
"Restandi sendiri bagaimana? Suamimu sepertinya tidak ada masalah ya. Terus mencetak uang." Revita melirik Restandi, suami tampan Arleta itu tampak sedang mengobrol santai dengan Arlan.
"Orang hanya melihat dari luarnya saja. Restandi sudah salah bergaul dengan Sehun yang ambisinya selangit. Dia banyak tekanan dan kerjaannya segudang. Tapi kalau sudah penat dan pusing aku yang jadi sasarannya. Alrest dan Alrista ini hasil dari kepusingannya selama ini." Arleta mengutarakan rahasia suaminya.
"Tau deh tau." kata Revita sambil mengangguk dan tertawa kecil.
"Sayangnya Arlan tidak begitu. Kami melakukan karena dia butuh. Kalau pusing ya dia pusing sendiri. Apalagi dengan kehamilanku ini, dia takut bayi kami terganggu." kata Revita lagi dengan sendu.
"Kalau begitu kamu yang aktif Vita, ajak dia main kalau kamu siap. Atau bantu dia supaya rileks dan tidak pusing lagi. Caranya ya terserah padamu. Dulu kan kamu bisa merayu dia waktu masih pacaran." Arleta tau Revita manja.
"Benar ya, dulu aku suka merayu Arlan kalau dia kesal atau marah. Kenapa sekarang jadi berubah ya? Mungkin karena sudah menikah aku jadi merasa kami harus saling mengerti. Nanti aku coba." Revita jadi bersemangat.
"Bagaimana dengan tawaranku?" Di sudut yang satu Restandi bertanya pada Arlan.
"Aku sudah coba bicara pada bosku. Dia bilang paling cepat bulan depan aku bisa benar-benar meninggalkan kantornya. Dia berjanji menaikan hajiku sedikit bila aku berubah pikiran. Tapi itu pun sepertinya anaknya tidak setuju." jelas Arlan bimbang.
"Anak muda sekarang tidak menghargai pengalaman orang lain yang lebih tua. Mereka pikir mereka sudah hebat dengan ilmu yang mereka punya. Kalau soal gaji, gajimu dan gaji Revita di gabung aku rasa masih pantas kau dapatkan. Bila kau membantuku." Mengembalikan posisi keuangan Arlan salah satu bujukan Restandi.
"Gaji kami berdua jadi penghasilanku di sana?" tanya Arlan tertarik.
"Untuk tiga bulan pertama. Kalau kinerjaku baik bisa naik. Aku punya penghargaan sendiri pada orang yang aku pilih." Restandi memilih Arlan bukan tanpa dasar. Dia tau kinerja Arlan. Bukan sekedar teman. Restandi merasa sayang orang berkompeten seperti Arlan tidak di hargai dengan tepat.
__ADS_1
"Sepertinya aku akan ikut rapat besok." kata Arlan sambil tersenyum. Dia melirik Revita yang tersenyum pada Arleta. Arlan berjanji untuk membahagiakan Revita.
Pagi itu sebuah stasiun TV ramai dengan beberapa mobil mewah yang memasuki halaman. Ternyata bukan hanya mobilnya yang bagus, pengendaranya juga para pria tampan. Terjadi kehebohan di sana. Para staf jadi bergunjing sambil memperhatikan para pria tampan yang masuk. Restandi berjalan bersama Arlan, Sehun dengan Ardi dan Rion sendiri paling belakang. Para staf mengenali Rion. Mantan aktor terkenal yang beralih menjadi pengusaha. Kalau seperti itu tiap hari mereka akan jadi semangat bekerja. Kelima pria itu masuk ke ruang rapat yang telah di siapkan. Tiga pria memperkenalkan dirinya sebagai pemilik baru stasiun TV, lalu sang direktur utama dan direktur khusus yang akan membantu hingga stasiun TV sehat kembali. Rapat cukup lama karena mengenalkan para petinggi di stasiun TV dan program kerja yang mereka miliki. Setelah itu mereka di pandu untuk berkeliling stasiun TV agar mengetahui fungsi ruangan yang ada. Mereka sempat melihat beberapa yang sedang syuting. Setelah berkeliling Sehun dan Ardi meninggalkan stasiun TV. Tinggal Restandi, Rion dan Arlan yang meneruskan bekerja. Karena stadiun TV tanggung jawab mereka. Ternyata banyak pekerjaan yang harus dibereskan. Sang mantan direktur rupanya tidak benar-benar bekerja dulu. Restandi dengar direktur itu hanya sibuk bermain-main dengan artis. Rion pun muak melihat banyak program acara bagus tapi tidak di jalankan. Rupanya hanya membuat acara bagi para artis selingkuhannya saja. Jika dia meninggalkan artis itu acaranya akan di hentikan.
"Sungguh ini seperti permainan saja buatnya." gerutu Rion kesal.
"Tidak mempertimbangkan biaya yang tidak sedikit." Arlan menambahkan. Para manager jadi tidak enak mendengarnya. Mereka malu walau bukan mereka yang di salahkan.
"Itu sebabnya stasiun TV ini morat-marit. Maka kita perlu menaikan mutu pekerjaan kita. Tunjukan kalau kalian bisa bekerja. Buat program bagus dan naikan rating." kata Restandi pada para karyawannya.
"Saya tidak akan melihat status seseorang di sini. Kalau tidak bisa kerja out!" tambahnya lagi dengan tegas. Mereka di huru waktu untuk menstabilkan stasiun TV itu.
"Kak, ada program yang bagus. Tapi aku tidak tau apakah biayanya sesuai. Kakak bisa tolong hitung." kata Rion pada Restandi. Dia tidak tau detil keuangan stasiun TV.
"Rion, program ini boleh di dahulukan." Restandi menyerahkan satu berkas.
"Ok kak, nanti aku pelajari." Rion mengambilnya dan menyimpannya.
"O ya, adakan juga program acara kesehatan." kata Restandi lagi.
"Cih mentang-mentang dokter." komentar Rion membuat para staf tersenyum.
__ADS_1
"Aku rasa tidak ada salahnya. Jika programnya acaranya bagus banyak yang akan tertarik." Arlan membela Restandi. Dia srndiri suka acara kesehatan di TV. Rion mencatatnya dalam agenda.
"Tidak sekalian program acara kecantikan?" goda Rion pada Restandi.
"Boleh juga. Yang tampil Trisia. Apalagi istrimu punya produk kecantikan." Arlan yang menyambut. Restandi tertawa.
"Betul, boleh di coba. Lihat minat penonton bagaimana." Restandi menantang Rion. Kamu jual aku beli.
"Kenapa bukan Arleta saja? Dia cantik dan pintar, tidak kalah dengan artis. Selain itu Arleta juga punya klinik kecantikan." Rion pantang menyerah.
"Istri aku cukup buat aku saja. Tidak ada acara tampil di TV." kata Restandi tegas. Lagi pula dia yakin Arleta tidak tertarik. Para staf jadi penasaran, bagaimana rupa istri dokter Restandi Gutama.
"Aku rasa cukup di sini dulu. Kepalaku mau pecah rasanya. Aku akan ke rumah sakit." kata Restandi akhirnya.
"Belum apa-apa sudah merindukan rumah sakit. Kakak pergi saja dulu. Biar aku dan Arlan yang teruskan." Rion maklum kesibukan Restandi.
"Kalau ada yang mendesak bawa saja ke rumah Rion. Nanti aku pelajari. Selamat siang semuanya, saya pamit dulu." Rion mengangguk mendengar perkataan Restandi. Setelah itu Restandi segera berlalu, ada rapat di rumah sakit yang menunggunya.
"Dia saja yang sudah pengalaman mau pecah kepalanya. Bagaimana kita?" kata Arlan bercanda. Rion tersenyum.
"Oleh sebab itu di butuhkan kerja sama yang baik agar kita bisa mencapai target. Semoga kita bisa bekerja dengan v
__ADS_1
baik dan kami harapkan upaya maksimal yang bisa kalian berikan " kata Rion pada para staf.