Merebut Cintamu

Merebut Cintamu
58. Akhir Kemelut


__ADS_3

Restandi melihat Arlan seperti sapi yang sedang di giring ke pemotongan. Dia tidak melawan bahkan dengan sukarela berjalan ke arah itu.


"Jelas aku tidak mau kehilangan Revita. Kau sih mudah saja berkata begitu. Kau punya segalanya." Arlan putus asa.


"Aku tetap harus bekerja. Ada urusan dalam hidupku yang menggunakan uang, sebab itu uang tetap harus di cari. Kau tau bagiku mendapatkan Arleta tidak mudah. Aku harus terus mengalihkan cintanya dari Kevin sialan itu kepadaku. Sampai saat ini aku masih terus berupaya agar Arleta tetap di sampingku. Aku ingin memiliki Arleta seumur hidupku karena hanya dia yang pantas untukku. Karena itu aku akan berusaha untuk tidak membiarkan seorang pun mendapat kesempatan untuk memisahkan kami. Hanya aku yang menetapkan batasan sejauh mana seseorang masuk dalam hidupku." Restandi berkata tegas. Arlan berpikir mendengar perkataan Restandi. Ya dia memang harus membuat prioritas dan batasan dalam hidupnya jika tidak mau kehilangan Revita.


"Aku kira kau sudah merasa nyaman karena Arleta sudah jadi istrimu." kata Arlan heran.


"Nah itu, karena merasa nyaman orang yang kita cintai sudah jadi milik kita, maka kita akan lengah. Berikan rasa percaya bahwa kau memang bekerja dan tidak jadi salah paham seperti ini. Lalu jangan biarkan orang lain mengambil kesempatan ." setelah berkata begitu Restandi mengajak Arlan makan siang. Menebus rasa bersalahnya telah menyembunyikan Revita. Tapi Restandi mengharapkan yang terbaik bagi keduanya.


"Rest, apa aku akan kehilangan Revita?" tanya Arlan perlahan.


"Tidak separah itu. Aku rasa Revita mau memberi kesempatan padamu jika kau tidak mengabaikannya." jawab Restandi yakin.


"Baiklah aku akan membuat Revita tetap di sampingku. Dan tidak memberi kesempatan pada orang lain untuk memisahkan kami." Arlan mantap dengan keputusannya. Hal itu di buktikan ya ketika kembali ke kantor. Dia memindahkan Raina ke kantor cabang yang lain dan menarik Revita untuk menggantikan Raina. Arlan ingin Revita yang mengendalikan hidupnya. Raina jelas kecewa upayanya gagal di tengah jalan. Restandi kembali sore ituke rumah dengan membawa pembicaraannya dengan Arlan tadi dan menyampaikannya pada Revita.


"Kurasa kau sudah bisa bicara padanya." kata Restandi pada Revita. Gadis itu tersenyum senang. Dia akan menemui Arlan besok. Besoknya Revita masuk kerja setelah semalam Restandi dan Arleta mengantarnya pulang tadi malam. Revita terkejut ternyata dia sudah di pindahkan dan menggantikan Raina. Menurut HRD Raina sudah di pindahkan ke kantor cabang lain. Revita melihat ternyata Arlan mendengar perkataannya. Revita pun menemui Arlan di ruang kerjanya. Arlan sedang bekerja ketika Revita masuk.


"Arlan." sapa Revita pelan. Arlan terkejut dan menoleh.


"Vita." Arlan segera bangkit dan berjalan lalu memeluk Revita erat.

__ADS_1


"Kamu kemana Vita. Aku cemas mencarimu." kata Arlan senang melihat Revita. Melihat Arlan yang memeluknya dengan erat Revita tau Arlan benar-benar cemas mencarinya.


"Aku hanya ingin sendiri dan memikirkan hubungan kita." kata Revita sambil menikmati pelukan Arlan. Dia rindu pada pria itu.


"Kau tidak perlu berpikir banyak Vita, aku salah telah mengabaikanmu. Mulai hari ini aku tidak akan melakukannya lagi." Arlan semakin memeluk Revita. Dia takut Revita meninggalkannya.


"Iya aku tau, kau tidak perlu cemas begitu." kata Revita menenangkan. Arlan pun menatap Revita minta kepastian.


"Sungguh kau tidak akan meninggalkanku? maafkan aku. Malam itu hanya salah paham." Arlan tidak tau jika Revita berada di rumah Restandi. Jadi dia merasa perlu untuk menjelaskan pada tunangannya itu.


"Sudah, aku sudah tau. Ayo kita bicara Arlan." Revita mengajak Arlan duduk bersama di sofa untuk bicara berdua.


"Iya, Restandi juga yang memintaku bicara padamu." jawab Revita jujur.


"Jadi begitu, rupanya dia tau kau di mana. Aku tidak marah karena kau bicara pada orang yang tepat. Restandi juga yang menyadarkanku. Dengar Vita aku tidak mau lagi kita seperti ini. Jika kau marah jangan menghindariku, aku lebih rela jika kau memukulku dari pada menghindariku. Kau mau berjanji padaku?" tanya Arlan dengan tersenyum lembut.


"Iya Arlan aku berjanji. Kemarin aku sedih dan sakit hati, itu sebabnya aku tidak mau bertemu denganmu. Harusnya aku memang mendengarkanmu dulu." Revita menyesal. Jika ini memang salah paham betapa lucu dirinya. Arlan mengusap rambut Revita dengan sayang.


"Karena itu kita jangan seperti itu lagi. Aku memindahkanmu untuk dekat denganku. Jadi kita bisa terus saling menjaga. Selain itu aku ingin dengan kedekatan kita ini bisa membuat kita untuk mempertimbangkan pernikahan. Bagaimana menurutmu?" tanya Arlan berharap. Revita senang mendengarnya. Arlan ingin membuat kemajuan dalam hubungan mereka.


"Ya aku setuju. Ini akan membuat kita siap menikah nanti." jawab Revita dengan senyum manisnya.

__ADS_1


"Kamu sedikit repot tidak apa ya." Arlan bisa membayangkan Revita harus membuat penyesuaian dalam tugas barunya.


"Tidak apa, sekarang aku akan bekerja untuk pimpinan tercintaku." Revita bangkit akan melakukan pekerjaan barunya. Arlan menatapnya dengan bahagia. Dia akan menjaga hubungan mereka dengan baik, tekadnya dalam hati.


Sehun mulai mendekati Monika. Dia termakan ucapan Restandi jika Arleta ingin menjodohkan Monika dengan Rion. Awalnya Sehun mengantar Monika pulang. Hari ini dia mengajak Monika makan malam di luar.


"Monika kau sudah punya kekasih?" tanya Sehun dengan ramah. Walau tau Monika belum punya kekasih tapi dia memancing jawaban Monika.


"Belum dok, kenapa memangnya?" Monika juga penasaran dengan pertanyaan Sehun.


"Aku cuma khawatir ada yang salah paham jika melihat kita berdua." kata Sehun beralasan. Monika hanya tersenyum. Dia tau Sehun sudah lama. Bukan Sehun namanya bila mengajak seorang gadis tanpa tau status gadis itu. Tapi selama ini memang Sehun menghindari wanita. Dia tidak berminat untuk dekat atau pergi dengan wanita apalagi makan malam.


"Jika kau libur nanti, kau mau pergi denganku?" tanya Sehun lagi penuh harap. Monika bingung sekarang. Belakangan ini Sehun memperhatikannya. Dia sih senang, tapi hatinya tidak percaya jika Sehun suka padanya. Walaupun dia juga mengharapkan itu.


"Dokter mau pergi dengan saya?" Monika menegaskan perkataan Sehun.


"Iya, aku ingin pergi bersamamu." kata Sehun serius. Dia ingin mengenal Monika. Sudah beberapa waktu Monika menyita pikiran dan hatinya.


"Lusa saya libur dok." kata Monika.


"Aku akan menjemputmu. Kita akan pergi berdua." Sehun berkata mantap. Monika jadi ingin tau kemana Sehun membawanya. Selama ini Sehun tidak pernah punya pacar. Tapi caranya mendekati Monika tidak kaku dan aneh. Natural saja. Tapi karena Monika sudah jatuh cinta pada Sehun tentu saja pria itu tidak perlu berusaha keras. Lusa ternyata Sehun menepati janji.

__ADS_1


__ADS_2