
Mauren menatap senang pada mereka. Tapi Arleta menatap tajam pada Trisia. Mereka makan malam dengan suasana yang aneh. Mauren merasa anak-anaknya berbeda malam ini. Tampak jelas lebih berhati-hati. Armando, jangan di tanya. Sejak datang tidak bicara sepatah pun. Keadaan benar-benar tidak nyaman. Selesai makan Armando memberi isyarat pada Restandi yang langsung paham. Dia langsung menarik Arleta pulang.
"Ma ada yang kami ingin bicarakan." kata Armando pada Mauren. Nada suaranya sangat dingin. Perasaan Mauren langsung tidak enak. Armando berbisik pada Trisia untuk diam saja, dia yang akan bicara. Trisia pasrah. Malam ini dunianya mungkin akan runtuh. Mauren sudah siap untuk mendengarkan apa yang akan di sampaikan.
"Kami memutuskan untuk bercerai." kata Armando dingin tanpa senyum. Mauren terkejut.
"Bercerai? tapi pernikahan kalian belum juga satu tahun." kata Mauren. Ayah Armando lebih terkejut lagi. Dia tidak tau jika putranya punya masalah.
"Tapi kami sudah mencoba dan semuanya sia-sia. Kami tidak mau lagi menjalaninya." kata Armando tegas. Mauren menatap Trisia untuk mencari tau. Setau Mauren Trisia mencintai Armando. Apa Armando menekan Trisia?
"Benar ma, kami sudah sepakat." kata Trisia seperti tau apa yang Mauren cari. Trisia memohon dalam hati, jangan di tanya lagi. Cuma itu yang bisa dia katakan.
"Mama masih belum yakin." kata Mauren ragu.
"Apa lagi yang mama mau yakinkan. Kami sudah sepakat." kata Armando marah. Saat ini dia bagaikan singa yang terluka dan berada pada pertarungan terakhir.
"Maksudnya mama tidak yakin kalau kalian sudah berusaha dengan sungguh-sungguh." kata Mauren bertahan. Tidak boleh ada perceraian dalam keluarganya.
"Mau berusaha sekeras apa pun, jika cinta itu tidak ada hanya menyakiti kami berdua." kata Armando menantang, dia harus memenangkan pertarungan terakhirnya. Mauren seperti melihat sesuatu pada putranya. Apakah itu luka? Apakah pernikahan ini melukai putranya? Mauren jadi was-was. Trisia diam saja. Dia sangat takut jika Mauren mengetahui hubungannya dengan Rion. Tapi sampai akhir Armando tidak menyebut perselingkuhannya. Trisia bersyukur Armando menutupinya. Tapi sebenarnya Armando bukan menutupinya. Armando hanya menegaskan pernikahan dia dan Trisia tidak berhasil. Di luar itu bukan urusan Mauren. Jika saja pernikahan ini berhasil Trisia tidak akan sejauh itu. Akhirnya Mauren menerima keputusan mereka. Setelah dia melihat Armando tidak memaksa Trisia. Fakta yang Mauren tidak tau adalah Trisia bukan ingin lepas dari Armando, tapi ingin lepas dari Mauren. Karena dia telah melakukan yang tidak patut. Setelah Mauren menerima keputusan mereka Armando segera membawa Trisia pulang. Trisia yang terdiam sepanjang jalan, separuh hatinya lega separuhnya lagi sedih. Pernikahannya dengan pria pujaannya berakhir. Tiba di rumah Trisia duduk di sofa dan menangis.
"Ar, Arsen bisa mengajukan berkas itu." kata Trisia di sela tangisnya.
__ADS_1
"Kamu dong yang bilang, nanti di sangka Arsen aku maksa kamu." Armando hanya ingin Trisia bercerai dengan kesungguhan hatinya. Armando pun duduk di sebelah Trisia. Dia kasihan pada Trisia yang tadi pucat dan takut di depan Mauren. Armando tau sebabnya. Di raihnya Trisia ke dalam pelukannya.
"Sudah, aku yakin kamu nanti lupa dengan sakit dan kecewamu. Kamu akan menemukan cinta yang baru. Kamu harus bertanggung jawab atas tingkahmu yang terlalu jauh." Armando menenangkan Trisia.
"Aku berdoa supaya kamu tidak laku." kata Trisia yang masih menyandarkan kepalanya di dada Armando.
"Artis papan atas doanya jelek begitu." ejek Armando.
"Aku akan menemani kamu di sini sampai proses cerai selesai. Setelah itu kamu harus segera menikah dengan Rion." kata Armando lagi. Trisia hanya mengangguk.
"Ayo istirahat, besok kamu harus syuting kan." Armando mengantar Trisia ke kamarnya. Satu persoalan selesai, pikir Armando. Sekarang tinggal luka hatinya yang masih berdarah.
Sehun memberikan undangan pernikahannya pada Restandi. Pesta pernikahan di lakukan di hotel milik Sehun dan Restandi. Ini salah satu upaya Sehun untuk mempromosikan hotel mereka, juga ada pemasukan bagi kestabilan hotel. Acara tidak di gelar secara mewah, tepat seperti keluarga Monika inginkan. Heru dan Rendra yang sibuk untuk persiapan pernikahan tersebut. Sehun dan Monika akan tinggal di apartemen. Sehun menawarkan membeli rumah pada Monika, namun calon istrinya itu sudah nyaman dengan apartemen Sehun. Dia senang mengetahui Monika bukan gadis yang boros. Mungkin karena terbiasa untuk hidup sederhana. Setelah pernikahan Sehun memutuskan untuk bulan madu. Dirinya yang bergelora tidak dapat menahan diri lagi untuk berdua saja dengan Monika.
"Kapan tanggalnya?" tanya Sehun ingin tau.
"Belum tau hari ini kami akan bertemu ayahmu." jawab Restandi. Saat ini Restandi sedang menunggu Arleta datang.
"Mudah-mudahan Arleta melahirkan sebelum kami berangkat." kata Sehun berharap. Monika masuk setelah mengetuk pintu.
"Dok, ada keluarga pasien yang ingin bertemu. Apakah bisa?" tanya Monika.
__ADS_1
"Ok saya ke ruang praktek sekarang." kata Restandi, dia bangkit dan mengenakan jas putihnya. Melihat Restandi sibuk Sehun pun meninggalkannya. Restandi pindah ke ruang prakteknya. Dia mempelajari sebentar data pasien yang baru. Monika mempersilahkan keluarga pasien masuk.
"Keluarga pasien bapak Darma Huzen dok." kata Monika.
"Ya terima kasih." kata Restandi masih membaca data pasiennya. Darma Huzen di bawa ke rumah sakit itu tadi malam. Norman Sati yang menerimanya. Restandi pun menatap keluarga pasien. Tampak seorang wanita muda yang cantik duduk di hadapannya.
"Anda keluarga dari bapak Huzen?"tanya Restandi ramah.
"Saya Paramita dok, putrinya " jawab wanita itu. Dia tampak terpukau menatap Restandi.
"Baik, saya jelaskan sedikit. Ayah anda terlalu memforsir kerja jantungnya. Mungkin karena kesibukan atau kegiatan yang di lakukannya. Untuk saat ini kami masih menempatkannya di ruang ICU, karena kondisinya belum stabil. Kami masih terus memantau perkembangan bapak Huzen. Bila sudah stabil akan kami pindahkan." kata Restandi sambil menatap Paramita.
"Saya boleh menengoknya dok?" tanya Paramita, dia tidak dapat menyembunyikan kekagumannya pada dokter jantung yang satu ini.
"Boleh. Tapi mohon kerja samanya , karena bapak Huzen butuh ketenangan." jawab Restandi tetap ramah.
"Saya rasa cukup itu dulu, nanti bila ada perkembangan anda akan kami hubungi." kata Restandi lagi, dia melihat jam di tangannya. Saat ini sudah lewat janji temunya dengan Arleta. Restandi pun menghubungi Monika di luar ruang prakteknya.
"Monika, istri saya sudah datang?" tanya Restandi. Paramita jadi tau dokter tampan ini sudah menikah.
"Sudah dok, ada di sebelah." jawab Monika cepat.
__ADS_1
"Tolong kamu lihat dokter Aria sudah datang belum, kabari saya."