
Itu sebabnya dia menyerahkan sebagian pekerjaan pada Restandi. Saat itu juga Sofi meminta agar Restandi menangani pekerjaan di rumah sakit. Sofi ingin Nikolas beristirahat. Sofi juga akhirnya menceritakan perihal rencana Rion untuk menikahi Trisia yang sepertinya menjadi beban pikiran Nikolas. Rupanya diam--diam Nikolas sayang pada Rion. Dan dia memikirkan putra keduanya itu. Harus menikah diam-diam, entah pernikahan seperti apa yang menantinya. Sambil menunggu Nikolas sadar Restandi minta ruang perawatan VIP di siapkan. Dia akan memindahkan ayahnya ke sana. Sofi masih menunggu Nikolas sadar. Restandi mengabarkan pada Rion, biar bagaimana ini juga karena ulahnya. Restandi kembali ke ruangan Arleta, istrinya belum tau.
"Sayang, kamu jangan pulang dulu ya. Papa tadi jatuh pingsan dan akan di rawat beberapa hari. Akan mudah buat aku jika kamu tetap di sini." kata Restandi pada Arleta. Memang sudah waktunya Arleta pulang.
"Loh memang papa kenapa?" tanya Arleta terkejut.
"Katanya terlalu lelah dan mungkin banyak pikiran. Biar istirahat dulu. Kamu tau tidak tadi malam Rion membawa Trisia makan malam di rumah. Apa karena itu papa jadi banyak pikiran?" tanya Restandi pada istrinya.
"Mungkin juga sih. Kamu tau tidak, sejak Rion mengaku pada papa tentang hubungannya dengan Trisia sikap papa berubah. Papa lebih diam dan murung." kata Arleta sambil menaruh Alrest di boxnya. Bayi itu baru saja menyusu.
"Masak sih? Aku tidak tau. Yang jelas aku akan tambah sibuk nih, karena pekerjaan papa aku yang lakukan." keluh Restandi. Dia menatap putranya sayang.
"Mungkin dalam hati papa menyesali tindakan Rion. Sekarang papa di mana?" tanya Arleta lagi penasaran. Dia sudah membayangkan Sofi pasti bingung.
"Masih belum siuman, nanti di pindah ke ruang sebelah." jawab Restandi.
"Kalau di ruang sebelah aku bisa temani mama dong." kata Arleta.
"Iya tapi ingat kesehatanmu. Kamu belum terbiasa kan dengan waktunya Alrest. Untuk sementara kerabat dan teman tidak perlu di beri tau. Nanti papa malah tidak bisa istirahat." Restandi memutuskan, dia mencium kening Arleta sebelum keluar untuk menengok Nikolas lagi. Setelah siuman Nikolas di pindah ke ruang VIP.
"Maaf ya ma papa repotin mama." kata Nikolas dengan menyesal pada Sofi.
__ADS_1
"Papa tidak repotin mama ko. Tapi lain kali kalau kurang sehat papa harus bilang." Sofi berkata sambil mengusap lembut wajah suaminya. Nikolas menatap istrinya penuh cinta. Wanita yang mau terus mendampinginya dan mau memaafkan kesalahannya. Wanita yang dengan besar hati membesarkan putra hasil perselingkuhannya. Tapi wanita ini di cintai oleh keluarganya. Bukan hanya dia saja, tapi anak-anaknya memuja wanita ini. Seorang ibu yang sempurna.
"Papa istirahat dulu ya, jangan banyak pikiran. Nanti mama bangunkan kalau sudah waktunya makan." kata Sofi lembut sambil membetulkan selimut. Nikolas pun menurut di pejamkannya matanya. Karena pengaruh obat dia pun segera tertidur. Eva perlahan masuk ke ruangan itu.
"Nyonya, ini air dan roti dari ibu Arleta." kata Eva menaruhnya di atas meja.
"Terima kasih ya nak, nama kamu siapa?" tanya Sofi ramah.
"Eva nyonya " jawab Eva sambil tersenyum. Walaupun dia lama bekerja di rumah sakit itu tapi belum pernah berinteraksi dengan nyonya besar Gutama. Katanya orangnya baik, dan ternyata benar.
"Maaf ya Eva, saya merepotkan kamu." kata Sofi lagi. Eva tersenyum.
"Nyonya istirahat saja, saya rasa nanti para dokter pasti mampir untuk melihat keadaan dokter Gutama." kata Eva, menurutnya tidak mungkin para staf tidak menengok pemilik rumah sakit itu.
"Kalau Nyonya butuh sesuatu bilang saja pada Eva." Eva menawarkan dirinya dengan manis.
"Baik nak, kamu pasti akan membantu sekali nanti." Sofi bisa menangkap ketulusan gadis itu. Andai saja Rion putranya bisa melihat gadis yang seperti ini Sofi pasti senang. Eva pun keluar, dia masuk ke ruang Arleta.
"Bu ada yang bisa saya bantu lagi?" tanya Eva pada Arleta.
"Saya kan sudah lebih sehat Eva, tolong kamu perhatikan mama saya ya." pinta Arleta dengan manis. Eva tersenyum, menantu yang sayang mertua.
__ADS_1
"Beres Bu, untuk makan siang bagaimana, perlu Eva belikan? " tanya Eva lagi.
"Nah ini, saya minta tolong kamu Carikan Jono ya. Suruh ke sini." kata Arleta. Restandi pasti sibuk dengan pekerjaannya. Maka Arleta yang harus mengatur untuk keperluan mertuanya. Eva pun segera keluar, dia melihat Jono di lobby rumah sakit, mungkin menunggu Restandi.
"Mas Jono di panggil Bu Arleta di ruangannya." kata Eva pada Jono, pria itu bergegas menemui Arleta.
"Ibu panggil saya?" tanya Jono begitu masuk.
"Jono kamu pulang ya ambil keperluan Bapak seperti baju, vitamin dan sekalian minta mbok Jumi bawakan bekal untuk pak Restandi dan mama saya. Cepat ya Jono, takutnya kami perlu bantuanmu nanti." kata Arleta pada Jono. Hanya Jono yang jadi andalannya sekarang.
"Saya jalan sekarang ya Bu. Kalau ada yang kurang ibu hubungi saya saja atau mbok Jumi." tanpa menunggu jawaban Jono segera melesat pergi. Dia sudah membayangkan macetnya Jakarta. Tadi majikannya bilang harus cepat. Belum jauh dia melangkah Rion menghubunginya.
"Jono kamu jemput saya ya." kata Rion ketika Jono menjawab.
"Siap den, saya jemput sekarang." Rion juga menjadi tanggung jawab Jono. Selesai bicara dengan Rion Jono pun menelpon ke rumah, minta mbok Jumi menyiapkan baju dan bekal makan siang untuk majikannya. Pintar kan Jono. Lalu dia segera menjemput Rion. Tiba di rumah sakit Rion langsung ke ruangan Nikolas. Melihat tatapan Arleta yang penuh permusuhan hatinya langsung tidak enak.
"Papa kenapa ma?" tanya Rion. Jujur Rion datang ke rumah sakit bukan karena khawatir pada Nikolas. Tapi dia khawatir pada Sofi. Pasti Sofi lelah dan bingung.
"Terlalu lelah, mungkin tidak sehat tapi di paksakan bekerja." kata Sofi lembut. Dia selalu mengajarkan pada anak-anaknya untuk menghormati papanya. Tapi mereka berlaku baik pada Nikolas karena Sofi yang minta. Apalagi Rion yang sering di abaikan Nikolas. Jadi ketika Arleta dengan marah menegurnya Rion merasa tidak percaya.
"Benar papa begitu karena aku?" tanya Rion.
__ADS_1
"Rion orangtua tetap orangtua. Mereka tidak pernah pensiun pada anak. Dan itu seumur hidup." kata Arleta kesal. Rion terdiam. Walau Sofi tidak mengatakan apa pun tapi mungkin benar ini karena dirinya. Menyadari ayahnya sayang padanya Rion jadi merasa bersalah. Rion sudah membawa baju ketika ikut pulang bersama Jono tadi. Rion pun menghampiri Sofi.
"Ma istirahat di ruang Arleta saja, biar Rion yang tunggu di sini." kata Rion pada Sofi.