Merebut Cintamu

Merebut Cintamu
12.Ada yang suka


__ADS_3

Informasi itu mengejutkan Arleta. Pantas tadi wanita itu meributkan berkas yang harus di berikan pada Restandi.


"Sudah lama dia suka pada Restandi?". tanya Arleta penasaran.


"Dengar-dengar dari masih kuliah mbak". Astaga wanita itu mengejar Restandi sampai ke sini.


"Tanggapan Restandi bagaimana?". Arleta ingin tau bagaimana tunangannya bersikap pada wanita yang suka padanya.


"Cuek, ga pernah di tanggapin, dianggap angin lalu". Monika kembali berbisik lalu tertawa.


"Masak sih?". Arleta masih penasaran akan sikap Restandi.


"Dokter Restandi itu selalu bersikap dingin pada dokter dokter wanita di sini mbak. Begitu juga sama para perawat. Cuma sama mbak Arleta saja saya lihat ramah dan hangat". jelas Monika. Arleta merasa lega. Tidak heran pria setampan Restandi pasti banyak yang suka. Dokter maupun perawat pasti ada saja yang menyimpan harapan. Tapi mendengar penjelasan Monika Arleta jadi tidak khawatir. Jejak peristiwa yang lalu masih jelas dalam ingatan dan perasaannya. Apalagi dia dan Restandi bukan pasangan kekasih. Tapi melihat keseriusan Restandi dan penjelasan Monika Arleta boleh bangga. Hanya dia yang mendapat perhatian Restandi.


"Ayo mbak . Dicari dokter Restandi tuh". Monika mengajak Arleta kembali ke ruangan Restandi. Mereka pun berjalan bersama melewati lorong rumah sakit. Arleta senang hari ini bisa mengenal Monika. Dia jadi dapat info penting seputar keseharian Restandi. Lain waktu Arleta ingin mengobrol lagi dengan Monika.


"Aku boleh minta nomer kamu ga?". tanya Arleta pada Monika. Arleta menyodorkan ponselnya.


"Boleh mbak". Monika berseri-seri wajahnya. Dia langsung mengetikan nomer ponselnya pada ponsel Arleta. Monika suka pada Arleta, gadis itu tidak sombong meskipun menjadi tunangan dokter Restandi.


"Terima kasih ya". Arleta mengambil kembali ponselnya.


"Sama-sama mbak". Monika tersenyum, dia tidak menyangka Arleta sangat ramah. Sudah cantik, ramah sepertinya pengertian dengan profesi tunangannya.


Di ruang kerjanya Restandi sedang duduk di sofa sambil mengecek ponselnya. Jas putihnya sudah di lepaskan. Dia jadi tampak lebih santai. Restandi melihat Arleta yang memasuki ruangannya bersama Monika.


"Kamu dari mana?". Restandi tersenyum lembut.

__ADS_1


"Aku baru saja lihat-lihat". jawab Arleta sambil duduk di sebelah Restandi.


"Kamu ga mau minum?". Restandi menatap Arleta.


"Aku ga haus". Arleta tersenyum. Monika yang melihat interaksi mereka berdua merasa senang. Restandi dokter yang terkenal dingin dan tak acuh ternyata sangat manis pada tunangannya.


"Kita jalan yuk. Aku antar pulang. Pasti lelah tadi ke bandara". Restandi bangkit berdiri dan menggandeng Arleta. Gadis itu ikut berdiri karena tangannya di gandeng Restandi.


"Monika kami pulang dulu. Nanti Norman yang akan menggantikan saya". Restandi berkata pada Monika.


"Kamu ga apa pulang sekarang?". tanya Arleta khawatir mengganggu pekerjaan Restandi.


"Buat apa aku punya asisten kalau mereka hanya duduk diam saja". jawab Restandi sambil menggandeng Arleta keluar. Sekarang gadis itu jadi tau bagaimana Restandi bisa menggunakan waktunya. Ternyata dia memberi kesempatan para asistennya bekerja. Karena Restandi menggandeng tangannya kembali mereka jadi pusat perhatian. Di kejauhan tampak dua dokter pria berjalan menuju mereka. Mereka sedang berdiskusi sambil berjalan. Yang seorang Arleta tau, dia Nikolas Gutama Ayah Restandi. Satunya lagi Arleta tidak tau. Nikolas tampak terkejut melihat Arleta. Mereka berhenti tepat di hadapan dia dan Restandi.


"Arleta kamu di sini. Kenapa tidak bilang?". sapa Nikolas sambil tersenyum.


"Kenapa cepat sekali? kenalkan ini dokter Lukman Aria dan ini Arleta tunangan Restandi, calon menantu saya". kata Nikolas pada pria di sebelahnya. Dokter Lukman sudah sedari tadi menatap Arleta ingin tau.


"Calon menantu? wah cantiknya. Baru saja mau saya kenalkan pada putra saya ternyata sudah diikat Restandi". Dokter Lukman menggoda Arleta. Gadis itu tersenyum malu.


"Bagaimana jika kita makan malam bersama? Rest ajak Arleta ke rumah kita makan malam bersama mama". Nikolas menatap Restandi.


'Biar aku bicarakan dulu dengan Arleta. Mari dokter Lukman kami permisi". Restandi menjawab dingin pada Nikolas tapi tersenyum ramah pada Lukman. Arleta tersenyum pada keduanya dan mengganggukan sedikit kepalanya tanda pamit lalu mengikuti Restandi berlalu fari situ.


"Sepertinya Restandi menyukainya". kata Lukman menilai. Pandangan mereka masih mengikuti pasangan yang sedang berjalan itu.


"Arleta gadis yang baik. Istri saya menyukainya. Ayo cepat, saya harus pulang mau makan sama calon menantu". Nikolas menepuk bahu Lukman.

__ADS_1


"Wah saya jadi iri nih". sahut Lukman. Mereka pun tertawa bersama sambil berlalu. Di mobil Restandi membuka percakapan.


"Arleta kamu ga keberatan makan malam di rumah aku?". tanya Restandi.


"Boleh ga antar aku pulang dulu untuk mandi dan salin baju?". tanya Arleta manis. Restandi menoleh dan mengangguk. Dia pun mengarahkan mobilnya ke rumah Arleta.


"Kamu ga lelah bolak balik antar aku?". tanya Arleta.


"Engga, asal ada imbalannya". jawab Restandi tersenyum menggoda.


"Apa tuh imbalannya?".Arleta mengira-ngira apa yang akan di minta Restandi.


"Terserah". kata Restandi santai.


"Aku pikirkan dulu ya". otak Arleta langsung bekerja memikirkan imbalan apa yang bisa dia berikan pada Restandi. Mereka tidak bicara lagi hingga tiba di rumah Arleta. Rumah itu sepi karena orang tua Arleta belum kembali. Armando, jangan ditanya lagi. Pasti masih sibuk di kantornya.


"Rest kamu tunggu di sini dulu ya, aku mandi dulu" kata Arleta di ruang keluarga.


"Sendirian? ga mau". Restandi menolak. Ruang keluarga itu besar dan sepi.


"Terus kamu maunya apa?". tanya Arleta bingung.


"Ikut ke kamar boleh ga?". Restandi merayu. Arleta menatap Restandi sejenak.


"Ya sudah, tapi ga boleh ikut masuk kamar mandi ya". Arleta memutuskan sambil melangkah menuju kamarnya. Restandi tertawa lepas dan mengikuti Arleta. Kamar Arleta di lantai dua rumah itu, bersebelahan dengan kamar Armando. Tapi Arleta tidak berani meminta Restandi menantinya di kamar Armando. Arleta tidak terbiasa menggunakan kamar orang lain tanpa seijin pemiliknya. Lagi pula Restandi tunangannya. Dia pasti akan menikah dengan pria itu. Selama ini Arleta juga melihat Restandi bukan pria yang kurang ajar. Memasuki kamar Arleta Restandi langsung menilai dengan pandangannya. Rapih. Ini yang Restandi ingin tau. Point Arleta bertambah di buku nilai Restandi. Arleta menaruh tasnya di meja lalu membuka sepatunya.


"Aku mandi dulu ya". Gadis itu memasuki kamar mandi. Restandi mengamati kamar Arleta yang cukup besar. Di teliti ya foto-foto yang ada di kamar itu, tidak ada foto yang dicarinya. Foto Kevin. Tapi sepertinya gadis itu sudah menyingkirkannya. Tidak mungkin Arleta tidak memiliki foto Kevin. Perasaan Restandi menjadi lega.

__ADS_1


__ADS_2