Merebut Cintamu

Merebut Cintamu
70. Kecewa


__ADS_3

"Kita pulang ke rumah Arsen, setelah itu kamu kembali ke kantor." kata Armando dingin. Raut wajahnya langsung berubah. Walaupun Armando tidak berkata apa pun, tapi Trisia tau Armando marah. Dia sudah di peringatkan tentang Rion oleh Armando. Trisia tau Armando tidak mau ada skandal tentang dirinya bukan karena nama keluarga saja. Tapi juga demi karirnya sendiri. Armando sudah pernah membahasnya dengan Trisia pada awal pernikahan dulu. Dia bisa menafkahi Trisia tanpa Trisia harus bekerja. Setelah pernikahan berakhir Trisia boleh berkarir lagi. Tapi Trisia menyia-nyiakan waktunya. Armando tau Trisia meniti karirnya dengan tidak mudah. Maka jika ada skandal itu sama saja Trisia tidak menghargai usahanya sendiri dalam karirnya. Lebih baik berhenti. Jika dia berhenti namanya masih bagus walau dia harus mulai dari awal lagi. Tapi jika ada skandal, memulai dari awal pun belum tentu hasilnya baik. Waktu itu Armando memberi pilihan pada Trisia. Saat itu Trisia memilih untuk terus bekerja. Trisia tidak dapat membayangkan jika dia berhenti bekerja lalu Armando meninggalkannya, maka dia bukan siapa-siapa. Trisia akan berhenti berkarir jika Armando betul-betul jadi miliknya. Lagi pula dia butuh pengalihan dari rasa kecewanya. Trisia melirik Armando. Wajah Armando masih terlihat marah. Trisia melihat selama ini Armando banyak menahan kemarahannya di depan publik demi dirinya. Armando tidak perduli opini publik tentang dirinya sendiri, karena dia tidak macam-macam. Tapi untuk Trisia Armando kasihan. Itu salah satu sebab Trisia tidak mau melepaskan Armando. Benar apa yang di pikirkan Armando. Bila dia bersikap baik pada Trisia gadis itu akan semakin sulit melepaskannya. Mobil tiba di rumah. Sekali lagi Armando menggendong Trisia ke kamarnya. Arsen sudah menghubungi dokter sebelum kembali ke kantor.


"Trisia kau sudah makan?" tanya Armando masih dengan nada dingin. Dia menahan marahnya karena gadis itu sedang sakit. Trisia mengangguk. Dia tidak mau dekat-dekat Armando jika pria itu sedang marah. Dokter pun datang dan memeriksa Trisia. Dia memberikan obat dan tanpa ragu Trisia meminumnya. Tidak lama dia pun tertidur. Ketika bangun Trisia melihat Armando tengah duduk di tempat tidurnya, sibuk dengan laptopnya. Armando tengah menunggui Trisia sambil bekerja. Karena kepergiannya menengok Melani pekerjaannya menumpuk. Trisia menatapnya diam-diam. Tapi Armando rupanya merasakan ada yang menatapnya. Dia pun menoleh pada Trisia.


"Kau sudah bangun?" tanya Armando. Sepertinya kemarahannya sudah reda. Armando tidak butuh jawaban. Dia kembali tenggelam dalam kesibukannya. Trisia melamun, andai setiap hari seperti ini pasti dia bahagia. Mereka tidur dalam satu kamar. Dia bisa memandangi Armando dalam keadaan tidur atau bangun. Tapi sepertinya itu tidak akan terjadi jika Armando masih tetap bersama Melani. Armando menghentikan pekerjaannya dan menutup laptopnya. Di rabanya kening Trisia.


"Panasnya sudah turun. Mandilah air hangat setelah itu tidur kembali. Aku akan tidur, aku lelah." kata Armando. Wajahnya memang terlihat lelah. Pria itu bangkit dan meninggalkan kamar Trisia. Kebersamaannya dengan Armando hanya sebentar, Trisia merasa kecewa. Tapi dia mengikuti perkataan Armando. Trisia mandi dengan air hangat. Pada saat menyisir rambutnya dia tersenyum, mengingat hari ini Armando menemaninya di rumah. Trisia keluar dari kamarnya, dilihatnya rumah sepi. Kemana Armando? Trisia melihat ke kamar Armando, ternyata pria itu ada di sana. Benar kata Armando tadi dia ingin tidur. Armando tidur masih dengan kemejanya yang tadi. Tiba-tiba Trisia memiliki ide yang gila dalam pikirannya. Dia pun kembali ke kamarnya. Trisia mencari baju tidurnya yang seksi. Dulu dia berpikir bisa merayu Armando dengan baju tidur seksinya. Tapi ternyata mereka pisah kamar. Trisia mengganti bajunya, mengatur rambutnya agar cantik dan memakai parfum. Dia pun ke kamar Armando. Perlahan dia mendekati Armando yang tidur pulas terlentang. Trisia duduk di tepi tempat tidur. Perlahan di bukanya kancing kemeja Armando hingga terbuka semua, di sibaknya kemeja itu. Di tatapnya tubuh Armando yang bagus. Akhirnya Trisia tidak tahan. Trisia pun menunduk dan mencium bibir Armando. Tangannya mengusap dada Armando merayu. Armando terbangun, dia terdiam untuk berpikir siapa yang melakukan semua itu. Tapi dari parfumnya Armando tau ini bukan Melani, ini Trisia. Armando pun bangun lalu tangannya memegang bahu Trisia dan mendorong gadis itu hingga pagutan bibirnya terlepas.


"Trisia." Armando menatap tajam pada Trisia.

__ADS_1


"Aku istrimu Ar, sentuh aku." kata Trisia memelas. Trisia pun menciumi dada Armando. Sekali lagi Armando mendorongnya.


"Trisia." teguran Armando kali ini lebih keras. Di tatapnya Trisia dengan marah.


"Aku tidak bisa." kata Armando tegas. Trisia pun menangis. Dia ingin menyerahkan dirinya pada pria yang di cintainya, suaminya. Betapa dia menginginkan cumbuan dan belaian dari pria itu. Melihat Trisia menangis Armando menghela napas kesal. Di peluknya gadis itu agar Trisia bisa menumpahkan tangisnya. Armando tau hati gadis itu pasti sakit. Perlahan Armando mendorong Trisia agar gadis itu menatapnya.


"Aku tidak bisa tidur denganmu karena itu berarti aku memanfaatkanmu. Kau lebih tidak bisa melepaskan aku jika aku menyentuhmu. Jangan ulangi lagi atau aku akan membencimu." Trisia menunduk tapi tangisnya mulai berhenti.


"Kau harus menyiapkan hatimu untuk melepaskan aku." kata Armando lagi.

__ADS_1


"Aku belum siap." kata Trisia cepat.


"Kau harus siap karena sebentar lagi Melani akan kembali. Masuklah ke kamarmu dan tidur jika kau masih ingin syuting besok." ancam Armando. Trisia pun bangkit dan berlari ke kamarnya. Dia masuk kedalam selimut dan kepalanya berpikir, jika dia bertahan dan Melani kembali Armando tidak akan pulang ke rumah ini lagi. Armando akan tinggal bersama Melani. Lalu Arsen akan datang membawa surat cerai yang harus dia tanda tangani. Trisia memejamkan mata ingin menghilangkan pikiran buru itu. Di kamarnya Armando bangkit dan melepaskan kemejanya. Dia masuk ke kamar mandi dan melepaskan semua yang ada di tubuhnya. Armando mandi dan menghapus semua jejak Trisia. Tubuh ini milik Melani, pikir Armando. Rasanya dia ingin menyelesaikan semuanya saat ini juga. Perasaan Melani tidak enak, tapi dia tidak tau kenapa. Melani pun memutuskan untuk keluar menikmati udara di luar. Pada saat berjalan, ada yang memanggil-manggil namanya.


"Mel, Mel." Melani menoleh ke arah suara itu. Tampak Kevin tengah berlari menghampirinya.


"Kamu ngapain di sini?" tanya Melani heran.


"Nengokin kamu lah." jawab Kevin santai. Mereka pun mencari cafe dan duduk di sana.

__ADS_1


__ADS_2