Merebut Cintamu

Merebut Cintamu
150. Sepuluh Untukmu


__ADS_3

Sehun berkata lembut. Monika menangis. Dia memeluk Sehun.


"Kamu tau apa yang aku pikirkan?" tanya Monika.


"Tentu saja aku tau. Kamu merasa sepi tanpa kehadiran anak dalam rumah tangga kita kan. Seberapa banyak uang yang aku cari tidak membuatmu tersenyum. Mungkin sekarang kamu tidak sepi lagi." Sehun tersenyum manis.


"Ko banyak sih sepuluh." Monika protes, bagaimana mungkin dia mengurus sepuluh anak.


"Nanti ibu bantu nak." kata ibu Farida, dia terharu dengan pasangan ini.


"Panti asuhan ini belum di beri nama. Terserah kamu mau kasih nama apa." Sehun memberitahu istrinya.


"Aku tidak mau memberi nama panti asuhan. Aku tidak mau mereka merasa tinggal di panti asuhan. Ini rumah mereka dan mereka anak-anakku, jadi biarlah begini. Jadi papa, uang belanjanya tambah ya. Sekarang kan anak kita sepuluh." Monika mengambil kesempatan.


"Tenang sayang, tidak percuma kan aku sibuk-sibuk cari uang. Tanpa kerja lembur malam hari aku bisa kasih sepuluh anak loh. Tapi kerja lemburnya tetap ya sayang." Sehun memeluk Monika dari belakang. Untung saja ibu Farida sedang kebelakang memanggil anak-anak. Ada empat orang anak laki-laki dan enam orang anak perempuan, termasuk bayi yang di gendong ibu Farida. Monika melihat-lihat rumah itu. Cukup besar dan ada halaman luas untuk anak-anak bermain. Sehun tampak bermain bersama mereka. Monika lebih tertarik berbincang dengan ibu Farida.


"Ibu kenal suamiku di mana?" tanya Monika. Mereka duduk di halaman belakang. Monika memangku bayi mungil yang sedang tidur.

__ADS_1


"Waktu itu ibu sedang berjalan bersama Rama. Dia sakit jadi ibu bawa ke puskesmas. Ternyata obatnya mahal, ibu tidak punya cukup uang. Jadi terpaksa pulang. Di jalan Rama menangis karena belum di beri obat. Lalu tiba-tiba nak Sehun menghampiri kami dan bertanya ada apa. Ibu ceritakan. Ibu lalu di beri uang dan di tanya tinggal di mana. Ibu kasih alamat rumah. Dulu ibu tinggal di rumah petak. Kecil dan sempit. Waktu itu ada tiga anak bersama ibu. Mereka terlantar karena orangtuanya meninggal. Ibu kasihan. Di rumah ibu jualan makanan untuk menghidupi mereka. Nak Sehun datang dan kasihan melihat ibu. Apa lagi ketika ibu bilang ada beberapa anak lagi yang juga terlantar dan terpaksa mereka mencari uang untuk makan. Nak Sehun pun berjanji akan mencarikan ibu rumah dan ibu di minta untuk menampung anak-snak lain yang masih terlantar. Akhirnya ibu kumpulkan, ada tujuh anak yang tinggal bersama ibu. Nak Sehun memenuhi janjinya dengan menyediakan rumah ini. Dia juga membawa dua anak untuk ibu rawat. Terakhir ada yang meninggalkan bayi mungil ini di rumah ibu yang lama. Tetangga yang memberi tau. Maka ibu merawatnya. Ibu bertanya pada nak Sehun mengapa dia begitu baik. Dia cerita, istrinya sedih karena belum punya anak hingga sekarang. Mudah-mudahan apa yang dia lakukan dapat membuat istrinya senang. Dan nak Sehun berjanji untuk membawa nak Monika ke sini. Karena ini dia lakukan untuk nak Monika." ibu Farida dengan sedih bercerita. Monika terharu pada apa yang di lakukan Sehun.


"Ibu sendiri bagaimana bisa tinggal sendiri?" Monika ingin tau ibu pengasuh anak-anak yang baik hati ini.


"Ibu dulu menikah dengan orang yang ibu cintai. Tapi rupanya ibu tidak bisa punya anak. Dia minta ijin untuk menikah lagi, hanya agar memiliki keturunan. Karena ibu sadar dengan kekurangan pada diri ibu tentu saja ibu ijinkan. Dia menikah lagi dengan wanita lain yang lebih muda dan cantik, tentu saja dia akhirnya lupa pada ibu. Apa lagi dia sudah mendapat anak yang dia inginkan. Ibu tidak pernah lagi di tengok. Jujur ibu sakit hati. Walau dia terus memberi uang setiap bulan tapi apa artinya, ibu seperti hidup tanpa suami. Akhirnya ibu minta cerai. Awalnya dia tidak mau dan curiga ibu punya hubungan dengan orang lain. Tapi atas desakan istri mudanya kami pun bercerai. Rumah yang ibu tempati memang di berikan untuk ibu tapi ibu jual. Ibu ingin pergi jauh dari mereka. Ibu mulai berjualan makanan lalu mulai iba pada anak-anak terlantar." Monika mau menangis mendengar cerita ibu Farida. Ternyata dia di tinggalkan oleh orang yang dia cintai karena tidak bisa punya anak.


"Ibu di sini saja ya, bantu Monika. Selain mengurus anak-anak ibu juga harus bahagia. Anggaplah rumah ini rumah ibu sendiri." Monika berkata sambil menggenggam tangan Farida.


"Ya nak Monika, apa yang kalian perbuat sudah luar biasa. Memberi kesempatan pada ibu untuk mengurus mereka yang kurang kasih sayang." Farida tersenyum.


"Ada apa ini, ko serius sekali?" tanya Sehun tiba-tiba. Dia ikut duduk bersama mereka.


"Sini aku gendong si kecil. Namanya siapa bu?" Sehun mengambil bayi dalam pangkuan Monika.


"Nirma." jawab Farida singkat.


"Namanya cantik, cepat besar ya nak. Biar bisa main sama yang lain." kata Sehun tersenyum menatap bayi itu. Monika baru melihat ternyata Sehun bukan tidak suka pada anak-anak. Mereka pun makan siang bersama. Ada meja makan panjang di ruang makan. Mereka duduk bersama di sana. Setelah makan Sehun, Monika dan Farida duduk untuk bicara.

__ADS_1


"Jadi Bu seperti yang saya sudah atur ada anggaran untuk anak-anak dan juga untuk ibu pribadi. Ibu tidak perlu lagi mencari uang dengan berjualan makanan, karena anak-anak sekarang ada papanya." Monika dan Farida tersenyum mendengar perkataan Sehun.


"Nah untuk anggaran sendiri nanti ibu bicara sama Monika. Saya tidak ikut campur, itu kan tugas mamanya." kembali Monika dan Farida tersenyum.


"Baik, neneknya ikut saja apa kata papa dan mamanya anak-anak." jawab Farida. Sekarang Sehun dan Monika yang tersenyum.


"Untuk anggaran sendiri ibu sudah buat, nanti nak Monika lihat ya." Farida menyodorkan daftar kebutuhan anak-anak yang di butuhkan.


"Kalau untuk ibu sendiri, itu terserah kalian." kata Farida lagi. Dia cukup tau diri.


"Ibu sudah saya anggap ini sendiri dan mengurus sepuluh cucu ibu." kata Monika menyatakan penghargaannya pada Farida.


"Ibu kamu sendiri? Lah aku bagaimana? Ibu Farida jadi mertua aku begitu?" tanya Sehun tidak puas. Monika mencubit Sehun. Interupsinya jadi bikin lama pembicaraan mereka.


"Ibu kita berdua." kata Monika meralat.


"Nah begitu dong." Sehun puas.

__ADS_1


"Iya ibu punya dua anak dan sepuluh cucu." kata Farida sambil tertawa. Hatinya senang melihat dua anak yang baru dimilikinya.


__ADS_2