Merebut Cintamu

Merebut Cintamu
78. Penghormatan Terakhir


__ADS_3

Armando takut pada kenyataan istrinya tidak akan bangun lagi.


"Kamu kan janji untuk hati-hati Mel, kenapa kamu mengingkarinya?" kata Armando lirih. Saat ini terlihat Melani seperti tidur, walaupun wajahnya pucat. Avery yang sedari tadi diam di dekat pintu menghampirinya.


"Peluk dia Ar, untuk terakhir kalinya. Dia pasti ingin kau melakukan itu." kata Avery sedih. Armando perlahan menarik tubuh Melani dan memeluknya. Walaupun diam tapi air matanya terus turun. Hatinya hancur. Setelah puas memeluk Melani, Armando membaringkannya lagi. Di ciumnya kening, pipi dan bibir Melani. Tangannya mengusap pipi Melani lembut, mata Armando sarat dengan luka.


"Istriku, aku tidak akan melupakanmu. Aku akan terus menyimpanmu dalam hatiku." kata Armando lembut. Avery menangis. Sungguh indah cinta yang di miliki adiknya. Tapi sayang tidak abadi. Dengan cinta yang indah seperti itu seharusnya kau bahagia, kata Avery di dalam hatinya. Tapi mengapa kau justru tidur dalam kematian? Seseorang masuk ke dalam ruangan. Ternyata dokter ketua tim yang menangani Melani tadi.


"Tuan Armando kami turut berduka. Walau kami sudah berupaya tapi kami hanya manusia biasa. Kami menyesal tidak dapat berbuat banyak." kata dokter John dengan menyesal.


"Saya mengerti, kalian sudah berusaha. Terima kadih." kata Armando, matanya tetap menatap Melani.


"Anda sudah melihat putri anda? Dia cantik dan sehat. Kami akan mempersiapkan kepindahan istri anda ke Amerika, sesuai dengan permintaan keluarga." kata dokter John lagi.


"Tolong persiapkan dengan baik." kata Armando pada dokter John. Kali ini dia menatap dokter itu, agar dokter John tau kesungguhannya.Dokter John pun mengangguk hormat. Armando meninggalkan ruangan itu. Dia ingin melihat putrinya. Avery masih mengawasi persiapan pemindahan adiknya. Armando menatap putrinya, bayi itu sedang tidur.


"Putri anda sangat cantik. Dia sudah baik-baik saja. Anda ingin menggendongnya?" tanya perawat yang menjaga ruangan itu. Armando mengangguk. Perawat itu pun mengangkat bayi yang di selimuti itu dan memberikan pada Armando. Untuk pertama kalinya Armando menggendong putrinya.

__ADS_1


"Melody Kamajaya, itu namamu sayang." kata Armando pada putri kecilnya.


"Datanglah pada acara penghormatan terakhir, jika kau ingin melihat Melani terakhir kalinya." kata Armando pada Kevin. Dia lalu memutus kontaknya. Armando mengirimkan alamat rumah duka di mana mereka menempatkan Melani. Kevin yang mendengar itu bingung. Penghormatan terakhir? itu berarti Melani meninggal dunia. Kevin lalu panik. Saat itu juga dia berangkat ke Amerika. Orang kedua yang di hubungi Armando adalan Arleta. Dan itu menjadi perdebatan antara Arleta dan Restandi. Arleta ingin datang tapi Restandi melarang mengingat kehamilan Arleta yang sudah semakin besar. Arleta juga akan melahirkan sebentar lagi. Tapi Arleta berkeras ingin datang. Restandi paham, yang di tuju Arleta bukan Melani. Tapi Arleta ingin memberi dukungan pada Armando. Akhirnya Restandi mengalah. Perdebatan mereka di dengar oleh Rion yang sedang melewati kamar mereka. Rion terkejut, istri Armando meninggal. Rion jadi gelisah. Itu berarti Trisia satu-satunya istri Armando saat ini. Lalu apakah Trisia akan mengubah keputusannya untuk bercerai? Rion segera membawa langkahnya ke tempat syuting. Dia akan segera memastikannya pada Trisia. Ternyata Trisia tidak tau hal tersebut. Armando tidak mengatakan apa-apa bahkan tidak menghubunginya. Satu yang Trisia tau Armando pasti sangat sedih. Trisia pun meminta waktu pada Rion. Dia ingin menyelesaikan urusannya dulu dengan Armando. Yang pasti Trisia harus menunggu Armando pulang. Di Amerika acara penghormatan terakhir bagi Melani di hadiri banyak kolega, relasi dan sanak saudara Zakhary Cody. Kematian putri kedua Zakhary Cody tentu saja menarik perhatian. Melani tampak cantik terbaring di dalam peti yang indah. Dia mengenakan gaun putih yang di gunakan ketika menikah dengan Armando. Avery memesankan bunga tangan yang cantik untuk adiknya. Zakhary memperkenalkan Armando sebagai menantunya. Tapi tentang Melody mereka tetap merahasiakannya. Karena kematian Melani belum bisa di pastikan, kesengajaan atau murni kecelakaan. Kevin datang membawa Rangkaian bunga putih.


"Ar, aku menyesal. Aku sungguh tidak menyangka. Belum lama aku mengobrol dengannya." kata Kevin penuh haru.


"Aku tau, terima kasih kau sudah datang." balas Armando sambil menepuk bahu Kevin. Tidak lama kemudian Arleta datang bersama Restandi. Arleta langsung memeluk Armando. Kakaknya terharu atas upaya yang Arleta lakukan.


"Kamu tidak perlu datang ke sini. Aku hanya memberi tau." kata Armando dengan sayang pada adiknya.


"Tapi aku tidak bisa tidak datang." kata Arleta sedih. Armando melihat pada Restandi, yang memeluknya bersahabat.


"Bagaimana dengan bayinya?" tanya Arleta.


"Dia cantik seperti kamu." jawab Armando sambil mengusap pipi Arleta. Armando tersenyum tapi Arleta dapat melihat kehancuran hati kakaknya.


"Bolehkah aku melihatnya?" tanya Arleta. Armando mengangguk.

__ADS_1


"Setelah acara kalian bisa melihatnya." janji Armando. Mereka pun mengikuti prosesi acara hingga pemakaman. Armando dan Arleta bahkan Kevin menitipkan air mata ketika Melani di makamkan.


"Selamat tinggal Mel, tunggu aku di sana ya." bisik Armando pada foto Melani di batu nisannya. Arleta sedih melihat wajah Armando. Kevin segera pamit. Kini tinggal keluarga Cody, Armando , Restandi dan Arleta.


"Ayo kita pulang, kalian keluargaku juga." kata Zakhary Cody mengajak mereka semua pulang ke rumah besarnya. Tiba di rumah Zakhary dan istrinya segera beristirahat. Seperti janji Armando, Restandi dan Arleta bisa melihat bayi Melani. Avery yang mengantar mereka. Armando masuk ke kamarnya.


"Kau banyak melakukan hal baik untuk adikku. Aku tidak akan melupakannya." kata Avery pada Arleta. Dia berusaha tabah. Avery mengajak mereka ke satu kamar, di sana Melody tampak terbangun. Arleta memandangnya takjub. Seperti kata Armando, dia cantik. Seorang perawat menggendong Melody untuk memberinya susu.


"Boleh aku yang melakukannya?" tanya Arleta.


"Tentu saja boleh, kau bibinya." jawab Avery, lalu memberi isyarat pada perawat itu untuk menyerahkan Melody pada Arleta. Begitu mungil, pikir Arleta. Perlahan dia membantu Melody meminum susunya.


"Armando memberi nama Melody." kata Avery sambil tersenyum. Dia yakin Arleta telah jatuh cinta pada Melody seperti dirinya.


"Hai Melody, ini bibi Arleta." Arleta berkata lembut pada Melody. Restandi yang melihat itu jadi merasa yakin, Arleta siap mengasuh anak mereka nanti.


"Apa Armando sering menggendongnya?" tanya Arleta ingin tau. Avery menggeleng sedih.

__ADS_1


"Sudah dua hari Armando mengurung diri di kamarnya. Pernah aku memberikan Melody agar dia menggendongnya. Kupikir itu akan membuatnya tidak terlalu sedih. Tapi dia menggendong Melody sambil menitikkan air mata. Lalu aku harus bagaimana? Aku khawatir Armando lebih hancur hatinya dari pada kami semua." Avery menangis.


"Dia memang sangat mencintai Melani." kata Arleta.


__ADS_2