
"Kamu benar ya Rion, setelah ini jangan main-main lagi. Sudah punya istri harus tanggung jawab." kata Arleta serius.
"Iya kakakku yang cantik. Sudah sejauh ini aku tidak mungkin main-main. Aku sudah berkorban banyak kan." kata Rion.
"Berkorban apa, kamu ngumbar nafsu begitu." protes Arleta.
"Ya itu maksudnya, kalau tidak dengan cara begitu mana mungkin bisa dapetin Trisia." jelas Rion. Apa iya pikir Arleta. Untung Restandi dulu tidak begitu. Apa artinya dia lebih jinak di banding Trisia. Ah tapi pernikahannya dulu dengan cara yang benar. Hal itu jadi pemikiran Arleta. Dan itu di bawanya ke kamar, ke hadapan suaminya.
"Rest, lebih mudah mana menurut kamu. Mendapatkan aku atau Trisia?" tanya Arleta ingin tau.
"Kamu kenapa sih Arleta? Dapetin kamu itu susah. Harus sabar." harus pakai siasat juga, sambung Restandi di dalam hati.
"Menurut Rion, dia tuh berkorban banyak untuk dapat Trisia." Arleta mengungkap inti masalahnya.
"Ya dia bikin susah papa dan mama. Bikin malu juga, menikah juga seperti ini." menurut Restandi itu harga yang harus di bayar Rion.
"Tapi menurut aku itu bukan pengorbanan, itu mah usaha enak-enak." kata Arleta kesal.
"Ya mungkin dia tidak mau repot, jadi ambil jalan pintas saja. Enak kan, target di dapat dia juga puas." bukan cuma Arleta, Restandi juga kesal pada adiknya itu.
"Oh jadi kamu juga mau mendekati dengan cara begitu?" Arleta jadi salah paham. Ibu menyusui sensitif tidak sih?
"Apa sih kamu Arleta. Aku mau dekati siapa? kamu lupa ya, kamu punya kontrak sama aku untuk lahirkan seratus anak. Ini baru satu loh, mana tanggung jawabku?" Restandi langsung menyerang Arleta gemas. Direbahkannya istrinya di tempat tidur.
"Kamu nanti make up lagi ya sayang." tangan Restandi membuka kancing baju Arleta.
"Nanti kalau Alrest bangun bagaimana?"tanya Arleta sambil menahan cumbuan suaminya.
"Gantian dong, masa Alrest terus yang dapat bagian." Restandi jadi mengecup dada Arleta sekarang. Arleta diam saja, dia bersyukur suaminya masih menginginkannya. Walau pun sempat libur dua bulan, tapi rupanya suaminya ingat pulang. Setelah Restandi menuntaskan keinginannya, mereka mandi bersama. Restandi membantu Arleta mengeringkan rambutnya. Arleta terpaksa mengganti bajunya, karena yang tadi sudah kusut.
__ADS_1
"Sayang, aku lihat di luar dulu ya." kata Restandi yang sudah rapih. Arleta mengangguk. Dia sedang sibuk dengan make up-nya. Restandi menghampirinya, menunduk mencium pipinya.
"Kita sudah mendahului pengantinnya." bisik Restandi di telinga Arleta. Restandi segera keluar, dia takut tergoda meniduri istrinya lagi. Arleta tidak make up saja sudah cantik, apa lagi make up. Restandi memeriksa persiapan di luar. Tidak lama Rion turun dan menghampiri kakaknya. Kamarnya sedang di hias maka dia keluar.
"Kamu makan roti dulu, nanti pasti lapar." Restandi menyodorkan roti yang di ambilnya di ruang makan. Sebenarnya dia yang ingin makan roti karena lapar. Tadi kan habis kerja keras. Rion tidak membantah karena dia gugup. Di nikmatnya roti itu pelan-pelan. Restandi mengamati persiapan sebentar.
"Kita ke ruang makan yuk, aku lapar." Restandi minta dua piring nasi goreng dari hidangan nanti siang di antar ke ruang makan untuk dia dan Rion. Acara memang di lakukan siang hari karena di sambung makan siang. Mereka tengah makan ketika Arleta datang.
"Kalian lapar ya?" Arleta menyentuh bahu suaminya.
"Kita kan belum sarapan, kamu mau makan,?" Restandi menyodorkan sesendok nasi pada Arleta.
"Nanti saja, aku bawakan Trisia makanan deh. Dia juga pasti lapar." Arleta mengambil beberapa roti isi dan kue-kue. Lalu menuangkan susu hangat juga. Rion menatapnya dengan senang, rupanya Arleta mendengarkan permintaannya tentang Trisia.
"Arleta, baju kamu ganti ya. Tadi bukan yang itu." Rion tiba-tiba ganti fokus.
"Kalian mencuri start duluan ya." kata Rion jengkel. Pengantinnya yang mana, yang asik-adik yang mana.
"Jangan berisik. Kita pemain lama, sudah cetak gol lagi." jawab Restandi berdasarkan fakta. Rion tertawa. Arleta tidak mendengarkan obrolan mereka, dia menuju kamar Trisia.
"Mama undang berapa orang kak?" tanya Rion penasaran. Melihat hidangan yang tidak sedikit.
"Keluarga dan beberapa staf rumah sakit." jawab Restandi. Nikolas datang ke ruang makan. Dia memang di biarkan bangun siang oleh Sofi.
"Papa mau makan?" tanya Rion.
"Papa tidak begitu lapar, tapi papa ingin yang hangat-hangat." jawab Nikolas. Dia duduk di kursi makan.
"Rion ambilkan sup ya." Rion meminta pelayan mengambilkan sup untuk Nikolas.
__ADS_1
"Mama mana ya, papa ingin kopi." kata Nikolas, matanya mencari keberadaan Sofi.
"Biar Rion buatkan." Rion bangkit berdiri dan membuatkan kopi. Restandi memperhatikan adiknya yang melayani papanya. Mudah-mudahan sudah ada istrinya nanti tidak berubah, pikir Restandi. Arleta memasuki kamar Trisia.
"Trisia kamu makan dulu ya, kalau aku bawakan nasi pasti kamu tidak bisa makan. Susunya di habiskan, karena acaranya siang." kata Arleta sambil meletakan piring dan segelas susu di atas meja.
"Terima kasih ya Arleta, aku gugup nih." Trisia tidak menutupi keadaannya.
"Aku turun ya, aku juga mau makan dulu. Dihabiskan ya." Arleta pun keluar. Trisia bersyukur Arleta baik padanya. Dia tidak tau Rion telah bicara pada Arleta. Tiba di ruang makan Arleta melihat ada Nikolas di sana.
"Arleta, mama ke mana ya sayang?" tanya Nikolas lembut.
"Arleta minta mama jaga Alrest, soalnya mama mondar-mandir saja dari tadi. Takutnya lelah." jawab Arleta jujur. Nikolas menatap menantu kesayangannya sambil tersenyum.
"Kamu makan ya sayang, aku ambilkan. Kamu kan harus menyusui." kata Restandi pada Arleta.
"Yang nyusu papanya apa anaknya?" tanya Rion kesal.
"Dua-duanya. Makanya kamu jangan repotin Arleta, karena tugasnya berat." jawab Restandi sambil bangkit berdiri, dia akan mengambilkan makanan untuk istrinya. Rion terdiam tapi masih kesal. Arleta menuang teh untuk dirinya. Nikolas tersenyum melihat interaksi kedua putranya. Hubungan mereka tidak sekaku dulu. Restandi datang membawa nadi dan sayur untuk Arleta.
"Papa benar tidak mau makan nasi, nanti lapar loh." kata Restandi pada Nikolas.
"Tidak usah, nanti setelah prosesi papa sama mama mau pergi bulan madu sekalian makan enak." jawab Nikolas dengan niat penuh ikut mengganggu Rion.
"Loh, ini yang nikah siapa sih?" tanya Rion jengkel. Arleta tertawa geli.
"Papa mau main sama Alrest ya." Nikolas bangkit, dia ingin bergabung bersama istrinya. Armando pun datang.
"Kamu sudah siap boy?" tanya Armando pada Rion. Yang di tanya terkejut. Dia tidak menyangka Armando akan datang pada pernikahan mantannya.
__ADS_1