Merebut Cintamu

Merebut Cintamu
36. Avery Cody


__ADS_3

Nadin tidak cerewet pikir Kevin. Lebih mudah mengajak Nadin pergi di banding gadis lain yang kadang bersikap berlebihan padanya. Nadin semula bingung mengapa Kevin kembali mengajaknya pergi. Tapi dari sikap Riana kepadanya Nadin menjadi percaya diri. Kevin memilihnya. Dari semua gadis yang di perkenalkan pada Kevin, pria itu kembali padanya. Itu berarti Kevin memilihnya. Walaupun Kevin tidak pernah mengatakan apa-apa tapi Nadin jadi berpikir sendiri jika dia menempati tempat istimewa di hati Kevin. Padahal Kevin hanya berpura-pura suka pada Nadin. Hubungan mereka tidak ada kemajuan. Hanya sekali-kali keluar dan tidak pernah ada pembicaraan yang berarti. Kevin sibuk dengan dunianya sendiri. Nadin berusaha bersabar, mungkin Kevin akan berubah dan mencintai dirinya. Setiap kali di bahas tentang pertunangan Kevin selalu menolak. Dia beralasan hubungannya dengan Nadin belum lama, dia ingin memantapkan hatinya dulu. Bagi Kevin yang penting dia tidak akan di desak lagi untuk mencari pengganti Arleta.


Dr. Alrika Novarina sudah ada di hadapan Arleta saat ini. Dia datang ke klinik untuk bertemu Arleta yang terkejut dengan kemunculannya.


"Ada apa kamu ke sini?" tanya Arleta sambil mengisyaratkan Rika untuk duduk sambil tersenyum.


"Sorry, aku mungkin mengganggu. Tapi aku rasa lebih aman kalau kita bicara di sini. Di rumah sakit tunanganmu pasti akan menghampiri aku karena curiga". kata Rika yang merasa puas sudah membuat Arleta terkejut.


"Ok kalau itu maumu. Lalu apa yang mau kamu bicarakan?" Arleta bertanya ramah.


"Kamu mau menikah kan? Aku akan pergi karena tidak tahan melihatnya". Rika memperlihatkan wajah sedih.


"Jangan drama deh". Arleta tidak percaya Rika sesedih itu. Rika akhirnya bersikap serius.


"Arleta jujur sebenarnya aku sedih. Pria yang aku cintai sejak lama menikah dengan wanita lain. Tapi aku bisa menerima itu karena tau pasangannya adalah kamu. Tapi tetap saja aku sedih. Aku akan pindah, ada temanku yang ingin membantuku dan mendapat pekerjaan baru. Aku di kontrak untuk satu tahun membantunya di Australia. Tapi alasanku bukan hanya itu. Aku ingin menghilang dari keluargaku. Aku sudah lelah dengan mereka. Pindah rumah tetap saja mereka bisa menemukanku. Kali ini aku pergi diam-diam. Aku hanya bilang sama kamu. Aku sudah berhenti dari rumah sakit". Rika tersenyum kecil menutup penjelasannya.

__ADS_1


"Australia? Kamu ga main-main. Jadi kamu minggat. Kamu memangnya bisa berhenti begitu saja?" Arleta seperti tidak percaya.


"Aku bisa berhenti kapanpun aku mau. Tidak masalah. Keluargaku berpikir jika aku masih bekerja di sana saat ini". Rika membayangkan reaksi keluarganya nanti ketika tau dia sudah menghilang.


"Kamu bukannya tidak punya teman? bisa jauh begitu pula". Arleta curiga.


"Ya aku juga tidak menyangka dia menawari aku. Dia teman kuliahku dulu. Aku tidak sengaja mendapat email-nya dan mengontak dia. Aku seperti di beri jalan". Rika paham kecurigaan Arleta, dia pun merasa tidak percaya.


"Kapan kamu berangkat? " Arleta bersimpati pada Rika mungkin ini keberuntungan bagi gadis itu.


"Ya sudah, tapi kita tetap kontak ya ". Arleta sedikit mengancam, dia sungguh ingin tau kehidupan gadis itu di sana.


"Pasti, kamu kan sudah jadi temanku". Mereka berbincang untuk beberapa waktu sebelum akhirnya Rika pamit. Untuk terakhir kalinya Arleta melihat sosok Rika.


Lordy Vin kembali mengintai di depan kantor Armando. Selama beberapa waktu dia harus membantu temannya mendapatkan uang. Dia tidak tau apa yang telah terjadi pada Melani, maka dia berharap bisa mengetahui dimana Melani tinggal. Lordy sudah beberapa waktu menunggu , ketika dilihatnya sebuah mobil memasuki halaman. Tapi wanita yang keluar dari dalam mobil bukan Melani. Wanita itu berambut pirang panjang sebahu. Lordy tau siapa wanita itu. Timbul banyak pertanyaan di kepalanya. Lordy memutuskan menunggu untuk mengetahui apa yang akan terjadi. Wanita itu memasuki kantor Armando. Kebetulan Armando saat ini ada di ruangannya. Arsen pun mempersilahkan wanita itu memasuki ruang kerja Armando. Wanita cantik berambut pirang itu pun memperkenalkan dirinya.

__ADS_1


"Halo, aku Avery Cody. Aku datang untuk mencari adikku. Aku rasa kau tau di mana dia berada". Wanita itu berkata santai pada Armando. Dia duduk dengan menyilangkan kakinya. Kemeja, celana jins dan sepatu both coklatnya tampak mahal. Gayanya pun anggun. Armando berkesimpulan wanita ini bukan orang sembarangan.


"Memangnya siapa adikmu dan kenapa kau yakin aku tau tentang dia?" tanya Armando sambil menatap lekat tamunya. Cantik dan berkelas, pikirnya.


"Dia kan bekerja untukmu". Avery menunjuk pada gambar Melani. Armando terkejut, begitu juga Arsen yang sejak tadi hanya diam dan mengamati.


"Melani? Dia adikmu?" tanya Armando, walau terkejut dia berupaya tenang di depan Avery.


"Melani Cody. Kau tidak tau nama keluarganya? mungkin dia menyembunyikannya. Kami dua bersaudara, putri dari Zakhary Cody. Mungkin kau tau perusahaan ayahku Cody Co. Melani melarikan diri setahun yang lalu. Saat ini ayahku mencarinya. Aku lihat dia jadi model iklanmu". kata Avery dengan sedikit angkuh. Armando mengetahui perusahaan yang di sebut Avery. Di Amerika perusahaan itu cukup ternama. Tapi Armando tidak percaya begitu saja.


"Bagaimana aku tau bahwa kau benar putri dari Tuan Zakhary Cody?" Avery langsung tersenyum sinis.


"Mudah untuk mengetahuinya. Aku rasa aku tidak perlu mengajarimu". sikap sombong Avery menggambarkan putri seorang konglomerat.


"Melani sedang cuti saat ini. Aku tidak tau dia berlibur kemana. Itu haknya". Armando betkeras. Dia harus memeriksa kebenaran kata-kata gadis sombong di hadapannya.

__ADS_1


"Baiklah aku ingin kau memberi kabar padaku. Aku sungguh mencarinya. Ini nomer ponselku. Tolong kau hubungi aku. Terima kasih". Avery memberi kartu namanya, lalu berbalik pergi tanpa menoleh. Armando menghela napas kesal, di bacanya kartu nama gadis itu. Avery masih muda, tidak berbeda jauh dengan Melani. Tapi jabatannya di perusahaan ayahnya cukup bagus. Armando tidak membuang waktu. Di carinya keterangan tentang Zakhary Cody. Lalu tampaklah foto keluarga dengan Avery dan Melani di dalamnya. Armando terus mencari keterangan sebanyak mungkin. Avery Cody lebih tua dua tahun dari Melani. Dia cerdas dan sangat berbakat. Putri yang sangat di banggakan ayahnya. Itu sebabnya jabatannya sangat bagus di perusahaan ayahnya. Sedangkan Melani gadis biasa yang tidak tertarik bisnis.


__ADS_2