
Yang di maksud Restandi adalah dokter Lukman Aria. Monika paham.
"Baik dok." jawab Monika. Restandi pun memutus kontak.
"Maaf saya masih ada janji lagi." kata Restandi pada Paramita, dia mengusir secara halus.
"Oh baik dok. Terima kasih." Paramita pun meninggalkan Restandi dengan enggan. Restandi masuk ke ruang kerjanya, di sana tampak Arleta tengah duduk menantinya.
"Sama siapa ke sini?" tanya Restandi yang langsung menghampiri Arleta. Di kecupnya kening Arleta.
"Sama mama, sekarang ada di tempat papa." jawab Arleta. Restandi membuka jasnya lalu menggantungnya. Monika mengetuk pintu lalu masuk.
"Dok di tunggu dokter Aria di ruangannya." kata Monika dengan senyum manis.
"Baik., kami ke sana. Terima kasih." jawab Restandi. Dia pun menggandeng Arleta. Monika membukakan pintu bagi mereka berdua.
"Nanti aku balik ya." kata Arleta pada Monika.
"Tidak boleh gosip ya." kata Restandi cepat. Di susul protes Arleta dan Monika. Dengan menggandeng Arleta Restandi menuju ruang praktek dokter Lukman Aria. Paramita menatap mereka dari jauh, dia penasaran dengan sosok istri dokter Restandi. Dia melihat seorang wanita cantik, anggun dan sedang hamil besar. Kenapa sih pria yang aku suka selalu sudah ada yang punya, tanya Paramita dalam hatinya. Darma Huzen seorang pengusaha di Jakarta yang cukup di kenal. Dia memiliki seorang putri, Paramita. Istrinya sudah lama meninggal dunia karena sakit keras. Karena terlalu mencintai istrinya dia kecewa di tinggalkan pergi untuk selamanya. Kekecewaannya di tumpahkan pada bisnisnya.. Tanpa kenal lelah dia bekerja dan melupakan putrinya. Paramita Huzen tidak saja kehilangan ibunya, tapi juga kehilangan ayahnya. Dia menempuh pendidikan di luar negeri karena kecewa pada keadaan di rumah. Hal itu membuat hubungannya dengan ayahnya semakin jauh. Setelah pendidikannya selesai, Paramita bekerja di salah satu perusahaan di Singapur . Dia tidak berniat kembali. Keadaan kesehatan ayahnya yang memburuk membuatnya harus kembali. Paramita di tuntut untuk ikut mengurus perusahaan ayahnya. Walaupun dia tidak berminat. Ayahnya sudah beberapa kali di rawat di rumah sakit. Kali ini dia membawanya ke rumah sakit terbesar di Jakarta, bertemu dengan dokter Restandi. Paramita sudah pernah mendengar di rumah sakit besar ini ada dokter jantung yang handal. Dari penanganan pada ayahnya Paramita melihat di tangani secara profesional. Apa lagi ternyata ayahnya di tangani dokter Restandi Gutama. Pertemuannya dengan Restandi hari ini membuatnya terkesan. Paramita mengunjungi ruang ICU untuk melihat ayahnya. Sosok yang sudah beberapa tahun di hindarinya. Restandi dan Arleta mengunjungi ruang dokter Lukman Aria. Hasil pemeriksaan hari ini ternyata kurang bagus. Posisi bayi Arleta tidak tepat. Jika kondisinya seperti itu terus Arleta harus menjalani operasi cecar pada waktu bersalin nanti. Arleta menjadi cemas, tapi Restandi menenangkannya. Mereka pindah ke ruang kerja Nikolas, di mana ada Sofi di sana. Mereka membicarakan tentang hasil pemeriksaan Arleta tadi.
"Kamu ingin cecar atau normal nak?" tanya Nikolas pada Arleta tentang proses persalinannya.
"Aku ingin secara normal papa." jawab Arleta mantap.
__ADS_1
"Sayang, kamu tidak perlu cemas. Mama yakin semua akan baik-baik saja." kata Sofi.
"Lukman Aria dokter yang berpengalaman, kamu tenang saja." kata Nikolas lagi. Mereka berupaya untuk membuat Arleta tidak merasa cemas. Sofi pun mencari tau untuk menantunya. Dia mendapat informasi tentang seorang bidan yang dapat membantu dalam kasus seperti Arleta. Tapi bidan tersebut tinggal di luar kota. Arleta mau bertemu bidan tersebut. Maka Restandi pun mengantarkannya ke luar kota. Mereka bertemu bidan tersebut di rumahnya. Rupanya ibu Sumarni sang bidan membuka praktek di rumahnya. Ketika dia bertemu Arleta dia tau harus menangani Arleta dengan caranya. Ibu Sumarni melakukan pemijatan pada perut Arleta secara lembut. Hal itu harus di lakukan beberapa kali. Maka mereka akan kembali dalam beberapa hari. Restandi merasa kepergian mereka menemui ibu Sumarni berdampak positif bagi istrinya. Mereka anggap itu sebagai wisata ke luar kota. Ini mengurangi ketegangan Arleta dalam menghadapi persalinannya. Armando datang ke rumah sakit mengunjungi Restandi.
"Apa aku mengganggumu?" tanya Armando yang duduk di sofa dengan santai.
"Tidak juga." Restandi tersenyum dan ikut duduk menemaninya.
"Bagaimana dengan Arleta, kapan dia melahirkan?" tanya Armando tentang adiknya.
"Sekitar sepuluh atau empat belas hari lagi. Tapi bayinya sungsang." jawab Restandi.
"Berarti harus cecar." Kata Armando berkesimpulan.
"Waktunya sebentar lagi, aku berharap Leta baik-baik saja." kata Armando.
"Bagaimana kabarmu sendiri?" Restandi ingin tau tentang Armando.
"Aku dan Trisia sedang mengajukan proses cerai." kata Armando yang membuat Restandi terkejut.
"Kalian sudah sepakat? Aku minta maaf atas apa yang di lakukan adikku." Restandi berkata dengan penuh penyesalan.
"Tidak masalah. Justru itu membuat Trisia menyadari upayanya sia-sia." Armando berkata santai.
__ADS_1
"Kau tidak marah?" tanya Restandi bingung.
"Tidak, aku tau adikmu serius pada Trisia dan aku berterima kasih atas upayanya itu membuat Trisia mau berpisah denganku." Armando tersenyum penuh arti.
"Aku lega jika kau berkata begitu. Selebihnya adalah urusanku. Ada undangan pernikahan untukmu dari Sehun. Kebetulan kaub datang, aku tidak perlu ketempatmu." Restandi menyerahkan undangan pada Armando, yang membuka dan membacanya.
"Kau akan datang bersama Trisia?" tanya Restandi ingin tau.
"Saat ini dia masih istriku. Kalau dia mau aku akan mengajaknya." jawab Armando.
"Kau tau Arleta tidak menyukainya?" Restandi tau istrinya tidak suka pada Trisia.
"Itu anehnya, Arleta lebih bisa menerima Melani di banding Trisia. Tapi kalian akan jadi satu keluarga nanti. Bersiaplah pusing kepala. Kadang Trisia bisa keras kepala juga." Armando menggoda Restandi.
"Sekarang saja aku sudah sakit kepala. Aku bingung kau tenang-tenang saja, atau kau senang ya sedang menjemput kebebasanmu. Kau murah hati pada Trisia karena dia mau melepasmu ya?" kata Restandi jengkel.
"Tepat sekali." kata Armando cepat. Biar saja Restandi pusing, itu kan ulah adiknya juga. Armando tertawa lepas. Restandi senang melihatnya, di banding Armando menitipkan air mata. Restandi ingin bertanya tentang Melody, tapi dia ragu khawatir Armando akan sedih.
"Aku ke sini sebenarnya ingin bertanya padamu. Apa aku bisa mengajukan proposal untuk pengadaan obat di rumah sakit barumu. Kudengar rumah sakit itu sudah selesai." kata Armando serius.
"Sudah selesai, tapi kami belum mendatangkan peralatan medis. Tapi kau boleh mengajukan proposal, hanya urusannya dengan Sehun, karena dia yang memimpin di sana." Restandi menjelaskan.
"Sepertinya itu obsesinya ya?" Armando menilai.
__ADS_1
"Betul, hotel dan rumah sakit itu obsesinya. Aku hanya suka bisnisnya saja." Restandi hanya menaruh uang dan menerima keuntungan.