Merebut Cintamu

Merebut Cintamu
173. Rahasia Revita


__ADS_3

Tapi kemudian Alrest merogoh saku celananya yang satu. Di perlihatkannya mobil kecil yang kemarin. Sekarang Alrest punya dua. Restandi kembali melirik Rion, adiknya tampak cemberut. Restandi jadi paham. Rupanya ini persaingan antara uncle dan opa.


"Alrest duduk yang baik, makan dulu baru boleh main. Nanti mobilnya papa ambil kalau Alrest tidak mau nurut." kata Restandi pada putranya. Alrest tidak mau mainannya diambil, maka dia patuh di dudukan di kursinya.


"Jangan biarkan dia berlarian seperti tadi. Nanti dia terbiasa." tegur Restandi pada Rina.


"Ya tuan." jawab Rina sopan. Dia mulai menyuapi Alrest. Restandi duduk di meja makan. Arleta turun dari atas, duduk di sebelah Restandi. Matanya mengamati Alrest yang sedang makan.


"Makannya banyak Rina?" tanya Arleta ingin tau.


"Lumayan nyonya." Rina memperlihatkan mangkuk bubur Alrest yang hampir habis. Arleta puas melihatnya. Dia mulai mengambil makanan untuk Restandi.


"Terima kasih sayang." Restandi meremas tangan Arleta lembut, lalu mulai makan. Arleta mengambil makanan untuk dirinya sendiri, lalu mulai menikmati makanannya.


"Rion jangan lupa besok kita rapat." kata Restandi pada adiknya.


"Aku ingat ka, hari ini mau bereskan pekerjaanku dulu." jawab Rion. Karena porsi makan Arleta sedikit dia sudah selesai. Arleta menyiapkan bekal untuk di bawa ke kantornya.


"Aku juga mau ya." kata Restandi sambil memeluk Arleta dari belakang.


"Boleh tapi ini mahal loh." Arleta pasang harga.


"Buat kamu semua aku kasih." kata Restandi yakin.


"Kalau aku minta stasiun TV boleh?" tantang Arleta.


"Boleh, tapi aku harus menyingkirkan yang dua itu. Tapi yakin deh, mereka bisa aku singkirkan." gombal Restandi. Bukan hanya Arleta, yang ada di ruang makan tersenyum mendengar perkataan Restandi. Keluarga Gutama sudah terbiasa melihat ulah Restandi pada istrinya. Restandi tidak malu-malu menunjukan rasa cintanya pada Arleta. Bekal sudah di siapkan, di berikan ya satu pada Restandi. Sebelum berangkat Restandi mencari putrinya dulu. Mbok Jumi menggendong Alris di tengah matahari pagi.


"Sayang paa pergi ya." Restandi mencium putrinya yang gembul.


"Papanya pergi tuh." kata mbok Jumi pada Alris seolah bayi itu mengerti.

__ADS_1


"Titip ya mbok, mamanya mau kerja hari ini." kata Restandi pada mbok Jumi.


"Iya den." mengasuh anak di keluarga Gutama bukan hal baru bagi si mbok. Restandi lalu mencari Alrest. Anak itu sedang duduk sambil bermain mobil dari Rion.


"Alrest papa berangkat kerja dulu ya." mendengar suara papanya rest langsung menghampiri. Restandi jongkok dan mencium putranya.


"Jangan nakal ya sayang. Dengar sama si mbak ya." pesan Restandi.


"Vitaminnya sudah di kasih?" tanya Restandi pada Rina.


"Sudah tuan." jawab Rina. Restandi pun menuju mobilnya, dia akan berangkat ke rumah sakit. Berbeda dengan Restandi, ketika Arleta pamit Alrest tidak mau di tinggal.


"Ikut." kata Alrest dengan wajah sedih. Arleta jadi tidak tega. Beberapa waktu cuti membuat Alrest terbiasa melihat Arleta di rumah.


"Ya sudah pakai sepatunya. Bawa bekalnya Rina." kata Arleta akhirnya. Rina segera melesat mengambil sepatu Alrest, lalu menyiapkan bekal untuk tuan mudanya. Arleta membantu Alrest memakai sepatunya. Hari ini dia bekerja membawa putranya.


Seperti sudah di rencanakan malam itu Restandi membawa keluarga kecilnya mengunjungi Arlan. Tentu saja kejutan itu menyenangkan bagi pasangan itu, apa lagi Revita.


"Arleta." seru Revita senang. Dia segera memeluk sahabatnya yang menggendong Alrista. Perlahan Revita mengambil alih Alris.


"Bayimu sudah mulai besar ya, dia cantik." puji Revita melihat Alris.


"Susunya bagus soalnya." Restandi bercanda.


"Paham, paham." seru Arlan, dia tau arahnya ke mana. Mereka pun tertawa.


"Boy, apa kabar?" tanya Arlan pada Alrest, tangannya terbuka menyambut bocah itu. Dengan malu-malu Alrest menghampiri Arlan. Dengan lembut Arlan menggendongnya.


"Enak ya punya anak sudah sebesar ini. Bisa di ajak bermain." kata Arlan dengan sedikit menyesal. Dia dan Revita harus menunda punya anak karena keuangan.


"Harus ada prosesnya dong. Kalau langsung besar adopsi namanya." kata Restandi. Dia dan Arleta sudah merasakan harus terbangun di malam hari karena Alrest. Sekarang pun mereka belum bisa bebas tidur malam karena Alrista. Tapi itulah proses. Mereka duduk di ruang keluarga. Restandi duduk bersama Arlan dan Alrest. Sedang Arleta duduk dengan Revita yang memangku Alris.

__ADS_1


"Di rumah main sama siapa?" tanya Arlan pada Alrest.


"Sama papa, sama opa, sama uncle." jawab Alrest sambil tersenyum. Dia senang di tanya Arlan.


"Wah temannya banyak ya." puji Arlan. Dia suka pada anak-anak.


"Dia jadi rebutan di rumah." jelas Restandi.


"Pastilah, ini kan cucu pertama keluarga Gutama." Arlan maklum. Mereka pun mengobrol hal lain. Alrest memainkan mobil kecilnya tapi tidak jauh-jauh dari Restandi.


"Bagaimana kabarmu?" tanya Revita pada Arleta.


"Harusnya aku yang bertanya itu, kamu tidak ada kabarnya." protes Arleta.


"Kehamilan aku membuat jadi cepat lelah, dokter bilang aku harus benar-benar menjaga kehamilanku bila ingin bayi ini lahir sehat. Aku jadi diam di rumah." Revita menjelaskan dengan lesu.


"Enak dong kamu tidak perlu repot di kantor. Hamil sambil kerja itu kadang tidak nyaman." Arleta sudah merasakan itu.


"Untuk nyaman memang betul aku lebih baik di rumah. Tapi kamu kan tau gaji Arlan tidak akan cukup bila aku diam di rumah. Apa lagi nanti kami punya anak. Pasti kebutuhan kami bertambah " Arleta jadi paham mengapa Revita lesu.


"Lalu bagaimana kamu mengatasinya?" tanya Arleta ingin tau.


"Kamu kan tau bang Kevin tetap mengirim uang padaku, tapi aku ingin menghargai Arlan dengan tidak membahas uang itu. Tapi belakangan ini jika kami kekurangan uang terpaksa aku mengambilnya dari sana. Aku menggunakannya dengan jumlah yang tidak akan membuat Arlan curiga. Tapi hatiku tidak enak. Rasanya seperti berbohong pada suami." Revita menceritakan beban di hatinya. Untung mereka duduk agak jauh dari para suami.


"Kalau melihat sifat Arlan dia pasti keberatan jika kau menggunakan uang itu untuk keperluan rumah tangga. Dia akan merasa bersalah tidak bisa mencukupi kebutuhan kalian." kesimpulan Arleta tentang Arlan.


"Betul Leta, kamu mengerti posisiku kan." Revita tidak salah bersahabat dengan Arleta.


"Tapi Arlan sudah bilang kan, Restandi menawarkan posisi direktur stasiun TV. Pasti gajinya lebih tinggi dari sekarang. Bagaimana menurutmu?" Arleta ingin tau tanggapan Revita.


"Kalau dari segi gaji aku setuju. Tapi dari bidang pekerjaan tentu memiliki kendala dan tantangan tersendiri, karena ini hal baru bagi Arlan. Aku tidak mau dia tertekan."

__ADS_1


__ADS_2