
Sheni langsung duduk di hadapan Rion.
"Mau apa kamu datang ke sini?" tanya Rion tidak suka.
"Mau bawakan makan siang untuk mas Rion." kata Sheni dengan manis.
"Istri saya sudah bawakan." Rion menolak, menunjuk box dari Trisia.
"Sheni kan mau ketemu mas Rion." Sheni terus berupaya.
"Kamu tau kan saya sudah berkeluarga." Rion berkata pada sasaran.
"Sheni tau, buat Sheni tidak masalah. Sheni mau jadi yang kedua atau kalau tidak......" Sheni tidak melanjutkan kata-katanya.
"Kamu mau jadi simpanan?" tanya Rion tidak percaya. Gadis ini sudah tidak punya harga diri.
"Terpaksa, kalau jadi yang kedua tidak bisa ya mau bagaimana lagi." itu dulu pikir Sheni, nanti kalau Rion sudah jadi miliknya dia akan berupaya menjadi satu-satunya.
"Sheni di keluarga Gutama itu tabu dengan istri kedua apa lagi simpanan. Saya sudah memiliki istri yang saya cintai, jadi tidak mungkin ganti istri. Kamu bukan tidak menarik, tapi segitunya melupakan harga diri demi mengejar suami orang." Rion tidak perduli Sheni sakit hati. Karena itu fakta.
__ADS_1
"Tapi Sheni cinta sama mas Rion." Sheni merasakan sakit di hatinya, tapi dia belum menyerah.
"Saya tidak perduli dengan cinta kamu. Kalau saya harus bertanggung jawab bagi semua wanita yang mencintai saya, hidup saya hancur dong. Kamu yakin yang mencintai saya cuma kamu saja? Bagaimana kalau saya menikahi mereka semua?" Rion masih berusaha sopan. Dia kasihan sebenarnya pada Sheni. Cinta bisa datang pada siapa saja. Tapi cara Sheni yang memaksakan cintanya yang membuat Rion marah. Rion dulu juga memaksakan cintanya pada Trisia. Tapi itu ketika dia tau Armando tidak mencintai Trisia. Sheni masih terdiam. Tidak terbayang jika Rion memiliki istri sepuluh atau dua puluh. Sheni yakin banyak wanita yang mencintai Rion.
"Sheni lebih baik kamu selesaikan filmmu dan jangan datang lagi." Rion memanggil Sita yang langsung datang. Sita terkejut melihat Sheni ada di dalam.
"Antar Sheni keluar dan jangan biarkan dia ganggu saya lagi." kata Rion tegas pada Sita.
"Mari mbak saya antar ke luar." kata Sita dengan ketus. Sheni bangkit, dia melihat wajah Rion yang marah. Sita menggiring Sheni keluar.
"Mbak Sheni kenapa sih masuk ke ruang pak Rion? Memang mbak Sheni tidak bisa cari pacar sampai ngejar suami orang?" suara Sita yang keras menarik perhatian karyawan di sana. Sheni jadi malu.
"Mbak Trisia sudah lama tidak kelihatan. Sehat kan mbak. Mbak tambah cantik deh." begitulah komentar-komentar yang menyapa Trisia. Dengan ramah Trisia menanggapi sapaan itu. Berbeda dengan Sheni yang tidak suka melihat Trisia. Ekor matanya selalu mengikuti Trisia. Karena ada Trisia Sheni tidak mungkin mendekati Rion. Karena hatinya panas Sheni bangkit dan berjalan. Dia ingin ke mobil dan mendinginkan hatinya. Ketika melewati Trisia Sheni sengaja menyenggolnya dengan kesal. Karena tidak siap Trisia terjatuh dan mengeluarkan darah. Para kru menjerit dan mengejutkan Rion. Trisia sendiri langsung pingsan karena merasa sakit. Rion pun berlari menghampiri Trisia. Melihat darah yang keluar dari tubuh Trisia Rion memutuskan untuk segera membawa Trisia ke rumah sakit terdekat. Rion menggendong Trisia ke mobil. Seorang kru membantunya membukakan pintu mobil, dia juga berinisiatif menyetir mobil Rion.
"Pak Rion mau bawa mbak Trisia ke rumah sakit mana?" tanya kru itu pada Rion.
"Terserah, yang jelas terdekat saja." Rion panik tidak dapat berpikir.
"Dari sini yang dekat rumah sakit Sentosa 2, itu rumah sakit keluarga bapak kan?" tanya kru itu sambil menjalankan mobil.
__ADS_1
"Ya ke situ saja." Rion setuju, asalkan istrinya bisa di selamatkan. Sang kru pun menjalankan mobil Rion dengan keahlian nomer satu. Hingga mobil itu tiba di rumah sakit. Mobil itu berhenti di depan ruang UGD. Melihat Rion yang menggendong Trisia para perawat segera membantunya. Dokter Anugerah tengah memeriksa pasien yang mendapat serangan jantung, melihat Trisia yang di dorong masuk. Dia pun menghampiri dan menghentikan sejenak. Di periksanya hanya untuk memastikan. Lalu dia mengisyaratkan Trisia di bawa masuk.
"Siapkan ruang operasi. Eva tolong hubungi dokter Lukman Aria untuk datang ke sini. Karena ini keluarga Gutama." Tidak semua dokter bisa menangani keluarga Gutama. Eva mengerti. Trisia di bawa dan di tangani dokter setempat sambil menunggu dokter Lukman Aria datang. Anugerah membeti tau Sehun tentang masuknya Trisia, Sehun pun segera melihat keadaan Trisia. Rion duduk di depan ruang pemeriksaan dengan bingung. Dia sangat khawatir pada Trisia dan mulai menangis. Dia ingat untuk menghubungi seseorang dan sosok yang di hubungi adalah Arleta.
"Halo Rion." Arleta menjawab panggilan Rion dengan santai. Dia tengah duduk dan bicara tentang kliniknya bersama Restandi, Avery dan Armando.
"Leta....Trisia Leta......" Rion berkata dengan tercekat sambil menangis.
"Kenapa Trisia?" Arleta mulai khawatir, apa lagi mendengar Rion menangis.
"Dia jatuh di lokasi syuting......berdarah......aku bawa dia ke rumah sakit." bicara dengan Arleta membuat Rion lebih tenang.
"Di rumah sakit mana?" tanya Arleta cemas.
"Sentosa 2 ." jawab Rion singkat. Lega rasanya sudah memberitahu Arleta.
"Baik kamu tunggu di situ, kami berangkat." Arleta memutus kontak.
"Trisia jatuh di lokasi syuting dan berdarah. Sekarang di Sentosa 2." kata Arleta pada Restandi. Bukan hanya Arleta yang cemas sekarang, Restandi dan Armando pun menjadi cemas.
__ADS_1
"Kita berangkat sekarang." kata Restandi memutuskan. Dia membantu Arleta bangun dari duduknya dan menggandengnya menuju ke mobil.