Merebut Cintamu

Merebut Cintamu
17. Misi Arleta


__ADS_3

Setelah memutus kontaknya dengan Monika Arleta menatap Diana.


"Aku cari tau dulu ya, nanti kalau sudah jelas aku ajak kamu ke sana". Kata Arleta pada Diana.


"Aduh kamu tuh beneran cantik, sudah cantik baik". Diana berbunga-bunga hatinya.


"Sepertinya aku mau muntah nih". Arleta memperlihatkan wajah yang tidak enak. Diana langsung terdiam. Sekarang Arleta pintar mengganggu orang. Mungkin karena sudah punya tunangan ganteng. Lebih ganteng dari pacarnya yang dulu.


"Thanks ya sudah traktir aku makan siang juga bikin hati aku senang. Kamu tau kan aku tuh sebel banget kalau bikin laporan". kata Arleta pada Diana. Puas dia mengganggu gadis manis itu. Diana tersenyum karena Arleta sudah mau membantunya dia harus lapang hati. Setelah Arleta menyelesaikan laporannya dia memutuskan untuk ke rumah sakit menengok Restandi. Selain itu dia juga ingin bergosip tentang dokter Norman Sati dengan Monika. Setiba di rumah sakit Restandi masih sibuk dengan pasiennya. Arleta menunggu di ruang kerja Restandi di temani Monika. Kesempatan ini di gunakan Arleta untuk bertanya tentang dokter Norman. Karena Monika mengenal dokter Norman maka tidak sulit bagi Arleta untuk mendapat informasinya. Sedang asik bergosip tiba-tiba Restandi datang bersama rekannya. Arleta belum pernah melihatnya.


"Sudah datang Arleta". Restandi tersenyum melihatnya.


"Mbak Arleta dari tadi dokter". Monika menjelaskan. Arleta melihat rekan Restandi terus memperhatikannya.


"Kenalkan ini tunanganku Arleta dan ini dokter Sehun Aria". Mereka berjabat tangan pada saat itu Arleta memperhatikan dokter itu. Wajahnya separuh Indonesia separuh Korea seperti namanya.


"Kau putra dokter Aria?". tanya Arleta.


"Betul, jadi kau sudah bertemu ayahku?". Sehun masih terus memperhatikan Arleta. Gadis itu sendiri mengalihkan tatapannya pada Monika. Saat itulah Arleta tau siapa yang disukai Monika. Arleta lalu menatap Restandi, memberi isyarat dalam tatapannya kalau dia tau siapa yang di sukai Monika. Restandi tersenyum, gadis pintar pujinya dalam hati. Restandi menghampiri Arleta.


"Ayo kita duduk dulu. Monika tolong buatkan kopi untuk kami. Arleta kau ingin minum sesuatu?". Restandi yang duduk di sebelah Arleta menatapnya.

__ADS_1


"Tidak, Monika sudah membuatkan teh untukku". Arleta menunjuk teh yang di buat Monika. Restandi sengaja duduk di antara Arleta dan Sehun. Dia tau dari tadi Sehun memperhatikan Arleta.


"Kau sudah makan siang?". Arleta iseng bertanya pada Restandi.


"Kalau kau memang khawatir pada dokter pujaanmu ini harusnya langsung bertanya, bukan menitipkan pesan pada Monika". kata Restandi sambil tersenyum sangat manis. Arleta memalingkan wajahnya salah tingkah. Dia tidak menyangka candaannya pada Monika di bahas Restandi. Apalagi di bahas di depan Sehun.


"Maaf aku datang di waktu yang tidak tepat". kata Arleta mengalihkan perhatian.


"Tidak kami sudah selesai bekerja. Aku juga senang bisa melihat temanku yang seperti ini". kata Sehun sambil tersenyum jail. Restandi tetap santai menanggapi Sehun. Monika masuk membawa kopi, lalu keluar lagi untuk menyelesaikan pekerjaannya. Tiba-tiba ponsel Arleta berbunyi. Arleta melihat nama Armando di layar ponselnya.


"Maaf kakakku menelpon". kata Arleta sambil berdiri.


"Untuk apa Armando mencarimu?". tanya Restandi.


"Kau tidak lihat wajahnya mirip?". Restandi menatap Arleta yang menjauh dan menjawab panggilan ponselnya.


"Kalau aku tau Armando punya adik secantik itu pasti aku akan mendekatinya". Sehun mengganggu Restandi.


"Maaf anda belum beruntung". balas Restandi. Sehun tertawa. Melihat Restandi dia merasa pria itu menyukai Arleta.


"Aku pulang dulu, hari ini sudah lelah bekerja aku ingin segera tidur". Sehun bangkit lalu melangkah pergi. Restandi tersenyum melihat teman baiknya. Tak lama Arleta kembali duduk di sebelahnya. Melihat Arleta saat ini Restandi merasa seperti mendapat angin segar di tengah kesesakan.

__ADS_1


"Aku senang kau datang hari ini. Aku mandi dulu ya setelah itu kita pergi". Restandi masih ingin bersama Arleta. Setelah Arleta mengangguk setuju Restandi beranjak ke kamar mandi. Di tinggal Restandi Arleta teringat gosipnya dengan Monika tadi. Dokter Norman Sati asisten Restandi yang paling populer. Dia anak bungsu seorang jenderal yang masih menjabat di tanah air. Kakaknya ada tiga orang berkarir dalam bidang militer. Hanya Norman yang memilih menjadi dokter. Norman sosok yang tinggi tegap dengan kulit sawo matang. Ramah dan baik hati. Menurut Monika para suster magang banyak yang mencari perhatiannya. Arleta jadi penasaran ingin melihatnya. Monika menawarkan nomer kontak Norman pada Arleta tadi, tapi Arleta menolaknya. Belum tentu juga Diana mau mengontak Norman lebih dulu. Tentang latar belakang keluarga Norman juga Arleta ragu untuk menyampaikannya.


"Kamu lagi mikir apa? serius benar". Restandi mengejutkan Arleta yang duduk diam sibuk dengan pikirannya. Arleta menoleh pada Restandi, wajah pria itu tampak lebih segar.


"Engga ada". Arleta berkilah. Dia belum mau mengatakan pada Restandi misinya kali ini.


"Jalan yuk". Restandi mengajak Arleta pergi. Seperti biasa tangannya menggandeng Arleta. Mereka berjalan tanpa bicara. Di lorong tiba-tiba mereka berpapasan dengan dokter Rika. Tampaknya dokter itu memang mencari Restandi.


"Dok, ada yang ingin saya bicarakan dengan dokter". kata dokter Rika membuka percakapan. Dia terkejut melihat tangan Restandi yang menggandeng Arleta.


"Besok saja ya, saya mau pulang atau bicara dengan asisten saya kalau perlu". Restandi menolak, dia juga melihat tatapan Rika pada tangan mereka.


"Kenalkan ini tunangan saya Arleta". Restandi memperkenalkan Arleta. Mau tidak mau Arleta dan Rika berjabat tangan. Terlihat tatapan Rika yang tidak suka pada Arleta. Walaupun Arleta tau Rika menyukai Restandi tapi dia tidak punya alasan untuk bersikap sombong atau memusuhi. Jadi Arleta tetap tersenyum ramah meski tidak di tanggapi oleh Rika. Justru Restandi yang kesal.


"Kami permisi dulu". Restandi berlalu dengan menarik tangan Arleta. Rika masih terus menatap pasangan itu pergi dengan perasaan kecewa dan marah. Arleta tidak berani menoleh ke belakang, pasti pandangannya tidak enak. Tapi Arleta merasa lega. Dilihat dari percakapan yang formal antara Restandi dan Rika itupun memperlihatkan mereka tidak dekat. Restandi sudah membuktikan padanya dia tidak dekat dengan Rika. Arleta jadi tersenyum.


"Kenapa kamu senyum-senyum?". tanya Restandi penasaran.


"Rest, gara-gara aku kamu nolak bicara sama dokter Rika. Bener ga apa?".


"Dokter jantung kan bukan cuma aku Arleta. Kalau memang penting kan masih ada dokter yang lain". jawab Restandi santai. Sebenarnya ulah dokter Rika yang di tujukan padanya bukan kali ini saja. Tapi Restandi malas membicarakannya dengan Arleta. Dia khawatir Arleta jadi berpikir macam-macam. Mereka pun memasuki mobil dan meninggalkan rumah sakit.

__ADS_1


"Kita makan dulu ya, aku lapar". kata Restandi. Arleta setuju dia juga sudah merasa lapar.


__ADS_2