
Aneska selesai mandi, dia mengenakan kimono handuk Abian. Menurutnya lebih baik memakai kimono dari pada harus memakai baju kaos oblong yang kalau nungging akan terlihat dalamannya. Aneska menggulung rambutnya dengan handuk, karena dia baru selesai keramas. Dia keluar dari kamar mandi dan mencari keberadaan suaminya. Tapi keberadaan suaminya tidak di ketahui, Aneska melihat kunci kamar sudah tergantung di tempatnya, begitu dia mau memutar kunci, Abian masuk dari balkon kamarnya.
"Hei mau kemana kamu?" Ucap Abian menghampiri istrinya.
"Mau ambil baju." Jawab Aneska.
"Dengan kimono?" Ucap Abian sambil menunjuk kimono yang di pakai istrinya.
"Lalu dengan apa aku keluar? apa aku pakai gorden untuk menutupi tubuhku." Ucap Aneska.
"Kamu jangan keluar dengan pakaian seperti ini." Ucap Abian.
"Kenapa?"
"Aku enggak suka." Jawab Abian lagi.
"Kamu tunggu saja di sini, aku akan memerintahkan bu Tatik untuk mengambil pakaianmu." Abian mengambil telepon yang ada di nakas, dia menghubungi ekstension yang langsung menuju dapur.
"Jangan bu Tatik, temanku saja Tami. Aku enggak suka sama telur dadar itu." Ucap Aneska jujur.
"Ok." Ucap Abian kemudian berbicara sama seseorang yang ada di ujung telepon, setelah memberikan perintah Abian meletakkan kembali teleponnya. Dia memperhatikan Aneska yang berdiri sambil memegang pinggangnya.
"Apa pinggangmu masih sakit." Ucap Abian khawatir sambil menyentuh pinggang istrinya.
"Masih, jangan sentuh!" seru Aneska.
"Kenapa?" Ucap Abian lagi sambil memperhatikan wajah istrinya.
"Nanti kamu banyak mintanya." Sindir Aneska.
"Hahaha, aku tidak akan berbuat macam-macam, kalau aku ada niat bisa saja tadi malam aku habisi kamu." Ucap Abian sambil tertawa.
Mendengar kata habisi Aneska langsung membelalakkan matanya.
"Habisi? kamu mau membunuhku." Tanya Aneska takut.
"Bukan habisi itu, tapi habisi itu." Abian menunjuk ke arah bagian bawah tubuh istrinya dengan lirikan matanya. Aneska buru-buru menutup tubuhnya dengan kedua tangannya.
"Ngeri banget bahasamu, kalau ada yang dengar pasti orang lain akan berpikir kamu mau membunuhku." Ucap Aneska.
Pintu kamar di ketuk, Abian membuka pintu ada mbak Tami di depan kamar sambil membawa tentengan.
"Pagi tuan, saya membawakan pakaian Aneska." Ucap mbak Tami.
"Bukan Aneska tapi nona Aneska." Ucap Abian tegas sambil mempersilahkan perawat itu masuk ke kamarnya.
Tami masuk dan melihat Aneska sedang memakai handuk dan kimono, pikirannya langsung aneh-aneh.
Pasti Abian sudah memaksa melakukan hubungan suami istri, kasihan Aneska.
"Ini pakaiannya nona." Ucap Tami sambil menyerahkan kepada temannya.
"Mbak Tami jangan panggil nona, panggil saja Anes, kita kan teman." Ucap Aneska sambil memegang lengan temannya. Tami diam dan melirik Abian.
"Dia tetap memanggil kamu nona, dan mulai sekarang kamu harus menjaga istriku, laporkan siapa saja yang menyakitinya dan juga laporkan kepadaku, apa saja yang di perbuat istriku." Ucap Abian tegas.
"Baik tuan." Jawab mbak Tami. Aneska senang dia hendak lompat tapi tiba-tiba pinggangnya terasa nyeri.
__ADS_1
"Aw." Ucap Aneska sambil memegang pinggangnya.
"Kamu enggak apa-apa." Tanya mbak Tami dan Abian secara bersamaan.
"Pinggangku sakit." Ucap Aneska.
"Kamu bisa memijat." Tanya Abian kepada Tami.
"Kalau pijat capek saya bisa tapi pijat terkilir enggak bisa." Jawab mbak Tami.
"Di mana cari tukang pijat seperti itu." Gumam Abian. Aneska mendengar gumaman suaminya.
"Ibu bisa memijat, biasanya ibu sering di panggil warga untuk memijat yang sakit." Jelas Aneska.
"Ya sudah, aku panggil ibumu." Ucap Abian sambil hendak keluar kamar tapi Aneska menahannya.
"Nanti saja, aku mau makan dulu."
"Makannya di bawa ke sini." Ucap Abian lagi. Aneska teringat pada saat makan di mana ibunya dan nyonya Rona bertengkar.
"Aku masih bisa berjalan, kita makan di meja makan saja, pasti orang tuaku sedang menungguku di sana." Ucap Aneska.
"Baiklah, bantu istriku memakai pakaian." Perintah Abian kepada Tami.
"Aku bisa sendiri." Jawab Aneska cepat, tapi mata pria yang berdiri di depannya langsung berubah menakutkan. Akhirnya Aneska menarik mbak Tami untuk menemaninya memakai baju. Dia memilih memakai baju di kamar mandi, karena Aneska khawatir kalau tiba-tiba Abian masuk, jadi menurutnya lebih aman kalau di dalam kamar mandi sambil mengunci pintu.
"Anes, apa dia menyakitimu." Tanya mbak Tami.
"Enggak dia tidak menyakitiku, ini karena kesalahanku sendiri, aku jatuh dari lemari." Ucap Aneska, dia tidak mengatakan kalau bokongnya sudah di remas Abian dan tidak mengatakan kalau di dalam kamar mandi dirinya sudah di cium paksa oleh Abian, Aneska menutupinya karena malu.
"Kamu hati-hati, ngapain lagi manjat lemari." Ucap mbak Tami. Aneska hanya diam sambil memakai celana jeansnya.
"Kamu tidak bisa memakai celana seperti ini, harus pakai pakaian yang longgar." Jelas mbak Tami.
"Aku enggak punya dres, pakai ini saja." Ucap Aneska memaksa pakai celana jeans.
"Kamu juga sih, makan saja di sini. Ngapain harus makan di ruang makan." Ucap mbak Tami lagi.
"Aduh mbak, kemaren di meja makan terjadi perang antara ibu sama nenek sihir. Mereka berdua saling jambak." Ucap Aneska.
"Apa! siapa pemenangnya." Tanya Tami antusias.
"Seri." Jawab Aneska singkat.
"Jadi kamu khawatir kalau ibu kamu perang lagi sama nenek sihir itu." Tanya Tami.
"Hooh." Ucap Aneska.
"Nes, gimana ceritanya kamu bisa nikah sama tuan muda, bukannya kamu kabur." Tanya Tami penasaran.
"Aduh panjang ceritanya, kapan-kapan aku ceritain." Aneska lupa hair dryer yang ada di sofa.
"Mbak bisa ambilkan hair dryer di sofa." Ucap Aneska.
"Ok." Tami keluar dari kamar mandi dan mencari letak hair dryer, Abian melihat Tami langsung bertanya.
"Mana dia." Tanya Abian.
__ADS_1
"Di kamar mandi tuan." Ucap mbak Tami sambil memegang hair dryer.
"Untuk apa itu." Tanya Abian lagi.
"Mau mengeringkan rambut Anes eh rambut nona Aneska." Ucap Tami gugup.
"Jangan di keringkan." Ucap Abian tegas.
"Baik tuan." Ucap mbak Tami masuk kembali ke kamar mandi tanpa membawa hair dryer.
"Mana hair dryernya." Tanya Aneska.
"Enggak boleh di keringkan." Ucap mbak Tami sambil menyisir rambut Aneska.
"Siapa yang bilang?" Ucap Aneska.
"Suami kamu." Jawab mbak Tami sambil menyisir rambut Aneska yang panjang.
"Nes, tuan Abian di cukur rambutnya tambah cakep ya." Ucap mbak Tami.
"Iya, aku pikir tadi aku salah kamar eh enggak taunya dia." Ucap Aneska tertawa lucu.
"Dia perhatian banget sama kamu." Ucap mbak Tami.
"Iyalah masih istrinya nanti kalau udah ketemu Vania pasti aku di depak dari sini." Ucap Aneska sambil melihat ke cermin.
"Supaya tidak di depak, kamu buat dia jatuh cinta sama kamu, mbak yakin pasti kebersamaan kalian bisa membuatnya jatuh cinta." Ucap mbak Tami sambil meletakkan dagunya di bahu Aneska.
"Ye mbak Tami, malah memberikan ide konyol. Mbak tau keluarganya sangat menentang ini, aku enggak mau tinggal lama-lama di istana ini, membayangkan wajah nenek sihir dan anaknya Tanisa dan menantunya sangat menakutkan." Gerutu Aneska.
"Kalau seandainya dia jatuh cinta sama kamu bagaimana." Ucap mbak Tami lagi.
"Jangan ah, aku tidak mengharapkan dia jatuh cinta kepadaku, aku ingin menyatukan cinta pertamanya yang telah hilang." Ucap Aneska.
Tok tok tok pintu kamar mandi di ketuk. Mbak Tami buru-buru membuka pintu kamar mandi.
"Ngapain saja, ayo makan. Katanya lapar." Ucap Abian.
Aneska berjalan perlahan, Abian memegangi istrinya. Mereka keluar kamar di ikuti mbak Tami.
"Mbak sarapan saja dulu, nanti ke sini lagi." Ucap Aneska. Mbak Tami menganggukkan kepalanya dan sebelum pergi, dia permisi terlebih dahulu sama Abian.
Mereka berdua jalan menuju ruang makan. Abian memperhatikan jari istrinya tidak ada cincin pernikahan.
"Kalau kamu sembuh, nanti kita cari cincin pernikahan untuk kita." Ucap Abian.
"Enggak usah, pernikahan kita hanya sandiwara jadi enggak perlu ada cincin pernikahan." Aneska menolak.
"Jangan membantah." Ucap Abian tegas.
Sesampai di ruang makan, keluarga Aneska sudah duduk di ruang makan. Ibunya Aneska langsung melongo melihat penampilan pria di sebelah anaknya.
"Kamu menantu genderuwo?" Ucap ibunya bingung.
Abian hanya membalas dengan tersenyum.
"Ya ampun kamu ganteng banget, gitu dong brewok jangan di pelihara cukup singa ingat singa." Ucap ibu Desi.
__ADS_1
Bersambung.
Terima kasih atas vote dan dukungannya.