
Rion mengenakan kaca mata hitam. Ketampanannya dan pesonanya menjadi daya tarik bagi semua yang ada di klinik. Arleta tidak heran banyak wanita yang jatuh pada pesona pria itu.
"Rion ayo kita pergi." Arleta tidak mau membuang waktu. Dia tidak suka kliniknya ricuh karena kehadiran Rion. Yang di sapa tersenyum dan membukakan pintu mobil bagi Arleta. Mereka pun meninggalkan klinik.
"Kau akan membelikan kado apa?" tanya Rion sambil menjalankan mobilnya.
"Boleh aku tau seberapa dekat pihak pengundang dengan papa?" Arleta ingin memastikan hubungannya dengan keluarga Gutama.
"Yang mengundang itu sahabat baik papa." jawab Rion. Arleta jadi tau apa yang akan di belinya.
"Kalau begitu aku beli perhiasan saja." kata Arleta memutuskan. Arleta pun mengeluarkan kartu nama toko perhiasan langganannya pada Rion. Pria itu membacanya dan mengantongi kartu nama tersebut. Dia tau harus ke mana membawa Arleta.
"Kamu tidak syuting?" tanya Arleta penasaran.
"Hari ini aku libur." Rion menjawab sambil tersenyum. Arleta pun tidak bertanya lagi. Mereka tiba di mal dan menuju toko perhiasan yang di maksud Arleta. Rion berjalan sambil menggandeng Arleta. Semula Arleta tidak suka tapi melihat langkah kaki Rion Arleta akhirnya membiarkannya. Jika berjalan bersama Restandi pasti suaminya itu akan menyamakan langkahnya dengan Arleta. Rion juga jika berjalan dengan kekasihnya Arleta yakin langkahnya tidak akan seperti ini. Kesannya ingin segera tiba di tempat tujuan. Tapi melihat banyak pengunjung yang melirik Rion dan berbisik Arleta maklum jika Rion ingin segera tiba di toko yang di tuju. Pasti ada yang bisa mengenali Rion sebagai aktor. Karena Rion sudah tau letak toko perhiasan tersebut mereka pun segera tiba. Rion membiarkan Arleta memilih, soal perhiasan dia tidak begitu paham. Rion tidak pernah memberikan kekasihnya perhiasan. Dia tidak mau ada tanda mata atau kenangan dalam hubungannya. Toh mereka hanya selingan dalam hidupnya. Arleta memilih beberapa kalung dan terkadang mencobanya untuk tau apakah kalung itu terlihat bagus pada saat di pakai. Rion memperhatikannya dari dekat. Dia bisa melihat wajah Arleta dengan lebih jelas. Cantik, pikirnya. Ada kelembutan pada karakter wajah Arleta. Pantas saja kakaknya tidak menolak dan bahkan sayang pada istrinya. Rion jadi jatuh sayang pada kakak iparnya. Dia tau Sofi sayang pada Arleta. Lalu kakak iparnya sendiri bukan wanita yang suka mengambil kesempatan. Salah satu alasan Rion betah di rumah juga karena wanita cantik ini. Dia akan menjaga kakak iparnya untuk Restandi.
"Itu bagusnya buat kamu." kata Rion memuji ketika Arleta mencoba sebuah kalung. Arleta mengamati kalung tersebut. Sebenarnya cantik dan cocok untuk di pakai ke pesta. Tapi Arleta tidak merasa perlu membeli perhiasan. Arleta pun mencopotnya dan mengembalikan pada tempatnya.
"Kenapa di lepas?" tanya Rion heran.
__ADS_1
"Beli perhiasannya kan bukan buat aku." jawab Arleta tegas mengisyaratkan bahwa mereka datang ke situ bukan untuk dirinya. Rion memuji dalam hati. Arleta bukan wanita yang boros. Selesai memilih mereka menunggu perhiasan itu di kemas dan Rion membayarnya. Arleta melihat-lihat dan matanya jatuh pada sebuah gelang bayi. Arleta pun meminta untuk diambilkan dan melihatnya secara jelas. Di sentuhnya gelang itu, sangat manis bentuknya.
"Itu nanti kalau sudah ada hasilnya." kata Rion menggoda. Arleta pun tersipu, di kembalikan ya gelang tersebut. Rion memberikan kemasan kalung tadi pada Arleta.
"Mau aku kadih tau tidak triknya?" tanya Rion sambil berbisik. Arleta jadi kesal. Di cubitnya lengan Rion tanpa ampun. Tapi tiba-tiba ada yang menarik rambut Arleta dengan kasar.
"Hei perempuan murahan, kamu berani merebut pacar orang ya." seorang gadis tampak marah menatap Arleta. Karena terkejut Arleta tidak berkata apa pun, dia juga tidak mengerti apa yang di maksud gadis tersebut.
"Nina kamu jangan kurang ajar." Rion berkata marah.
"Bagus ya kamu belikan dia perhiasan. Aku saja tidak pernah kamu perlakukan sebaik itu." kata gadis itu lagi sambil bertolak pinggang.
'Rion tapi aku tidak mau kita putus." kata gadis itu memohon. Dia tidak menyangka Rion semarah itu.
"Aku tidak mau lagi berhubungan denganmu. Mana tuh pria yang kamu peluk dan kamu cium. Pergi saja cari dia. Tingkahmu ini bikin aku tambah muak melihatmu. Jangan ganggu hidupku lagi atau kamu akan tau akibatnya." Rion berkata dengan kejam dan matanya menyiratkan ancaman. Gadis itu pun pergi sambil menangis, merasa terluka dengan penolakan Rion. Sementara Rion berbalik memperhatikan Arleta.
"Kamu tidak apa-apa?" tanya Rion sambil membereskan rambut Arleta, yang di balas dengan gelengan kepala.
"Maaf ya ini tidak akan terjadi lagi. Aku janji." kata Rion lagi dengan wajah menyesal. Arleta paham sekarang, gadis itu mengira dia adalah pacar baru Rion. Apalagi dengan aksi Rion di balkon waktu itu. Rion melihat wajah Arleta pucat, sudah pasti kakak ipar kesayangannya itu terkejut.
__ADS_1
"Ayo kita pulang." Rion pun menggandeng Arleta keluar dari toko. Sudah setengah jalan tiba-tiba Arleta merasa lemas berhenti dan menarik tangan Rion. Pria itu pun menoleh.
"Rion aku lapar." kata Arleta memelas. Rion tertawa. Astaga kakak iparnya ini wanita yang unik.
"Ayo kita makan." Rion mengalah. Arleta di bawa ke sebuah restauran Eropa. Karena Rion tidak tau Arleta suka makan apa dan dia juga tidak mau dianggap pelit.
"Nina yang beraksi kamu yang lapar." kata Rion sambil tersenyum. Mereka sedang menanti hidangan. Arleta cemberut, tapi belakangan ini dia memang lapar terus.
"Jangan bilang kakak ya, nanti dia marah besar." kata Rion, kali ini dengan wajah serius. Kalau Restandi tau istri kesayangannya mengalami hal tadi bisa bahaya. Arleta menatap Rion sejenak. Hal ini bisa di ambil kesempatan untuk mengganggunya.
"Jadi kapan kamu akan memberikan dunia padaku?" tanya Arleta berlagak lugu.
"Nanti kalau dunia sudah jadi miliku. Minta dong sama suamimu." kata Rion sambil tertawa.
"Dia tidak menjanjikan itu." kata Arleta jujur.
"Dia pria yang kaku ya." Rio. yakin Restandi tidak pandai merayu.
"Tidak juga, dia bisa membujuk dengan sangat manis jika ada maunya." Arleta teringat bulan madunya di Bali. Sebagai pria dewasa Rion tau maksudnya apa. Dia pun suka merayu pacarnya jika sedang ingin. Tapi sepertinya dia tidak perlu membujuk, karena mereka semua tergila-gila pada seorang Rion.
__ADS_1