
Sampai kapan? Trisia bimbang. Apakah dia akan terus bertahan dan tersakiti atau pergi dan melupakan Armando? Tapi melupakan Armando tidak mudah. Tangan Rion meraih dagu Trisia dan menarik wajah Trisia hingga menatapnya.
"Berikan aku kesempatan." setelah berkata begitu Rion mencium bibir Trisia lembut. Dia ingin Trisia bisa merasakan perasaan cintanya. Trisia terdiam dan mulai memeriksa perasaan hatinya. Dia tidak benci pada Rion. Tapi dia juga tidak cinta pada pria ini. Namun apakah dia akan memberi kesempatan pada Rion? Apakah dia bisa menerima Rion sebagai pengganti Armando? Trisia tengah menelaah perasaannya, Rion menggunakan kesempatan itu untuk merayunya, mencumbunya. Membangkitkan sesuatu dalam diri Trisia yang masih tertidur. Dengan kegalauan dan kekecewaan hatinya Trisia pun terhanyut. Apalagi sang pemancing adalah pria yang ahli dalam bidang itu. Sebentar kemudian Trisia sudah di bolongnya ke dalam kamarnya, di letakan gadis itu di pembaringannya. Rion segera melancarkan serangannya, merayu dan membuai gadis pujaan hatinya. Rion telah bertekat untuk mendapatkan Trisia, hati atau pun tubuhnya. Sang pemancing berhasil, sesuatu dalam diri Trisia terbangun. Selain tidak menghentikan Rion, Trisia jatuh semakin dalam. Trisia Amanda jatuh dalam perangkap cinta Marionata Gutama. Trisia sadar ini nafsu bukan cinta, karena dia tidak mencintai Rion. Tapi dia membiarkannya karena hal itu bisa mengalihkan rasa sakit hatinya pada Armando. Trisia bisa merasakan cinta kasih yang Rion berikan. Dia merasa di cintai, di inginkan. Hal yang tidak di dapatnya selama menikah. Malam itu Rion mendapatkan kesucian Trisia. Rion sangat bahagia tapi juga terkejut. Dugaannya benar jika Armando tidak menyentuh Trisia malah mengejutkannya. Rion memperlakukan Trisia dengan lembut. Namun dia tidak dapat menahan diri untuk mengulanginya lagi. Ternyata melakukannya dengan wanita yang di cintainya terasa berbeda rasanya. Menurut Rion tubuh Trisia nikmat dan ada rasa bahagia ketika dia mencapai puncaknya. Itu sebabnya dia mengulanginya lagi hingga Trisia tidak sanggup lagi menghadapinya. Trisia tidak menduga jika Rion sangat kuat. Rion mengakhirinya ketika Trisia sudah tertidur. Dengan lembut di rengkuhnya Trisia dalam pelukannya. Mulai saat ini tidak ada wanita lain dalam hidupnya selain Trisia. Besok paginya Rion membantu Trisia mandi. Gadis itu pasti kesakitan.
"Masih sakit?" tanya Rion lembut ketika membopong gadis itu ke tempat tidur. Trisia mengangguk. Rion merasa bersalah atas keganasannya tadi malam.
"Kamu istirahat saja ya sayang. Jangan syuting dulu." kata Rion sambil mengecup kening Trisia. Tapi kebetulan hari itu hujan turun lagi sehingga mereka tetap tidak bisa syuting. Trisia pun bisa istirahat. Asistennya mencarinya dan merasa bingung Trisia ada di kamar Rion.
"Tadi malam dia sakit dan saya menjaganya." kata Rion menjelaskan. Tapi Rion tidak berbohong, karena Trisia memang sakit karena harta berharganya di robek Rion. Dan walaupun Rion menjaganya tapi dia sambil bekerja. Maka bukannya sembuh, Trisia malah semakin sakit. Tapi yang jelas Rion sangat bahagia saat ini. Lain lagi dengan Jono. Setelah selesai syuting pada waktu pulang Jono menghadang Rion.
"Saya yang lapor atau den Rion yang bilang sama ibu?" tanya Jono dengan menatap tajam Rion. Ibu yabg di maksud Jono adalah Arleta. Jono tidak berani lapor pada Restandi, dia takut di pecat. Pada kenyataannya Jono tau Rion menyekap Trisia di kamarnya.
"Saya yang akan bilang." jawab Rion tegas. Dia tau tak mungkin menghindar. Tapi ketika tiba di rumah, bertemu dengan Arleta Rion malah tampak aneh dan menghindarinya dengan cepat-cepat menuju kamarnya. Arleta merasa ada yang aneh dengan Rion, dia pun memanggil Jono.
__ADS_1
"Sebaiknya den Rion saja yang bicara pada ibu. Ini serius Bu." jawab Jono ketika di tanya Arleta. Pikiran Arleta jadi panik mendengar kata serius. Arleta pun segera berlari ke kamar Rion tanpa ingat perutnya yang besar. Restandi baru saja tiba. Ketika memasuki rumah dia sempat melihat Arleta berlari menaiki tangga menuju lantai tiga. Kamar Rion, pikir Restandi curiga. Di lantai tiga selain kamar Rion ada ruang olah raga. Namun tidak mungkin Arleta ke sana. Dengan berlari pula. Restandi pun penasaran, mengikuti istrinya. Arleta memasuki kamar Rion tanpa mengetuk pintu. Dia ingin segera tau apa yang terjadi.
"Rion, apa yang kau lakukan?" tanya Arleta dengan marah. Dia yakin Jono tidak mungkin berbohong atau memberi info yang salah.
"Arleta." Rion terkejut melihat Arleta masuk. Sebetulnya dia belum siap bertemu Arleta atau Restandi. Rion pun menjatuhkan kedua lututnya di lantai. Wajahnya menunduk tidak berani menatap Arleta. Melihat itu Arleta jadi yakin apa yang di perbuat Rion tidak main-main.
"Marionata Gutama, jelaskan padaku sekarang juga!" Arleta berusaha menahan amarahnya.
"Tidur bersama? kamu mengganggunya?" tanya Arleta tidak percaya.
"Aku merayunya, ya aku yang memulainya. Tapi dia tidak menolaknya. Bahkan sampai detik terakhir kami bertemu dia tidak mengatakan benci padaku atau tidak mau bertemu denganku lagi. Bahkan tidak ada kata penyesalan sedikit pun." Rion berusaha menyampaikan dia dan Trisia saling menyukai.
"Tidak ada? kalian pasangan gila." Arleta tidak mengerti dengan Trisia.
__ADS_1
"Aku mencintainya Arleta, kau tau itu. Hanya dengan cara itu aku bisa memilikinya." Rion menatap Arleta, memperlihatkan kesungguhan hatinya.
"Tapi itu salah Rion. Tetap salah." Arleta mau menangis melihat kebodohan adik iparnya alias sekutunya. Restandi sedari tadi sudah ada di depan pintu. Tapi dia sengaja tidak masuk. Restandi ingin mendengar apa yang di bicarakan oleh Rion dan Arleta. Dia khawatir jika dia masuk Rion tidak mau bicara. Tapi saat ini Restandi sudah tidak sabar lagi. Dia pun melangkah masuk.
"Siapa yang kamu maksud?" tanya Restandi tajam. Arleta dan Rion terkejut dengan kehadiran Restandi.
"Katakanlah. Aku tidak mau tau lagi." Arleta dengan marah berkata untuk terakhir kalinya. Dia pun meninggalkan kamar Rion menuju kamarnya. Kepalanya pusing dan dadanya sesak. Arleta merasa gagal menjaga Rion. Tapi yang dia heran mengapa Trisia tidak menjaga dirinya dengan baik. Arleta bingung yang satu adik iparnya, yang satu kakak iparnya. Dia mengambil air putih untuk menenangkan dirinya. Sedangkan Restandi masih menanti jawaban Rion tentang wanita yang di cintainya.
"Trisia Amanda." jawab Rion akhirnya. Restandi menatap Rion murka. Pantas saja Arleta marah.
"Itu perselingkuhan, pengkhianatan. Kau bermain di atas pernikahan seseorang." kata Restandi tajam. Rion menunduk takut.
"Aku tau." katanya lirih. Rion sudah tau itu salah, apa lagi yang Restandi harus katakan. Restandi tidak percaya adiknya melakukan kemajuan besar. Bermain dengan istri orang.
__ADS_1