
"Apa aku mengganggu?" tanya Restandi ragu.
"Tidak, kami cuma berbincang saja." kata Armando cepat. Tidak ada lagi yang ingin dia katakan pada Rion.
"Bagaimana kalau kita berbincang di ruang kerjaku?" tanya Restandi pada Armando. Ada banyak yang dia ingin bicarakan dengan Armando.
"Ok tapi harus ada kopinya." Armando bangun akan mengikuti Restandi. Sedangkan Restandi menyempatkan mencium kening istrinya.
"Rion, kamu tunggu di sini ya. Kalau Alrest terbangun, bangunkan saja Arleta pelan-pelan." kata Restandi pada Rion.
"Ok kak. Serahkan padaku." jawab Rion cepat. Kedua pria itu pun meninggalkan ruang Arleta. Rion terdiam masih memikirkan perkataan Armando. Tadinya dia mau numpang tidur di sini, tapi sekarang rasa kantuknya menguap. Alrest mulai rewel. Dia lapar. Rion menggendongnya dan membawanya pada Arleta. Seperti kata Restandi, Rion membangunkan Arleta pelan-pelan. Arleta pun bangun. Dia menerima Alrest untuk di susui. Rion menutupi dada Arleta dengan selendang. Dia ingin bicara dengan Arleta selagi ibu cantik itu menyusui bayinya.
"Arleta, aku baru tau kalau kau tidak suka pada Trisia. Maaf ya, keadaan jadi tidak nyaman. Aku juga melihat papa dan mama belum bisa menerima Trisia dengan sepenuhnya. Aku minta tolong Arleta, bantu aku agar keadaan bisa lebih baik." pinta Rion dengan sepenuh hati. Arleta menatapnya sejenak.
"Rion, kamu sudah membawa masuk seseorang dengan memaksa kami untuk menerimanya. Bukankah itu egois. Aku sih tidak apa-apa karena posisiku menantu. Tapi orangtuamu berbeda. Mereka ingin putranya menikah dengan cara yang benar, dengan calon yang baik. Tapi ini berbeda. Bukan aku yang bisa mengubah keadaan, tapi kalian yang harus melakukannya." kata Arleta dengan tenang.
"Tapi kamu mau bantu Trisia untuk bisa di terima keluargaku kan Arleta." pinta Rion lagi.
"Papa dan mama bukan orang yang kejam, kalau Trisia mau pasti bisa ko." jawab Arleta singkat. Karena baby Alrest telah selesai menyusu Rion membantu menaruhnya di box. Arleta yang mengantuk tidur lagi. Rion berbaring di sofa sambil tersenyum. Perasaannya lebih lega. Dia akan bicara pada Trisia. Untuk masa depan mereka. Armando dan Restandi sibuk diskusi di ruang kerja Restandi. Mereka bicara bisnis, khususnya obat apa saja yang Restandi butuhkan di rumah sakitnya yang baru. Mereka bicara dan akhirnya tidur di ruang kerja Restandi. Pagi harinya Arleta bingung melihat Armando tampak santai di ruangannya.
"Kakak tidak khawatir ketemu mama?" tanya Arleta memancing.
"Kamu tidak tau, papa dan mama sedang ke Jerman?" kata Armando sambil tersenyum geli dengan keisengan adiknya.
"Aku tidak tau. Pantas kakak tenang-tenang di sini. Pantas juga mama tidak pernah muncul di sini lagi." kata Arleta yang mengerti sekarang. Armando tertawa. Restandi masuk, dia baru selesai menengok pasiennya.
"Rest aku mau lihat papamu dong." kata Armando pada Restandi.
__ADS_1
"Yuk aku antar. Kebetulan mama baru saja ke mini market di bawah." Restandi pun keluar lagi bersama Armando. Nikolas tampak sedang menonton tv karena merasa sepi. Rion tengah syuting pagi ini.
"Om bagaimana kabarnya?" tanya Armando sambil menyalami Nikolas.
"Oh baik. Lumayan lah." Nikolas jadi gugup, karena teringat Trisia.
"Om inginnya pulang, tapi tidak di ijinkan." kata Nikolas untuk mencairkan suasana.
"Kalau menurut saya lebih bagus begitu om, biar sehat dulu." kata Armando menimpali.
"Kamu meledek ya, om sudah sepuh begitu. Kabar kamu sendiri bagaimana?" Nikolas mencermati raut wajah Armando. Benar-benar ingin tau keadaan pria itu.
"Baik om, sibuk kerja saja. Kan sekarang jomblo." Armando tidak curiga dengan pertanyaan Nikolas.
"Begini, apa benar kamu baik-baik saja? Om minta maaf atas apa yang terjadi antara kamu dan Trisia." Nikolas menunjukkan wajah menyesal.
"Loh kenapa om minta maaf? Begini om banyak yang salah paham. Saya menikahi Trisia karena desakan mama. Saya tidak mencintainya dan tidak pernah menyentuhnya. Jika Trisia nyaman bersama Rion mungkin itu memang jodohnya. Saya tidak sakit hati." jelas Armando.
"Benar om, saya sebenarnya sudah menikah dengan wanita pilihan hati saya, tapi mama dan papa belum tau. Trisia istri kedua saya karena mama terus mendesak dan Trisia berpikir mungkin saya jodohnya. Tapi ternyata kenyataan berkata lain." Armando merasa pada Nikolas dia tidak perlu menutupi apa pun. Dan satu hari orangtuanya juga akan dia beri tahu.
"Berarti sekarang istri kamu hanya satu, dan kamu bisa bahagia. Kapan kamu kenalkan pada om?" Nikolas lega ternyata pemahamannya salah tentang Armando dan Trisia.
"Dia sudah meninggal om, karena kecelakaan belum lama ini. Dia meninggalkan putri cantik kami yang dia lahirkan sebelum dia meninggal." Armando memperlihatkan foto Melody pada Nikolas.
"Om minta maaf dan ikut sedih. Benar Ar putri kamu cantik." kata Nikolas tulus memuji.
"Terima kasih om." kata Armando.
__ADS_1
"Kapan kamu mau perkenalkan putrimu itu. Om mau ketemu." Nikolas menepuk lengan Armando.
"Nanti jika waktunya tepat om." Armando tersenyum.
"Kalau di pikir kamu itu kebalikan dari om ya. Om justru kehilangan orang yang menjadi duri dalam rumah tangga om. Kadang om berpikir kalau apa yang di lakukan Rion itu adalah hukuman atas apa yang om lakukan dulu." kata Nikolas sedih.
"Papa jangan berpikir begitu. Apa yang di lakukan Rion itu pilihannya sendiri." kata Restandi cepat. Dia tau sekarang apa yang jadi beban pikiran ayahnya.
"Betul om, hidup itu kan pilihan. Kita sendiri yang memilih mau baik atau buruk." Armando menambahkan.
"Sudah papa jangan banyak pikiran, kasihan mama kalau papa sakit." kata Restandi membujuk Nikolas.
"Yah kalian sudah dewasa, orangtua cuma mendoakan." kata Nikolas akhirnya. Sofi masuk bersama Eva.
"Loh ada Armando." kata Sofi terkejut.
"Iya Tante, mau nengok om. Saya pamit dulu ya, mau ke kantor." kata Armando sambil menyalami Nikolas dan Sofi.
"Hati-hati di jalan." kata Nikolas melepas Armando.
"Nanti main ke rumah ya." perkataan Sofi bukan basa-basi. Dia memang suka pada Armando.
"Terima kasih, nanti saya mampir." Armando tersenyum penuh arti pada Nikolas, yang langsung paham maksud Armando. Memperkenalkannya pada Melody.
"Kamu benar mau bawa Melody pulang? kapan?" tanya Restandi ketika sudah di luar.
"Belum tau Rest kapan, harus aku pikirkan dulu." jawab Armando. Mereka pun berjalan menuju lobby rumah sakit. Di sana mereka berpisah. Sore hari saat Restandi sedang menengok ayahnya Sehun dan Monika datang.
__ADS_1
"Loh kalian bukannya masih bulan madu?" kata Restandi.
"Kami tau kamu sibuk jadi kami putuskan untuk pulang." kata Sehun Aria.