Merebut Cintamu

Merebut Cintamu
128. Malam Terakhir


__ADS_3

Avery melepaskan pelukannya. Armando lalu menariknya untuk berdiri di sampingnya. Di ciumnya kepala Avery dengan sayang.


"Kau ingin menaruh bunganya? Taruhlah." kata Armando pada Rodrigo. Pemuda itu pun menaruh bunga untuk Melani, seperti biasa yang di lakukannya. Setelah itu Rodrigo menghampiri Armando.


"Kau sangat cantik tadi malam." kata Rodrigo pada Avery. Rupanya Armando mengundangnya. Avery tersenyum menerima pujian dari Rodrigo. Senyum pertama Avery padanya. Avery sekarang bisa menerima jika pemuda itu betul-betul menyesal.


"Aku juga sudah menggendong putrimu tadi malam. Akhirnya dia mau ku gendong." kata Rodrigo senang.


"Jika kau ingin dekat dengan putriku, kau harus sering mengunjunginya ke Indonesia." kata Armando penuh pengertian.


"Tapi bagaimana kalau dia tau aku yang....." Rodrigo tidak meneruskan perkataannya. Ada banyak orang di sana. Armando juga tidak ingin yang lain tau siapa Rodrigo. Cukup dia dan Avery saja.


"Itu tantangan buatmu. Tapi aku yakin putriku bukan sosok pendendam. Dia akan mengerti dirimu. Aku akan membantumu." Armando menepuk bahu Rodrigo. Meyakinkan pemuda itu. Dari percakapan itu Restandi langsung tau siapa Rodrigo. Tapi dia tidak berkomentar apa pun. Bukan urusannya. Tapi dia menatap kagum pada Rodrigo. Tidak semua orang bisa seperti itu.


"Terima kasih." kata Rodrigo penuh haru.

__ADS_1


"Percayalah, semua akan baik-baik saja. Aku juga sudah memberikannya ibu yang penuh cinta dan sayang untuknya. Putriku tidak akan kekurangan." Armando melirik pada Avery di sampingnya. Rodrigo mengerti dengan perkataan Armando. Avery merasa tersanjung dengan perkataan suaminya.


"Aku titip Melani. Kami mungkin tidak bisa sering datang." kata Armando terakhir kali pada Rodrigo. Pemuda itu mengangguk. Mereka pun meninggalkan makam Melani di iringi tatapan Rodrigo. Tapi kali ini pemuda itu lebih percaya diri. Mereka tiba di kediaman Cody. Yang lain memutuskan untuk beristirahat. Tapi tidak dengan Avery. Dia memeriksa persiapan untuk makan malam. Karena ini keinginannya. Armando justru memutuskan untuk tidur sebentar. Zakhary senang ada banyak tamu di rumahnya. Dia sudah membayangkan putrinya yang pindah mengikuti suaminya. Rumahnya sepi, hanya terisi oleh pelayan. Sore itu para tamu mulai menampakan diri. Avery sudah cantik dan mulai menghidangkan kue-kue pesanannya. Pelayan mulai menghidangkan teh dan kopi. Para pria lansia duduk bersama dan mengobrol. Apa lagi kalau bukan bisnis. Trisia sangat senang dengan hidangan yang Avery sediakan. Dia sedang mencoba satu ketika Mauren menghampirinya.


"Kamu baik-baik dan sehat kan Trisia?" sapa Mauren pada Trisia. Mauren memperhatikan perut Trisia.


"Baik ma, eh Tante." Trisia bingung harus memanggil apa.


"Mama sayang, aku tetap mamamu sampai kapan pun." Mauren ingin menyatakan dia tetap sayang pada Trisia. Armando yang baru keluar dari kamar menghampiri mereka dan merangkul Trisia tiba-tiba.


"Oh jangan marah ya sayang. Aku cintanya sama kamu ko " Trisia mengusap pipi Rion. Mendengar itu kemarahan Rion pun luruh.


"Cih dulu tidak mau lepas dari aku, sekarang nempel ke sana seperti lem." kata Armando pada Trisia. Mata Armando mencari istrinya. Tampak Avery mengacungkan pisau kue dengan mata melotot pada Armando. Tangannya menunjuk pada barang milik Armando. Pria itu langsung tau maksud Avery. Dia menghampiri istrinya.


"Kamu mau kebiri aku? Nanti kamu tidak puas loh sayang. Kamu belum tau sih kehebatan milikku ini." kata Armando sambil menaikan alisnya. Avery memalingkan muka tersipu. Dia pasti kalah pada godaan Armando. Dengan nakal tangan Armando mengusap bagian belakang Avery.

__ADS_1


"Kapan dong ini siapnya? biar aku bisa membuktikan kehebatan miliku." Armando semakin menjadi. Avery segera menahan tangan Armando yang nakal. Dia khawatir ada yang melihatnya. Restandi gemas melihat tingkah Armando.


"Ini benar kan pernikahanmu yang terakhir?" tanya Restandi jail pada Armando.


"Untuk apa mengurusku? Sebentar lagi dia akan membuatmu pusing." Armando menunjuk pada Arleta. Restandi melihat Arleta sedang melihat majalah kesehatan.


"Rest, aku melahirkan di sini saja ya." Arleta tertarik dengan sarana kesehatan di Amerika.


"Sayang aku punya dua rumah sakit. Mengapa kau jauh-jauh melahirkan di sini?" Restandi menghampiri Arleta. Restandi sempat melirik pada Armando yang memperhatikan mereka. Adik pintar, gumam Armando yang terbaca oleh Restandi. Dia menghela napas, lalu fokus untuk membujuk Arleta agar melupakan keinginannya. Tapi dirayu Restandi Arleta bisa apa. Lionel Cody datang, ikut meramaikan suasana. Ayahnya adik Zakhary. Tidak seperti kakaknya Raul Cody hanya pengusaha toko serba ada. Dia tidak berambisi seperti Zakhary. Tapi usahanya cukup bagus dan selalu ramai. Bersama istrinya dia membesarkan anak-anak mereka. Lionel putra pertamanya. Raul menyekolahkan Lionel hingga keluar negeri. Lionel menjemput mimpinya dengan bekerja pada perusahaan besar di luar negeri. Sampai Zakhary memanggilnya pulang. Dia butuh bantuan Lionel untuk mengurus perusahaannya di Amerika karena Avery akan ke Indonesia. Lionel sayang pada Zakhary, dia tidak bisa menolak keinginan pamannya. Usia Lionel lebih muda dari Armando. Tapi keuletan kerjanya tidak kalah. Itu sebabnya Zakhary menariknya. Sebagai pria yang berhasil dalam karirnya, Lionel belum punya keinginan untuk menikah. Ada beberapa wanita yang di kenalnya, tapi tidak dapat menarik hatinya untuk menikah. Lionel tertarik pada Arleta, tapi dia Arleta sudah menikah. Kelembutan Arleta yang menarik hatinya. Kadang dia mencuri pandang pada Arleta. Hal itu membuat Restandi geram. Restandi berusaha menahan diri. Lagi pula Lionel tidak bertindak kurang ajar. Untung saja besok mereka akan pulang. Ternyata Restandi masih harus menjaga istrinya dengan ketat. Baru saja perasaannya lega karena Kevin sudah menikah, datang lagi pengganggu. Arleta sepertinya tidak menyadari ketertarikan Lionel. Dia sibuk dengan putranya dan kehamilannya. Tapi Armando tau persis apa yang sedang terjadi. Armando tidak mau mengatakannya pada Restandi, bahwa Lionel banyak bertanya tentang Arleta padanya. Dia tidak mau Restandi jadi kesal. Tapi dari tingkah Restandi Armando bisa membaca. Pria itu tengah waspada. Rion dan Trisia menghampiri Armando dan Avery.


"Kami ingin memberi hadiah pernikahan pada kalian." Rion menyodorkan dua tiket film.


"Apa ini?" tanya Avery penasaran.


"Itu film layar lebar pertama hasil rumah produksi ku." jawab Rion bangga.

__ADS_1


"Secepat ini?" Armando terkejut. Belum lama mendengar Rion memiliki rumah produksi.


__ADS_2