
Lukman Aria memuji dalam hatinya, walau Trisia seorang artis tapi tidak berulah dan mau mengikuti nasihatnya.
"Bagaimana dengan kegiatannya dok?" tanya Rion ingin tau.
"Tidak masalah kalau mau syuting lagi. Saat ini makannya sudah bagus. Tapi yang wajar saja. Kalau syuting yang kejar tayang saya tidak anjurkan. Kamu akan kelelahan. Kasihan bayinya. Inikan harta kalian berdua." jelas Lukman Aria.
"Kalau untuk syuting film saya tunda dulu dok. Ada beberapa tawaran iklan yang bisa saya terima dan tidak menyita waktu." Trisia juga tidak mau kelelahan. Ini bayinya yang pertama.
"Betul itu, yang jelas saya tidak melarang kamu untuk bekerja. Namun perlu hati-hati dan pintar memilih. Saya kasih vitamin ya." Lukman Aria menulis resep. Dia senang pasiennya mau mendengar nasehatnya. Rion dan Trisia tidak lama bertemu Lukman Aria. Mereka senang hasil pemeriksaan hari ini baik. Rion dan Trisia ke ruangan Restandi. Di sana Restandi sedang bermain bersama Alrest sedang Arleta sedang menikmati tehnya.
"Sudah periksanya?" tanya Restandi yang tengah memangku Alrest.
"Sudah dan hasilnya bagus." jawab Rion.
"Baguslah, kalian mau minum? Arleta dan Alrest biar pulang bersamaku. Jadi kalian bebas mau jalan-jalan." kata Restandi. Dia kasihan jika Trisia harus menunggu Arleta periksa.
"Kalau begitu kita jalan yuk sayang. Kamu ingin makan apa?" tanya Rion pada istrinya. Trisia tampak berpikir.
"Aku makan di rumah saja, si mbok bikin soto hari ini. Tapi aku ingin mampir ke toko kue langganan mama." jawab Trisia kemudian. Mata Arleta langsung membulat. Restandi tersenyum melihat istrinya.
"Kenapa, mau titip Red Velvet? nanti aku belikan." kata Rion pada Arleta. Yang di tanya tentu saja setuju.
"Kami duluan ya." pamit Trisia, Arleta mengangguk. Restandi sibuk dengan Alrest. Dia mencium putranya yang sudah belajar berjalan.
__ADS_1
"Ayo sayang kita periksa." Ajak Restandi pada istrinya. Dia menggendong Alrest dan menggandeng Arleta. Pemandangan manis. Mereka yang berpapasan jadi tersenyum. Di ruangannya dokter Lukman Aria tersenyum melihat Alrest.
"Hei boy sudah besar saja. Dulu masih merah sekarang sudah bisa marah dong." kata Lukman Aria pada Alrest.
"Sudah bisa minta mobil opa." Restandi yang menjawab. Maksud Restandi mobil-mobilan, tapi orang jadi salah paham mendengarnya.
"Tidak sekalian minta rumah sakit." Arleta mengganggu suaminya.
"Yang itu mungkin minta rumah sakit." Restandi menunjuk perut Arleta dengan dagunya.
"Jadi kalau yang ini sesuai dengan yang kamu mau, aku di kasih rumah sakit?" tanya Arleta sambil menunjuk perutnya.
"Kamu pemiliknya saja sayang. Bibit unggulnya." Restandi balas menggoda. Tentu saja Arleta kalah.
"Pusing saja dok." jawab Arleta, bersiap untuk di periksa.
"Tidak pingsan seperti yang lalu?" Lukman Aria masih ingat kehamilan Arleta yang pertama.
"Untungnya tidak dok." kata Restandi. Dia juga tidak mau Arleta mengalami hal yang seperti dulu. Lukman Aria pun memeriksa Arleta.
"Wah ini bibit unggulnya kerja keras ya. Usia kandungannya sudah tiga bulan. Kapan terasa pusingnya? " Lukman Aria menggoda Restandi.
"Baru beberapa hari yang lalu dok." jawab Arleta sambil tersipu. Restandi malah senyum-senyum saja.
__ADS_1
"Jadi kapan kita bisa tau dok, jenis kelamin bayinya?" tanya Restandi.
"Apa kalian nanti tidak kecewa jika ternyata tidak sesuai harapan?" Lukman Aria bisa melihat Restandi mengharapkan jenis kelamin tertentu dari kehamilan Arleta kali ini.
"Tidak apa-apa dok. Nanti kan bisa buat lagi." jawab Restandi santai. Arleta yang malu dengan jawaban Restandi. Lukman Aria tertawa mendengarnya.
"Yah itu sih kesepakatan kalian berdua, saya tidak ikut campur. Tapi di jaga istrinya, jangan hanya di suruh melahirkan saja. Minta yang enak-enak dan mahal sama suaminya. Minta perawatan sekalian." Lukman Aria jadi iseng menggoda mereka.
"Kan dia punya klinik sendiri dok. Tidak masalah itu sih." Restandi masih bisa menangkal godaan.
"Minta perawatan di luar negeri, jangan di sini." Lukman Aria tidak kurang akal. Baru kali ini Arleta bahagia punya dokter kandungan yang perhatian.
"Sepertinya dokter yang butuh perawatan." Restandi berkata jengkel. Dia tidak suka Lukman Aria memprovokasi istrinya. Lukman Aria tertawa, dia tau Restandi mengancamnya secara halus. Saat ini Restandi kan pimpinan rumah sakit. Lagi pula Restandi tau dia tidak suka dengan perawatan seperti itu.
"Menurut dugaan saya, kehamilanku yang ini lebih mudah dari yang lalu. Tapi jika ada kesulitan kita akan tinjau kembali. Seingat saya yang lalu juga tidak kesulitan ya." Lukman Aria tidak ingat Arleta mengeluh akan kehamilannya.
"Tidak ada dok. Yang lalu juga hanya sering pusing dan kadang mual." Arleta tidak seperti Trisia yang sulit makan.
"Saya kasih vitamin saja ya." Lukman Aria menulis resep untuk Arleta. Restandi bersyukur Arleta hamil tidak menemui kendala berarti. Dia akan merasa bersalah bila melihat istrinya menderita.
Kevin merasa kehidupan rumah tangganya sudah sesuai dengan keinginannya. Walaupun dia belum bisa mencintai Khanza. Tapi dia sayang pada istrinya. Kadang kala dia harus bersabar pada Khanza, karena istrinya masih muda dan kadang keras kepala. Namun Kevin merasa itu bukan kesulitan yang berarti. Khanza adalah pilihannya dan istrinya mencintainya. Kevin sudah senang. Khanza tetap bekerja di samping Kevin. Maka pada hari mereka bekerja Kevin tidak akan menyentuh Khanza. Tapi jangan di tanya ketika akhir Minggu, Khanza tidak akan dilepaskan sebelum Kevin benar-benar puas. Kevin berusaha untuk mencintai Khanza. Walau sayangnya bayang-bayang Arleta masih lekat di hatinya. Penyesalan pun tidak pernah lupa Kevin rasakan. Tapi melihat Arleta bahagia sudah cukup bagi Kevin. Sikap Restandi kepadanya juga lebih baik sejak dia menikah. Dia tidak berniat membuat Restandi resah. Tapi dia tidak mungkin menghapus masa lalunya. Yang pasti Kevin tidak mau melakukan kesalahan yang sama. Dia sudah mendapat pelajaran yang berat dalam hidupnya. Kevin berharap kehidupan pernikahannya akan bahagia.
"Avery sayang, ayo kita buat anak." Armando mengejar Avery ke dalam kamar. Saat ini rumah sepi. Frans dam Mauren sedang pergi membawa Melody.
__ADS_1
"Tidak mau, itu sakit tau." Avery menghindar. Armando tersenyum. Dia memang sudah mendapat haknya pada Avery. Saat itu sedang hujan besar, mereka tidak bisa pergi keluar. Melody sudah tidur karena lelah bermain. Melihat tubuh Avery yang indah malam itu, Armando terjangkit kan gairahnya. Dia pun mulai merayu Avery. Armando menciumnya mesra hingga Avery terlarut. Membawa gadis itu ke tempat tidur. Pelan-oelan Armando melucuti ya. Avery terlena dengan cumbuan Armando karena ini yang pertama kali baginya. Armando pun segera mengambil kesempatan itu.