Merebut Cintamu

Merebut Cintamu
158. Lionel dan Larasati


__ADS_3

"Kami ingin ayah kami mendapat perawatan yang baik. Tolong di bantu ya Dokter. Ini data pasien yang perlu anda ketahui." Armando menyerahkan data terakhir Zakhary.


"Baik, akan saya pelajari." jawab Larasati.


"Saya akan antar dokter ke kamar yang akan dokter tempati." kata Avery pada Larasati dengan ramah. Larasati kagum dengan kemewahan rumah itu, sekarang dia kagum dengan keramahan pasangan itu. Orang sekaya ini tapi tidak sombong pikir Larasati. Kamar yang dia tempati pun bagus dan luas. Sepertinya pekerjaannya akan menyenangkan. Tuan Zakhary sendiri juga baik. Walaupun masih pucat dan lemas tapi Zakhary bukan pasien yang rewel. Besoknya Larasati di perkenalkan pada Lionel Cody. Larasati biasa saja tidak curiga. Tapi Lionel mengamatinya begitu rupa. Di mata Lionel Larasati lebih cantik dari fotonya. Gadis yang lembut dan cara bicaranya menggambarkan dia gadis yang berpendidikan.


"Restandi itu beruntung ya. Selain punya istri cantik dia juga memiliki asisten yang menarik." kata Lionel ketika mereka duduk bertiga.


"Yang penting kami sudah memenuhi keinginanmu. Sekarang tinggal usahamu untuk menggaet gadis itu. Ingat Larasati tidak akan selamanya di sini." kata Armando yang di benarkan Avery.


"Baiklah aku akan berupaya sebisaku untuk membuatnya mau menerimaku." kata Lionel, dia suka pada Larasati. Sedangkan Larasati tidak tau jika dia di datangkan untuk di perkenalkan pada Lionel. Tapi Larasati mulai memiliki rutin yang menyenangkan.


"Hai Larasati. Aku ingin mengajakmu jalan-jalan." sapa Lionel pada Larasati. Dia menengok pamannya sekaligus menjalankan misinya.


"Jalan-jalan ke mana?" tanya Larasati heran. Dia tau Lionel keponakan Zakhary. Tapi hanya sebatas itu.


"Aku akan mengantarmu melihat kota New York. Apa kamu tidak bosan di rumah saja?" Lionel membujuk. Zakhary sudah lebih baik. Larasati tidak sibuk seperti ketika dia datang.


"Baiklah, aku ikut denganmu." Larasati setuju. Bosan juga di rumah, selain bekerja tidak ada yang bisa di ajaknya mengobrol. Armando dan Avery sementara menunggu kesembuhan Zakhary berusaha membantu di perusahaan. Viona istri Zakhary mengasuh Melody. Maka seperti perkataannya Larasati mengikuti saja kemana Lionel membawanya. Lionel mengajak Larasati ke tempat yang tenang, karena dia ingin lebih mengenal Larasati. Di bawanya ke central park. Larasati senang di sana. Melihat obat terus membuatnya jenuh. Sambil melihat-lihat Larasati berfoto. Lionel membantunya, menurutnya Larasati tetap cantik dalam pose apa pun.


"Kau suka Lara?" tanya Lionel mengakrabkan diri. Larasati menatapnya menilai. Pria ini baik juga, pikirnya. Tampang Lionel yang tampan khas Amerika sebenarnya sudah bisa menarik perhatian wanita. Di tambah keramahan dan senyum pria itu yang selalu merekah.


"Aku suka, tapi Lionel apa benar aku tidak mengganggu waktumu?" Larasati merasa harusnya Lionel tengah bekerja.

__ADS_1


"Tidak ko, saat ini aku dapat kelonggaran waktu. Ada yang membantu pekerjaanku di kantor. Kau tidak perlu khawatir." justru Lionel di beri waktu untuk mendekati Larasati.


"Memangnya kau bekerja di mana?" tanya Larasati ingin tau.


"Aku membantu pamanku di perusahaan Cody. Pamanku itu pekerja keras, perusahaannya besar dan banyak cabangnya. O ya perusahaan Cody bekerja sama juga dengan rumah sakit di sini. Kau mau lihat?" tanya Lionel antusias. Dia senang Larasati bertanya tentang dirinya. Itu kan langkah awal yang baik. Apa lagi jika Larasati mau berkarir di sini.


"Boleh, aku mau melihatnya." Sambut Larasati. Dia tertarik dengan dunia kedokteran di New York. Lionel membawanya. Rumah sakit besar itu bagus dan cukup sibuk. Karena Larasati datang bersama Lionel, tentu dia dapat mrlihat-lihat ruangan yang ada. Hebat juga Lionel ini, batin Larasati. Beberapa orang yang bertemu mereka ada yang menyapa dengan hormat pada Lionel.


"Mereka mengenalmu?" tanya Larasati melihat reaksi mereka yang menyapa Lionel.


"Hanya beberapa. Mungkin karena kadang aku datang untuk rapat di sini." Lionel merendah. Separuh saham Cody di rumah sakit itu kan bukan miliknya. Dia tidak bisa sombong.


"Kau benar tidak tertarik bekerja di sini?" tanya Lionel penasaran. Demi misinya.


"Baiklah aku ingin tunjukan sesuatu padamu." Lionel mengajak Larasati pergi. Mereka mendatangi sebuah klinik kecil. Di depan tertulis nama klinik itu Hope.


"Ini klinik miliku pribadi. Dulu aku menolong seorang teman yang sulit praktek di rumah sakit besar. Jadi aku buat klinik di sini." Lionel menjelaskan.


"Maksudmu tidak bisa bekerja di rumah sakit besar itu apa?" Larasati tidak mengerti. Praktek ya tinggal praktek saja kan, di mana pun tempatnya.


"Temanku seorang yang idealis. Sering berbenturan dengan aturan rumah sakit atau aturan orang tertentu. Yang di pikirkannya hanya menolong pasien. Tapi di rumah sakit itu ada aturan yang harus di patuhi. Di sini dia bebas melakukan apa yang dia mau." jelas Lionel. Mereka pun masuk ke dalam klinik. Larasati menatap ke sekeliling klinik. Betul klinik itu tidak besar. Tapi asri dan nyaman.


"Kenapa sepi?" tanya Larasati. Ada meja tamu yang kosong. Mungkin untuk pendaftaran.

__ADS_1


"Mungkin sedang istirahat semua." kata Lionel. Dia berjalan menuju salah satu ruangan. Di ketuknya pintu lalu membukanya. Di dalam tampak pria berambut hitam sedang duduk di belakang meja kerjanya.


"Hai Lionel, kau datang mendadak sekali. Ada apa?" kata pria itu melihat Lionel.


"Aku membawa kenalanku untuk melihat-lihat. Kenalkan ini Larasati. Dan ini James temanku." kata Lionel sambil menarik Larasati ke dalam ruang James.


"Wow cantiknya. Aku James teman Lionel." James bangkit berdiri untuk menyalami Larasati. Gadis itu hanya tersenyum dan menyambut uluran tangan James. Mereka lalu duduk.


"Kau tau James, Larasati ini dokter bedah jantung. Dia datang untuk merawat pamanku yang sedang sakit." Lionel menjelaskan dengan bangga.


"Loh pamanmu sakit? Apa sangat parah hingga di rawat dokter ahli jantung?" tanya James heran. Tapi dia mengamati Larasati. Dokter ahli bedah jantung katanya. Gadis ini memang terlihat pintar selain cantik.


"Tidak parah hanya terlalu lelah bekerja tapi bisa mempengaruhi kerja jantungnya. Avery ingin yang terbaik." kata Lionel sambil tersenyum misterius.


"Aku mengerti. Kau tampak masih muda tapi sudah jadi dokter ahli." James memuji Larasati. Tempatnya jarang kedatangan tamu istimewa.


"Biasa saja. Mungkin karena aku fokus belajar." Larasati senang juga di puji. Lionel yang jadi tidak suka. Ini kan akan jadi calon istrinya.


"Kau dari Asia ya?" tanya James lagi melihat wajah Larasati.


"Benar, aku dari Indonesia." jawab Larasati singkat.


"Oh aku ingat suami Avery juga dari Indonesia." James baru sadar.

__ADS_1


"Larasati memang rekomendasi dari adik ipar Armando."


__ADS_2