Merebut Cintamu

Merebut Cintamu
109. Rahasia Armando


__ADS_3

"Malam pa, ma." sapa Armando pada orangtuanya. Mereka tampak terkejut Armando tiba-tiba datang membawa anak kecil dan seorang gadis. Armando duduk di sofa dan mengisyaratkan Avery duduk di sebelahnya. Avery pun duduk di iringi tatapan Frans dan Mauren.


"Ini siapa nak?" tanya Frans pada Armando.


"Perkenalkan ini Avery Cody." jawab Armando.


"Saya Avery." gadis itu menyalami orangtua Armando lalu duduk kembali.


"Lalu gadis kecil ini?" tanya Frans lagi.


"Melody itu opa dan Oma. Ini Melody Kamajaya, putriku." jawab Armando tenang. Armando menurunkan Melody, tapi karena tidak mengenal Frans dan Mauren Melody menghampiri Avery.


"Mommy." kata Melody mencari perlindungan.


"Jangan takut nak, ada Daddy di sini." Armando menggendong Melody sayang.


"Apa-apaan ini Armando." Mauren tidak sabar lagi. Dia masih tidak percaya Armando punya anak.


"Sungguh ma dia putriku, aku sudah menikahi ibunya sebelum aku menikahi Trisia. Bahkan Trisia sudah tau dan dia bersedia jadi istri keduaku." jelas Armando yang membuat orangtuanya serasa di hantam badai.


"Jadi ini istrimu?" tanya Frans menunjuk Avery. Mauren juga berkesimpulan yang sama.

__ADS_1


"Bukan pa. Istriku Melani Cody. Ini kakaknya Avery Cody." kata Armando masih tetap menenangkan Melody karena pembicaraan yang cukup keras.


"Melani?" tanya Mauren menegaskan. Dia jadi tau putranya betul-betul mencintai Melani dan tidak bisa melepaskan gadis itu.


"Iya ma Melani, mama tidak suka kan padanya?" tanya Armando tajam pada Mauren.


"Armando walau mama tidak suka tapi kamu sudah bohong pada mama. Sekarang bawa Melani ke sini.' Mauren marah pada putranya.


"Jadi mama mau menerima Melani?" Armando ingin tau dulu pikiran Mauren.


"Tentu saja jika sudah menikah mama mau bilang apa. Harusnya kamu bilang jika sudah menikahi Melani, jadi kamu tidak perlu menikah dengan Trisia." Mauren tidak percaya putranya segila itu.


"Itu karena kami tidak percaya mama akan menerima pernikahan kami." pandangan Armando lebih lembut setelah tau pikiran Mauren.


"Terlambat ma, Melani sudah meninggal dunia karena kecelakaan." Armando pun menceritakan semua yang di alaminya, dari ketika dia mencari Melani hingga kehilangan istrinya. Avery sudah berurai air mata mendengar adiknya di bicarakan. Frans dan Mauren terpaku mendengar apa yang di alami putranya. Jadi itu yang membuat Armando menjauh dari mereka.


"Kasihan cucu Oma, gara-gara Oma kamu kehilangan mama kamu." Mauren memeluk dan mencium Melody.


"Jadi ini cucu pertamaku, putra Leta cucu keduaku." kata Frans sambil tersenyum menatap Melody.


"Jadi selama ini Melody di mana?" tanya Mauren pada Armando.

__ADS_1


"Selama ini Avery yang merawat Melody di Amerika. Di rumah keluarganya." jelas Armando. Mauren menghampiri Avery dan memeluk gadis itu.


"Kamu pasti kehilangan adikmu. Terima kasih sudah merawat cucuku. Apa yang bisa Tante lakukan untukmu?" kata Mauren sambil meneteskan air mata.


"Tante menerima dan sayang pada Melody itu sudah cukup buat saya." Avery ingin mengatakan bahwa yang paling kehilangan adalah Armando. Tapi mungkin lain kali, jika ada kesempatan.


"Tentu saja, dia cucu kami." kata Frans , dia menatap sayang pada Melody.


"Melody tinggal di sini ya sayang, main sama opa dan Oma." Frans mencium pipi Melody.


"Maaf pa, ma Melody akan ikut aku ke apartemen." kata Armando tegas. Itu hukuman untuk Mauren, karena pernah menolak Melani. Lagi pula Armando sayang pada putrinya, dia tidak mau Melody hidup di bawah didikan Mauren. Walau di bujuk Armando tetap memboyong Avery dan Melody ke apartemennya.


"Cih, kamu begitu sayang pada anak-anakmu tapi bisa di bohongi." Frans meledek istrinya. Mauren kesal dia memalingkan wajahnya dari Frans. Melihat itu Frans memeluk istrinya sayang. Walau bagaimana Mauren istri yang baik, tidak pernah mau merepotkannya. Armando dan Avery tiba di apartemen. Untuk pertama kalinya Avery melihat apartemen itu, dimana Melani tinggal. Avery pernah menjemput Melani, tapi dia tidak pernah masuk ke dalam. Armando menempatkan Avery di kamar kosong yang ada di sebelah kamarnya. Karena dulu dia dan Melani tidur di satu kamar. Avery berkeras Melody tidur bersamanya. Armando mengalah. Toh nanti dia akan banyak menghabiskan waktu bersama putrinya. Karena sudah malam dan Melody sudah lelah, Avery pun menidurkan Melody di kamar. Armando sibuk di kamarnya, dia mandi lalu memeriksa laporan yang Arsen kirimkan. Setelah itu dia mulai bekerja karena belum mengantuk. Tapi memang keseharian Armando di apartemen seperti itu. Menghabiskan waktunya untuk bekerja. Avery setelah menidurkan Melody, dia pun mandi. Setelah itu dia membereskan bajunya, karena mengantuk Avery pun merebahkan dirinya di sebelah Melody dan terlelap. Besok paginya Avery terbangun dan melihat Melody juga sudah bangun. Melody pasti lapar. Avery membuatkannya susu dan memberikannya pada Melody. Bayi itu memegang sendiri botol susunya dan menikmatinya. Avery pun mandi, dia juga lapar. Melody sudah menghabiskan susunya ketika Avery sudah selesai. Avery pun memandikan Melody. Setelah itu Avery melihat di dapur apa yang bisa di makan. Avery meletakan Melody di sofa lebar dan meletakan bantal agar tidak jatuh. Melody pun sibuk dengan bonekanya. Avery melihat di dapur ternyata banyak bahan makanan yang di sukai adiknya. Duda satu ini sudah terpengaruh pada pola makan istrinya. Atau mungkin karena Armando merindukan Melani. Tapi Avery merasa itu bukan hal yang aneh. Dia lalu memutuskan untuk membuat sarapan untuk mereka berdua. Armando keluar kamar sudah rapih dengan setelannya. Dia langsung menggendong Melody.


"Cantik Daddy sudah minum susu?" Armando mencium pipi Melody. Di tatapnya putri kecilnya yang tertawa.


"Ar sarapan dulu." Avery memanggil sambil meletakan dua piring sarapan di meja makan. Armando menghampiri sambil menggendong Melody. Mereka sarapan dengan Armando yang memangku Melody. Dia tidak tega melihat putrinya bermain sendiri.


"Terima kasih kau sudah membuatkan sarapan." Armando memulai hari dengan manis. Apa yang di makannya sering di buat oleh Melani, tapi yang ini rasanya lebih enak. Melani tidak pandai memasak. Avery hanya tersenyum.


"Aku akan ke kantor sebentar untuk menandatangani beberapa berkas. Kalian ikut denganku ya. Kita akan makan siang bersama dan membawa Melody bermain." kata Armando pada Avery. Terkurung di apartemen bukan ide yang bagus.

__ADS_1


"Aku akan bersiap kalau begitu." Avery pun membereskan piring bekas sarapan mereka, lalu masuk ke kamarnya. Dia menyiapkan perlengkapan Melody untuk di bawa. Avery menukar bajunya dengan yang lebih rapih karena mereka ke kantor Armando.


__ADS_2