
"Tidak ada pernikahan besok ataupun lusa. Sampai kapanpun tidak ada." Ucap nyonya Rona tegas.
"Baik kalau mami tidak mau mengabulkan permintaanku tidak masalah." Ucap Abian sambil menarik tangan Aneska. Aneska beranjak dari kursi, dia mengikuti langkah Abian.
"Mau kemana kalian." Tanya nyonya Rona.
"Aku mau menghamilinya." Ucap Abian ketus.
"Apa!" Semuanya kaget, terutama Aneska, dia berusaha untuk melepaskan tangannya dari genggaman Abian.
"Kenapa kamu ngomong seperti itu." Ucap nyonya Rona marah.
"Aku tau mami tidak akan merestui pernikahan kami, jadi biar pernikahan ini terlaksana, aku hamili dia." Ucap Abian sambil menarik tangan Aneska.
Zidan langsung menghadang jalan Abian. Dia tidak mau hal memalukan itu terjadi.
"Tuan, jangan rusak masa depannya." Ucap Zidan sambil menghadang langkah bosnya.
"Minggir." Ucap Abian.
Zidan tidak mau minggir. Dia terus berdiri di depan Abian.
"Aku bilang minggir! kamu dengar tidak!" Bentak Abian.
Abian melepaskan genggaman tangannya dari tangan Aneska, dia mau memukul Zidan tapi Aneska berusaha memegang tangan Abian dengan sekuat tenaganya.
"Stop jangan berkelahi." Ucap Aneska.
"Abian." Ucap oma. Pria itu menoleh ke arah omanya.
"Jangan nodai Aneska, itu sesuatu yang di langgar agama. Kalau kamu ingin menikahi Aneksa, menikahlah oma merestui tapi ingat pernikahan itu bukan paksaan dari siapapun." Ucap oma Zulfa.
Nyonya Rona merasa lega, karena maminya mau turun tangan, karena hanya ucapan oma Zulfa yang bisa di dengar Abian sedangkan ucapannya tidak pernah di anggap.
Tapi di luar dugaan, Abian tetap menarik tangan Aneska dan mengajak ke kamarnya.
"Abian jangan." Ucap nyonya Rona. Semua mengikuti langkah Abian. Pria itu memutar badannya dan menghadap ke arah maminya, oma, Zidan dan Ila.
"Jangan ikuti aku, atau wanita ini aku bunuh." Ancam Abian.
Mendengar kata itu Aneska berusaha untuk melepaskan tangannya dari Abian. Dia takut di hamili dan takut di bunuh. Semua yang mengikuti mereka langsung berhenti. Mereka tau kalau Abian temperamen dan dia bisa melakukan apapun yang dia suka. Untuk menyelamatkan nyawa Aneska, mereka tidak mengikuti lagi.
Abian membawa Aneska masuk ke dalam kamarnya. Nyonya Rona dan Zidan langsung bergegas menuju lantai satu ke ruang monitor. Mereka ingin melihat apa yang akan di lakukan Abian terhadap Aneska.
Sesampai di kamar Abian, Aneska memohon kepada pria yang berdiri di depannya.
"Aku mohon jangan nodai aku, hiks hiks." Aneska menangis. Abian tidak memperdulikan omongan permohonan Aneska. Dia sedang mencari sesuatu di kamarnya.
Aneska hanya memperhatikan sambil berlinang air mata. Abian mencari letak kamera yang ada di kamarnya, dia mencabut semua kamera yang tersembunyi.
Di tempat lain yaitu di ruang monitor nyonya Rona dan Zidan yang menyaksikan itu saling pandang karena semua kamera yang ada di kamar Abian sudah terputus.
Perawat itu tambah takut, menurutnya Abian sengaja merusak semua kamera agar aksinya tidak di ketahui orang lain.
__ADS_1
"Jangan nangis, aku tidak akan menghamili dan membunuhmu. Aku hanya menakuti mamiku." Ucap Abian sambil duduk di pinggir kasur.
Dia masih kurang yakin dengan ucapan Abian.
"Aku masih punya moral dan akhlak, mana mungkin aku menghamili gadis yang belum sah menjadi istriku, duduk sini." Ucap Abian sambil menarik tangan Aneska, agar wanita itu duduk di sebelahnya.
"Tidak usah takut, aku tidak akan memukulmu lagi." Ucap Abian.
"Kamu sebenarnya gila tidak?" Ucap Aneska memberanikan diri untuk bertanya.
Sebelum berbicara Abian menghela nafasnya.
"Aku bukan gila seperti yang kalian pikirkan, memang aku pernah stres karena wanita yang aku cintai telah pergi meninggalkan aku. Aku frustasi dan depresi. Aku mengurung diri di kamar dan selalu teriak menyebut nama kekasihku." Ucap Abian.
"Mungkin itu yang menyebabkan nyonya Rona menganggap kamu gila." Ucap Aneska.
"Mungkin."
"Kalau kamu tidak gila, kenapa kamu menghajar semua siapapun yang masuk ke dalam kamarmu." Tanya Aneska.
"Aku akui kalau perbuatanku salah, semua ku lakukan untuk memberi pelajaran kepada mamiku. Aku benci sama mamiku." Ucap Abian kesal.
"Kenapa." Tanya Aneska.
"Mamilah orang yang memisahkan aku dengan Vania, dia telah menjebak Vania dengan pria lain." Ucap Abian.
"Apa kamu yakin, kalau semua ini rencana mamimu." Tanya Aneska.
"Aku yakin, informasi ini aku dapat dari orang terdekatku dan aku rasa kamu kenal dengan dia." Ucap Abian.
"Dokter Arif."
"Apa! dokter Arif?" Jadi dia tau kalau kamu tidak gila." Tanya Aneska lagi.
"Awalnya dia tau kalau aku tidak gila, tapi sepertinya dia berpikiran kalau aku benar-benar gila." Ucap Abian.
Aneska bisa bernafas lega, karena Abian yang di pikirannya galak dan dingin bisa bersikap bersahabat dengannya.
"Kenapa kamu mau menikah denganku kalau hatimu masih ada pada Vania." Ucap Aneska.
"Dengan menikah aku bisa pergi meninggalkan istana ini dan mencari Vania." Ucap Abian.
Deg jantung Aneska langsung perih mendengar kata itu, dia hanya di jadikan alat untuk hubungan Abian dengan Vania.
"Maaf, aku tidak bisa ikut permainanmu. Yang pertama pernikahan itu sakral dan bukan main-main yang kedua aku bukan boneka yang kapanpun siap kamu gantikan dengan yang lain." Ucap Aneska tegas.
"Aku tidak membutuhkan pendapatmu. Karena hanya dengan kamu aku bisa mencari Vania." Ucap Abian.
"Maaf tuan Abian, aku tidak akan mau jadi istri bonekamu." Ucap Aneska sambil beranjak dari tempat tidur.
Abian menahan tangan gadis itu, dan menarik Aneska ke dalam pelukannya.
"Lepaskan." Ucap Aneska memberontak.
__ADS_1
Abian mencium bibir Aneska yang ranum. Perawat itu berusaha untuk melepaskan tubuhnya dari pelukan Abian. Pria itu terus saja menciumi Aneska. Lidahnya sudah menembus pertahanan perawat itu.
"Abian, lepaskan. Kamu sudah berjanji untuk tidak memperkosaku." Ucap Aneska sambil berusaha untuk terus memberontak dari dalam pelukan Abian.
"Katakan kalau kamu bersedia menikah denganku, maka aku akan mengakhiri ini semua." Ucap Abian.
Dengan terpaksa Aneska menyetujuinya. Dia tidak mau pria itu menodainya.
"Iya aku setuju." Ucap Aneska pelan.
Abian menghentikan aksinya sambil tersenyum penuh kemenangan.
"Ciuman tadi sebenarnya akan terasa nikmat kalau kamu membalasnya." Ucap Abian.
"Diam! ini terakhir kalinya kamu menciumku. Sampai kapanpun aku tidak akan ikhlas menikah denganmu." Ucap Aneska tegas.
"Tenang saja nona perawat, aku akan menceraikanmu setelah Vaniaku kembali." Ucap Abian sambil tertawa senang.
"Aku mau kembali ke kamarku." Ucap Aneska.
"Tunggu." Abian memperhatikan tubuh Aneska yang kecil dan tingginya hanya sebahunya.
"Aku akui wajahmu cantik tapi sayang kamu pendek. Aku tidak tetarik dengan gadis pendek sepertimu." Ucap Abian.
"Jangan menghina, walaupun aku bukan tipemu, tapi kamu membutuhkan bantuanku." Jawab Aneska ketus.
"Iya kamu malaikat penolongku, untuk meyakinkan akting kita aku butuh beberapa tambahan." Abian langsung menarik lengan baju Aneska dan menarik kacing yang ada di dadanya. Sehingga sebagian dadanya terlihat keluar.
"Apa yang kamu lakukan, kamu gila, hiks hiks." Aneska menangis sambil menutup dadanya dengan kedua tangannya. Abian mengacak-acak rambut Aneska.
"Sekarang kamu boleh keluar." Ucap Abian senang. Aneska berlari keluar kamar sambil menangis nyonya Rona yang menunggu di depan kamar langsung panik. Dia sudah memikirkan hal aneh.
"Abian, apa kamu telah menodai perawat itu?" Ucap nyonya Rona marah.
Abian hanya membalas dengan senyum liciknya.
"Menurut mami, apa yang kami lakukan di kamar." Ucap Abian sambil menyeringai.
Aneska berlari ke kamarnya, Zidan mengikuti perawat itu. Ketika Aneska hendak menutup pintu kamarnya, Zidan menahan pintu kamar itu.
"Izinkan aku masuk." Ucap Zidan. Aneska membuka pintu kamarnya tapi sebelumnya dia menutup dadanya dengan kain.
Ketika pintu di buka, Zidan masuk ke dalam kamar Aneska, dia melihat gadis itu masih menangis.
"Aku ingin keluar dari istana ini, bantu aku." Ucap Aneska sambil menangis, Zidan merasa tidak tega, dia meletakkan kepala gadis itu di bahunya.
"Aku mau keluar dari istana ini, hiks hiks." Aneska menangis karena perlakuan tidak pantas yang di berikan Abian kepadanya, dan dia menangisi akan nasibnya ketika menikah dengan Abian.
"Jangan menangis, nanti malam aku akan membawamu kabur." Ucap Zidan.
Aneska yang tadinya menangis bisa menegakkan kepalanya.
"Jam sebelas malam ini, aku menunggumu di taman dekat garasi. Ingat jangan membawa pakaianmu semuanya. Bawa seperlunya saja." Ucap Zidan.
__ADS_1
Bersambung.
Buruan vote untuk kedua karya author "Menikah Karena Ancaman" dan "Love of a Nurse"