Merebut Cintamu

Merebut Cintamu
93. Kunjungan Armando


__ADS_3

Arleta kesal Armando tidak pernah muncul lagi di rumah Kamajaya.


"Aku kan selalu sibuk bekerja Leta. Mau bagaimana lagi. Istri tidak punya, anak jauh." kata Armando sambil tersenyum. Ada kesedihan di matanya.


"Bagaimana Melody?" tanya Arleta teringat pada keponakannya.


"Baik, dia semakin lucu." Armando bangga mengatakannya.


"Aku jadi ingin melihatnya." Arleta suka pada Melody.


"Nanti kau akan melihatnya." kata Armando dengan yakin. Pasti satu hari nanti bayi itu akan ikut ayahnya.


"Tidurlah lagi, biar aku yang menjaga kalian." kata Armando. Arleta pun menurut, dia sangat mengantuk. Ketika Arleta sudah terlelap, baby Alrest gelisah. Armando pun menggendongnya lembut. Dia sudah terbiasa menggendong Melody. Di gendong oleh tangan yang berpengalaman, Alrest pun terlelap. Armando meletakkan bayi itu di box. Dia membaringkan dirinya di sofa. Malam ini dia tidak ingin pulang. Dia akan menjaga adiknya. Restandi selesai dengan operasinya.


"Pantau terus Aira, kadih tau saya jika ada perubahan." kata Restandi sambil berlalu.


"Biar aku saja yang pantau sis, kamu istirahat saja." kata Claudio pada Aira.


"Ok boy, aku serahin kamu." Aira berjalan keriangannya. Dia tau Claudio dapat dia andalkan. Aira menyayangkan jika Claudio tidak mau pindah bersamanya ke rumah sakit yang baru. Karena mereka kompak. Tapi Aira paham, Claudio bukan tidak mau meninggalkan rumah sakit ini. Tapi tidak mau meninggalkan Restandi. Dulu pemuda itu hidup serampangan. Walaupun memilih untuk menjadi dokter jantung tapi kuliahnya malas. Orang tuanya pengusaha, tapi keduanya tidak punya waktu untuk memperhatikan putranya. Maka Claudio merasa hampa. Hidupnya seenaknya. Sampai dia bertemu Restandi. Dokter jantung ternama yang mengadakan seminar di kampusnya, membuatnya tertarik. Dokter itu bisa mengarahkan hidupnya. Membuatnya mengerti bahwa di bahunya ada banyak harapan yang di sandangkan, agar bisa membuat orang lain sehat, bahkan hidup. Claudio jadi serius menata hidupnya, dan tidak mau lepas dari mentornya. Claudio menjalankan tugasnya malam itu. Restandi kembali ke ruang Arleta. Dia lelah dan mengantuk. Ketika dia membuka pintu dilihatnya Armando yang tengah tertidur di sofa. Wah, pikirnya. Sudah menikah juga tidak bisa lepas dari kakaknya. Restandi melangkah perlahan ke dalam ruanga. Belum lama masuk Alrest mulai bangun dan akan menangis, sepertinya dia lapar. Restandi segera mengangkatnya khawatir Armando bangun. Pelan-pelan di bangunkan ya Arleta.


"Sayang, bayinya ingin isi ulang." kata Restandi berbisik ketika Arleta membuka matanya. Di terimanya bayinya dan mulai menyusui.


"Aku mandi dulu ya." kata Restandi. Lalu mencium kening Arleta, lalu masuk ke kamar mandi. Selesai mandi Restandi keluar dari kamar mandi. Dilihatnya sang bayi sudah tertidur, tapi Arleta masih menggendongnya.

__ADS_1


"Sini biar aku taruh di box." kata Restandi yang lalu mengambil Alrest. Dia mengecup bayinya sekilas dan menaruh di box. Karena Armando tidur di sofa, maka Arleta bergerak dan menawarkan pada Restandi untuk berbaring bersamanya. Tentu saja Restandi tidak menolak. Dia pun tidur membawa Arleta dalam pelukannya. Pagi harinya Armando bangun lebih dulu. Dia melihat Restandi yang tidur memeluk Arleta. Armando tersenyum, suami sayang istri pikirnya. Dia pun akan melakukan hal yang sama bila punya kesempatan bersama Melani. Armando jadi teringat, ketika dia mengunjungi makam Melani dia tidak menemukan rangkaian bunga putih. Avery sudah mengatakan ada seorang pemuda yang menyerahkan diri karena telah menabrak Melani. Karena keluarganya berpengaruh, tidak di biarkannya putranya mendapat vonis yang berat. Armando mengatakan pada Avery jika dia sudah bertemu dengan pemuda itu di makam Melani. Avery bingung mendengar itu. Armando tau tapi tidak berbuat apa-apa. Menurut Armando Melani tidak akan pernah bangun, apa pun yang dia lakukan. Pemuda itu menyerahkan diri, artinya dia menyadari kesalahannya. Itu sudah cukup untuk Armando. Avery belajar satu hal dari Armando, memaafkan. Eva membuka pintu dengan perlahan. Dia terkejut ketika sadar ada seorang pria duduk di sofa dan menatapnya.


"Pak Armando." kata Eva pelan. Armando menempelkan jari telunjuknya di bibir. Eva paham maksudnya, dia menghampiri Armando.


"Yang satu habis operasi, yang satu habis menyusui." kata Armando agar Eva tidak mengganggu yang sedang tidur.


"Pak Armando sudah sarapan? mau saya buatkan kopi? ini ada roti pak." Eva membuka box roti dari Bakery terkenal,. kiriman teman Arleta.


"Cukup itu. Saya mau kopinya." kata Armando cukup puas.


"Akan saya buatkan." kata Eva.


"Kamu bertugas di sini? nama kamu siapa?" tanya Armando ingin tau.


"Apa banyak yang datang berkunjung?" tanya Armando ingin tau.


"Yang berkunjung sudah di batasi pak. tapi kirimannya tidak habis-habis. Kemarin sebagian makanan dan buah sudah di bagikan pada staf rumah sakit ." jelas Eva.


"Pintar kamu." puji Armando. Dia jadi paham Restandi memilih Eva.


"Ibu Arleta yang suruh pak." Eva merendah. Dia membuatkan kopi untuk Armando.


"Kopinya pak Armando." Eva menaruh kopi di atas meja. Masih panas dan wangi.

__ADS_1


"Terima kadih." kata Armando, dia mengambil roti lebih dulu karena lapar. Eva membuatkan kopi lagi untuk Restandi. Ternyata harum kopi membuat Restandi terbangun. Perlahan dia turun dari tempat tidur, khawatir membangunkan Arleta.


"Eva, kamu tolong Carikan saya bubur ayam ya, saya lapar. Kami mau Ar?" tanya Restandi sambil duduk di sofa.


"Enak tidak buburnya?" tanya Armando. "Harus yang enak ya Eva, kalau saya suruh Rion nanti datangnya sudah siang." kata Restandi lagi pada Eva.


"Beres dok, saya Carikan yang enak." Eva menghampiri Restandi karena Restandi menyodorkan uang.


"Kalau kamu mau, kamu sekalian beli." Restandi menghirup kopinya.


"Tidak usah dok, saya cukup kue kiriman teman ibu Arleta saja." kata Eva menolak. Kalau bubur ayam dia bisa beli tapi kue -kue mahal itu jarang di dapat.


"Kamu jangan kadih Atleta ya. Nanti dia gendut." Restandi memperhatikan box-box kue yang masih ada di ruangan itu.


"Kalau ibu Arleta gendut dokter tidak sayang lagi?" tanya Eva menggoda Restandi.


"Dia segitu saja saya cintanya setengah mati, kalau lebih besar lagi jabgan-jangan saya males kerja, di rumah saja berdua." kalah deh ngomong sama dokter Restandi keluh Eva.


"Bagus dong, bisa punya anak terus. Kamu yang sejahtera Eva." kata Armando menimpali.


"Wah betul juga kata pak Armando." Eva berseri-seri wajahnya.


"Eh, sudah beli bubur sana. Saya lapar." kata Restandi gemas. Eva pun melesat pergi.

__ADS_1


__ADS_2