
"Mas sudah di tunggu." Rendra tampak menantinya. Adik Monika ini sudah sangat berubah. Sudah jadi pria yang gagah dan tampan. Tidak seperti dulu kurus kering.
"Terima kasih ya Ren, kamu masih di sini kan?" Sehun senang melihat adik iparnya ini.
"Masih mas." Rendra akan mengawasi acara yang sedang berlangsung, karena itu memang tanggung jawabnya. Mereka pun bicara di satu ruang tertutup yang di siapkan Rendra. Menghadiri pertemuan di ballroom hotel itu sebenarnya alasan sampingan bagi mereka semua. Intinya adalah ini. Pembicaraan mereka menjadi hangat. Tepat seperti yang Armando katakan, Avery setuju. Tanpa bantuan Armando pun Avery sudah terjebak pada duo Rese, Restandi Sehun.
"Lalu siapa yang akan menghandle mal?" tanya Avery kemudian.
"Kamu." Restandi dan Sehun menjawab bersamaan. Armando terkejut.
"Aku?" tanya Avery tidak percaya. Restandi dan Sehun mengangguk berbarengan. Berbagai perasaan mendera Avery. Terkejut, khawatir, ragu tapi dia antusias.
"Ok aku coba." jawab Avery dengan berani.
"Avery!" protes Armando, berbeda dengan duo Rese yang mengangguk puas. Mengapa Armando merasa dia terjebak dalam jebakannya sendiri. Dan seperti Sehun Avery tidak dapat di hentikan. Sehun punya lawan yang pas sekarang. Sedangkan Armando, dia kesal luar biasa. Restandi pulang malam itu dengan senang. Masalah investasi sudah beres. Tinggal Sehun yang bekerja untuk mengambil alih mal. Ketika dia masuk ke kamar Arleta sudah tertidur. Restandi memutuskan untuk mandi. Dia mungkin terlalu khawatir pada istrinya, sehingga suka mandi bila pulang dari luar. Selesaii mandi Restandi bergabung bersama Arleta. Di peluknya Arleta erat. Restandi mengusap perut Arleta yang mulai menonjol.
"Dingin." Arleta terbangun karena merasa dingin. Tentu saja dingin karena Restandi menempelkan tubuhnya yang bertelanjang dada.
"Kamu bangun sayang?" Restandi mencium istrinya mesra. Dia rindu pada Arleta. Rindu dalam tanda kutip.
"Aku bahagia punya istri seperti kamu." puji Restandi sambil mengusap pipi Arleta lembut.
"Ada apa muji-muji? pasti ada maunya." Arleta berkata malas, dia masih mengantuk.
"Memang betul ada maunya. Mau kamu." Restandi berkata sambil bekerja. Malam ini Restandi ingin menyatu dengan Arleta. Besok paginya Restandi terbangun melihat Arleta yang sudah rapih.
"Kamu mau ke mana sayang?" Restandi bangun dan menghampiri istrinya yang sudah cantik. Dia memeluk istrinya mesra.
"Tolong itunya di kondisikan." kata Arleta menunjuk bagian bawah Restandi, karena Restandi tidak mengenakan apa-apa setelah perbuatan semalam. Restandi memeluk Arleta lagi.
__ADS_1
"Masih kangen sayang." walau tau tidak akan mendapat jatah lagi tapi tetap usaha.
"Nanti malam lagi kangennya. Aku mau ke klinik. Bosan juga di rumah terus." Arleta menjelaskan.
"Kamu tidak apa-apa, sudah tidak pusing?" Restandi khawatir.
"Tidak apa-apa. Tadi malam sudah di suntik sama dokter jantung. Nanti kalau pusing aku pulang di jemput Jono." Arleta sudah merasa lebih sehat.
"Ya sudah, aku antar ya." Restandi mencium Arleta sebentar lalu masuk ke kamar mandi. Arleta memasukan kue kesukaannya untuk bekal. Kadang kalau dia sulit makan inilah obatnya. Setelah Restandi selesai mereka turun ke bawah. Ada Nikolas dan Sofi di meja makan.
"Kamu mau ke mana sayang?" tanya Sofi pada Arleta. Nikolas yang sedang membaca koran pun menoleh.
"Mau ke klinik ma." jawab Arleta singkat. Dia duduk di sebelah Restandi. Arleta terpaku pada aroma bubur ayam yang di buat mbok jumi untuknya. Wangi sekali.
"Ko aku tidak di buatkan bubur ayam juga? mbok Jumi pilih kasih nih." Restandi iri menu sarapannya berbeda. Dia menatap nadi goreng di depannya.
"Arleta belum bisa makan berat kalau pagi." jelas Sofi sabar.
"Iya besok ya nak." Sofi menggelengkan kepala. Arleta sendiri tidak perduli. Dia sibuk dengan bubur ayamnya.
"Coba ini, kamu bisa makan nadi tidak?" Restandi menyodorkan nasi gorengnya sesendok pada Arleta. Tanpa ragu Arleta menyambutnya.
"Enak ko." kata Arleta kemudian. Restandi pun dengan semangat menghabiskan nasi gorengnya.
"Leta, nanti siang mama ke klinik ya bawa makan siang untukmu." kata Sofi yang masih khawatir pada menantunya.
"Kalau begitu sekalian saja kita bawa Alrest ma." Nikolas mengusulkan. Bukan cuma Arleta yang bosan di rumah. Mereka pun sepakat akan makan siang di luar. Ketika selesai sarapan Alrest datang bersama Rina pengasuhnya. Alrest minta gendong pada Arleta.
"Gendongnya sama papa saja ya." Restandi menggendong Alrest dan mencium putranya dengan sayang. Kemarin malam setelah pulang Restandi tidak menengok Alrest lagi. Dia langsung terikat pada istrinya. Daya tarik Arleta memang sangat kuat terhadap Restandi. Ketika akan berangkat Restandi melihat Jono yang sedang melap mobil Nikolas.
__ADS_1
"Tumben Jono tidak mengantar Rion. Tapi memang dia kan sudah bisa pergi sendiri." kata Restandi ketika mereka sudah di jalan. Maksud Restandi Rion tidak perlu di awasi lagi.
"Siapa bilang, justru sekarang harus di kawal. Ada artis yang sedang mendekatinya." Arleta berkata dengan kesal.
"Oh aku baru dengar. Ya dia sudah lebih sukses sekarang. Pasti ada saja yang mengincarnya. Tapi ko dia pergi sendiri?" tanya Restandi bingung.
"Hari ini yang ngawal lebih galak. Trisia." jawab Arleta sambil tersenyum. Restandi tertawa.
"Aku juga sepertinya butuh di kawal nih." Restandi mencari celah.
"Nanti aku suruh Jono ngawal kamu." Arleta pura-pura tidak tau maksud suaminya.
"Ko Jono sih sayang. Jono itu tidak ada nesra-mesranya. Senyumnya asem." kata Restandi kecewa, umpannya tidak kena.
"Senyum Jono manis ko. Dia juga hangat orangnya." Siapa coba yang cari masalah duluan.
"Arleta!" Restandi meminggirkan mobilnya dan berhenti. Restandi mendekati Arleta.
"Siapa yang senyumnya manis dan hangat?" tanya Restandi penuh tekanan. Matanya mengancam.
"Restandi."jawab Arleta manis. Kalau tidak mengalah mereka tidak akan ke klinik atau ke rumah sakit, tapi ke hotel. Restandi tersenyum. Dia mencium bibir Arleta dengan mesra dan cukup lama.
"Awas kamu dekat-dekat Jono." Restandi kembali duduk dengan baik dan menjalankan mobilnya lagi. Arleta tersenyum, cemburu sama Jono yang benar saja. Mereka tiba di klinik. Restandi turun mengantar Arleta. Diana menyambut mereka.
"Tumben bos antar istri sampai turun." Diana menyindir Restandi.
"Sedang latihan menjadi suami siaga." jawab Restandi. Dia ingin tau keadaan kantor Arleta.
"Tenang dok, istrinya akan kami jaga." janji Diana. Tentu saja dia akan menjaga bosnya.
__ADS_1
"Saya juga akan menjaga Norman di rumah sakit." Restandi balas berjanji.
"Dokter kaki yang musti di jaga. Norman sih biasa saja."Jelas para wanita akan mengincar Restandi di banding Norman. Selama menjalin hubungan dengan Norman Diana tidak pernah tuh mengalami yang aneh-aneh.