Merebut Cintamu

Merebut Cintamu
162. Rival


__ADS_3

Lionel punya trik sendiri, setiap selesai satu pekerjaan dia melirik Larasati. Membuatnya jadi semangat bekerja. Jika saja setiap hari seperti ini, hidupnya lebih berwarna.


"Lio aku boleh ke cafetaria sebentar?" tanya Larasati, dia mulai bosan.


"Mau aku temani?" Lionel menghentikan pekerjaannya dan menatap Larasati.


"Tidak. Aku bisa sendiri. Aku tidak akan lama." kata Larasati yakin. Dia tidak mau mengganggu Lionel. Larasati berjalan ke luar di iringi tatapan Lionel. Larasati berjalan ke Cafetaria, dia hafal tempatnya. Otaknya yang pintar bisa menghapal dengan cepat. Karena bukan jam istirahat cafe itu sepi. Baru saja masuk tampak dua gadis sedang duduk di salah satu meja ribut membicarakannya.


"Itu wanita yang bersama tuan Lionel." kata yang berbaju biru.


"Oh itu, ah wajahnya biasa saja. Masih cantik aku. Mungkin dia calon asistennya Sherry." kata yang berbaju kuning. Larasati melihat dari sudut matanya. Dia menuju counter makanan.


"Tapi tadi dia di gandeng tuan Lionel." di baju biru memaparkan fakta.


"Mungkin matanya kurang awas " si kuning bikin Larasati naik darah. Tapi dia mencoba sabar. Larasati memperhatikan kue-kue yang terpampang di depannya. Dia naksir muffin yang tampak enak dan wangi. Dua gadis itu menghampirinya. Ketika Larasati menunjuk muffin itu si baju kuning langsung bersuara.


"Elsi aku mau muffin semua." katanya sambil menatap Larasati menantang. Haduh, pikir Larasati. Belum jadian saja sudah punya pesaing. Kampungan lagi. Larasati tidak mau ribut, dia juga kampungan kalau begitu. Larasati merubah pilihannya. Dia menunjuk pada croisant pada Elsi yang tetap menantinya.


"Elsi aku mau croisant itu semua." kali ini si baju biru berulah. Elsi tampak bingung. Dia tidak yakin kedua gadis itu benar-benar menginginkan kedua jenis kue itu. Elsi tau mereka berdua hanya mempermainkan Larasati.


"Apa yang kalian lakukan?" Tiba-tiba Lionel bertanya. Mereka semua menoleh. Tampak Lionel berdiri di belakang mereka dengan tangan di lipat di depan dadanya. Wajahnya tampak marah.


"Tuan Lionel." seru kedua gadis itu terkejut.

__ADS_1


"Mengapa kalian ada di sini?" tanya Lionel dengan tatapan tajam.


"Kami baru dari dinas luar, belum makan siang." jawab si baju kuning takut.


"Dinas luar?" Lionel mengeluarkan ponselnya, dia menghubungi bagian HRD. Datang seorang pria dengan berlari.


"Thomas tolong lihat kegiatan kerja dua orang ini. Jadwal kerja mereka hari ini, segera antar ke ruanganku." kata Lionel pada pria itu.


"Baik tuan Lionel." Pria itu menatap dua gadis tadi dengan marah. Beraninya merek mencari masalah dengan tuan Lionel. Wajah ke dua gadis itu langsung pucat.


"Elis bungkus muffin itu semua." kata Lionel pada Elis, wanita itu langsung melakukan apa yang di minta Lionel.


"Lara ayo kita kembali ke ruanganku. Kau bisa santai dan menikmati kuemu di sana." kata Lionel lembut pada Larasati. Lionel menggandeng tangan Larasati beranjak dari sana. Tidak ada yang berani pergi dari ruang itu sebelum Lionel berlalu. Larasati yang sejak tadi terdiam merasa punya superhero. Untung saja tadi Lionel merasa nyaman Larasati pergi seorang diri. Dia menyusul gadis itu dan melihat ulah kedua karyawannya pada Larasati. Sekarang Larasati yang bingung bagaimana caranya menghabiskan muffin sebanyak itu. Larasati pun membaginya pada Sherry dua buah. Lalu mengantar pada Paula dua buah.


"Terima kasih nona Larasati, kau baik sekali." kata Paula ramah.


"Sherry ini sudah saya periksa. Tolong kembalikan ke divisi masing-masing." Lionel menyerahkan beberapa berkas pada Sherry.


"Baik tuan Lionel. Nona Alicia Markus minta janji temu dengan anda. Apakah anda setuju?" tanya Sherry hati-hati.


"Aku tidak mau bertemu dengannya. Katakan saja jadwalku penuh." jawab Lionel kesal.


"Saya sudah katakan demikian, tapi nona Alice ingin saya bertanya lagi. Lalu tuan Ronan Jackson mengundang anda makan siang." Sherry bertanya lagi.

__ADS_1


"Tolak saja, dia ingin mengenalkan putrinya. Aku tidak berminat." jawab Lionel cepat.


"Baik." Sherry tersenyum sambil melirik Larasati. Tentu saja Lionel tidak berminat. Sudah ada yang di gandengnya. Pintu di ketuk. Sherry membukakan pintu. Masuklah pria yang di panggil Thomas tadi.


"Laporannya tuan." Thomas menyerahkan laporan kegiatan dua karyawan tadi. Thomas tetap berdiri ketika Lionel membaca laporan itu, lalu tampak marah.


"Beraninya mereka berbohong. Kau tau apa yang harus di lakukan Thomas." Lionel menyerahkan kembali laporan itu pada Thomas.


"Saya mengerti tuan. Saya permisi." Thomas pun keluar dengan wajah muram. Dari apa yang di lihat Larasati hari ini ternyata tidak mudah untuk bisa dekat dengan Lionel. Dengan Sherry saja yang setiap hari bertemu Lionel menjaga jarak. Larasati bisa dekat dengan Lionel rupanya hal yang istimewa. Larasati harus mempertimbangkan dengan baik jika ingin berdampingan dengan Lionel. Armando dan Avery masuk.


"Lionel kami akan pulang, sudah sore. Bagaimana denganmu?" tanya Armando.


"Sebentar lagi aku pulang. Aku akan mengantar Larasati setelah mengajaknya makan malam." jawab Lionel.


"Baiklah kami pulang dulu." Armando pamit.


"Terima kasih untuk kuenya. Enak sekali." kata Avery pada Larasati. Mereka pun pulang. Tidak terasa sudah sore. Berarti hari ini Larasati menemani Lionel bekerja.


"Aku sudah selesai, ayo kita pergi." Lionel bangkit berdiri mengajak Larasati untuk pergi.


"Sherry kami pulang dulu. Kau juga boleh pulang." kata Lionel ketika melewati meja Sherry.


"Baik tuan." Sherry tersenyum ramah. Seperti biasa Lionel menggandeng tangan Larasati menuju keluar. Kembali mereka menjadi pusat perhatian. Tiba di lobby ternyata sudah ada yang membawakan mobil Lionel ke depan lobby. Lionel pun membukakan pintu untuk Larasati, lalu dia masuk pada kursi di belakang kemudi. Mobil pun melaju, Larasati lega. Saat ini hanya dia dan Lionel tanpa ada banyak mata yang memperhatikan.

__ADS_1


"Lara kita makan dulu ya. Kamu mau makan apa?" Lionel berjanji pada Armando untuk mengajak Larasati makan malam lalu mengantarnya pulang.


"Aku terserah kamu Lio mau ajak aku kemana. Kan hari ini hari istimewa kamu." kata Larasati manis. Lionel tersenyum misterius. Lionel pun membawa Larasati ke sebuah restauran mewah. Larasati suka akan tempat itu. Makanan yang di pesan juga enak. Makan malam ini berkesan untuk Larasati. Lionel pun puas melihat Larasati senang. Pilihannya tidak salah untuk membuat kesan indah.


__ADS_2