Love Of A Nurse

Love Of A Nurse
Bab 136


__ADS_3

Nyonya Rona dan dokter Arif bertatapan. Wanita paruh baya itu heran, karena setelah Aneska keluar dari rumah sakit ruangan itu kosong dan sekarang lampu ruangan kembali nyala.


"Arif, apa ada pasien baru?" tanya nyonya Rona penasaran.


"Aneska di rawat lagi." Sahut dokter itu.


"Di rawat lagi? bukannya dia sudah sembuh, kenapa malah di rawat lagi?" nyonya Rona mulai menyelidik.


"Semua pasien yang di rawat di sini, karena sakit dan butuhnya pemantauan dari dokter." Jelas dokter Arif dan berlalu meninggalkan wanita paruh baya itu.


"Tapi sakit apa?" pertanyaan nyonya Rona tidak di dengar dokter Arif. Karena dokter itu telah berlalu dari hadapannya.


Nyonya Rona masuk kembali ke ruangan anaknya.


"Aneska kembali di rawat." Ucap nyonya Rona mulai bergosip.


"Loh kenapa mi? bukannya dia sudah keluar kemarin?" tanya Tanisa bingung.


"Itu yang mami heran, kenapa dia di rawat lagi. Tadi mami tanya sama Arif, dia malah jawab karena sakit udah itu aja."


"Mungkin masih sakit mi, biarkan aja. Ngapain juga mami mengurusi dia, kalau Abian tau malah mami di marahi loh." Tanisa mengingatkan maminya untuk tidak bertindak seperti kemarin.


Di ruang perawatannya, Aneska masih menangis. Dia tidak sanggup harus mengatakan ke suaminya. Di mana rasa nyeri mulai dirasakannya.


"Sakit nak?" tanya ibunya khawatir.


"Iya bu, nyeri banget." Aneska meringis kesakitan dan pada saat itu pintu terbuka. Abian langsung memeluk istrinya.


"Sayang apa sakit?" tanya Abian yang melihat mata istrinya sembab.


"Enggak sayang." Sahut Aneska bohong.


"Tapi kenapa kamu menangis?" tanya suaminya bingung.


"Oh enggak sayang, tadi memang sakit tapi sekarang sudah hilang." Ucap Aneska bohong.


"Anes, sebaiknya kamu beristirahat." Ucap ibunya yang merasa khawatir dengan kesehatan anaknya.


"Iya sayang, istirahatlah aku akan menemani kamu di sini." Abian mengecup dahi istrinya. Dia duduk di kursi samping tempat tidur, mengelus rambut istrinya agar terlelap.


Aneska hanya memakai pakaian khusus pasien rumah sakit, dan untuk pakaian yang dikenakannya tadi masih berada di atas sofa. Tas dan barang-barangnya di letakkan di atas lemari rumah sakit.


Sambil mengelus rambut istrinya, Abian mulai bertanya ke mertuanya.


"Ibu, kapan Aneska mengalami pusing?" tanya Abian.


"Hemmm, kapan ya." Ibu Desi pura-pura berpikir. Dia khawatir jika jawabannya dengan jawaban Aneska berbeda.


"Dokter bilang apa saja?" tanya Abian lagi.


"Hemm enggak ada cuma di suruh istirahat." Ucap ibu mertuanya gugup.


Abian kurang puas dengan jawaban ibu mertuanya. Dia keluar dari ruangan itu. Berjalan menyusuri panjangnya lorong rumah sakit itu. Berhenti di depan lift dan masuk ke dalam lift sambil menekan tombol lantai sesuai dengan ruangan dokter.

__ADS_1


Dokter Arif yang melihat Abian datang langsung menghampiri temannya.


"Abian kamu mencari ku?" tanya dokter Arif yang berjalan beriringan dengan temannya.


"Bukan, aku ingin menemui dokter yang menangani Aneska." Ucapan Abian membuat dokter Arif kebingungan.


Aneska tidak memikirkan sampai sejauh itu. Dimana menurut Aneska penjelasan dari dokter Arif dapat menutupi semuanya.


"Aku kan sudah bilang kalau Aneska hanya pusing dan dokter menyuruhnya beristirahat di sini." Jelas dokter Arif bohong.


Abian berhenti dia menatap lekat bola mata temannya.


"Tapi kenapa dia menangis?" tanya Abian yang mulai cemas dengan kesehatan istrinya.


"Mungkin karena pusingnya."


"Jawaban kamu tidak menjelaskan apapun, aku ingin jawaban yang detail." Abian terus berjalan menuju ruangan dokter yang menangani Aneska.


Dokter Arif tidak bisa melakukan apapun selain mengatakan ke Aneska. Dia langsung menuju ruang perawatan Aneska.


Abian mengetuk pintu ruangan. Ada suara seseorang menyuruhnya untuk masuk. Abian masuk ke dalam ruangan itu.


"Ada yang bisa saya bantu?" tanya dokter paruh baya itu.


"Dokter saya suami dari Aneska, istri saya dulu perawat di sini." Jelas Abian karena dia tau jika dokter itu tidak mengingatnya.


"Oh iya iya saya ingat dengan Aneska, apa ada keluhan?" dokter mengajukan pertanyaan yang membuat Abian bingung.


"Dok, bisa jelaskan tentang pusing yang di alami istri saya?" tanya Abian.


"Aneska pulang kemarin dan jadwal kontrolnya besok. Tapi jika pusingnya berlanjut bisa langsung di bawa ke IGD." Penjelasan dokter paruh baya itu membuat Abian bingung dengan ucapan istrinya yang mengatakan jadwal kontrolnya hari ini.


"Terima kasih dok." Dia langsung keluar dari ruangan itu.


"Kenapa kamu berbohong." Rahang Abian mengeras dia merasa seperti di permainkan.


Ketika masuk ke dalam ruangan istrinya. Dia melihat istrinya sudah bangun dan ada dokter Arif di dalam situ.


Abian langsung mencekram leher dokter Arif.


"Kenapa kamu berbohong, kenapa!" bentak Abian.


"Abian jangan, ini salahku. Akan aku jelaskan." Aneska berbicara dengan linangan air mata.


Dokter Arif dan ibu Desi langsung keluar. Mereka membiarkan suami istri itu menyelesaikan masalah mereka.


Aneska berusaha mengambil tasnya yang ada di atas lemari samping tempat tidur. Abian bingung dengan istrinya. Karena pada saat di rawat kemarin, Aneska bisa duduk seperti pada umumnya tapi sekarang dia kesusahan untuk duduk.


"Aneska jelaskan kepadaku! kenapa kamu berbohong kenapa!" Abian membentak istrinya. Selama ini dia selalu bersikap lembut kepada Aneska tapi hari ini dia membentak orang yang di cintainya.


Ibu Desi yang berada di luar mendengar bentakan Abian, dia merasa kasihan tapi wanita paruh baya itu tidak boleh ikut campur dalam urusan rumah tangga anaknya.


"Iya Abian akan aku jelaskan." Aneska menangis dan berusaha mengambil tasnya tapi tasnya malah jatuh tepat di kaki Abian.

__ADS_1


"Kenapa dengan tasmu kenapa!" Abian kembali membentak Aneska. Dia mengeluarkan isi tas itu tepat di badan istrinya.


"Kamu mau menjelaskan apa dengan isi tas ini!" Aneska mencari sesuatu di atas badannya, tapi dia hanya bisa meraba karena untuk duduk masih terasa nyeri.


Abian melihat sebuah kotak yang bertuliskan alat uji kehamilan pribadi. Dia langsung mengambil itu dan membukanya.


"Apa ini?" tanya Abian.


"Itu tes kehamilan." Sahut Aneska pelan..


Raut wajah Abian mulai berubah, dia mulai berpikir perbuatan istrinya ada hubungannya dengan tes kehamilan itu.


"Jangan bilang kalau kamu menggugurkan anak kita!" tebak Abian dengan emosi yang berapi-api.


Aneska menganggukkan kepalanya seraya menangis.


"Apa!" Abian marah ingin rasanya dia memukul istrinya tapi dia melampiaskan amarahnya dengan memukul tembok berkali.


"Abian stop, aku melakukan ini terpaksa." Ucap Aneska dengan suara yang bergetar karena menangis.


"Terpaksa kamu bilang! itu darah dagingku!" Abian menuding istrinya.


Ibu Desi merasa tidak bisa tinggal diam. Dia tau anaknya susah menjelaskan ke suaminya. Karena merasa yang paling bersalah atas proses kuret dan semuanya.


"Abian cukup." Ibu Desi langsung masuk.


Abian menoleh dan menatap tajam ke mertuanya.


"Ibu membela anak ibu! ibu dan Aneska bersekongkol untuk menggugurkan anakku."


Plak...Ibu Desi langsung menampar Abian.


"Jaga bicaramu!"


"Selama ini aku menghormati ibu tapi perbuatan ibu sangat keterlaluan!"


"Abian! kamu telah menyakiti perasaan ibu!" ucap ibu Desi tegas.


"Ibu yang menyakiti perasaanku lebih dulu!" seru Abian marah.


"Abian cukup Abian." Aneska hanya bisa menangis.


"Kamu mau meminta maaf tidak!" bentak ibu Desi.


Sikap angkuh Abian mulai muncul dan itu karena sikap mertuanya yang ikut bekerja sama membohonginya.


"Tidak akan, aku tidak sudi minta maaf sama orang seperti kalian, pembunuh!"


Plak... Ibu Desi kembali menampar Abian.


"Karena kamu telah menghina kami, jangan menyesal. Janin yang ada di dalam rahim Aneska tidak sempurna dan harus di angkat." Jelas ibu Desi.


Abian bertepuk tangan dia salut dengan karangan mertuanya.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2