
Avery takut Armando membuktikan perkataannya. Menyekapnya sampai besok pagi.
"Ada papa dan mama yang menemani Melody." Armando mulai membuka bajunya. Avery terpana. Dia sebetulnya tidak benar-benar menginginkan sesuatu. Selama ini dia hanya mengerjai Armando. Tapi tampaknya Armando tau. Avery jadi menyesal mengganggu Armando.
"Ayo sayang, tidak boleh ada sehelai benang pun di tubuhmu." Armando berkata tanpa senyum. Jadi Armando sungguhan ya. Avery pun menuruti suaminya. Armando memang memanjakannya. Membuainya hingga Avery lemas terbang dalam pelukan Armando.
"Lahirkan anaku dengan sehat." bisik Armando sambil mengusap punggung Avery lembut. Avery yang lelah sudah mengantuk. Armando mencium bibirnya sekilas. Tidak mudah bagi Armando menyongsong kelahiran anaknya kelak. Pada saat dia mendapat Melody, Armando harus mengalami sakit yang luar biasa karena kehilangan Melani. Armando akan memastikan Avery dan anaknya nanti baik-baik saja. Armando sudah membatasi kegiatan Avery. Istrinya menurut walau awalnya marah-marah. Tapi Avery memang tidak bisa berbuat banyak karena pusing dan mualnya. Dia baru tau wanita hamil itu seperti ini. Itu sebabnya dia mengerjai Armando. Pria itu enak-enak buat, tidak merasai ketidaknyamanan yang Avery dapat setiap pagi. Walau Armando setiap pagi selalu mendampinginya. Membawakan sup hangat, memijatnya, menyediakan minuman hangat. Saat ini mual dan pusingnya sudah mulai reda. Semoga seperti yang Armando harapkan, dia bisa melahirkan bayinya dengan sehat. Siang itu Armando pulang ke rumah atas permintaan Avery. Dia tau ada sesuatu yang terjadi dari suara istrinya tadi. Avery tengah gelisah ketika Armando tiba.
"Avery ada apa?" Armando menghampirinya dan memeluknya.
"Ayah jatuh pingsan, sekarang sudah sadar tapi dia sakit." kata Avery hampir menangis, dia balik memeluk Armando.
"Kita harus ke sana. Kamu baik-baik saja? Tidak mual dan pusing?" tanya Armando.
"Aku sehat ko Ar." Avery menjawab dengan cepat.
"Kalau begitu bersiaplah, kita berangkat malam ini. Melody kita bawa." Armando memutuskan. Avery segera ke kamarnya menyiapkan keperluan mereka dan Melody. Armando menghubungi Arsen, memberi tau keberangkatannya ke Amerika. Frans dan Mauren sedih cucunya di bawa. Tapi mereka mengerti. Besoknya mereka tiba di Amerika dan sudah di jemput supir keluarga. Zakhary tampak lemah dan tertidur di kamarnya.
"Ayah kenapa?" tanya Avery pada Viona, ibu tirinya.
"Jantungnya terasa sakit. Kau tau Avery ayahmu terlalu sibuk bekerja, dia sudah beberapa kali merasa sakit tapi tetap tidak istirahat." ibu tiri Avery menerangkan. Armando menggendong Melody menengok Zakhary.
"Grandpa." kata Melody ketika melihat Zakhary.
"Grandpa lagi sakit, Melody jangan mengganggu grandpa dulu ya." bujuk Armando. Mata Zakhary perlahan terbuka mendengar suara mereka.
"Sayang, kamu datang." seru Zakhary pada Melody. Armando menurunkan Melody. Gadis cilik itu mendekati kakeknya.
__ADS_1
"Biar Melody menemani ayah, bisa kita bicara dengan dokternya Bu?" tanya Armando sopan pada Viona.
"Sebentar lagi dia datang, kita bisa bicara dengannya." kata Viona. Sementara Armando dan Avery di kamar Zakhary, Viona meminta pelayan untuk menyiapkan menu untuk mereka makan bersama. Dokter pun datang bersamaan dengan Lionel. Setelah memeriksa Zakhary dokter itu memberikan hasil analisanya. Zakhary hanya terlalu lelah bekerja. Jantungnya akan benar-benar bermasalah jika dia terus seperti itu. Dokter menyarankan untuk beristirahat beberapa waktu dan mengatur pola makan yang benar. Dokter pun pamit. Zakhary kembali beristirahat.
"Lionel, tugasmu tambah banyak sekarang." kata Avery pada sepupunya itu.
"Avery aku tau pekerjaanku tambah berat. Harusnya ini kan tugasmu. Apa kau tidak mau tinggal di sini saja." Lionel mengeluh.
"Avery sedang hamil muda, dia juga tidak bisa bekerja terlalu berat." Armando protes. Dia saja sudah membatasi kegiatan Avery di Indonesia.
"Kau kan bisa Ar, ayolah ini kan tanggung jawabku." Lionel memojokkan Armando. Zakhary hanya punya Avery sekarang. Armando sebagai menantu juga tidak bisa diam saja. Ada banyak yang Armando harus pertimbangkan.
"Biar aku pikirkan dulu, untuk sementara tolong kau tangani dulu." kata Armando pada Lionel.
"Aku mau, tapi ada syaratnya." Lionel tau tanggung jawab yang di lakukannya akan menyita waktunya.
"Aku minta di carikan istri." kata Lionel sambil tersenyum.
"Kau bercanda ya, masak istrimu harus kami yang Carikan." protes Armando. Avery juga merasa permintaan Lionel sangat aneh.
"Aku tidak punya waktu untuk itu. Tapi aku butuh istri agar ada yang memperhatikan aku. Untuk apa aku giat bekerja kalau aku tetap sendiri." Alasan Lionel masuk akal. Memang sudah waktunya Lionel menikah.
"Lalu kau ingin istri yang bagaimana?" Armando mencoba mengalah.
"Seperti adikmu. Kalau Arleta mau denganku aku tidak keberatan." Lionel mencoba peruntungannya. Armando tau Lionel tertarik pada Arleta.
"Dia sudah akan melahirkan anaknya yang kedua. Tidak mungkin dia melirikmu. Karena anak itu permintaan suaminya." Armando tertawa dengan kekonyolan Lionel.
__ADS_1
"Astaga, ternyata sudah lama juga aku tidak bertemu adikmu ya." Lionel tersadar.
"Jadi kau ingin wanita Asia." kata Avery menyimpulkan.
"Tidak masalah bagiku, asalkan kalian mencarikan wanita yang baik." Lionel tidak membatasi pencarian Armando dan Avery.
"Baiklah, aku akan berusaha untukmu." Armando dengan kesal berkata. Dia sebagai pimpinan perusahaan besar harus mencarikan istri bagi sepupu istrinya.
"Maaf ya sayang. Lionel menyusahkanmu." Avery tidak enak hati pada suaminya. Armando tidak menjawab, tapi dari tatapannya mengandung peringatan pada Avery. Ada harga yang harus di bayar. Armando menghubungi Restandi.
"Hai Ar, ada apa?" Restandi menjawab panggilan Armando.
"Rest aku di Amerika saat ini. Ayah Avery sakit, dia harus istirahat. Kami minta Lionel untuk menggantikannya sementara waktu. Tapi dia minta syarat yang membuatku pusing." Armando menekan keningnya. Ini peristiwa pertama kali dalam hidupnya.
"Apa syaratnya? Rumah, mobil, pesawat mungkin?" Restandi tidak suka pada Lionel, karena pria itu melirik Arleta.
"Dia minta di carikan istri. Arleta kalau mungkin." Armando memancing Restandi.
"Dia mau mati." Restandi marah. Armando tertawa lepas.
"Kau kan tau adikku menawan. Tapi dia tau itu tidak mungkin. Kalau kau tidak mau kehilangan istrimu, bantu aku mencarikan kandidat yang tepat." Armando menekan Restandi. Jangan dia saja yang pusing.
"Aku biasanya mencari donor jantung, bukan donor istri. Direktur rumah sakit harus mencarikan istri bagi pria yang suka melirik istri orang." Restandi kesal.
"Di banding aku, kau kan punya banyak yang bisa di perhitungkan. Dari pada dia melirik Arleta terus kan lebih baik jika ada yang bisa di peluknya." perkataan Armando masuk akal. Restandi setuju.
"Pilihanku hanya ada yang di rumah sakit. Yang di luar aku kenalnya para bujangan. Aku yakin Lionel tidak akan berminat."
__ADS_1