
Sosok yang di pikirkan Avery muncul di pintu apartemen.
"Kamu sudah pulang?" sapa Avery pada Armando.
"Aku kan janji pulang cepat." Armando menaruh tas dan jasnya di kursi lalu duduk di sofa.
"Melody mana?" tanya Armando.
"Tidur, sebentar ya kubuatkan minum." Avery membuat teh hangat untuk Armando.
"Istriku, coba duduk di sini dulu." Armando menepuk tempat di sebelahnya sambil tersenyum. Avery menghampiri Armando dengan tehnya. Wajahnya menggambarkan kekesalan hatinya.
"Jadi dia nemuin kamu. Maaf ya aku bilang aku istri kamu. Habis aku kesal dengan tingkahnya. Tidak tau malu, berlagak masih jadi pacar kamu." Avery cemberut. Armando tertawa.
"Kamu seperti istri yang cemburu." Armando meminum tehnya. Enak, pikirnya.
"Dia bilang tidak, mengapa dia meninggalkan kamu?" Avery jadi ingin tau. Armando pun menceritakan pembicaraannya dengan Keira. Tidak ada yang perlu dia sembunyikan. Jika Keira tidak mengusik Avery mungkin gadis itu tidak perlu tau tentang Keira.
"Gila juga dia ya masih berani nemuin kamu." Avery semakin sebal pada Keira.
"Kalau dia tau aku sendiri dia pasti datang lagi." kata Armando kesal.
"Atau mungkin saja dia melamar jadi istri ke tiga kamu." Avery menggoda Armando.
__ADS_1
"Tidak bisa, kan aku sudah punya istri ke tiga. Kamu." balas Armando.
"Kamu tuh ya, bisa-bisa orang jadi salah paham." Avery tersipu. Armando terpana. Walau Avery membuang mukanya tapi tetap terlihat pipinya yang merona.
"Apa perlu nih aku bilang mama. Pasti mama langsung terbang ke Amerika untuk melamar kamu." Armando melanjutkan godaannya. Lumayan ada hiburan.
"Apa sih. Kamu tidak marah mama kamu kasih uang pada Keira?" Avery mengalihkan topik.
"Tidak. Dari situ kan aku jadi tau Keira tidak tulus padaku. Ternyata dia lebih memilih uang di banding aku." jawab Armando santai. Wajah jailnya belum hilang Avery perlu waspada.
"Kamu istirahat dulu gih sebentar, kan baru pulang kerja. Aku urus Melody dulu." Avery mengusir Armando. Pria itu bangkit berdiri.
"Tadi mamaku telpon, dia suruh kita mampir. Kita ke sana dulu ya." Armando melangkah perlahan menuju kamar.
"Mau ketemu calon menantu dong." jawab Armando sambil masuk ke kamarnya. Avery rasanya ingin menimpukan sesuatu pada Armando. Di kamarnya Melody sudah bangun. Avery memandikannya lalu memberinya susu. Melody di bawanya ketempat bermainnya. Sebentar saja dia sudah sibuk bermain. Avery meninggalkannya untuk mandi dan bersiap. Armando sudah mandi. Dia berbaring sambil memeriksa ponselnya. Hanya laporan biasa dari Arsen dan pesan dari Mauren agar datang ke rumah. Armando pun mengenakan setelan santai lalu keluar dari kamar. Dilihatnya putri kecilnya sedang bermain.
"Sayang main sama Daddy yuk." Armando rindu pada sosok mungil itu. Dia pun menemani Melody hingga Avery siap. Tidak lama Avery keluar dari kamarnya.
"Aku siap." kata Avery dengan tas keperluan Melody.
"Sudah siap, yuk kita berangkat. Melody di gendong Daddy ya." Armando menggendong putrinya sayang. Mereka pun beranjak menuju mobil. Rupanya sore itu Jakarta macet. Maka mereka harus sabar di jalan. Armando membawa sendiri mobilnya. Di sebelahnya Avery memangku Melody. Agar Melody tidak rewel Avery memainkan boneka yang bisa berbunyi. Bila boneka itu berbunyi Melody tertawa riang. Armando menatap keduanya. Dia senang Melody tidak rewel dan tetap riang. Armando melirik pada Avery, gadis itu cukup telaten mengurus Melody tanpa bantuan siapa pun. Armando tersenyum penuh arti. Avery bingung melihat Armando, tapi tidak berkomentar. Mereka tiba di rumah keluarga Kamajaya. Tentu saja kedatangan mereka di sambut.
"Ma aku titip Melody ya. Aku mau bawa nannynya jalan-jalan. Kasihan kan sudah tidak di gaji di kurung terus di apartemen." kata Armando pada Mauren.
__ADS_1
"Makanya kalian tinggal di sini saja." kata Mauren berharap. Armando menatap Avery ingin tau tanggapan gadis itu. Avery diam-diam memberi isyarat dia tidak mau. Armando mengangguk paham. Mauren menangkap interaksi mereka. Dia melihat hubungan Armando dan Avery cukup dekat. Tapi kali ini Mauren tidak mau ikut campur dalam kehidupan cinta putranya lagi. Armando dan Avery pun berangkat. Karena mereka tidak mau kemalaman.
"Harusnya kita bawa saja Melody." kata Avery di dalam mobil.
"Biarkan opa dan Omanya main bersama cucu. Kau juga sekali-kali harus punya waktumu sendiri. Ayo, apa yang ingin kamu makan?" tanya Armando. Dia membujuk Avery sekaligus ingin memanjakan gadis itu malam ini. Avery sudah repot mengurus Melody, apa lagi dia tidak tinggal di Indonesia terus. Avery berpikir sejenak.
"Aku ingin makan sate." jawabnya pada akhirnya.
"Ok cantik, kita makan sate." Armando mengarahkan mobilnya pada restoran dengan menu andalan sate. Tiba di sana Armando memesan sate ayam dan sate kambing serta nadi dan lontong. Ketika hidangan datang tepat seperti dugaannya Avery memilih lontong. Avery sangat suka makan malamnya.
"Enak?" tanya Armando pada Avery.
"Enak aku suka." jawab Avery dengan wajah berseri.
"Lebih suka yang mana? ayam atau kambing?" Armando ingin tau.
"Aku suka yang ayam, lebih lembut dagingnya." Avery hanya mencoba beberapa yang kambing tapi yang ayam tidak berhenti diambilnya. Armando pun menghabiskan sate kambing.
"Ar, aku ingin lagi." Avery berkata dengan malu-malu. Armando tersenyum. Avery minta sate ayam seperti minta sesuatu yang bagaimana begitu. Armando pun memesankan satu porsi sate ayam lagi. Avery sibuk dengan sate ayamnya. Armando melihat banyak pria yang memperhatikan Avery. Ya Avery memang menawan. Armando yakin di Amerika pasti juga banyak pria yang mengincar Avery, apa lagi dengan latar belakang keluarganya. Avery pun menghabiskan satenya.
"Sudah?" tanya Armando singkat.
"Ya aku sudah kenyang." Avery tersenyum manis. Dia makan banyak malam ini. Armando pun membayar makan malam mereka. Dia lalu membawa Avery pergi dari situ. Ko jadi dia yang gerah ya dengan tatapan para pria tadi. Armando membawa Avery ke tempat yang indah. Keindahan malam yang menawan hati Avery. Serta pemandangan yang membuatnya ingin berfoto. Armando tersenyum geli melihat Avery yang sibuk berpose dengan latar belakang pemandangan malam. Kadang Avery bersandar pada Armando membuat foto mereka berdua. Tingkahnya yang seperti gadis remaja membuat Armando senang. Selama ini Armando menghadapi para wanita yang bersikap dewasa, seksi bahkan ada yang genit. Apa lagi Avery bertingkah wajar dan tidak di buat-buat.
__ADS_1
"Sudah, memangnya kamu model. Bikin foto sebanyak itu." protes Armando. Avery pun berhenti dan mulai melihat hasil fotonya. Dia melihatnya sambil tersenyum. Sungguh malam ini Armando terhibur melihat Avery yang menyenangkan.