Merebut Cintamu

Merebut Cintamu
149. Pulang


__ADS_3

Restandi mengatakan infus Arleta tidak perlu di ganti, di lepas saja. Arleta senang, sekarang tangannya bebas. Rion pun datang membawa martabak yang Arleta mau.


"Kamu pulang sana, kasihan Trisia urusin anakmu sendirian." kata Restandi pada Rion.


"Yang penting sudah memenuhi keinginan ibu hamil." kata Rion. Dia senang Arleta sudah sadar. Rion pun pulang. Arleta membersihkan tangannya, lalu sibuk dengan martabaknya. Restandi memindahkan Alrest ke tempat tidur miliknya. Biar Arleta bisa tidur dengan leluasa nantinya. Ternyata Arleta hanya bisa makan beberapa potong. Restandi membantu Arleta membersihkan tangannya. Sisa martabak dia berikan pada Jono di luar. Jono membaginya dengan penjaga di luar.


"Sudah sekarang tidur." kata Restandi, dia pun merebahkan diri di sebelah Alrest. Arleta melihatnya dengan cemberut. Dia juga mau tidur bersama Alrest.


"Tidur, nanti aku yang pindah ke sana dan tiduri kamu." ancam Restandi. Ih seram ancamannya. Arleta pun cepat-cepat memejamkan mata. Besok paginya keluarga Gutama datang. Rion sudah memberi tau jika Arleta sudah sadar. Armando yang pagi itu datang terkejut dan memeluk adiknya sayang.


"Kamu jalan-jalan tidak ajak kakak." kata Armando menggoda Arleta. Adiknya hanya tersenyum. Arleta terharu banyak yang khawatir padanya. Dokter pun datang.


"Saya sudah dapat laporan, Arleta sudah sadar pukul sepuluh tadi malam. Mengapa tidak mengabari saya?" tanya Arman Zaki.


"Tidak sopan mengganggu orang tua malam-malam. Lagi pula Arleta sudah bisa menjaili adik saya dengan minta martabak tadi malam. Artinya Arleta baik-baik saja kan." kata Restandi santai. Arman Zaki tertawa.


"Kelihatannya begitu. Jadi kita tidak perlu khawatir lagi." Arman Zaki memeriksa Arleta.


"Kapan Arleta bisa pulang dok?" tanya Restandi ingin tau.


"Kalau saya sih besok sudah bisa pulang. Tapi coba dengar pendapat dokter Lukman Aria." jawab Arman Zaki.

__ADS_1


"Saya minta Arleta di periksa secara keseluruhan sebelum pulang dok." Restandi ingin memastikan Arleta benar-benar sehat.


"Itu bisa di jadwalkan." Arman Zaki pun pamit. Restandi mengajak Armando bicara di luar.


"Tolong beri tau Kevin Arleta sudah sadar. Masalah tentang kecelakaannya Arleta tidak perlu tau dulu. Aku hanya bilang mobilnya di tabrak. Aku harap pihak kepolisian nanti tidak membocorkannya pada Arleta. Dia baru sadar, aku tidak mau dia risau karena dia sedang mengandung." kata Restandi pada Armando.


"Baiklah, nanti aku atur. Bawa saja Arleta pulang. Biar dia di rumah selama beberapa waktu. Kalau bisa sampai semua terungkap. Kita tidak tau musuh kita siapa. Aku yakin pria itu hanya orang suruhan." jawab Armando. Restandi setuju. Apalagi keinginan Restandi di dukung oleh Lukman Aria.


"Walau kandungannya baik-baik saja, tapi saya sarankan banyak istirahat. Jangan dulu melakukan kegiatan yang membuat lelah." kata Lukman Aria. Alasan itu yang di gunakan Restandi untuk mengurung Arleta di rumah.


Sementara itu Armando juga mengurung Avery di rumah. Alasannya karena Avery sedang kurang sehat. Tapi menurut dugaan Armando Avery hamil. Dan itu di buktikan dengan hasil pemeriksaan dokter. Avery hamil dua bulan. Armando pun melarang Avery keluar rumah. Karena usia kandungan yang masih rentan. Avery menurut karena dia sering pusing dan mual. Selain itu Armando juga sedang mengejar si penabrak Arleta. Nama si penabrak adalah Rando. Dia itu tengah bersembunyi, tapi Armando melacaknya lewat aliran dananya. Bekerja dengan kepolisian mereka mengetahui Rando mendapat kiriman uang agar dia tetap aman bersembunyi. Armando sudah merasa orang yang menyuruh Rando pasti takut pria itu tertangkap. Maka pasti dia tidak segan mengeluarkan uang untuk Rando. Dengan Rando mengambil uang mereka tau dia ada di wilayah mana. Rando lari ke Surabaya. Weny sudah bersiap-siap untuk pindah ke luar negeri bersama Raul. Sampai tiba-tiba Raul di tangkap. Ternyata polisi bisa menangkap Rando. Dari pria itu di ketahui jika Raul yang telah membayarnya. Tapi Raul tutup mulut. Tidak menyebut nama Weny sedikit pun. Armando sudah curiga pada Weny, karena gadis itu sering menjenguk Raul. Apa lagi Armando mendengar Weny menyukai Restandi. Raul sudah bertekat untuk menanggung semuanya.


"Tidak Raul, aku akan terus datang melihatmu." Weny menangis.


"Sayang dengar aku, tidak apa-apa untuk sementara aku begini. Nanti setelah aku keluar kita akan pergi bersama." Raul membujuk Weny. Padahal dia sendiri tidak tau nasibnya bagaimana.


"Aku akan menyewa pengacara agar kamu bisa bebas." kata Weny penuh tekat.


"Ok sayang tapi kamu tidak perlu datang." Raul ingin menjauhkan Weny dari kesulitan. Selama ini Weny sudah memperhatikannya. Hutang budinya pada Weny sangat besar. Sedang Weny tidak rela teman satu-satunya di penjara. Selama persidangan sampai selesai tidak keluar nama Weny dari mulut Raul. Hanya Raul yang di jatuhi hukuman penjara. Karena pengacara yang di sewa Weny, hukuman Raul tidak terlalu berat. Apalagi Arleta baik-baik saja. Raul pun menikmati hari-harinya di penjara. Weny datang menengoknya dengan membawa makanan yang Raul suka. Weny sudah mengatur selepasnya Raul dari penjara mereka akan pindah ke luar negeri. Weny tidak mau lagi di jodohkan oleh papanya. Dia akan menata hidupnya setelah Raul bebas. Dia sosok yang setia walau tanpa cinta.


Monika tampak murung. Sehun semakin sibuk karena mal sudah di buka.

__ADS_1


"Kamu kenapa sayang?" tanya Sehun pada istrinya yang sudah beberapa hari murung. Di atas kesibukannya Sehun tau istrinya tengah memikirkan sesuatu.


"Tidak ada apa-apa ko." jawab Monika lesu.


"Tapi aku tau apa yang kamu pikirkan. Ikut aku ya." Sehun menggandeng Monika memasuki mobil. Monika bingung walau menurut.


"Kamu ikut saja ya sayang, tidak boleh tanya hingga kita sampai tujuan." kata Sehun tegas. Monika pun tidak bertanya walaupun hatinya sibuk menebak-nebak. Mereka tiba di satu bangunan yang rapih, seperti sebuah rumah.


"Ayo turun." kata Sehun, dia menuntun Monika masuk. Mereka di sambut seorang wanita paruh baya.


"Selamat siang, ini Monika ya?" tanya ibu itu pada Monika.


"Ibu tau nama saya?" tanya Monika bingung, dia belum pernah bertemu wanita ini.


"Saya tau dari nak Sehun. Katanya istrinya cantik ternyata benar." puji ibu itu. Monika tersipu.


"Ini ibu Farida, dia akan bantu kamu di sini." Sehun menjelaskan.


"Maksudnya?" Monika semakin bingung.


"Sayang, kamu minta anak kan. Kamu minta satu aku kasih kamu sepuluh. Di sini ada sepuluh anak yang tidak punya orangtua. Mereka tinggal di sini. Panti asuhan milikmu. Kamu yang harus merawat mereka hingga dewasa."

__ADS_1


__ADS_2