
"Ko ibu sih, panggil mbak dong. Saya harus bertemu dokter Restandi sehubungan tentang kerjasamanya." Weny berkeras.
"Tapi anda harus menunggu di ruang tunggu. Itu sudah ketetapan dokter Restandi." Tidak perduli tamunya siapa, Rani hanya menjalankan tugasnya.
"Saya ingin langsung bertemu dengan dokter Rustandi." Weny keras kepala.
"Ada apa ini?" tanya Norman yang tiba-tiba datang.
"Ibu ini mau bertemu dokter Restandi." Rani sengaja berkata begitu.
"Bertemu dokter Restandi? untuk apa." tanya Norman ingin tau.
"Tentu saja tentang kerja sama kita." Weny berkilah.
"Anda harusnya menghubungi saya, bukan dokter Restandi. Kerjasama ini kan saya yang menangani. Lagi pula dokter Restandi tidak suka ruang kerjanya di datangi pihak yang tidak berkepentingan." kata Norman tidak suka. Rani senang mendapat bantuan. Weny kesal upayanya gagal.
"Mari ikut saya, kita bicara di ruangan saya." kata Norman lagi mengajak Weny berlalu. Norman jadi curiga sekarang. Kerjasama ini hanya alasan dan upaya Weny untuk mendekati Restandi. Yang di bicarakan sedang asik bicara dengan istri tercintanya melalui telpon.
"Kamu periksa hari ini ya sayang. Aku sudah bicara sama dokter Lukman. Minta Jono antar ke rumah sakit. Jam berapa berangkat?" Restandi melihat jam pada tangannya.
"Aku berangkat sekarang deh,mumpung ada di luar. Tunggu ya. Dah sayang." kata Arleta centil. Dia menutup kontak. Restandi tersenyum. Sebentar lagi belahan jiwanya datang. Arleta tengah bertemu Avery. Dia puas dengan pengerjaan pada klinik yang baru. Sebentar lagi bisa di buka. Arleta meminta Jono mengantarkannya ke rumah sakit. Setelah tiba Arleta menyuruh Jono pulang, karena dia akan kembali bersama Restandi.
"Rest." panggil Arleta pada suami tercintanya. Arleta memasuki ruangan Restandi yang tidak pernah berubah.
"Sayang sudah datang. Kamu mau minum atau duduk dulu?" Restandi menghampiri Arleta.
"Aku sudah minum tadi." Arleta menolak.
"Baiklah kita ketemu dokter Lukman ya. Tapi mampir ke ruangan Dio dulu. Aku ada perlu sedikit." Restandi menggandeng Arleta keluar.
"Rani kamu boleh pulang. Saya juga akan langsung pulang setelah bertemu dokter Lukman." kata Restandi pada Rani.
__ADS_1
"Baik dok." Rani tersenyum. Arleta melihat adik Monika ini semakin cantik dan pintar menggunakan make up.
"Ini untuk kamu. Satu saja ya nanti gendut." Arleta memberi Rani sebatang coklat. Sesuatu yang Rani suka.
"Terima kasih mbak." Rani berseri-seri.
"Sejak kapan kamu bawa-bawa coklat?" tanya Restandi heran. Dia menggandeng Arleta menuju ruang Claudio.
"Tadi aku ambil di ruang Avery." jawab Arleta sambil tersenyum malu. Restandi tertawa, ternyata barang gratis ya. Restandi mengetuk pintu ruang Claudio, asisten termudanya.
"Dio ini ada pasien baru yang harus kau tangani. Saya sudah mengobservasi kamu pelajari dulu." Restandi memberikan map yang sejak tadi di bawanya.
"Ok dok." Claudio membuka map tersebut. Pasien wanita usia dua puluh tiga tahun. Ada masalah pada jantungnya. Claudio paham pasien itu di serahkan padanya. Restandi tidak menerima pasien wanita. Mentornya sendiri sudah tiba di ruang dokter Lukman Aria.
"Bagaimana, ada kendala?" tanya Lukman Aria pada Arleta.
"Babynya ngidam pingin ganti Daddy dok." kata Arleta bercanda.
"Jangan nanti babynya bingung Daddynya yang mana. Ayo periksa dulu." Lukman Aria mengajak Arleta untuk melihat perkembangan bayinya dengan USG.
"Bayinya perempuan ini, sehat. Dengar nih jantungnya." kata Lukman Aria.
"Benar dok perempuan?" tanya Restandi bahagia, karena sesuai dengan harapannya. Arleta lega dia tidak perlu hamil lagi.
"Saya tidak tanggung jawab kalau dia ganti gender di dalam sana. Tapi yang saya lihat sih perempuan." kata Lukman Aria santai. Seorang perawat membantu Arleta membenahi dirinya, lalu duduk di sebelah Restandi lagi.
"Saya kasih vitamin ya." Lukman Aria menulis resep untuk Arleta.
"Sayang, awas kamu centil-centilan di luar sana. Itu punya aku loh." Restandi ingin sekali memeluk dan mencium Arleta jika tidak ada Lukman Aria dan sang perawat. Arleta memanyunkan bibirnya. Dia tau Restandi mulai posesif karena ini anak yang di harapkannya. Lukman Aria tersenyum. Dia senang melihat pasangan ini. Di jodohkan tapi bahagia.
"Arleta sayang kita makan dulu sebentar ya sebelum pulang." rayu Restandi. Dia ingin berdua saja dengan Arleta. Di rumah ada Alrest yang minta perhatian.
__ADS_1
"Terserah kamu saja maunya apa." jawab Arleta pasrah. Dia paham Restandi tengah bahagia. Suaminya semakin sayang padanya karena dia mengandung anak yang di inginkan sang suami.
"Janji ya." tegas Restandi. Arleta menggangguk. Mereka pun berjalan menuju tempat parkir. Restandi terus menggandeng Arleta. Takut istrinya hilang. Tiba di mobil Restandi membukakan pintu untuk Arleta.
"Dokter apa kabar?" tiba-tiba Weny menyapa. Dia sedari tadi menunggu Restandi keluar. Pasangan itu menoleh. Tampak Weny menghampiri mereka. Arleta mengamati penampilan Weny.
"Bu Weny, saya baik-baik saja. Perkenalkan ini istri saya." Restandi tidak menyangka bertemu Weny di situ. Arleta menyalami Weny dengan ramah. Weny terpaksa menyambutnya.
"Arleta." kata Arleta dengan percaya diri.
"Weny." balasnya pelan. Oh ini istrinya, pikir Weny. Cantik sih, wanita yang dia lihat bersama Restandi di hotel.
"Dokter sudah melihat berkas kerjasama kita?" tanya Weny ingin menarik perhatian Restandi.
"Maaf saya belum mendapat laporannya dari dokter Norman. Kami permisi dulu ya. Masih ada acara. Ayo sayang, kamu ingat kan janjimu." jawab Restandi yang segera mengajak Arleta pergi.
"Ingat ko. Mari kami permisi." Arleta pamit pada Weny lalu memasuki mobil. Restandi menutup pintu mobil lalu berjalan ke sisi yang satu. Dia
terlalu bahagia untuk meladeni Weny. Fokusnya hanya pada Arleta. Weny tertegun melihat Restandi menjalankan mobilnya pergi meninggalkannya.
"Yang tadi siapa Rest?" tanya Arleta penasaran.
"Oh itu Weny Arista putri kenalan papa. Dia menjabat direktur di perusahaan papanya." jawab Restandi malas.
"Dia mengajukan kerjasama?" tanya Arleta lagi.
"Dia baru kembali dari sekolahnya di luar negeri. Proyek pertamanya dia tujukan pada rumah sakit Sentosa. Proposalnya bagus, tapi aku jadi tahu ya." jawab Restandi jujur.
"Ragu kenapa?" Arleta jadi ingin tau.
"Aku sebenarnya ingin memberi dia kesempatan untuk berkarya. Keuntungan yang di dapat rumah sakit juga bagus. Tapi dari cara dia yang sepertinya ingin dekat dengan aku membuat aku jadi tidak nyaman. Aku sih minta Norman yang menangani ini. Aku sendiri tidak ada waktunya. Malas juga ngurusin yang begini." Restandi mengeluarkan kekesalannya.
__ADS_1
"Jadi dia lulusan luar negeri." Arleta ingat penampilan Weny. Tidak norak sih. Tapi berani, dengan gaun pas badan di atas lutut.