
"Kalau begitu boleh dong aku salah kamar." kata Sehun menggoda Monika.
"Bisa, tapi tidak keluar lagi selama sepuluh tahun." jawab Monika asal.
"Kalau sepuluh tahun tidak keluar, anaknya berapa?" tanya Sehun lagi. Monika tersipu. Monika tidak sanggup melawan Sehun. Mereka melihat dapur. Dapur itu luas dan ada ibu yang sedang memindahkan masakan pada piring untuk di sajikan. Rendra tampak sedang memanggang ayam.
"Bu." panggil Monika. Aryati menoleh.
"Tunggu di ruang makan saja, sebentar siap." katanya pada Monika. Sehun menghampiri Rendra.
"Pantas kamu tadi bau ayam, eh bau asap." Sehun menggoda Rendra.
"Kakak di dalam saja, nanti bau asap." kata Rendra sambil tertawa. Monika pun menarik Sehun keluar dari dapur. Dia tidak mau kekasihnya bau asap. Aryati melihat keduanya dengan tersenyum. Monika membawa Sehun ke ruang keluarga untuk bertemu Bapaknya dulu. Sosok yang masih jadi pertanyaan dalam hati Sehun. Di sana sang bapak sedang menonton tv.
"Pak, ini teman Monika." kata Monika. Sehun pun menyalami bapak Monika.
"Sehun pak." kata Sehun sopan.
"Heru, ini teman atau kekasih. Tadi ibu bilang kekasih, kamu bilang teman. Bisa salah paham ini. Duduk nak." Heru mengajak Sehun duduk.
"Kekasih pak." jawab Monika malu.
"Nah begitu. Nak Sehun kerja di mana?" tanya Heru menatap Sehun. Dia sedang menilai teman tapi mesra ya Monika.
__ADS_1
"Dia sama seperti dokter Restandi pak, dokter ahli bedah jantung di rumah sakit." Monika yang menjawab.
"Oh seperti nak Restandi. Kalau nak Restandi bapak sudah kenal. Dia atasannya Monika." di sebut nama Restandi Sehun jadi panas lagi.
"Pernah waktu bapak sakit dan harus di rawat di rumah sakit, nak Restandi datang menjenguk. Tapi bapak kurang tau, yang di tengok nak Restandi itu bapak atau Monika?" perkataan Heru membuat Sehun curiga. Apa benar Restandi pernah punya perhatian pada Monika.
"Tapi mendengar nak Restandi menikah, menurut bapak ya benar yang di tengok bapak." Heru tertawa karena ucapannya sendiri. Melihat itu Sehun yakin Heru sedang menggodanya. Punya bapak mertua seperti ini rasanya Sehun tidak keberatan. Sehun ikut tertawa, menertawakan kebodohannya sempat terpancing. Monika justru cemberut melihat bapaknya mengerjain Sehun.
"Bapak sendiri kerja di mana?" tanya Sehun ingin tau. Heru pun bercerita. Dia menjadi direktur di sebuah perusahaan, di mana anak-anak dari pemiliknya tidak bisa bekerja. Yang ada justru hanya foya-foya dan saling tidak mau mengalah. Heru harus pintar-pintar mengelola jika tidak mau perusahaan itu gulung tikar. Tapi sepertinya hal itu pasti terjadi. Jika tidak ingat anak-anaknya yang masih kuliah Heru sudah sejak lama mengundurkan diri. Ceritanya berakhir ketika Aryati memanggil mereka untuk makan malam. Mereka duduk bersama di ruang makan.
"Malam ini kita berkumpul untuk mensyukuri berkah yang ada pada kita. Rendra dan Rani sudah menyelesaikan kuliah, bapak berterima kasih kalian menghargai upaya bapak menyekolahkan kalian. Tinggal ke depannya kalian pilih sendiri, mau sukses atau mau di timpuk sendal. Di rumah ini banyak loh barang yang bisa buat numpuk kalian. Tidak enak toh cape-cape kuliah malah di timpuk." Heru berkata pada intinya mereka harus sukses. Sehun mendengar itu ingin tertawa, tapi di tahannya. Karena dia melihat yang lain hanya menunduk dan senyum-senyum saja. Mungkin mereka sudah biasa dengan gaya Heru berbicara. Tapi yang membuat Sehun terkesan, walau berbicara demikian wajah Heru tetap serius. Sehun jadi membayangkan kalau ayahnya Lukman Aria seperti ini bagaimana reaksi ibunya.
"Bapak juga bangga pada Monika. Sudah mandiri, mengurangi beban orangtua. Bisa menjaga diri dengan baik dan sehat. Terima kasih. Pesan bapak untuk semua, jangan bikin malu orangtua. Sekarang mari kita makan, sudah lapar kan?" kata Heru mengakhiri perkataannya. Mereka pun menikmati makan malam. Sejak saat itu Sehun yang sudah jatuh cinta pada Monika, jatuh cinta pada keluarga Monika. Jatuh cinta pada rumah Monika. Jatuh cinta pada semua yang berbau Monika. Mungkin sendal Monika pun akan Sehun sayangi. Besok paginya Sehun baru bisa melihat rumah itu secara keseluruhan. Ternyata di belakang rumah ada Empang yang cukup besar. Kebalikan dari rumah modern yang terdapat kolam renang. Di dalam Empang terdapat ikan yang dapat di masak.
"Kata ibu jika tidak dapat ikan tidak boleh makan." Heru berbisik pada Sehun. Pantas, pikir Sehun. Heru dan Rendra tampak serius memancing. Aryati menghampiri mereka membawa kopi dan pisang goreng.
"Silahkan nak di coba, makanan kampung." kata Aryati sambil tersenyum pada Sehun.
"Terima kasih Bu." Sehun jadi merasa tidak enak. Dia tidak ikut memancing tapi di beri jatah kopi dan pisang goreng.
"Biar saya yang mancing pak." kata Sehun menawarkan. Heru pun memberikan pancingannya. Ini pengalaman pertama Sehun memancing. Heru menikmati pisang goreng. Sehun memperhatikan keadaan sekitar Empang. Banyak terdapat pohon buah.
"Berarti pisang ini hasil kebun sendiri ya pak." kata Sehun melihat pohon pisang.
__ADS_1
"Betul nak, ibu itu yang rajin. Bapak sih apa yang di suruh ibu saja. Di suruh cabut singkong ya cabut singkong. Di suruh tebang pisang ya ayo. Tapi kalau panjat pohon itu kerjaannya Rendra." kata Heru sambil menghirup kopinya.
"Kalau panjat pohon, pohonnya takut duluan sama bapak." kata Rendra meledek bapaknya.
"Pohon takut sama bapak, anak malah berani." Heru kesal di ledek anaknya. Sehun mencoba pisang goreng yang tidak pernah di temuinya di rumah.
"Manis pak, seperti anak bapak." Komentar Sehun pada Heru.
"Siapa dulu dong ibunya." kata Heru bangga.
"Bapak ketemu ibu di mana?" tanya Sehun penasaran.
"Di pasar." jawab Heru singkat. Sehun langsung menatap Heru heran. Tidak romantis, pikirnya. Rendra mengikik geli melihat reaksi Sehun atas jawaban bapaknya.
"Waktu itu bapak di suruh nenek ambil pesanan di pasar. Di sana ada Aryati sedang berbelanja. Bapak liat sekali Libya kurang puas. Lalu bapak lirik, eh dia juga lirik bapak. Langsung ada anunya begitu." Heru menceritakan pertemuannya dengan Aryati.
"Anunya apa pak?" Sehun menggoda Heru.
"Itu loh getar-getar di dalam sini. Masa dokter jantung tidak tau." Heru menyentuh dadanya.
"Oh bapak langsung suka sama ibu." kesimpulan Sehun.
"Jelas, menurut kamu Aryati itu cantik tidak." tanya Heru antusias.
__ADS_1
"Cantik." jawab Sehun. Bahaya kalau jawab tidak. Tapi memang Aryati cantik. Monika dan Rani cantik mengikuti ibunya. Rendra, kalau dia berbenah diri Sehun yakin jadi idola.