
Restandi dan Arleta sepakat untuk membicarakan rencana bulan madu mereka nanti malam. Sesampainya di klinik Arleta bersiap akan keluar dari mobil.
"Sayang suamimu tidak di cium dulu nih?" tanya Restandi mengingatkan. Arleta pun mendekati Restandi ingin mencium pipinya. Tapi Restandi menolak, Arleta jadi bingung.
"Sekarang kan sudah naik jabatan jadi istri aku, ciumnya jangan di pipi." Restandi menunjuk bibirnya. Waduh semakin lama Restandi semakin genit nih, pikir Arleta. Tapi dia menuruti keinginan Restandi. Di kecupnya bibir Restandi, setelah itu Arleta segera keluar dari mobil. Khawatir Restandi minta yang lain lagi. Restandi tersenyum melihat tingkah istrinya. Dia harus segera mengatur waktunya untuk bulan madu.
Rion datang untuk persiapan syuting film barunya. Lokasinya sangat indah. Film barunya mengisahkan pasangan suami istri yang memiliki konflik karena pihak ketiga. Ini yang Rion suka karena yang menjadi istrinya adalah Trisia. Boleh dong peluk atau cium istri, pikir Rion. Angannya sudah mencapai langit. Tapi sepertinya Trisia justru menghindari Rion. Awalnya Trisia suka berpasangan dengan aktor yang berpengalaman. Apalagi tampan dan ramah. Tapi semakin lama Trisia melihat Rion pria yang suka tebar pesona, dan terlihat sekali berusaha mendekatinya. Seperti hari ini Trisia merasa Rion terus menatapnya. Trisia sudah berusaha menghindari pria itu tapi tampaknya sulit. Akhirnya dia berusaha mengabaikan Rion, yang membuat Rion gemas. Dia sudah berusaha setampan mungkin hari ini tapi Trisia tetap tidak tertarik padanya. Tentu saja Trisia tidak tertarik, hatinya hanya untuk Armando.
Melani menemui Avery atas informasi yang Arleta berikan. Dia menangis bertemu kakaknya dan teringat hidupnya yang pilu. Melani pun menceritakan semua yang terjadi padanya dalam satu tahun kepergiannya dari rumah.
"Jadi sekarang kau sudah menyesali semuanya?" tanya Avery pada Melani.
"Sudah, dan aku ingin kembali pulang." Melani tertunduk sedih.
"Tapi bagaimana dengan kekasihmu itu Armando." Avery baru mengetahui kalau Armando adalah kekasih Melani, pantas saja pria itu tidak mau mengatakan di mana Melani berada.
"Aku akan meninggalkannya diam-diam. Dia sudah di tunangan oleh keluarganya." Melani bertambah sedih. Avery jadi merasa kasihan pada adiknya. Melani telah mencintai pria-pria yang salah. Avery menganggap keputusannya menutup diri dari para pria ternyata tidak salah.
__ADS_1
"Apakah temanmu tau keinginanmu ini?" tanya Avery lagi, teringat wanita yang menemuinya waktu itu.
"Temanku? teman yang mana?" tanya Melani bingung. Dia kan tidak punya teman.
"Temanmu yang menemui aku. Kamu tau aku di sini dari dia kan?" Avery sekarang yang bingung.
"Oh Arleta?" sekarang Melani ingat.
"Iya Arleta." Avery suka pada wanita itu.
"Jadi dia bilang dia temanku?" tanya Melani ingin tau.
"Kamu sudah gila ya? Aku bingung mengapa dia mau melakukan ini untukmu?" Avery terkejut mengetahui siapa Arleta.
"Itu sebabnya aku tidak mau menambah kekacauan ini. Aku tidak mungkin menjadi keluarganya. Aku sadar posisiku." kata Melani berusaha meyakinkan Avery. Gadis itu merenung sesaat.
"Ya sudah jadi kapan kau akan pulang?" tanya Avery.
__ADS_1
"Akan ku katakan rencanaku padamu." Melani menjawab kakaknya.Malam itu Armando pulang ke apartemen untuk bertemu Melani. Sekarang Armando tidak merasa khawatir lagi. Selama dia menjalani pertunangannya dengan Trisia, Mauren mamanya tidak mengusiknya. Armando duduk di sofa sambil melonjorkan kakinya. Dia memangku laptopnya sambil bekerja. Ada beberapa pekerjaan yang harus di selesaikannya. Melani menatapnya dengan sedih.
"Kenapa kau menatapku seperti itu?" tanya Armando tiba-tiba. Melani tersadar dan bingung.
"Kemari." kata Armando sambil menyingkirkan laptopnya. Melani pun menurut. Armando menarik Melani hingga duduk di pangkuannya.
"Ada apa?" Armando menatap dengan tatapannya yang tajam. Dia merasa ada yang aneh dengan kekasihnya itu. Melani menggeleng dan tersenyum, dia tidak mau Armando curiga. Armando tidak tau dia sudah bertemu kakaknya.
"Kamu bosan?Nanti jika perkerjaanku berkurang kita pergi liburan." kata Armando lembut. Di usapnya rambut Melani. Armando akan membawa Melani ke tempat yang jauh, dia tau Avery masih ada di Jakarta. Melani tanpa mengatakan sepatah kata pun memeluk Armando erat. Belakangan ini Armando sudah berlaku lembut pada Melani. Sikap arogannya berkurang jika bersama Melani. Armando menganggap apa yang di lakukan Melani karena rasa senangnya dengan rencananya. Pasti gadis ini bosan, pikir Armando. Sejak tau Avery mencari adiknya Armando mengurung Melani di apartemen. Armando tidak tau jika Melani sekarang sudah pandai mengelabui Dita. Melani melepaskan pelukannya lalu menatap Armando penuh cinta. Dia ingin menatap wajah pria pujaannya sepuas hatinya. Sebelum semuanya berakhir. Armando menatap Melani dalam diam. Mencoba menyelami jalan pikiran Melani lewat matanya. Namun Melani mendekatkan wajahnya dan mencium Armando mesra. Pria itu pun terhanyut dan membalas apa yang di lakukan kekasihnya. Kegiatan mereka pun semakin panas. Armando menggendong Melani menuju kamar. Dunia milik mereka berdua malam ini. Besok paginya Melani tampak sedang memasang dasi pada Armando. Pria itu akan berangkat ke kantor. Armando menatap Melani dengan tersenyum kecil. Tadi malam dia merasa puas dan bahagia. Melani memanjakannya.
"Nanti malam mungkin aku tidak pulang ke sini. Ada pertemuan penting dan aku tidak tau akan selesai jam berapa." kata Armando sambil mengusap rambut Melani dengan sayang. Melani menatap Armando dengan sedih. Armando berpikir Melani kecewa dia tidak menemuinya nanti malam, padahal yang ada di pikiran Melani bukan itu.
"Akan aku usahakan pulang ke sini jika mungkin." kata Armando mengalah. Dia ada janji berkumpul bersama teman-temannya nanti malam setelah pertemuan penting.
"Jangan banyak minum alkohol, jaga kesehatanmu dengan baik. Juga jangan lupa makan siang, makanlah makanan yang sehat." kata Melani pada Armando. Di kecupnya bibir Armando.
"Kenapa kamu cerewet sekali sih." kata Armando tidak suka. Diambilnya jasnya dan tas kantornya.
__ADS_1
"Aku pergi." tanpa menoleh lagi Armando meninggalkan Melani yang mulai meneteskan air mata. Sepeninggal Armando Melani mulai bersiap-siap sambil menunggu Dita. Dia hanya membawa barang-barang yang di sukainya saja. Ketika Dita datang Melani memberikan tugas yang banyak dan berpesan Dita tidak perlu kembali ke apartemen karena dia ingin istirahat tanpa di ganggu. Dita pun pergi. Melani mengganti pakaiannya dan mengabari Avery jika dia sudah siap. Orang-orang Avery mengecoh anak buah Armando sehingga Melani dapat pergi. Pergi ke belahan dunia yang lain. Meninggalkan pria yang di pujanya tanpa berniat untuk kembali. Melani hanya meninggalkan sepucuk surat kecil untuk Armando di kamarnya.