Kasihan." Ejek Aneska.
"Jangan tertawa, ayo cepat baring aku akan mengompres kamu."
"Masih ingat aja dia." Gumam Aneska pelan.
"Suamiku aku tidak sa." Ucapan Aneska langsung di bantah suaminya.
"Sstt diam, aku bilang berbaring ya berbaring." Ucap Abian tegas.
Aneska takut, dia langsung membaringkan tubuhnya di kasur.
Abian mengompres istrinya dengan penuh ketelatenan, walaupun dia tidak demam tapi dia mengikuti kemauan suaminya.
"Abian."
"Hemmm." Ucap Abian sambil mengompres istrinya.
"Aku lapar." Ucap Aneska manja.
"Ya ampun, aku lupa kalau kita belum makan. Kamu di sini saja ya. Aku akan ke dapur, ingat jangan turun dari kasur." Ucap Abian sambil mengecup bibir istrinya.
"Abian perhatian yang kamu berikan kepadaku membuatku berbunga-bunga. Bisa-bisa aku jatuh cinta sama kamu." Ucap Aneska sambil guling-guling di kasur.
"Abian oh Abian, jenggot tipismu aku suka, hahaha. Geli-geli gimana gitu." Aneska masih guling-guling di atas kasur sambil melihat langit-langit kamar.
"Jenggot kamu itu seperti apa ya? kalau dulu seperti sapu ijok. Kalau sekarang jenggotnya seperti apa ya." Aneska berpikir sambil menghadap ke langit-langit.
"Aha jenggot tipisnya seperti spon cuci piring, hahaha." Aneska tertawa senang sambil berguling-guling.
Aneska tidak sadar dari tadi suaminya memperhatikannya.
"Abian oh Abian." Ucap Aneska kencang sambil berguling sampai pinggir kasur.
"Ehem."
Gurbrak Aneska langsung jatuh ke lantai. Suara Abian mengagetkannya.
Bersambung.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Novel "Menikah Karena Ancaman" season 3 telah rilis di youtube dengan judul "DOUBLE Zi".
__ADS_1
YOUTUBE : https://youtu.be/Vw2Xwl6wX2s
INSTAGRAM : anita_rachman83