
Armando pun juga mengajak Avery untuk juga pergi karena dia khawatir pada Trisia. Avery sudah pucat wajahnya. Dia tidak dapat membayangkan seperti apa rasa sakitnya. Di lokasi syuting Sheni terpaku pada apa yang terjadi. Dia tidak menyangka perbuatannya menimbulkan bencana.
"Bawa Sheni pulang dan tunggu keputusan dari pak Rion, ingat jangan kemana-mana. Kalau sampai terjadi sesuatu dengan Trisia kamu tau akibatnya. Dan jangan mengelak, di sini banyak saksinya." Romy mengamuk berkata pada manager artis itu. Sang manager pun membawa Sheni ke mobil. Gadis itu walaupun diam tapi gemetar. Tanpa rasa iba sang manager memarahinya. Perbuatan bodoh Sheni mengancam karirnya. Sheni diam saja. Di rumah sakit dokter Lukman Aria sudah datang. Dia menghampiri Rion yang tengah menunduk.
"Dok tolong istri saya." kata Rion penuh harap.
"Saya lihat dulu." Lukman Aria menepuk bahu Rion lalu masuk ke ruang pemeriksaan. Segera Sehun memberikan data-datanya dan memberitahu ruang operasi sudah siap. Lukman Aria memeriksa data tersebut dan memeriksa Trisia sebentar, dia keluar.
"Rion, bayi harus segera di keluarkan. Jika tidak mungkin tidak akan selamat." kata Lukman Aria pada Rion.
"Trisia sendiri bagaimana dok?" tanya Rion, yang utama baginya adalah istrinya.
"Ini demi istri kamu juga." Lukman Aria paham betapa cintanya Rion pada Trisia.
"Kalau begitu lakukan dok." Rion pasrah pada Lukman Aria. Tanpa menunda Lukman Aria masuk kembali ke dalam dan memberi aba-aba untuk memindahkan Trisia ke ruang operasi. Eva datang bersama kru yang tadi. Eva membantu Rion untuk mengurus masalah operasi Trisia karena Rion tampaknya sudah tertancap di sana.
"Bagaimana pak keadaan mbak Trisia?" tanya kru itu.
"Harus segera di operasi. Terima kasih kamu sudah antar kami." kata Rion padanya. Trisia di bawa keluar dari ruangan pemeriksaan menuju ruang operasi. Rion dan kru itu mengikuti dan menunggu di depan ruang operasi. Rion duduk dengan menunduk. Sang kru tetap berdiri dan berdoa di dalam hati. Restandi datang bersama Arleta.
"Rion, bagaimana Trisia?" tanya Arleta dan duduk di sebelah Rion.
"Baru masuk ruang operasi. Dokter Lukman Aria yang mengoperasinya." jawab Rion sendu. Arleta menepuk bahu Rion.
__ADS_1
"Sabar, banyak berdoa ya." kata Arleta. Sementara Restandi menatap kru tadi.
"Rion, itu siapa?" tanya Restandi menunjuk sang kru.
"Dia salah satu kru di tempat syuting, dia yang antar kami ke sini kak." jawab Rion. Restandi menghampiri kru tadi.
"Saya Restandi Gutama, kakak dari Rion. Terima kasih sudah membantu adik saya." kata Restandi pada kru itu. Dia menatap Restandi dengan kagum. Kakak dari Rion ternyata tampan dan berwibawa. Dia baru pernah melihat Restandi Gutama yang banyak di bicarakan orang.
"Sama-sama pak, mbak Trisia pernah membantu ibu saya ketika dia sakit. Mbak Trisia yang membiayai pengobatan ibu saya. Wajar kalau saya membalas apa yang mbak Trisia lakukan." kata kru itu.
"Nama kamu siapa?" tanya Restandi dengan penuh minat.
"Saya Danu pak." jawabnya cepat.
"Baiklah Danu, kamu duduk dulu sekali lagi terima kasih." kata Restandi. Danu pun duduk. Armando menarik Restandi agak menjauh.
"Apa yang akan kau lakukan?" tanya Armando, dia marah mendengar cerita Danu.
"Belum tau. Kita lihat saja dulu apa yang akan Rion lakukan. Dia yang berhak memutuskan. Lagi pula kita harus menunggu kepastian keadaan Trisia." jawab Restandi. Dia percaya Rion dapat mengatasinya.
"Baiklah kalau begitu." kata Armando, dia duduk di sebelah Danu dan bertanya tentang Sheni. Danu pun bercerita siapa Sheni dan gosip yang beredar, tidak lupa apa yang Sheni kerap lakukan di lokasi syuting terhadap Rion. Armando menjadi jelas dengan keterangan itu. Danu tau Armando mantan suami Trisia, maka dia menaruh hormat. Dia melihat Armando tetap perhatian pada Trisia. Restandi melihat pakaian Rion yang terkena darah Trisia. Dia pun melangkah menjauh dan menghubungi Jono. Restandi meminta Jono membawakan baju bersih untuk Rion dan berpesan untuk tidak mengatakan apa pun pada Nikolas dan Sofi. Khawatir mereka akan terkejut. Restandi ingin memastikan keadaan Trisia dulu sebelum memberi kabar pada orangtuanya. Tidak lama Jono datang membawa baju bersih Rion, juga air mineral yang di pesan Restandi.
"Rion, ganti dulu bajumu. Kau tidak bisa melihat Trisia dengan bajumu yang begitu." Restandi membujuk Rion walau tau adiknya sedang gelisah dan bingung. Dengan enggan Rion mengganti bajunya di antar Jono. Jujur Restandi tidak tahan melihat baju Rion seperti itu. Tampak seperti Rion yang terluka. Setelah mengganti bajunya Rion duduk kembali dengan lesu. Tapi dia sudah tidak panik lagi. Restandi memberikan satu botol air mineral pada adiknya. Rion baru sadar ternyata dia haus sekali. Restandi menatap jam di tangannya, dia perkirakan operasi akan berjalan lama. Sehun datang kemudian.
__ADS_1
"Belum selesai operasinya?" Dia menepuk bahu Rion dengan simpatik.
"Belum. Aku pikir juga akan lama." jawab Restandi.
"Ayo kita masuk." ajak Sehun pada Restandi. Mereka berdua penasaran. Mereka masuk hanya memantau jalannya operasi dari ruang khusus. Dokter Lukman Aria memang dokter yang handal. Restandi tidak khawatir. Operasi tampaknya sudah hampir selesai, bayi Trisia terpaksa di keluarkan dan di masukan dalam inkubator. Melihat hal itu, Sehun dan Restandi pun keluar.
"Kau ingin memindahkannya?" tanya Sehun pada Restandi.
"Aku rasa tidak perlu. Di sini pun baik." kata Restandi. Keluarnya mereka menjadi pertanyaan banyak pihak.
"Tapi mungkin kita harus bicara pada ayahmu. Aku ingin ayahmu tetap menangani Trisia." Restandi teringat pada dokter Lukman Aria.
"Jangan khawatir ayahku dokter yang bertanggung jawab." Sehun meyakinkan Restandi.
"Kak bagaimana Trisia?" tanya Rion cemas.
"Sebentar, dokter Lukman akan memberitahumu. jangan cemas." Restandi menenangkan adiknya.
"Aku siapkan kamar dulu." baru Sehun berkata demikian dokter Lukman Aria keluar. Rion langsung menghampirinya.
"Bagaimana istriku dok?" tanya Rion ingin tau.
"Ibu dan bayinya selamat. Bayi harus di keluarkan, untung saja organ tubuhnya sudah matang semua. Karena dia belum waktunya di lahirkan. Untuk sementara bayi harus di taruh di inkubator. Anakmu cantik, Trisia mungkin belum sadar, sedang pemulihan."
__ADS_1